
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Suasana hati Bara hari ini sedang tidak dalam keadaan yang baik. Ucapan Jelita tadi pagi masih terniang-niang dengan jelas di telinganya.
"Pa, Mama lupa bilang kalo sudah selesai nifas sejak 3 hari lalu. Besok Mama ingin bekerja!"
"Pa, Mama lupa bilang kalo sudah selesai nifas sejak 3 hari lalu. Besok Mama ingin bekerja!"
"Pa, Mama lupa bilang kalo sudah selesai nifas sejak 3 hari lalu. Besok Mama ingin bekerja!"
“Besok ingin bekerja ?” gumam Bara dengan sinis, pria itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Sungguh ia tak mengerti dengan pola pikir Jelita.
Memang benar waktu itu saat Bara mengatakan ingin melakukan perjanjian dengannya, ia memberikan ijin kepada Jelita untuk bekerja lagi. Tapi bukan berarti wanita itu boleh bekerja, itu hanya kalimat untuk membujuk Jelita agar mau setuju dengan perjanjiannya dan merawat Gala dengan baik.
Dan lebih dari sebulan ini Jelita benar-benar berubah, menjadi terlihat lebih sayang kepada Gala dan dirinya. Bara berfikir Jelita tak akan mau bekerja lagi dan akan bersama Gala saja di rumah.
Tapi dugaanya salah.
Jelita masih ngotot ingin bekerja dan tak ada alasan untuk Bara menolak keinginan sang istri karena memang ini sudah menjadi kesepakatan mereka.
“ARGHHH!!” Bara mengacak rambutnya frustasi dan melempar laptop yang berada di atas meja didepanya itu dengan sangat keras ke lantai.
Brakk….
Laptop itu hancur berkeping-keping, kini semua pasang mata yang mengikuti agenda rapat dengan CEO mereka itu melirik kearahnya dengan takut-takut.
“Sialan!” umpatnya kesal, lalu keluar dari ruang rapat bersama dengan Gio yang mengikutinya dari belakang.
Sedangkan di ruang rapat, salah seorang staff yang sedang melakukan presentasi langsung mematung dengan wajah yang pucat pasi, ditambah lagi semua pasang mata melirik kearahnya.
“Mampus lo Vid, bos marah banget kayaknya sama hasil presntasi lo hari ini,” ucap Angga, salah satu orang yang memgikuti rapat dengan Bara.
__ADS_1
“Sampai dibanting njir, laptopnya!”
“Kayaknya bakal di pecat lo, Vid!”
“Untung bukan gue yang presentasi hari ini…”
“It’s time to say goodbye to David…”
David meremat kedua tangannya karena ketakutan, olokan dari rekan kerjanya, semakin membuatnya takut. Tapi yang jadi pertanyaan David adalah rapat ini baru dimulai 10 menit yang lalu, dan dia juga baru mulai dengan kalimat pembuka, tapi kenapa CEO baru itu terlihat begitu marah ?
“Ah, mati sudah aku…” ucapnya lemas karena terlalu overthinking.
...o0o ...
Brakk…
Bara membanting pintu kerjanya tepat di depan Gio-sekretarisnya, untung saja dari pintu dengan wajah Gio masih tersisa beberapa centi jarak lagi. Jika tidak pasti sudah habis wajah tampan Gio yang sangat ia bangga-banggakan itu.
“Hm,” Gio berdehem untuk mentralkan keterkejutannya dari kejadian beberapa detik lalu.
Dengan perlahan Gio membuka pintu ruang kerja Bara, lalu menutupnya kembali setelah dirinya masuk. Ia membalikkan badanya menatap tuannya yang sedang duduk di sofa dengan wajah kusut.
Gio memberanikan diri untuk duduk di samping Bara yang saat ini terlihat kacau, padahal sudah hampir sebulan ini Bara terlihat sangat bersemangat bekerja, hingga terkadang lupa untuk makan siang karena ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu pulang cepat untuk menemui buah hatinya.
“Tuan, apakah anda ada masalah ?” tanya Gio hati-hati.
