
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Hades dan Jelita bergandengan menuju kelas mereka yang memang satu kelas. Namun pegangan tangan itu harus terlepas karena mereka tak harus duduk pada bangku masing-masing.
Di sana ketiga teman Jelita sudah menatapnya dengan intens. Sedangkan Jelita hanya bisa mengadukan kepalanya karena malu.
"Anjir, lo jadian sama Hades ketua Geng Motor itu ?" tanya Nisa berbisik.
Jelita menaruh tasnya di bangku lalu memutar tubuhnya ke belakang. Nisa yang berada disampingnya sudah tak sabar mendengar jawaban Jelita.
"Jawab Ta! Lo pacaran sama Hades ?" Rinda geregetan.
Dengan wajah memerah, Jelita hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan yang menjuru pada desakan itu. "Enggak kok, kita temenan aja," jawabnya.
Mendengar itu sudah tentu ketiga temannya itu tak puas. Kini giliran Salsa yang bertanya pada gadis lugu itu. "Terus sekarang jelasin coba, kenapa lo bisa di bonceng sama Ha–"
Tet....Tet....tet...
Bel telah berbunyi
Kepada seluruh mahasiswa/mahasiswa
Dimohon untuk segera memasuki kelas
Jam kelas pagi pertama akan di mulai
"Anjir, emang bel sialan!" umpat Salsa kesal karena pertanyaan terpotong oleh suara bel sekolah.
"Kenapa lo bisa berangkat bareng kak Hades ? Terus kenapa lo bisa gak masuk kelas ?" tanya Salsa cepat.
Jelita menghela nafas panjang, tak mungkin ia menceritakan pada temannya alasan ia tak masuk kuliah.
Ah... mengingat itu membuat Jelita ingin muntah seketika. Bayang-bayang suara de**s**ahan Bara, hentakan-hentakan pinggul pria itu kini memasuki pikirannya.
Apalagi semalam Bara memintanya untuk berganti kostum sebanyak 3 kali. Sungguh menjijikan!!!
"Kok bengong sih lo!" Nisa mengguncang bahu Jelita hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.
Jelita menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu menggeleng. "Eh maaf, aku kepikiran bakso di kantin," alibinya.
Ketiga teman Jelita sontak mendengus malas, "Jawab Ta!! Gue penasaran ba–"
Tok...tok...tok....
"Masuk!" ucap mereka serempak.
Seorang dosen berjilbab masuk kedalam kelas mereka diikuti dengan seorang gadis dengan balutan dress menjuntai hingga kaki yang tampak kebesaran pada tubuhnya, rambut yang dikepang dua, serta kacamata tebal yang menghiasi wajahnya.
Meskipun tak cantik, tapi gadis itu tetap manis, menurut pandangan Jelita.
"Nanti aku jelasin di kantin aja, ya!" ucap Jelita berbisik lalu membalikkan tubuhnya kearah depan.
"Selamat pagi, semua..."
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu!"
Bu Yanti tersenyum melihat kedisiplinan muridnya ini, ia duduk di bangkunya mengeluarkan kipas lalu menatap gadis cupu yang ia bawa dari ruang kepala sekolah itu.
"Hari ini kelas kalian kedatang mahasiswa dari kelas lain. Dia harusnya ada kelas siang dengan saya, tapi berhubung dia tidak bisa hadir nanti jadi saya meminta dia untuk ikut kelas pagi bersama kalian, ayo perkenalkan diri kamu sebelum duduk!"
Gadis berkepang dua itu memgengguk pada Bu Yanti lalu tersenyum menatap teman-teman barunya. "Perkenalkan nama aku Rina Safitri, Salam kenal semuanya," ucapnya riang.
"Aneh banget ya, Ta. Selama hampir empat tahun kuliah di sini. Gak pernah tuh gue lihat muka cewe cupu," bisik Nisa menatap heran anak baru itu.
Jelita juga memikirkan hal yang sama, namun pikiran jelek itu ia tepis saat melihat wajah polos Rina. "Mungkin emang jamnya beda sama kita. Jadi gak pernah ngeliat dia, lagipula kan mahasiswi di sini ada banyak, Nia."
"Ya sudah, sekarang kamu duduk di depan meja Jelita. Jelita angkat tanganmu," perintah Bu Yanti.
Segera Jelita menggangkat tangannya sembari tersenyum kecil, melihat sosok Jelita segera Rina langsung duduk di kursi kosong tepat di hadapan Jelita.
Jelita tersenyum kecil saat melihat tubuh Rina yang semakin mendekat kearahnya, hingga tatapan matanya beralih pada Hades yang sedari tadi menatapnya dengan intens.
Wajah Jelita kembali memerah.
"Baik anak-anak, kita lanjutkan materi yang kemarin."
...o0o...
Tet....Tet....Tet...
Bel istirahat berbunyi, pelajaran pertama mereka telah usai. Bu Yanti pun keluar dari kelas mereka.
"Yuk ke kantin cepat, gue gak sabar mau dengar penjelasan Jelita!" ucap Salsa dengan semangat.
Begitupula dengan Rinda dan Nisa yang sedari tadi pelajaran terus saja mendesaknya. "Yasudah, ayo..." jawab Jelita yang disambut girang oleh ketiga temannya. Saat baru beberapa langkah Jelita menjauh dari bangkunya, tangannya di genggam seseorang.
"Ha–hai, nama aku Rina. Boleh ikut ke kantin gak ? Aku laper banget belum sarapan, mau ke kantin tapi gak ada teman," tanyanya dengan senyum kecil.
...o0o...
"Gila banget, baru beres jam pertama, kantin udah penuh gini," gerutu Rinda kesal.
"Eh itu ada, bangku kosong di dekat kak Arjun," tunjuk Salsa pada bangku yang berisikan segerombolan laki-laki yang sudah pasti tak asing bagi mereka.
Gerombolan geng motor yang di ketuai oleh Hades. Dan tentunya ada Hades di sana.
"Ih, enggak ah, ada Hades," tolak Jelita malu, sungguh ia gugup jika harus berdekatan lagi dengan pria itu.
"Njir, Ta! Perut gue udah laper banget ini!" Nisa yang sudah membawa nampan berisi 4 buah bakso itu menggerutu kesal.
Sedangkan Rina, yang membawa minuman mereka diam-diam tersenyum menyeringai. "Lebih baik di sana aja, cuma itu satu-satunya bangku yang kosong."
Jelita melihat keadaan kantin, memang benar jika hanya tempat itu saja yang kosong dan memiliki space yang luas. "Ya udah tapi jangan tanya-tanya soal kak Hades, aku malu banget!"
"Tenang aja, kita gak goblok kok!" jawab Salsa tersenyum menampilkan deretan gigi rapihnya.
Mereka berjalan pelan menuju meja itu, dalam hati mereka bertiga, mereka tak kuasa melihat betapa tampannya wajah pemuda-pemuda itu.
"Eh Arjun, gue gabung sini gak papa, kan ?" tanya Rinda dengan wajah merah merona.
Suara Rinda sukses membuat ketujuh pria yang asik dengan dunia mereka sendiri itu langsung menatap ke sumber suara.
"Duduk aja kali, ini kan tempat umum." Bukan, bukan Arjun yang menjawab. Tapi Hades yang memang sedari tadi menatap Jelita dengan ekspresi wajah datar.
Mendengar itu keempat cewek itu duduk, dan mulai meracik bakso mereka. Meskipun harus dengan gugup karena aura tampan pria yang ada di sampingnya ini benar-benar sangat kuat.
__ADS_1
"Jadi kenapa lo gak masuk dua hari, Ta?" tanya Nisa.
Kini ketiga cewek itu menatap Jelita penuh tanya, dan juga Hades yang diam-diam menguping.
