HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 41 - HADES+JELITA BARA+RAISA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Melihat Jelita yang begitu terkejut, membuat Hades dengan cepat berlari ke arah Jelita menuntut wanita itu untuk keluar dari ballroom hotel.


"Kak Ha–hades ?" gugupnya.


Tak menjawab Hades menarik dengan kasar tangan Jelita untuk mengikuti langkah kakinya


Hingga mereka berhenti di depan toilet wanita.


"Lo bersihkan diri dulu, gue tunggu di depan sini," titah Hades melihat penampilan kacau Jelita. Dan wanita itu mau tak mau menganggukkan kepalanya seraya memasuki toilet.


Sedangkan Hades langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan segera menghubungi orang kepercayaannya.


"Siapkan mobil, tunggu di depan lobby. Sebentar lagi saya keluar."


"Baik, tuan!"


Tut...


Panggilan telfon itu terputus bersamaan dengan Jelita yang baru saja keluar dari toilet, setelah membersihkan dirinya beberapa saat.


Dengan ragu dan penuh kegugupan, ia melangkahkan kakinya ke pria yang saat ini melihatnya. Namun beberapa dengan Jelita yang tampak malu-malu, sorot mata Hades mengucapkan kalimat rindu yang membuncah yang sama sekali tak dikeluarkan di bibirnya.


Perlahan Jelita melihat keadaan tubuh Hades. Lebih sari satu tahun tak bertemu ternyata Hades sudah sangat tinggi sekarang. Jika dulu tinggi Jelita sebatas kupingnya, kini ujung kepala Jelita hanya sebatas dada pria itu.


Ya, meskipun bahu Hades masih seperti remaja lainnya yang tidak sebidang Bara. Tapi aura yang dipancarkan Hades benar-benar berbeda daripada setahun yang lalu.


"Ka–kak Hades..." panggilnya gemetar.


Hades menatap dari atas sampai bawah, lalu tersenyum getir. Tubuh Jelita sudah bukan seperti remaja lainnya. Ukuran pay*d4r4 dan juga pantt Jelita berkali-kali lebih besar di banding mereka terkahir bertemu setahun yang lalu.


"Lo beda, Ta."


Suara dingin Hades membuat bulu kuduk Jelita berdiri. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Hades.


"Ma–maaf..." cicitnya.


"Ck!" Hades berdecak, Jelita masih sama seperti dulu, selalu saja mengucapkan kata maaf padahal tak memiliki kesalahan apapun. "Kenapa minta maaf sih ?" kesalnya.


"Ah, udahlah. Ayo cepat kita keluar," sambungnya sembari menarik tangan Jelita keluar dari area toilet dengan setengah berlari.


Dengan kaki kecilnya ia mengikuti langkah kaki Hades keluar dari gedung hotel tanpa banyak bertanya. Dalam hati ia senang jika harus pulang dari acara yang membuatnya malu itu.


"Masuk!" titah Hades membukakan pintu mobil untuk Jelita.


Setelah mereka semua masuk mobil, Hades menyuruh supirnya segera menjalankan mobil.


Di dalam mobil, Jelita pun sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Toh, Hades sudah pasti masih ingat rumahnya. Bukan hanya sekali Hades mengantarnya pulang dulu, jadi pasti Hades mengingat rumahnya.


"Kenapa lo jadi pelayan gitu sih, Ta ?" Dari seribu pertanyaan yang bersarang di kepalanya, akhirnya Hades menanyakan satu pertanyaan pertama dari otaknya. Sungguh malang sekali nasib dari gadis yang ia suka ini. "Orang tua lo kaya, Ta! Lo bisa aja masuk ke salah satu dari puluhan cabang perusahaan yang bokap lo punya!" sambungnya, sungguh Hades tak habis pikir dengan Jelita. Kenapa tidak memanfaatkan kekayaan orangtuanya saja ? Kenapa malah memilih jadi pelayan ?


Mendengar pertanyaan Hades, tubuh Jelita menenggang beberapa saat, lalu dari sorot mata Hades ia melihat jika wanita yang duduk di sebelahnya tengah menenangkan diri.


"Y–ya mau gimana lagi, kak. Aku kan cuma lulusan SMA. Ya setidaknya aku beruntung karena mendapatkan pekerjaan." Jelita tersenyum menatap Hades yang sepertinya tak suka dengan jawabannya.


"Beruntung ? Lo bodoh yang ada, bukan beruntung!" kesal Hades, ia memutar bola matanya malas. "Oke kalo lo emang cuma lulusan SMA, tapi kan lo bisa minta modal sama bokap lo buat buka usaha. Lewat online kek, buka toko kecil kek. Bukan malah kerja dari pelayan!"


Jelita bergerak gelisah, ia tak mungkin bilang pada Hades jika ia di jatah perbulan saja 1 juta, mana mau orang tua angkatnya mengeluarkan uang lagi untuk memberikannya modal!


"Ya–ya aku merasa gak enak aja. Lagipula aku cuma lulusan SMA kak, aku gak tahu menahu soal bisnis. Ngertiin posisi aku!" jawab Jelita menahan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


Mobil Hades berbelok ke arah salon wanita yang letaknya tak jauh dari gedung hotel, tempat acara Bara itu dilaksanakan.


Mata Jelita membulat terkejut, kenapa jadi malah ke salon ? Kenapa tidak pulang ke rumah keluarganya saja ?


"Kak ? Kenapa ke salon ?" tanyanya.


"Oke gue ngertiin posisi lo. Mungkin bener kalo lo gak mampu, karena memang waktu SMP gak di ajarin sejauh itu tentang bisnis. Tapi lo kan bisa lanjut kuliah lagi, Jelita! Gue dengar kamu sudah membersihkan nama lo, kenapa gak lanjut kuliah ?" Hades mengabaikan pertanyaan Jelita dan kembali bertanya pada gadis itu.


Jelita menggeleng, memainkan jari-jarinya menahan takut. "Gak di bolehin sama Papa dan Mama. Lagipula aku–aku anu...hm...."


Hades mengerutkan dahinya, pernyataan Jelita jelas begitu ambigu di telinganya. "Anu-anu apa ? Ngomong yang jelas!" ucapnya setengah membentak.


Air mata keluar dari wajah Jelita, ia menundukkan kepalanya. "Sejak aku dikeluarkan dari sekolah, kakak angkat ku hampir setiap hari memperk0s4ku setiap ada kesempatan, bukan cuma itu kak, aku di kurung dan tidak di ijinkan keluar rumah. Hingga suatu hari aku mengetahui kalo aku–aku–" Jelita melirik Hades yang tampak sudah menegang di sampingnya. "Aku hamil," cicitnya dengan suara pelan.


Krettt..


Terdengar suara dari dalam hati Hades yang hanya Hades yang bisa mendengar, tanpa sadar ia mengarahkan tangannya ke dadanya yang kini berdenyut sakit. Gadis–ah maksudnya wanitanya ini hamil ? Hamil anak orang lain ?


"Ja–jangan bercanda, Jelita!"


Mendengar bantahan Hades, Jelita hanya bisa menggelengkan kepalanya tegas. "Tidak ada yang bercanda, kak. Gala Hussein Adinata itu tadi adalah anakku dengan pria brengsek itu."


Hades memejamkan matanya menikmati rasa sesak yang menjalar dari jantung menuju seluruh tubuhnya.


Hingga beberapa saat keadaan menjadi hening dan Hades perlahan membuka matanya. "Lalu wanita yang di samping Bara itu siapa ?"


"A–aku tidak tahu, kak. Mungkin itu wanita yang Bara cintai. Jadi dia mengajak wanita itu ke pesta. Lagipula dia mungkin malu jika semua orang tahu kalau ibu dari anaknya hanya seorang office girl."


Tangan Hades terkepal, ia sungguh tak suka dengan ucapan Jelita yang merendahkan dirinya sendiri.


Hades membuka pintu mobil dan menarik Jelita untuk keluar dan memasuki salon mewah itu.


"Untuk apa kita kesini, kak ?" tanya Jelita.


"Tentu saja untuk menunjukkan pada semua orang jika Jelita adalah yang tercantik di dalam pesta itu!" Hades tersenyum menyeringai.


"Buat dia secantik mungkin!"


"Siap babang ganteng!"


...o0o...


Bara bergerak gelisah, anaknya menolak mentah-mentah susu yang diberikan olehnya dan juga sang baby sitter.


"Oek...oek...oek..."


"Stt, sayangnya papa tenang ya nak. Mama masih di panggil sama uncle Gio. Nanti datang sebentar lagi," jelas Bara pada sang anak yang tentu saja tak bayi itu mengerti.


Raisa yang melihat Bara kesusahan jadi ikut tak enak hati, ia merentangkan tangannya bermaksud mengambil alih Gala dari gendongan Bara menuju padanya.


Namun Bara dengan cepat menepis tangan Raisa lalu menatap tajam wanita cantik itu.


"Sudah ku bilang, jangan sentuh anak saya!"


"Tapi Bara, kasihan Gala kalau te–"


"Diam!" bentak Bara sedikit keras, lalu kembali menepuk-nepuk pantt sang anak pelan–berusaha untuk membuat tangisan Gala mereda.


Mira juga sama cemasnya seperti Bara. Ia sangat tahu watak Gala, bayi itu tak akan berhenti menangis jika tak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.


Kini mereka berempat sedang duduk di salah satu meja yang berada di ballroom hotel itu. Karena anaknya begitu rewel, Bara jadi hanya bisa menyapa sebagian tamu saja.


Hingga suara derap langkah kaki mengalihkan perhatian Bara. Itu adalah Gio yang sedang berlari ke arah tuannya yang kini berusaha setengah mati menenangkan sang anak.


"Tuan, maafkan kelalaian saya. Tapi sepertinya nyonya muda sudah pergi lebih dulu. Menurut satpam Nyonya pergi sudah sekitar 30 menit yang lalu tuan," jelas Gio dengan keringat dingin membasahi pelipisnya. "Dan untuk nona Nikita Mirzina sudah saya usir tuan, sesuai perintah tuan saya sudah memblack list nona Nikita Mirzina dari seluruh stasiun TV manapun."


Bara membulatkan matanya tak senang, mendengar kabar Jelita. "Dia pulang dengan siapa ? Cepat telfon maid di sana, pastikan jika sudah sampai rumah dengan selamat!"


"Nyonya pulang dengan tuan muda Jagakarsa, tuan. Saya sangat menjamin jika Nyonya akan baik-baik saja."

__ADS_1


Kening Bara berkerut, "Jagakarsa ? Jagakar– ah astaga, rupanya bocah itu yang mengantarkan Jelita pulang. Masih tetap suka pada Jelita meskipun sudah memiliki anak dan suami ?" batin Bara tersenyum sinis. Mungkin setelah Nikita Mirzina, Bara akan memberikan sedikit pelajaran kepada bocah ingusan itu.


"Tu–tuan..." panggil Gio gugup sembari mengguncangkan lengan Bara sedikit kencang.


Bara menatap tak suka ke arah Gio yang kini tengah memandang entah kemana. "Apa ?" ketusnya.


"Ny–nyo..."


"Astaga, Nyonya Jelita cantik sekali!" bukan suara Gio melainkan Mira yang begitu takjub dengan penampilan Jelita yang begitu mempesona.



Dress hitam yang menampilkan lekukan tubuhnya dengan bagian dada berwarna putih bergaya no shoulder. Lalu pada bagian paha dress sedikit terbelah hingga memperlihatkan kaki jenjang putih mulus Jelita.


Apalagi di samping Jelita ada seorang pria yang begitu tampan dan terlihat lebih muda jika dibandingkan dengan Bara.


Mereka berdua sungguh terlihat seperti pasangan kekasih.


Bukan hanya mereka saja yang melihat Jelita, namun hampir seluruh isi gedung hotel itu kini memusatkan perhatiannya ke arah Jelita.


Padahal sejak tadi, Raisa-lah yang menjadi bintang di pesta ini. Karena bisa menjadi gandengan hot Daddy seperti Bara.


"Siapa dia ? Berani sekali datang ke pestamu terlambat, Bara ?" ucap Raisa kesal, gadis itu meneliti penampilan Jelita yang menurutnya tak sepadan dengannya. "Jelek sekali dia, usir saja dia Bara!" suruhnya.


Bara melirik kesal pada Raisa yang kini menatap Jelita dengan kobaran api penuh benci.


Sedangkan di sana Jelita yang sudah menjadi pusat perhatian kini mendudukkan malu. Ia menyembunyikan wajah cantiknya yang membuat Hades sendiri tak suka.


Dengan gemas, Hades mengapit dagu Jelita dengan kedua jarinya, lalu mengangkat sedikit hingga mata mereka kini saling menatap.


"Jangan sembunyikan wajah cantikmu, ayo kita ke Bara. Sepertinya anakmu sedari tadi terus menangis..."


Ucapan Hades menyandarkan, ia menatap meja Bara, atau lebih tepatnya sang anak yang terus menangis. Dengan tangan yang masih memeluk lengan Hades, mereka berdua menghampiri meja Bara dengan langkah tegas.


Dengan mata elang Bara, ia memperhatikan istrinya di pegang-pegang oleh pria asing yang tentu saja membuat kemarahan semakin bertambah, apalagi tangan Jelita yang melingkar di lengan Hades, rasanya Bara ingin mematahkan tangan kecil Jelita itu.


"Permisi tuan Bara, sepertinya anak anda terus menangis. Bisa saya bantu diamkan ?" Jelita tersenyum menatap Bara yang kini tengah menatap dirinya tajam.


Jakun pria itu bergerak naik turun karena Jelita secara terang-terangan mengandeng laki-laki lain di depannya.


"Oek...oek...oek..."


Tangisan Gala membuat Bara tersadar dari lamunannya, ia tak boleh egois. Anaknya saat ini membutuhkan Jelita.


Dengan perlahan Bara menyerahkan Gala pada Jelita yang di terima dengan senang oleh Jelita.


"Ish, Bara! Kok Gala di kasih ke orang asing sih! Tadi aku gendong gak boleh!" kesal Raisa.


"DIAM RAISA!" bentak Bara untuk kesekian kalinya pada gadis cerewet di sebelahnya itu.


Hanya perlu menimang-nimang sedikit, bayi tampan itu sudah diam dan matanya mulai terpejam, Jelita tersenyum puas melihat itu.


"Kamu memang Ibu yang hebat, Jelita." Hades mengelus pipi gembul Gala yang di hadiahi tatapan tajam oleh Bara.


Dada pria itu bergerak naik-turun, ini kah yang dinamakan istri selingkuh secara terang-terangan dihadapan suami ?


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2