Bara mengangkat wajahnya, menatap mata Gio dalam lalu menganggukkan kepala kecil. “Ya, ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranku,” jawabnya.
“Sepertinya tuan Bara benar-benar ada masalah, tak biasanya ia akan terbuka dengan orang lain. Ia mengatakan ada masalah padaku, itu berarti ia sedang membutuhkan teman cerita, benar begitu kan ?” batinnya.
“Hm, jika ada masalah dan mungkin anda ingin bercerita pada saya, saya siap mendengarkan semua permasalahan tuan. Dan berjanji akan membantu memberikan solusi hingga masalah tuan terpecahkan,” jawab Gio dengan bersungguh-sungguh.
Bara menatap Gio penuh minat, lalu menarik kedua sust bibirnya, bersandar pada punggung sofa dan melipat tangannya didada. “Baiklah, tapi jika kamu tidak bisa memberikan solusi. Kamu saya pecat!”
Glek
Gio menelan salivanya susah payah lalu menganggukan kepalanya dengan ragu. Dalam hati ia merapalkan doa agar masalah bosnya tak terlalu berat dan bisa ia atasi. “Katakan, tuanku.”
“Jelita..”
__ADS_1
Hanya satu kata itu saja, Gio sudah mengerti permasalahan Bara. “Masalah rumah tangga, ternyata…”
“Dia ingin bekerja lagi sebagai Office Girl di sini, sebenarnya awalnya aku membuat perjanjian dengannya. Jika dia merawat Gala dengan baik, aku akan memberikan dia kebebasan. Salah satunya adalah bekerja,” jelas Bara intinya saja, tak mungkin ia mengatakan pada Gio jika ia dan Jelita merencakan perceraian setelah dua tahun menikah.
“Lalu masalahnya, tuan ?”
Bara melirik tajam sekretarisnya itu, kenapa jawaban Gio terdengar datar di telinganya ? “ya lalu, aku tidak ingin dia kembali bekerja di sini! Aku ingin dia fulltime menjadi seorang ibu saja!” jawabnya ketus.
“Itu mudah tuan,” jawab Gio seraya tersenyum lebar, sedangkan Bara mengerutkan dahinya lantaran bingung dengan jawaban Gio. “Mudah bagaimana ?”
“Biarkan saja Nyonya bekerja la−“
“Kau tuli Gio, ingin ku pecat, ha ? sudah kubilang Jelita tak akan bekerja!” jawab Bara memotong pembicaraan sekretarisnya dengan cepat.
“Dengarkan saya dulu tuan, jangan memotong ucapan saya!” pinta Gio. “Biarkan saya nyonya bekerja, agar Nyonya percaya jika tuan tidak pernah berbohong dengan ucapan anda. Dan nyonya akan mempercayai ucapan anda kedepannya,” sambung Gio, Bara terdiam sebentar, lalu menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Gio.
“Tapi katakana pada Nyonya, perlakuan tuan dengannya akan sama seperti pegawai lain. Tidak ada keistimewaan khusus. Lalu jika nyonya sudah bekerja kembali di perusahaan, anda bisa sedikit menyiksa Nyonya Jelita dengan pekerjaan yang banyak hingga ia tidak betah lagi bekerja di sini, dan memilih untuk resign dari sini.”
Senyum Bara terbit dan semakin melebar setelah sepersekian detik, “benar kata Gio. Biarkan Jelita bekerja, dan buat istrinya itu tidak betah dan tidak ingin bekerja lagi,” batin Bara.
“Gio, ada berapa jumlah Office Boy dan Office Girl diperusahaan ini ?” tanya Bara tiba-tiba setelah sekian detik keadaan hening.
Gio menatap Bara dengan mata memincing−curiga, rencana licik apa yang berada diotak tirani pria itu. “Office Boy ada 10 orang tuan, sedangkan Office Girl hanya ada 7 orang saja termasuk dengan Nyonya Jelita.”
“Pecat 5 orang Office boy, dan 4 orang Office Girl!” titah Bara tak terbantahkan.
...o0o...
KIRA-KIRA BARA BAKAL NGAPAIN JELITA ?
SIAP KONFLIK KAN KALIAN ? 🥳
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA