
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Keluh keringat membahasi dahi pria muda, padahal sudah ada 2 AC yang menyala pada sudut-sudut ruangan itu. Tapi entah mengapa ruangan ini terasa begitu panas.
Tangannya sama sekali tak berhenti bergerak menyelesaikan sesuatu yang tengah ia mulai, sedangkan seseorang yang sedari tadi memperhatikannya hanya mampu menggelengkan kepalanya takjub dengan stamina pria muda dihadapannya itu.
Sudah hampir 6 jam tapi pria muda itu tak berhenti, malah semakin bersemangat seperti seekor kuda yang tengah dilepas dari kandang ke alam bebas.
"Tuan..." panggil Ranz dengan lembut, berharap suaranya mengambil alih perhatian Hades.
Tapi sepertinya apa yang dilakukan Hades lebih menyaksikan daripada Ranz, hingga ia sama sekali tak menoleh pada sekretaris nya itu.
"Tuan," panggil Ranz sekali lagi dan hanya dijawab decakan malas oleh tuannya. "Hm."
Ranz menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu matanya beralih pada jam yang melingkar pada tangan kirinya.
Dengan terpaksa ia harus menghentikan kegiatan asik dari tuannya itu, Ranz berjalan mendekati Hades yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
Tuannya ini benar-benar bekerja keras!!!
"Tuan, tolong berhenti bekerja," pinta Ranz yang lagi-lagi tak ditanggapi oleh Hades, pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa yang dia lakukan. "Ini sudah waktunya jam makan siang," sambungnya.
Mendengar kalimat makan siang, Hades langsung mengalihkan perhatiannya pada Ranz dengan mata berbinar.
"Jam berapa sekarang ?" tanya Hades.
"Lima menit lagi jam sebelas siang, tuan."
Hades menganggukkan kepalanya seraya menutup laptopnya, pria itu menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi sembari menutup mata, dan meletakkan satu kakinya di atas kaki lainnya.
"Waktunya makan siang," gumam Hades dengan suara beratnya. Oh, jangan lupakan senyuman iblis yang ada di wajah pria tampan itu.
Ranz yang melihat senyuman langsung merinding seketika, ia mengalihkan pandangannya kearah lain saat matanya di tatap oleh Hades.
"I–iya tuan, sudah waktunya makan siang." Ranz tersenyum kikuk, sungguh ia mati kutu berhadapan dengan pria muda ini. "Tuan ingin makan dimana ? Biar saya siapkan makan si–"
"Tidak, aku ingin makan siang di Apartemen ku," jawab Hades cepat.
Pria itu berdiri dari duduknya dan bersama dengan Ranz ia berjalan keluar dari ruangannya menuju lift.
Tak henti-hentinya Hades melemparkan senyumannya pada setiap karyawan yang berseliweran dihadapannya.
Harus jaga image!
"Ranz, beli tanah kosong yang di depan Cafe Arcros," ucap Hades tiba-tiba.
Mereka kini tengah memasuki area parkir letak dimana mobil mahal Hades terparkir.
"Cafe Arcros yang berada di jalan Rasuna Merdeka ?" tanya Ranz memastikan.
Tangan Ranz terulur membuka pintu mobil untuk Hades, pria muda itu masuk kedalam mobil seraya menganggukkan kepalanya.
"Benar, di sana. Aku tanah kosong yang ada di sana. Ada 2 hektar beli semua, tanpa tawar!" titah Hades.
BRAKK....
Mobil kini tertutup, namun Hades membuka kaca mobil karena melihat wajah Ranz yang nampak kebingungan.
"Ada apa ?" tanyanya.
Sekretarisnya itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf tuan, tapi semua tanah yang ada di daerah Rasuna Merdeka sudah berada pada kuasa ADN Corp, sedangkan perusahaan itu sudah menjadi rival kita sejak dulu. Saya rasa tidak mungkin tanah itu akan diserahkan pada kita," jawab Ranz.
Hades lagi-lagi tersenyum miring. "Aku tidak perduli, mau itu milik keluarga si Bara atau milik siapa. Pokok aku mau lahan tanah kosong itu untuk cabang kita yang baru!" titah Hades sebelum ia menutup kembali kacanya.
Ranz hanya tertunduk diam melihat mobil tuannya yang bergerak pergi meninggalkan area perusahaan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera menyusun strategi untuk mendapatkan tanah itu!" tekad Ranz.
...o0o...
Tok....tok....tok....
Jelita mengetuk pintu ruang kerja suaminya dengan sedikit keras, suara ketukan itu sama seperti detak jantungnya yang berdebar kencang saat ini.
Sekali lagi untuk yang sekian kalinya Jelita melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.
"Anjir, setengah jam lagi...." gumamnya takut.
"Masuk!" teriak Bara sedikit keras.
Setelah mendengar ucapan suaminya barulah ia memberikan diri memasuki ruangan Bara dengan tubuh linglung karena di dalam otaknya masih memikirkan cara untuk keluar saat jam makan siang.
Jelita mendongakkan kepalanya menatap Bara yang kini tersenyum kearahnya, lalu ia melirik kearah Gio yang sibuk dengan berkas di samping meja kerjanya suaminya.
Dengan ragu ia mendekat kearah Bara, tubuh pria itu hampir tak terlihat karena tumpukan beberapa dokumen.
"Waktunya makan siang, kak..." ucapnya basa-basi, ia tersenyum kikuk membalas senyuman Bara.
"Gue alesan apa nihhh????" batinnya bingung. Jelita memainkan jari jemarinya dibawah bajunya.
"Ah iya waktunya makan siang ?" tanya Bara melihat jam tangannya.
Jelita mengangguk sembari tersenyum, baru saja ia ingin basa-basi kepada Bara dan menawarkan untuk makan siang bersama, tapi suaminya itu lebih dulu mencela ucapannya.
"Sayang, kamu makan sendirian bisa gak hari ini ? Aku sibuk banget..." pinta Bara, meskipun wajahnya menatap kearah Jelita, namun kedua tangannya itu masih mengetik pada keyboard komputernya.
Mata Jelita membulat terkejut mendengar ucapan Bara, tapi sebisa mungkin ia tetap tenang dan menjaga ekspresinya.
"Bagaimana sayang ? Kamu makan diluar gak papa. Aku tahu kamu gak ada teman yang bisa diajak ke kantin," sambung Bara lagi.
Jelita mengigit bibir bawahnya agar tak tersenyum senang, ia berpura-pura sedih dihadapan suaminya.
"Baiklah, kalo begitu aku akan makan di rumah saja bersama Gala. Apa boleh begitu kak ?"
Dengan semangat Bara menganggukkan kepalanya, tentu saja ia akan setuju. Daripada Jelita keluar ke restoran lalu bertemu dengan laki-laki lain, mending Jelita pulang ke rumah saja!
Supaya tak jadi beban pikiran untuknya.
Setelah mengatakan itu, Jelita berpamitan untuk keluar dari ruangan Bara dengan wajah sedih. Seolah-olah jika ia tak suka jika tak makan siang dengan suaminya.
Tapi raut wajah sedihnya langsung berubah saat keluar dari ruangan Bara, ia memekik kesenangan sembari berlari untuk memasuki lift.
"Akhirnya, aku bisa menemui Hades tanpa dicurigai Bara..." gumamnya.
...o0o...
Motor ojek online yang di tumpangi Jelita berhenti tepat pada depan gedung Apartemen yang sudah diberitahu oleh Hades.
Setelah membayar uang ongkos ojek online itu, Jelita langsung memasuki loby hotel untuk memasuki liftnya.
"Kemarin kak Hades bilang lantai 10 nomor 3," gumam Jelita sembari menekan tombol 10 pada mesin lift itu.
Ting...
Tak berselang lama, lift itu terbuka. Kaki jenjangnya langsung berjalan keluar dari lift untuk mencari pintu dengan angka 3.
"Ah, ini sepertinya apartemen no. 3," ucap Jelita.
Tok....tok...tok...
Tak berselang lama, dari ia mengetuk pintu keluarlah Hades dengan kemeja putih dan celana kerja tanpa jas menyambut Jelita dengan senyum manisnya.
"Ta ? Lo udah dateng ?"
Jelita memutar bola matanya malas, jika ia belum datang lalu siapa yang berdiri dihadapan pria itu ? Hantuuu??
"Gak usah basa-basi kak, kamu nyuruh aku datang ke sini untuk apa ? Bisa di bunuh aku sama Bara kalo ketahuan!" desis Jelita tajam.
Hades tersenyum miring, ia menarik tangan Jelita untuk masuk ke dalam Apartemennya lalu menutup pintu itu.
"Kak ? Aku gak mau masuk!?!" teriak Jelita, ia menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Hades.
__ADS_1
Namun bukannya terlepas, genggaman tangan itu malah semakin mengerat. Hades membawa Jelita untuk duduk di salah satu sofa yang ada di apartemennya.