"Ja–jadi waktu hari Minggu aku latihan naik motor sama supir rumah aku, terus karena aku merasa udah jago jadi aku coba di jalan raya. Eh malah keserempet motor, akhirnya paha aku ke gores. Tiga hari aku gak bisa jalan, cuma di rumah aja." Maaf, maaf Jelita harus bohong. Kalo sampe Jelita ngomong yang sejujurnya mungkin kalian bakal menjauh....
"Ceroboh!" Hades menatap Jelita tajam.
"Iya Ta, lagian ngapain lo belajar motor kalo ada supir. Kali gue nih ya pas–"
"Eh itu bukannya Clarissa, ya ?" tanya Jelita yang tanpa sengaja matanya menatap seorang gadis yang sedang makan di pojokan kantin.
Rinda menghentikan ucapan, dan kini ketiga cewek itu beralih pada arah yang ditunjuk oleh Jelita.
Di sana memang benar ada Clarissa yang sedang makan nasi goreng sendirian, tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Dan yang lebih parah, orang yang berada di sekitarnya berbisik-bisik, sembari melirik dengan sengaja ke arah Clarissa.
"Oh iya, lo gak masuk jadi gak tau, Ta." Nisa kini menatap dalam mata Jelita. "Clarissa gak di keluarin dari sekolah, soalnya sayang beberapa bulan lagi wisuda. Jadi keluarganya bayar mahal supaya Clarissa berita tentang kehamilan Clarissa ditutup sama pihak sekolah," jelasnya.
Salsa menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Nisa. "Ada fakta baru lagi dari Clarissa. Katanya abangnya itu gak merk**o**sa dia, tapi dia sendiri yang godain abangnya."
"Gue denger-denger Clarissa itu anak haram bokapnya, mangkanya dia godain abangnya biar gak hidup susah. Katanya Clarissa itu gak disukai sama ibunya, jadi dia emang udah mikir buat ngandung anak abangnya, secara abangnya kan wakil direktur."
"Gue gak sangka Clarissa kayak lonT!"
"Iya njir, lagian juga gue gak percaya kalo abangnya Clarissa itu merk**o**sa dia, soalnya tampang abangnya itu ganteng terus baik sama kayak abangnya Jelita, kak Bara."
Ucapan terkahir Salsa membuat keringat dingin membasahi pelipis Jelita. Perasangka-perasangka buruk mulai menggerayangi pikirannya.
Bagaimana jika hubungannya dengan Bara terungkap ? Apakah ia akan di kucilkan seperti Clarissa ? Apakah sabahatnya akan menjauhinya ?
Jelita memainkan jari-jarinya dengan cepat, ia gelisah sekarang.
"Tapi kalo aku boleh berkomentar ya, misal ada pelecehan di antara keluarga menurut aku itu salah perempuan. Karena kan memang laki-laki tidak bisa menahan nafsu. Pasti aku yakin banget, kalo Clarisa di rumah pake baju-baju seksi gitu. Udah jelas itu mengundang nafsu, jadi menurut ku itu bukan pelecehan tapi kayak emang di sengaja," ucap Rina, gadis berkacamata ikut menimbrung.
Mendengar penjelasan gadis cupu itu, membuat Rinda, Nisa dan Salsa menganggukkan kepalanya kompak. "Bener banget tuh, lagian kalo emang udah tau di rumah ada laki-laki harusnya bisa menjaga diri!" setuju Nisa.
Rina tersenyum miring mendengar sahabat-sahabat Jelita yang setuju dengan kalimat yang sangat menyudutkan Jelita itu.
Ia merogoh ponselnya dan mengetikan sesuatu di sana.
to : Mr. Bara
Aku sudah membuat Jelita ketakutan tuan muda.
Segera kakak lancarkan rencana tuan muda.
Terkirim.
Jelita semakin cemas di bangkunya, dan hanya Hades yang mengetahui kecemasan Jelita.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA