
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Happy Birthday Gala~~"
"Happy Birthday Gala~~"
"Happy Birthday~~ Happy Birthday Galaaa~~~"
Kini Bara tengah menggendong anak mereka–Gala–yang tengah merayakan ulangtahun yang pertama.
Bayi satu tahun itu begitu bahagia mendengar suara nyanyian dari kedua orangtuanya, Mira, serta para maid yang begitu bersemangat mempersiapkan acara ulangtahun dari tuan muda mereka.
"Ayo anak Mama sekarang tiup kuenya," titah Jelita dengan senyum merekah berjalan ke depan untuk meletakkan kue ulang tahun dilantai.
Sedangkan Bara menurunkan anaknya dari gendongannya dan mengarahkan bayi satu tahun itu dibelakang kue ulang tahun.
"Tiup lilinnya~~"
"Tiup lilinnya sekarang juga~~~"
Mereka kembali bernyanyi menyiratkan Gala untuk segera meniup lilin pada kuenya. Namun bukannya meniup lilin kue, bayi berumur satu tahun itu malah memakan kue ulang tahunnya hingga membuat mereka semua tertawa terbahak melihat tingkah lucu bayi itu.
Bara bahagia, Jelita bahagia, dan yang paling penting Gala–bayi mereka juga sangat tentram karena orangtuanya yang sudah akur.
Tak ada lagi Raisa, tak ada lagi bibit-bibit pelakor yang mengelilingi rumah tangannya lagi seperti kemarin.
Fara juga sedikit melunak pada Jelita, sesekali wanita paruh baya itu membuka obrolan kepada menantunya, meskipun hanya pertanyaan basa-basi seperti "Gala sudah mandi ?" "kamu sudah makan ?" "jangan sampai telat makan, nanti ASI yang keluar sedikit" atau biasa juga seperti "Layani suamimu dengan baik" "Puaskan Bara, dia sudah pekerja keras" meskipun hanya pertanyaan basa-basi seperti itu tapi tetap saja membuat Jelita berfikir jika ibu angkat yang kini menjadi mertuanya itu sudah mulai menerima fakta jika dia adalah istri anaknya.
Dan ancaman pada Bara beberapa bulan lalu ternyata benar-benar berhasil membuat suaminya itu bergerak membatasi pergerakan pelakor yang bisa saja menghancurkan rumah tangga mereka.
Kini hubungan rumah tangga mereka kian harmonis dengan Gala yang melengkapi hidup mereka.
"Kayaknya bisa deh Gala punya adek bentar lagi," bisik Bara, pria itu memeluk pinggang Jelita dari belakang dan berbisik tepat ditelinga istrinya.
Jelita yang tengah fokus dengan anaknya langsung merinding mendengar perkataan suaminya tepat ditelinganya.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada suaminya dan mengelus tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Nanti ya sayang, kalo umur aku udah 18 tahun," jawabnya dengan mata yang masih menuju sang putra.
Bara menggeram tak terima, ia mengigit daun telinga kiri istrinya. "Gak mau, pokoknya tahun depan kamu udah harus hamil lagi!" titah Bara tak terbantahkan.
Mulai lagi, batin Jelita. Namun wanita itu hanya diam saja, mau bilang setuju tapi nanti dirinya juga yang akan kewalahan. Mau bilang tidak tetap saja akan dihamili oleh Bara.
Tidak ada pilihan lain selain menerima.
"Nanti kalo kamu sudah hamil baby kedua, kamu langsung resign dari perusahaan. Perih mata aku lihat kamu kemana-mana bawa nampan kopi," ucap Bara, ia mengeratkan pelukannya. "Istrinya Bara itu bagusnya jadi pajangan di ranjang. Pakai b1k1n1, pakai ling3rie seksi. Supaya suaminya makin semangat kerja!" sambungnya.
Jelita memutar bola matanya malas, mendengar bualan suaminya. Setiap hari, benar-benar setiap hari Bara selalu membelikan pakaian-pakaian yang ****1. Seperti baju seragam SMA yang ketat, lalu baju maid yang ****1 dan vulgar. Fantasi intim Bara benar-benar ganas.
"Nanti aku beliin kamu baju kelinci yang sek–"
"Kamu kemarin baru beliin aku kostum kelinci itu! Kamu lupa ? Aku gak mau pakai-pakai kostum aneh-aneh lagi!" kesal Jelita.
Bara tertawa di belakang tubuhnya mengingat saat Jelita memakai baju lucu itu. "Kamu *3**1 sayang kalo pakai kostum yang begitu. Nanti malam aku mau kostum pelayan lagi."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Bara langsung melepas pelukan pada Jelita dan beralih menuju anaknya yang sudah sangat cemong dengan whip cream kue di seluruh wajahnya.
"Acara selesai, bereskan kekacauan ini!" titah Bara pada seluruh maidnya sembari mengangkat Gala pada gendongannya.
"Aku akan memandikan Gala sendirian, kamu bantuin maid bersihin ruangan ini," suruh Bara pada Mira yang langsung diangguki oleh wanita dewasa itu.
Setelahnya Bara langsung melesat menaiki tangga bersama putranya, meninggalkan istrinya yang masih kesal dan para maid yang mencopoti seluruh dekorasi ulang tahun Bara.
"Ck!" dengus Jelita kesal, menatap punggung Bara yang semakin mengecil dari pandangannya. "Punya suami kok t1t1dnya baperan! Dikit-dikit berdiri! Cape banget aku disuruh nidurin mulu!" gumamnya.
Dengan wajah cemberutnya ia berjalan mendekat kearah dekorasi ulang tahun Gala dan membantu para maid untuk membersihkan ruangan ini.
"Ah, nyonya, anda lebih baik duduk saja, jangan terlalu banyak bekerja!"
"Benar nyonya, ini biar kami yang bereskan."
Jelita hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan para pelayan, tangannya sama sekali tak berhenti bergerak membereskan seluruh ruangan keluarga yang tengah disulap oleh Bara menjadi acara ulang tahun.
"Nyonya, ada paket untuk anda...." teriak Mira memasuki ruangan keluarga itu.
Tangan Jelita yang akan mengambil hiasan di dinding terhenti. Ia membalikkan badannya kearah Mira dan mengambil bunga mawar putih dengan sebuah kotak kado yang cukup besar di sampingnya.
"Terima kasih, kamu bantu yang lain bereskan ruangan ini, kak." Jelita berjalan menjauh, keluar dari ruangan itu untuk membaca kartu pesan yang ada di bunga mawar putih itu.
"Astaga, ini sudah yang ke 20 kalinya Hades mengirimkan bunga mawar putih ke rumah. Setiap Minggu pria itu selalu mengirimkan aku satu bucket bunga mawar putih," gumamnya.
Jelita membuka perlahan kartu ucapan yang berada di dalam bucket bunga itu, "selamat ulangtahun Gala. Daddy Hades memberikan beberapa mainan untuk Gala di dalam kotak, dan bunga mawar itu untuk Mama Jelita," gumam Jelita membaca seluruh isi pesan pada kartu ucapan itu.
"Daddy Hades ?" matanya melotot membaca sebutan Hades pada dirinya sendiri untuk anaknya. "Aku akan di bunuh oleh Bara kali sampai di membaca kartu ucapan ini..." Jelita bergedik ngeri.
Dengan cepat, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sembari tangan kanannya meremas kartu ucapan itu.
Setelah kartu ucapan itu tak terbentuk lagi, Jelita memasukannya kedalam saku celananya. "Aman....." gumamnya sembari tertawa kecil.
"Ah, lucunyaaa...."
"Nyonya, di depan ada tamu mau cari Nyonya Jelita..." seorang maid datang kearah Jelita.
Jelita menengok kesamping bersamaan dengan merubah raut wajahnya dari senyum lebar menjadi datar.
"Dimana dia ?" tanya Jelita menaruh kado itu dimeja.
"Di depan Nyonya, saya tidak berani menyuruhnya masuk karena dia lelaki. Saya takut tuan Bara akan mengamuk!" jawabnya sembari menundukkan kepalanya takut.
Kening Jelita berkerut, "tamu untuk aku ? laki-laki ? siapa ?" gumam Jelita.
Sibuk dengan pemikirannya, sampai ia tak sadar jika kakinya sudah membawanya ke depan pintu rumah.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia membuka pintu rumahnya untuk melihat siapa tamu yang ingin bertemu dengannya.
Ceklek....
Pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang sudah Jelita wanti-wanti selama beberapa bulan belakangan ini.
"Ha–hades ???" suara Jelita terdengar bergetar, mata wanita itu melotot karena terkejut, mulutnya terbuka lebar.
BRAKK.....
Jelita keluar lalu menutup pintu rumah itu kencang, takut-takut jika Bara melihat siapa yang datang.
"Astaga, Hades, kenapa datang ?" tanyanya berbisik, jantung wanita itu berpompa cepat.
__ADS_1
Diraihnya tangan Hades dan diarahkan menuju garasi mobil yang memang sepi dan tidak terdapat CCTV.
Hades tertawa melihat wajah pucat Jelita, tangannya terusap mengelus puncak kepala gadis idamannya itu. "Aku kangen kamu, Ta..." bisiknya.
Ditariknya tangan Jelita menuju tubuhnya, dan Hades langsung memeluk erat tubuh Jelita. "Aku beneran kangen...." Hades mengeratkan pelukannya.
Ning....nong....Ning....nong....
Alarm tanda bahaya Jelita berbunyi, wanita itu sontak melepaskan pelukannya. "Gila kamu ? Aku ini istri orang, kak Hades!! Bisa-bisa kamu di bunuh sama suamiku!" geram Jelita.
Dilihatnya penampilan Hades dari atas hingga bawah. Setelan jas mahal dengan sepatu mengkilat.
"Bukannya Hades seharusnya sekarang masih kuliah ya ? Tapi kenapa ia menggunakan setelan jas seperti sudah bekerja di perusahaan ?" tanya Jelita dalam hati.
"Aku gak perduli, kamu udah jadi istri orang atau belum. Aku suka kamu, Ta. Apapun yang terjadi kita akan tetap bersatu!" jawab Hades mantap.
Jelita menghela nafas panjang, "udah kak, mending kakak pulang sekarang!" usianya.
"Gak mau! Aku mau ketemu Bara, mau menyatakan secara gentle kalau aku suka sama istrinya." Hades tersenyum menatap wajah pucat Jelita. "Aku akan mengatakan pada Bara jika kamu dan dia tidak saling mencintai. Dan tepat 2 tahun yang lalu kamu mengatakan kalau kamu tidak mencintai Bara juga dan lebih memilih bersama ku," sambungnya sembari mengingat perkataan Jelita saat masih bersekolah dulu.
Mata Jelita membulat sekali lagi, dulu memang ia berharap Hades akan menjadi dewa penolongnya, tapi sekarang tidak! Jelita sudah menerima Bara 1000%!!
"Jangan gila kak!"
"Aku gak gila! Aku mau ketemu Bara sekarang!"
Saat Hades ingin menuju pintu utama rumah besar itu lagi, Jelita langsung menarik tangan pria itu.
"JANGANNN!!!" teriaknya cepat. "Aku turutin permintaan kamu! Tapi jangan pernah ketemu sama Bara! Apalagi mengatakan kalau aku tidak mencintai dia dan malah mencintai kamu!" mohonnya.
Hades tersenyum miring, "besok jam setengah dua belas siang, saat jam istirahat makan siang. Datanglah ke apartemen ku, di Apart Bugenvil Reos. Lantai 10 no. 03!"
Jelita menganggukkan kepala cepat, tidak perlu apa keinginan Hades sekarang, yang penting pria itu cepat pergi dari rumahnya.
"Baiklah, sekarang kamu pergi dari sini!"
"Berikan aku satu pelukan dulu!" pinta Hades membuka lebar-lebar tangannya.
Jelita menggeram kesal tapi tetap mengikuti perintah Hades, ia memeluk singkat tubuh pria itu.
Namun saat akan melepaskan pelukannya, tangannya di tarik dan dagunya dipaksa mendongak menatap wajah Hades.
"Satu c1uman, sayang..."
Cup....
Cekrek....
Hades mencium b1b1r Jelita bersamaan dengan pria itu memotret ciuman mereka dengan ponsel canggihnya.
"Foto ciuman kita sudah aku miliki, kalau sampai kamu tidak datang ke apartemen ku tepat waktu, aku akan mengirimkan foto ini kepada Bara!" ancam Hades dengan seringainya.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku jasnya, dan segera keluar dari garasi mobil itu menuju mobilnya yang terparkir diluar rumah keluarga Adinata, meninggalkan Jelita yang terisak di garasi.
...o0o...
MAAP YAA GAIS KALO TELAT UP
UDAH SET TANGGAL 13 JAN TAPI BELUM KE UP 😭
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA