HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 40 - RAISA ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Bara memejamkan matanya menahan umpatan yang akan keluar dari mulutnya. Ia harus mengontrol dirinya agar tidak mengeluarkan umpatan yang akan mengganggu tidur sang anak.


Entah sudah berapa lama mobil Limosin Bara terparkir cantik di depan salon wanita yang sangat terkenal belakang ini. Berulangkali Bara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, namun sosok wanita yang sedang ia tunggu tak kunjung keluar dari salon.


"Astaga, kenapa lama sekali wanita itu ? Kita sudah terlambat 15 menit!" gerutu Bara.


Gio yang duduk di samping kursi kemudi juga merasakan bosan, berulangkali ia menguap karena mengantuk. "Namanya juga wanita tuan, pasti harus tampil secantik mungkin. Ya mungkin sebentar lagi nona Raisa akan keluar dari salon."


"Ck!" Bara memutar bola matanya malas, "berapa lama lagi dia akan keluar ? Kita sudah menunggu hampir satu jam di sini. Bahkan kita sudah terlambat 15 menit di acara kita sendiri. Bayangkan saja, seorang CEO telat datang di acara perusahaannya sendiri. Sangat memalukan!"


Tanpa sadar Gio menganggukkan kepalanya, benar yang dikatakan Bara. Harusnya mereka datang lebih dulu dibanding para tamu lain. Tapi sayang karena menunggu ekhem– jadi mereka harus terlambat.


"Tunggu seben–"


"Sampai kapan ?" tanya Bara, ia menimang-nimang anaknya. "Sudahlah, tinggalkan saja dia! Kita langsung berangkat ke hotel!" titah Bara.


"Maaf tuan, tidak bisa!" jawab Gio tegas, ia memutar tubuhnya menghadap Bara. "Nyonya Fara sendiri yang meminta nona Raisa agar menemani tuan Bara ke acara itu. Jadi kita tidak bisa meninggalkan nona Raisa untuk berangkat sendiri ke hotel. Bisa-bisa Nyonya Fara mengamuk."


Bara memijit pangkal hidungnya yang berdenyut. Kedua orangtuanya masih saja terobsesi menjodohkan dengan orang lain. Padahal sudah jelas jika Bara adalah seorang suami dan seorang ayah.


Meskipun tahu jika Bara tak akan menerima wanita yang dijodohkan dengannya, Fara akan tetap memberikan Bara wanita-wanita yang mungkin saja membuat Bara beralih daru Jelita.


Namun ada satu hal yang kedua orangtuanya tak tahu. Jika Bara bukan sekedar suka atau cinta monyet pada Jelita. Bara benar-benar cinta yang berujung ke arah obsesi pada wanita itu. Hingga Bara tak lagi memperdulikan wanita lain yang merayunya, karena jauh di lubuk hatinya hanya ada nama Jelita yang terukir di sana.


"Ah, ini dia nona Raisa..." pekik Gio senang saat melihat wanita dengan dress merah ketat dengan rambut bergelombang keluar dari salon.


Bara mengikuti arah pandang Gio, ia menatap Raisa dari ujung rambut hingga kaki lalu tersenyum sinis. "Seperti lonT yang sedang memakai riasan badut," ucapnya sinis.


Di depan Gio menahan tawanya, Raisa mungkin memang cantik tapi kalo di lihat dari dekat makeup wanita itu benar-benar sangat tebal hingga membuat wajahnya terlihat lebih tua sepuluh tahun dari umurnya.


"Silahkan masuk, nona..." Gio membukakan pintu untuk Raisa.


Tanpa menjawab, Raisa masuk ke mobil dengan wajah angkuhnya. Lalu ia merubah raut wajahnya saat mendapati Bara juga menjemput.


"Astaga, Bara. Kalau aku tahu kamu yang jemput, pasti aku akan dandan lebih cepat. Maafkan aku karena membuat kamu jadi menungg–"

__ADS_1


"Gio cepat bawa mobilnya!" titah Bara tak memperdulikan ucapan wanita di sampingnya ini.


Raisa tersenyum kecut, memilih untuk diam saat mobil sudah bergerak.


Karena keadaan hening, lagi-lagi Raisa mencoba untuk mencairkan suasana. Dilihatnya ke kanan dan ke kiri, memikirkan kira-kira bahan apa yang bisa ia gunakan untuk mengajak ngobrol Bara.


"Ah, ini anak kamu ya ?" tanyanya mengelus lembut kening Gala. "Tante Fara sudah cerita, anak ka–"


Bara melirik singkat tangan Raisa yang sudah diberi kuku palsu itu hampir saja menyentuh kening anaknya. Dengan cepat ia menepis kasar tangan Raisa pada kening anaknya.


"Jangan sentuh anaknya, dia terlalu suci untuk di sentuh perempuan murahan seperti anda!"


Raisa memejamkan matanya menahan amarah, ia menatap Bara dengan berapi-api. "Mungkin kamu gak tahu ya, tapi akan aku kasih tahu!" Raisa menarik nafas panjang lalu di keluarkan perlahan. "Aku bukan wanita murahan, aku masih per4wan. Jadi jangan samakan aku dengan pela–"


Mendengar ucapan Raisa membuat Bara tertawa hambar. "Bukan wanita murahan, eh ?" tanyanya.


Badan Bara kini mendekati Raisa, lalu membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. "Kalau bukan wanita murahan kenapa mau berdampingan dengan seorang pria yang sudah memiliki istri ?" tanyanya dengan senyum miring.


Raisa tak menjawab, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membuat sorak kemenangan meluncur pada hati Bara.


...o0o...


"Seluruh tamu di mohon berdiri, Tuan Bara Leonardo Adinata dan tuan muda Gala Hussein Adinata beserta nona Raisa Andriana Harianto tiba di ballroom!!" teriakan seorang bodyguard bersamaan dengan ketiga orang itu memasuki ballroom hotel.


Bara yang tengah menggendong anaknya yang saat ini telah terbangun dari tidurnya hanya bisa tersenyum menatap anaknya senang.


Bara mengalihkan pandangannya ke arah para tamu undangan yang kini tengah berdiri menatapnya dengan senyum tipis.


Sesekali Bara menundukkan kepalanya menyapa pada tamu, hingga matanya melebar saat tanpa sengaja matanya menatap Jelita yang kini sedang berpenampilan kacau dengan seragam yang basah akibat kejatuhan red wine.


Tanpa sadar Bara berhenti, membuat para tamu undangan menatapnya bingung, lalu mengalihkan perhatian mereka ke arah pandang Bara.


"Jelita," gumamnya dengan suara tercekat.


"Oek...oek...oek..." seperti sang bayi juga merasakan kesakitan yang dirasakan oleh sang ayah hingga membuat ikut menangis.


Baru saja akan mendekati Jelita, ada seseorang pria muda yang sudah lebih dulu membawa Jelita-nya keluar dari gedung hotel.


Tangan Bara terkepal erat melihatnya, namun usapan pada lengannya membuat tersadar untuk tidak mengejar dan menghajar pria yang sudah membawa dan berani menyentuh istrinya itu.


"Bara, aku kamu naik ke atas podium sama aku. Para tamu udah nungguin kita loh, ayo Bara..." Raisa berusaha membuat perhatian Bara tertuju padanya.


Meskipun tak terima dengan kata 'para tamu undangan menunggu kita' karena kenyataannya tamu undangan hanya menunggu dirinya seorang, tapi Bara tetap akan menuruti Raisa karena tak ingin mengacaukan acara perusahaannya.


Dengan langkah tegas, Bara naik ke atas podium dengan Gala yang berada pada gendongannya lalu Raisa yang ikut di sampingnya.

__ADS_1


"Baiklah, pertama saya akan meminta maaf atas keterlambatan saya sebagai CEO di acara perusahaan saya sendiri karena anak saya yang sedang rewel dan terus menangis," bohong Bara.


Ia memperlihatkan wajah sang anak ke para tamu undangan, tak hanya itu para kamera wartawan juga langsung memfokuskan lensa kamera ke wajah bayi dari Bara itu. Mengezoom hingga layar kamera mereka hanya menampilkan wajah Bara.


"Dia anak saya, anak kandung saya. Gala Hussein Adinata. Anak saya yang baru 3 bulan lalu datang ke kehidupan saya dari seorang istri yang sangat amat saya cintai."


Bara tersenyum lebar tatkala membayangkan wajah istrinya. "Tapi jika kalian bertanya siapa ibunya, maafkan saya tidak bisa memberitahukan pada kalian semua. Karena istrinya saya begitu pemalu."


Bisa di lihat wajah Raisa langsung cemberut dan tak enak di pandang. Dari ucapan Bara tadi, secara tidak langsung ia mengklarifikasi jika dirinya bukan istri Bara.


"Tampan sekali anak anda Mr. Bara..."


"Wah, pasti sangat beruntung sekali istri anda karena Mr. Bara secara terang-terangan di depan kita semua jika ia mencintai istrinya."


"Keluarga yang harmonis, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan..."


"Lalu siapa wanita yang di samping Mr. Bara ?"


"Ah..mungkin itu hanya sekretarisnya saja!"


Bara sama sekali tak mengindahkan bisik-bisikkan yang kini sedang menyudutkan Raisa. Ia masih terus tersenyum lebar menatap sang anak.


"Ah, kembali lagi pada topik. Saya juga mengucapkan terima kasih pada para tamu undangan yang sudah mau menyisihkan waktu luangnya untuk menghadiri acara 57 tahun bersama ADN Corp. Dimana tepatnya hari ini adalah hari peresmian terbentuknya ADN Corp pada 57 tahun yang lalu. Harapan saya semoga bukan hanya ADN Corp yang akan berkembang pesat dan maju, tapi perusahaan para Bapak/Ibu juga sama suksesnya."


"Dan untuk para staff-staff saya yang telah bekerja keras memajukan perusahaan kita. Saya ucapkan terima kasih. Maka dari itu mari kita bersulang," ajak Bara.


Salah seorang pelayan mendekat sembari menyerahkan red wine pada Bara dan Raisa.


"Cheers!!" teriaknya mengangkat gelas red winenya.


"Cheers!!" teriak para tamu undangan lalu segera meminum red winenya.


Bara, dan Raisa turun dari podium untuk menjumpai para tamu undangan. Namun Bara memanggil Gio sebelumnya. "Cari tahu Jelita dimana, pastikan di baik-baik saja. Lalu antar dia untuk pulang."


Gio mengangguk lalu melesat mencari Jelita.


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2