"Kan katanya kamu gak mau ketahuan Bara, makanya kita ngobrolnya di dalam aja," jawab Hades dengan tawa kecil.
Jelita mendengus kesal mendengar jawaban Hades, ia melirik lelaki itu yang nampaknya akan duduk disebelahnya. Dengan cepat ia berdiri dan menjauh dari tubuh lelaki itu.
"Ya sudah, jadi untuk apa kakak suruh aku kemari ? Pake ngancem segala lagi! Aku kalo kakak gak ngancem pake foto ciuman kita, gak bakalan aku datang ke sini!"
Tak menanggapi ucapan wanita idamannya, tangan Hades terulur untuk menepuk-nepuk sofa di sampingnya. "Duduk, Ta!"
Jelita menggeleng, ia harus tahu batasan. Wanita yang sudah memiliki suami tidak boleh berdekatan dengan laki-laki yang bukan suaminya.
"Jangan gila deh kak, aku udah punya suami!" tekan Jelita sekali lagi. "Kalau memang gak ada yang mau di omongin ya sudah, aku pulang!"
Bersamaan dengan tubuh Jelita yang sudah berbalik hendak berjalan menuju pintu Apartemen, tangannya ditarik hingga ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
BRAKK....
Wanita dengan satu anak itu tengah terduduk di pangkuan Hades, dengan tangan Hades yang melilit pinggang Jelita erat.
Mulut Jelita terbuka–terkejut, "kak awas! aku berdiri!!!!!!"
Bukannya melepaskan, Hades mengambil kesempatan ini untuk memeluk tubuh Jelita dan memberikan kecup4n-kecup4n lembut pada leher jenjang wanita itu.
"Gue kangen banget sama lo, Ta!" gumam Hades, ia menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Jelita.
Tak perduli jika wanita yang ia sangat sukai itu berontak, Hades semakin memeluk Jelita erat menyalurkan rasa rindu yang semakin membuncah.
"Kak, tolong lepasin aku! Aku udah punya suami...." Jelita menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berusaha melepaskan kukungan Hades.
Tapi ia sama sekali tak di respon oleh Hades.
"KAK!!! LEPASSSS!!!" teriak Jelita dengan keras.
"Kenapa Ta ?? Kenapa kamu berubah Ta ??" Hades mengendur pelukannya, ia menatap Jelita dengan mata berkaca-kaca miliknya.
"Kamu udah cinta sama Bara ? Udah sayang sama dia ? Udah nganggep dia suami kamu sekarang ?" tanya Hades beruntun.
Jelita yang masih berada di pangkuan Hades langsung membatu, tubuhnya tak bisa digerakkan lantaran terkejut melihat Hades yang menangis karena dirinya.
Karena dirinya ? Hades mencintainya kah ??
"JAWAB TA!!!! JAWABBB!!!!" teriak Hades disertai air mata yang mengalir pada wajahnya.
"Lo janji sama gue bakal bareng-bareng. Lo bilang lo benci sama Abang lo." Hades tersenyum sinis pada Jelita. "GUE UDAH BERKORBAN SEMUA BUAT LO!!!" teriaknya.
"GUE USAHA MATI-MATIAN BELAJAR SAMPAI GUE JADI LULUSAN TERBAIK! DIUSIA GUE YANG BARU 17 TAHUN INI GUE UDAH JADI CEO DI PERUSAHAAN KELUARGANYA GUE!!!"
"GUE NGELAKUIN ITU SEMUA BUAT SIAPA KALO BUKAN BUAT LO!!! ANJ11NG LO TA!!!"
Jelita tak bisa tidak terkejut mendengar ucapan Hades, memang ia pernah berjanji akan bersama Hades nanti.
Tapi itu hanya janji anak-anak semata. Jelita hanya cinta monyet pada Hades. Tolong di maklumi karena Jelita juga masih remaja!!
"Ak–aku, kenapa ke–kenapa kak Hades ngelakuin itu semua ?" lidahnya terasa keluh tak bisa berkata-kata.
"Karena apa ?" tanya Hades sinis. "Biar gue buktiin karena apa gue ngelakuin ini..."
Hades memandang Jelita dengan senyum miringnya, lalu mengarahkan pantt Jelita yang menduduki kakinya kearah inti tubuhnya dan menggoyangkan tubuhnya pelan.
"Apa yang kak Ha–hhmmppptttt"
Hades menc1um paksa Jelita.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA