HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 68 - AYO IKUT


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Dengan tangan bergetar Jelita membaca secarik kertas dimana ia merasakan kelegaan yang luar biasa dalam lubuk hatinya.


Akhirnya indentitas jelas.


Akhirnya ia memiliki nama belakang.


Akhirnya ia memiliki orang tua kandung.


Bukti Ilmiah yang diperoleh dengan mengacu pada sampel yang telah diperiksa, menunjukkan bahwa 13 dari 21 alel loci marka STR yang dianalisis milik terduga ayah Bisma Sanjaya cocok dengan alel paternal dari anak Adhisti Jelita Nirmala. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga ayah Bisma Sanjaya sebagai ayah dari anak biologis Adhisti Jelita Nirmala adalah >99.9% dan karena itu ayah terduga Bisma Sanjaya tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan ayah biologis anak.


"A–aku, a–aku....." Jelita tak bisa melanjutkan kalimatnya karena desakan air matanya yang terus-menerus keluar tanpa ia minta dari sudut matanya.


Saat tubuhnya sudah tak kuat berdiri, dengan sigap Hades memegang pinggangnya erat. Tangan kanannya tak henti-hentinya mengelus punggung Jelita yang bergetar. Berusaha menguatkan Jelita yang terlihat begitu rapuh.


Sementara mata Hades juga memperhatikan pasangan paruh baya yang juga saling memeluk, dengan sang istri yang menangis hebat setelah membaca hasil diagnosis tes DNA itu.


"Stt....Ta, sabar ya..." ucapnya menenangkan.


Setelah hampir 6 jam yang lalu saat masih jam makan siang di restoran Widya, Jelita mengatakan memiliki tanda lahir di punggung berbentuk kupu-kupu, yang kebetulan sama dengan tanda lahir anak Bisma yang hilang 17 tahun lalu.


Bisma langsung membawa Jelita bersama Widya juga Hades untuk menjadi saksi menuju rumah sakit terbesar di Jakarta.


Tanpa meminta izin Jelita, ia langsung melakukan tes DNA pada wanita itu. Entah karena feeling atau kepercayaannya yang kuat, ia sangat yakin jika wanita yang menjadi pelayan di restoran istrinya adalah anaknya.


Dan setelah mengikuti seluruh prosedur tes DNA, akhirnya hasil tes darah itu keluar setelah 6 jam menunggu.


Dan hasilnya adalah Bisma adalah ayah biologis dari Jelita.


Bisma mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya, dengan mata yang berlinang air mata melihat sosok anaknya, anak kandungnya.


"Vanessa Dad, Vanessa...." lirih Widya dengan tangisan tersedu-sedu dipelukan suaminya.


Kini mereka berada disalah satu ruangan VIP yang berada di rumah sakit.


"Iya Mom, Jelita anak kita...." balas Bisma lirih, lalu pelukannya dengan sang istri mengendur. Kedua pasang paruh baya itu kompak menatap anak mereka yang begitu rapuh di pelukan Hades.


Widya berdiri dari duduknya, ingin menghampiri sang anak yang masih berdiri dengan tatapan kosong tapi air mata yang masih terus menerus mengeluarkan air mata sepertinya.


Namun saat Widya sudah mendekat kearah Jelita, wanita itu malah menatap nyalang Widya, yang membuat wanita paruh baya itu mengehentikan langkah kakinya dengan perasaan yang sakit luar biasa.


"Va–vanessa, ini Mom–"


"TIDAK!" ucap Jelita memotong ucapan Widya. "Aku tidak memiliki ibu! Ibuku membuangku ke panti asuhan sejak aku bayi! Kedua orang tuaku telah mati!" sambungnya dengan suara bergetar hebat.


Widya menangis, tubuhnya bergetar hampir saja ia jatuh namun sang suami dengan sigap menahan tubuhnya dari belakang.


"Sayang, ini kami nak. Orang tua kamu, maafkan kami, nak. Karena lambat menemukanmu...." Bisma dengan air mata yang berlinang dengan tulus meminta maaf.


Ia ingin memeluk anaknya, ia juga ingin bersimpuh di kaki Jelita agar anaknya bisa memaafkan kesalahannya.


"Kami minta maaf ya nak, kami terlambat....hiks....hiks..."


Jelita tertawa hambar mendengar permintaan maaf dari kedua orang tua dihadapannya. "Minta maaf untuk apa ? Karena sudah membuang saya karena tak menginginkan kelahiran saya ? Atau meminta maaf karena gara-gara kalian hidup saya hancur ?? IYA ?? YANG MANA? KALIAN MEMINTA MAAF UNTUK APA ?" Jelita meninggikan suaranya diakhir kalimatnya.


"Ta! Sabar...." Hades berusaha menenangkan Jelita. Ia sama sekali tidak ikut campur urusan keluarga mereka. Ia hanya berusaha meredakan emosi Jelita.


"Vanessa, kamu bicara apa sayang... Mommy sama Daddy gak mungkin buang kamu...hiks...hiks...tolong dengarkan penjelasan kami..." mohon Widya.


"Penjelasan apa lagi ? Sudah cukup! Nama saya Jelita bukan Vanessa! Anak kalian yang bernama Vanessa telah mati! Saat ini hanya ada Jelita, yang dari bayi hingga berumur 4 tahun selalu disiksa dan dipukuli di panti. Saat ini hanya ada Jelita yang dibenci oleh keluarga angkatnya. Saat ini hanya ada Jelita yang mendapatkan p3lecehan s3ksu4l dari kakak angkatnya hingga mempunyai anak. Saat ini hanya ada Jelita yang cuma lulusan SMP karena dikeluarkan dari sekolah dengan kasus hamil di luar nikah!" tak henti-hentinya air mata mengalir pada mata Jelita.


Mendengar penuturan Jelita, kedua orang tua itu menangis lebih keras. Ia juga ikut merasakan rasa sakit yang dialami anak kandungnya.


"Kaliankan sudah ada anak lagi, kenapa cari saya saat hidup saya sudah hancur ? Anak perempuan kalian yang berada di restoran tadi jauh lebih baik daripada saya. Saya hina, saya kotor, saya...hiks....hiks....hiks...Hades sakit...." Jelita menunjuk dadanya yang berdenyut nyeri dan dengan sigap Hades memeluk Jelita erat.

__ADS_1


Bisma berjalan mendekati Jelita, lalu bersimpuh di kaki Jelita. "Biarkan kami mengobati luka kamu, nak." Bisma memeluk kaki Jelita.


Jelita tersigap, ia melepaskan pelukan Hades, lalu berjongkok berusaha melepaskan pelukan Bisma dari kakinya.


"Tolong lepas, jangan seperti ini..." pinta Jelita berusaha melepaskan tangan Bisma yang melilit betisnya. Namun tenaganya yang memang sudah lemas itu tak sanggup melawan Bisma.


"Akan Daddy jelaskan saat kamu sudah mendengar penjelasan Daddy!"


Jelita melirik Hades yang tersenyum lalu mengangguk. "Jangan lihat dari satu sisi, Ta. Lihat dari sisi lain dulu, sebelum kamu menyimpulkan suatu masalah!"


Ia memejamkan matanya merenungi ucapan Hades, lalu tanpa sadar ia mengangguk, membiarkan Bisma dan juga Widya menceritakan cerita masa lalu mereka.


Bisma tersenyum lebar, melepaskan rangkulannya dari betis Jelita, lalu segera menarik lembut tubuh Jelita agar duduk di samping Widya.


"Dengarkan Daddy ya nak, Daddy akan mulai bercerita. Dan atas nama Tuhan apa yang Daddy ceritakan adalah 100% kebenaran."


Bisma mulai bercerita bagaimana ia juga Widya saling mencintai, lalu memutuskan untuk menikah. Tepat satu tahun pernikahan mereka, ia menceritakan bagaimana Widya memberikannya sebuah kejutan berubah surat dokter yang mengatakan jika ia tengah mengandung Jelita.


Mereka menghabiskan waktu kehamilan Widya dengan begitu bersemangat, membeli peralatan dan perlengkapan bayi. Membuat kamar bayi perempuan yang cantik. Bisma juga menceritakan bagaimana ia harus menuruti ngidam Widya yang sangat aneh dan nyeleneh pada malam dini hari.


Jelita tersenyum tipis mendengar itu.


Hingga cerita Bisma kini berganti pada bagaimana ia membawa Widya yang sudah kontraksi pada dini hari ke rumah sakit.


Sangat lama proses pembukaan itu terjadi, dan pada pagi hari Jelita terlahir di dunia. Ia menceritakan bagaimana Jelita menyusui pada Widya dengan begitu lahap.


Hingga saat dimana waktu itu tiba, kejadian penculikan bayi secara besar-besaran terjadi. Dan salah satu bayi yang diculik adalah Jelita.


"Hiks...hiks.... maafkan Mommy dan Daddy ya nak, harusnya setelah melahirkan kamu. Kami berdua tidak tidur dan terus menjaga kamu dan tidak membiarkan perawatan itu membawa kamu kabur..." ucap Widya yang kini memeluk tubuh Jelita begitu erat.


"Harusnya Mommy melawan rasa kantuk karena obat bius dengan menampar wajah Mommy berulangkali agar tetap sadar. Maaf sayang, maafkan Mommy...."


"Hukum Mommy nak, hukum Mommy seperti rasa sakit kamu saat jauh dari kamu," pinta Widya.


Bisma menundukkan wajahnya, menangis.


"Pasti rasanya sakit ya nak, kamu disiksa, lalu dilecehkan. Maafkan Mommy ya, nak...."


Jelita memejamkan matanya, lalu membalas pelukan Widya dengan begitu erat. "Mommy....hiks....hiks...Jelita capek...." adunya pada sang ibu.


"Benar sayang, Daddy akan urus semuanya. Termasuk keluarga angkatmu yang bajingan itu!" ucap seorang Bisma Sanjaya dengan sungguh-sungguh.


...o0o...


"Tuan, Nyonya, ada tamu di depan!" ucap seorang maid yang lari terburu-buru menuju tuan rumah ini berada.


Bara melepaskan kan pelukannya pada kaki sang ibu. Mata sembab Fara dan Bara saling bertatapan. Seolah-olah bertanya siapa tamu yang datang malam-malam begini ....?


"Ayo kita temui..." ucap Bara.


Fara menganggukkan kepalanya, lalu mereka bertiga dengan Gala yang masih berada digendonggan neneknya itu.


Mereka berjalan menuju ruang tamu yang berada dilantai satu rumahnya.


Fara menatap heran tamu yang sedang membelakanginya, lalu ia tersenyum tipis saat tahu jika teman bisnisnya sendiri yang kesini bersama Jelita.


Bara dan Fara duduk di sofa depan keluarga Sanjaya juga Jelita.


"Astaga kamu Wid, aku kira siapa," ucap Fara lalu matanya melirik Jelita singkat. "Kamu ngantar Jelita pulang ya ? Makasi ya. Tapi hari ini hari terakhir Jelita kerja, besok dia gak kerja lagi. Suaminya gak bolehin dia kerja lagi," sambung Fara dengan senyum yang kali ini tulus. Matanya menatap sang anak yang masih menatap Jelita.


"Terima kasih tan sudah mengantarkan istri saya. Tapi benar apa yang dikatakan Mama saya, hari ini hari tera––—"


"Tidak perlu basa-basi." Bisma dengan cepat memotong ucapan Bara, kupingnya terasa panas mendengar suara pria yang telah berani melecehkan anaknya dan membuat rusak masa depan anaknya.


Widya tersenyum menenangkan sang suami, dengan menggenggam tangan Bisma. Lalu matanya kini beralih pada Fara yang masih memperhatikannya. "Aku datang kemari bukan untuk mengantar Jelita. Tapi kami ingin mengambil cucu kami, Gala!"


Mata Fara dan Bara sontak melotot bingung dengan ucapan Widya. "Maksudnya ? Atas dasar apa tante ingin mengambil anak saya ?" Bara mulai terbawa emosi. Lalu matanya beralih pada Jelita yang sama sekali tak menatapnya. "Ta! Masuk kamar sayang!" pintanya yang tentu diabaikan oleh Jelita.


"Jangan berani-beraninya kamu menyuruh anak saya! Lelaki pedofil sepertimu sama sekali tidak ada hak!" sungut Bisma.


Mata Fara dan Bara kembali terbelalak kaget. "A–anak siapa ?"


BRAKK....

__ADS_1


Bisma membanting kertas tes DNA itu diatas meja dengan keras. "Bacalah!"


Fara segera membuka amplop itu dan membaca keseluruhan isinya. Matanya membulat kaget dengan fakta yang baru saja ia baca.


"Ti–tidak...." matanya bergetar menatap Jelita.


Melihat reaksi tubuhnya yang begitu, membuat Bara penasaran. Ia menarik sehelai kertas itu dan membacanya dengan seksama.


Jantung berdetak hebat, namun ada rasa kelegaan saat ia tahu Jelita sudah menemui orang tua kandungnya.


"Ta, ini–"


"Saya datang kemari ingin menyampaikan itu. Jelita anak yang selalu kamu siksa Far, adalah anak kandung kami. Kamu membuatnya menjadi office girl di perusahaan mu, kamu membuatnya menjadi pelayan di resto ku, itu adalah anak kandungku Far." Hatinya tertusuk setelah mengatakan itu, lalu kini mata Widya menatap Bara. "Bara, gadis kecil yang selalu kamu lecehkan sejak menginjak sekolah dasar itu adalah anak saya. Kamu membuatnya keluar dari sekolah, memfitnahnya dengan video asusila kalian yang dengan sengaja kamu sebarkan hanya untuk membuatnya berada di sisi mu. Kamu tahu karena ulahmu anak kami tidak memiliki satu teman ? Apa kamu tidak tahu jika anak kami terganggu mentalnya karena kamu ?" ucap Widya yang menusuk Bara.


"Saya mohon segera ceraikan anak saya, biarkan sekarang dia hidup bahagia bersama kedua orang tua kandungnya dan juga anak semata wayangnya."


"Kami di sini sama sekali tidak ingin membawa masalah ini ke ranah hukum karena Jelita menolak. Lihat, anak kecil yang selalu kalian lukai masih memikirkan nasib nama baik kalian!"


Jelita menangis, ia memeluk sang ibu yang juga sudah menangis dari samping dengan tangan yang mengelus punggung Widya.


"Ta–tapi Gala, Gala nanti aka–"


"Tidak perlu khawatir, pintu rumah keluarga Sanjaya akan terbuka lebar untuk keluarga kalian jika ingin bertemu dengan Gala," jawab Widya cepat.


"Hanya itu yang akan kami katakan, jadi tolong segera berikan Gala pada kami!" ucap Bisma dengan nada tidak enak.


Fara menatap anaknya bingung, saat ini ia sedang menggendong Gala ia bingung harus memberikan Gala kepada Bisma atau tidak.


Disatu sisi ia tidak mau melepaskan cucu kesayangan, tapi di sisi lain ia merasakan perasaan bersalah yang begitu besar pada Jelita dan keluarga Sanjaya.


Sementara Bara, terus menatap Jelita yang tidak menatapnya. "Bagaimana dengan kamu Ta ? Kamu ingin aku melepaskan mu ? Kami ingin kita berpisah?" tanyanya.


Tanpa menatap Bara, Jelita mengangguk. "Jelita masih kecil kak, Jelita baru 17 tahun. Jelita ingin bersama orang tua kandung Jelita, rasanya Jelita ingin hidup bahagia walau hanya sebentar. Jelita ingin tahu gimana sih rasanya disayang sama Ayah sama Ibu."


"Tolong lepaskan Jelita kak, Jelita ingin hidup layak. Ingin hidup damai, tanpa ada ancaman serta paksaan dari pihak manapun. Sesuai kata Mommy, Jelita sama sekali tidak akan membuat kakak sudah jika ingin bertemu dengan Gala. Jelita janji!"


"Jika kakak memang cinta Jelita dengan tulus. Kakak cukup selipkan nama Jelita disetiap doa kakak. Jika kita berjodoh, suatu saat pasti kita akan bersatu dengan keadaan yang jauh lebih baik dari ini!" final Jelita.


Bara memejamkan matanya mendengar setiap ucapan Jelita yang menyakiti relung hatinya.


Jelitanya ingin pisah dengannya. Jelitanya ingin hidup bahagia tanpanya.


"Sudah dengarkan ucapan anak saya! Sekarang serahkan Gala!" pinta Bisma.


Fara yang sudah berlinang air mata memeluk tubuh cucunya yang sedang tertidur itu dengan begitu erat.


Sedangkan Bara menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Jelita. Ia mengambil alih Gala dari gendongan Fara lalu dipeluknya dengan erat.


Setelahnya, ia memberikan Gala pada Bisma. "Baiklah, aku menyetujui keinginan kamu untuk berpisah." setengah mati Bara mengatakan itu, itu adalah kata-kata yang tidak mungkin ia keluarkan untuk Jelita. Tapi hari ini dengan susah payah ia mengatakan itu di depan wajah Jelita.


Tak mau berbasa-basi lagi Bisma yang sudah menggendong Gala langsung berdiri dari duduknya diikuti oleh Widya dan juga Jelita.


"Kami pamit!"


Setelah mengatakan itu Bisma Widya dan juga Jelita langsung keluar dari rumah keluarga Adinata.


Meninggalkan Bara dan juga Fara yang menangis tersedu-sedu menatap kepergian Jelita dan juga Gala.


"Gala.....hiks...hiks...." Fara terus menangis meraung-raung memanggil nama cucunya.


Sementara Bara kini diam bagai patung menatap punggung istrinya yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Jika memang jodoh pasti kita akan tetap berama...."


...o0o...


BESOK CHAPTER TERAKHIR YAAA...


JANGAN LUPA KOMEN+GIFTNYAAA....


PENCET TOMBOL 👍


__ADS_1


GIMANA JADINYA WANITA CANTIK + SEKSI + MEMILIKI BADAN BAGUS + RATU DI KULIAHANNYA HARUS MENJADI PENGASUH DARI PRIA BERANAK SATU ? IKUTI CERITA BARU RATU YAA


MAMPIR KE KARYA BARU RATU YA...


__ADS_2