HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 16 - BARA YANG LICIK


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Bara menghembuskan nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tapi Sinta masih terus saja sibuk mencoba hampir seluruh gaun yang ada butik ini.


Jika bukan karena ancaman kedua orangtuanya yang mengatakan jika akan mengirim Jelita ke luar negeri. Bara tidak akan sungkan-sungkan meninggalkan wanita gila itu di butik ini sejak tadi.


"Kalo yang ini gimana, Bar ?" tanya Sinta untuk yang kesekian kali.


Seperti jawaban sebelumnya, Bara menganggukkan kepalanya singkat lalu tersenyum kecil. "Bagus."


Sinta berdecak malas, selalu saja mengatakan bagus. Padahal Bara sama sekali tidak menatap Sinta, tidak menatap gaun yang saat ini sedang ia pakai.


Mata pria itu sedari tadi hanya menatap ponsel. Entah apa yang lebih seru di sana, hingga mengabaikan kemolekan tubuhnya.


"Kalo sama yang gaun merah tadi bagus yang mana, Bar ?"


"Sama aja."


"Tapi menurut kamu yang mana ? Aku bingung..."


"Gak tahu."


"Apa beli yang dress warna hitam aja ya ?"


"Terserah."


Sinta frustasi, ia bingung dengan sikap Bara saat ini. Sangat berbanding terbalik dengan saat bersama dengan kedua orangtuanya.


"Maaf menyela, tapi menurut saja lebih baik memakai pakaian hitam saja nona. Karena tuan sudah membeli satu set jas dengan warna senada dengan gaun tadi," ucap salah seorang pegawai butik yang melihat bagaimana Sinta yang sedari tadi diabaikan Bara.


Mendengar ucapan pegawai itu, Sinta tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya. "Benar juga, baiklah aku beli yang itu saja!"


Bukan hanya kelegaan yang tersirat dari wajah pegawai itu, Bara juga sangat lega saat akhirnya Sinta memilih gaunnya.


Pria itu memasukan handphonenya ke dalam saku celananya dan berjalan menuju kasir.


Setelah membayar, Bara langsung mengantarkan Sinta pulang dan membawa wanita itu untuk masuk dalam rumahnya.


Bara ingat etika, setelah berpamitan dengan kedua orang tua Sinta, Bara melajukan mobilnya menuju tempatnya untuk melepas penat.


Club malam.


...o0o...


Jelita memutar knop pintu rumah mewahnya perlahan. Ia takut saat ia membuka pintu itu terpampang wajah marah Bara.


Namun keberuntungan berpihak pada Jelita, saat menyadari rumah keluarga Adinata ini sangat sepi.

__ADS_1


Ia melangkahkan kakinya menuju salah seorang maid yang sedang mengelap Gucci yang bernilai ratusan juta itu.


"Mbak..." panggilnya dengan pelan.


Meski pelan, ternyata pelayan itu terkejut bukan main. Hampir saja tangannya menyenggol Gucci mahal itu. Untung saja Jelita secara reflek menarik tangannya agar menjauhi Gucci itu.


"Ya ampun Gusti..." teriaknya, maid itu memegang jantungnya yang berdetak kencang. "Non Jelita ngagetin aja! Untung gak jatuh ini Guccinya," sambungnya kesal.


Jelita tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf mbak, aku mau tanya Papa, Mama sama kakak kemana ya ? Kok rumahnya sepi banget ?"


Dengan perasaan masih kesal, maid itu menjawab pertanyaan Jelita dengan ogah-ogahan. "Tuan dan nyonya tidak pulang karena ada perjalanan bisnis ke Bandung. Kalo tuan muda masih kerja, belum pulang," jawabnya dengan ketus.


Meskipun nada bicara maid itu tidak menunjukkan rasa sopan, Jelita tetap senang. Mungkin Bara sedang sibuk jadi akan pulang terlambat. Dan itu sangat menguntungkan Jelita.


Ia bisa terhindar dari hukumannya.


Dengan langkah riang, ia meninggalkan maid itu dan berjalan dengan langkah lebar menuju kamar.


...o0o...


"Gila lo Bar! Udah berapa botol ini anj**ng ?" tanya Rifki, teman Bara yang saat ini sedang menemani Bara di Club.


Sejak sejam yang lalu ia tiba terlebih dulu dibandingkan dengan Bara. Lalu sepuluh menit kemudian Bara tiba dengan wajah muram.


Tak tanggung-tanggung, bukan segelas dua gelas, Bara langsung memesan 3 botol bir dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.


"SIALAN JELITA!!"


"LO CUMA MILIK GUE !!!" teriaknya tanpa sadar.


"BISA-BISANYA LO MELUK PINGGANG SI BRENGSEK ITU!!" teriaknya lagi sembari menyambar botol ketiga hingga tandas.


Pyarrrrrr...


Setelah botol itu kosong, Bara tak segan-segan melemparkan benda kaca itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.


"MINUM!!!"


"GUE PESAN LAGI 4 BOTOL!!"


Mendengar permintaan temannya, Rifki langsung mengkode barista itu untuk tidak menanggapi permintaan Bara.


"Bar lo jangan gila, gue tahu lo cemburu. Tapi tolong jangan rusak tubuh lo!" ucap Rifki mencekram erat kedua bahu Bara.


Pria itu menatap tajam Bara, berharap sahabatnya itu sadar. Namun Bara menepis tangan Rifki yang berada di bahunya dengan kasar, lalu berdiri dari duduknya menatap Rifki nyalang.


"Lo gak tahu apa-apa mending diem! Lo gak tahu seberapa sakitnya gue ngelihat Jelita sama laki-laki lain!! Gue frustasi!! Gue harus apa biar Jelita gak mandang cowok lain selain gue ?" tanya Bara dengan raut wajah frustasi.


Rifki berdiri dari duduknya lalu menepuk bahu Bara beberapa kali. "Gue ada ide, Bar. Gue jamin Jelita yang akan datang sendiri ke lo tanpa di minta."


Bara menatap Rifki menyelidiki. "Ide apa ?" tanya Bara penasaran.


Sahabat Bara itu mendekatkan bibirnya pada telinga Bara yang membuat senyum Bara tercetak sangat lebar.


"Gue ikutin saran dari lo! Gue balik!" pamitnya yang hanya diangguki oleh Rifki, tanpa di jawab.

__ADS_1


...o0o...


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Jelita sudah pasti sedang berada dalam alam mimpinya.


Sedari tadi senyum Bara terus saja tercipta, tak luntur barang sedetik pun.


Dengan mengendap-endap Bara menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju kamar Jelita.


Saat tiba di depan pintu Jelita, Bara menghilangkan senyumnya dan kembali pada wajah datarnya.


Perlahan tapi pasti, Bata memutar knop pintu dan berjalan memasuki kamar Jelita. Setelahnya menutup pintu itu kembali, tak lupa ia juga menguncinya.


Tepat sasaran! Jelita tertidur pulas hanya dengan kaos sebatas pusar dan celana pendek. Bara menelan salivanya susah payah, jika berhadapan dengan adiknya, hasrat dan nafsu Bara tidak bisa ia kontrol.


"Harus aku taruh dimana ponsel ini ?" tanyanya.


Bara melihat nakas Jelita yang berada di sudut kamar. Ada jam weker diatasnya. Ia mendekatkan nakas itu ke samping kasur, ia memposisikan agar sekitarnya ponselnya dapat memperlihatkan wajah Jelita dengan jelas untuk merekam kegiatan panas mereka.


Bara meletakkan ponselnya, dengan jam weker sebagai penyangga dan mulai membuka aplikasi kamera. Pas, hanya tubuh Jelita yang terlihat. Mukanya juga sangat jelas.


Ia memencet tombol video.


Bara yang sudah tidak berpakaian segera berjalan menuju Jelita dan tanpa aba-aba langsung menerkam Jelita seperti seseorang yang haus akan belaian.


Jelita tentu saja memberontak namun usahanya tentu sia-sia. Bara melakukan itu hingga Jelita pingsan tak sadarkan diri karena kelelahan.


Setelah selesai Bara meraih ponsel, dan tersenyum melihat video yang hanya memperlihatkan Jelita berdurasi 4 jam itu.


To : Rina Safitri


Anda mengirimkan video (3GB)


Sebarkan video Jelita ke grup kelas.


Jika ada wajah ku, blur saja!


Edit sebagus mungkin!


Potong adegan saat Jelita memberontak.


Perlihatkan saat dia keenakan saja!


Setelah mengirimkan videonya pada anak buahnya, Bara tersenyum lebar. "Jelita, sekarang pasti tidak ada yang mau denganmu. Mereka semua akan menatap mu dengan jijik!"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA πŸ₯°

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2