
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Jelita kini sudah siap dengan kemeja putih dan celana jeans berwarna hitam. Setelah memakai sepatunya, Jelita menggendong tasnya di punggung yang berisikan 3 map kertas surat lamaran yang sudah ia isi sebelumnya tanpa nama.
Jadi jika ia sudah menemukan loker yang cocok untuknya, ia tinggal menulis nama toko/kantornya saja.
"Bismillah, semoga langsung dapat lowongan," doanya yang kemudian ia aminkan dalam hati. "Pertama kita lihat loker di kantor pos!" ucapnya semangat.
Dengan tekad bulat ia berjalan menuruni tangga, ini sudah jam delapan, pasti orangtuanya tengah berangkat ke kantor.
Namun dugaannya salah, Doddy dan Fara terlihat cemas duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tamu.
Jelita menghampiri mereka, untuk meminta ijin pergi dari rumah. Meskipun ia masih berasa jengkel dan malas berbicara dengan mereka berdua. Tapi ia masih harus bersikap sopan dengan mereka.
"Ma, Pa..." panggilnya sembari memasuki ruang keluarga itu.
Mendengar namanya di panggil, kedua orang paruh baya itu mengalihkan pandangannya kearah Jelita yang nampak sudah rapi dan begitu manis.
"Mau kemana kamu, Ta ?"
"Hm, Jelita mau mencari pekerjaan Ma. Siapa tau ada lowongan yang cocok untuk aku."
"Tidak perlu!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
Jelita mengerutkan keningnya mendengar ucapan tidak ramah dari kedua orangtuanya itu. "M–maksudnya ?"
"Ya, kamu tidak perlu mencari pekerjaan!" jawab Doddy.
"Jelita gak boleh kerja ? Tapi kenapa ? Bukannya tadi Papa dan Mama yang bilang supaya Jel–"
Doddy menghela nafas panjang, membuat Jelita menghentikan ucapannya. "Bukan tidak boleh pekerjaan, Papa cuma menyuruh kamu tidak perlu bekerja!" jelasnya. "Papa bakal masukin kamu di perusahaan Papa!" sambungnya.
Jelita mengigit bibir bawahnya agar tidak tersenyum. Harusnya ia tahu jika orangtuanya mencemaskannya. Buktinya Doddy menyuruh Jelita bekerja di perusahaan miliknya yang terkenal sangat sukses.
"Berarti tadi Papa sama Mama melamun di ruang keluarga ini karena mikirin aku dong.." batinnya percaya diri.
"Gimana Jelita, mau kan ?" tanya Fara dengan hati-hati. Jujur ia tak mau jika Jelita bekerja di perusahaan. Memang tak ada satupun orang yang tahu jika Jelita adalah anaknya, hanya beberapa rekan bisnis saja. Tapi kalo sampai ketahuan kan bahaya. Masa keluarga Adinata menjadi seorang OB. Tapi di lain sisi, Fara berharap Jelita setuju, agar Bara tidak melakukan ancamnya.
"Kalau kamu memang malu dan tidak bersedia bekerja di perusahaan Papa, tidak apa-apa Jelita!" ucap Doddy lagi yang kasihan dengan Jelita.
Mendengar ucapan Doddy membuat Jelita menggelengkan kepalanya cepat. Ia tak ingin membuang kesempatan besar untuk bekerja di perusahaan.
"Tidak Pa, Jelita mau bekerja di sana.." jawabnya cepat dengan wajah memerah.
Jelita mengerutkan keningnya bingung. "Baik hati ? Apa maksud mereka ? Bukankah aku akan bekerja menjadi salah satu staff di sana ? Kenapa aku yang dikatakan berbaik hati ? Harusnya itu untuk Papa dan Mama yang benar-benar berbaik hati memperkerjakan aku di perusahaan besar. Sungguh sangat menguntungkan buatku..." batinnya dengan senyum lebar.
"Tak apa Ma, jadi kapan aku bisa bekerja Pa ?"
"Lusa kamu bisa bekerja, nak. Besok Papa akan memberitahu Kepala HRD, sekalian berangkat ke Singapura."
Jelita menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah Pa, kalau begitu Jelita akan kembali memasuki kamar," pamitnya dengan wajah ceria meninggalkan kedua orangtuanya.
"Kita harus banyak-banyak terima kasih pada Jelita, Pa! Untung dia mau bekerja di perusahaan!" ucap Fara dengan perasaan lega.
Doddy mengenggukkan kepalanya setuju. "Benar, jika tidak mungkin Bara akan melakukan ancamannya!"
__ADS_1
...o0o...
Jelita memasuki kamarnya dengan perasaan berbunga-bunga. Ia mengira orangtuanya akan lepas tangan terhadapnya.
Tapi ternyata ia salah, orangtuanya malah memberikan pekerjaan di perusahaan besar di Jakarta. Sungguh sangat membanggakan untuk Jelita, padahal dirinya hanya lulusan SMA.
Gadis itu duduk di sofa yang berada di kamarnya sembari melepas kancing kemejanya.
"Astaga, kenapa aku tidak tanya sama Papa akan di masukkan ke staff yang mana ? Staff keuangan kah ? Atau staff produksi ? Atau mungkin saja staff pemasaran ? Ahh..entahlah aku bingung..." ucapnya frustasi.
"Biarlah aku di masukkan ke staff mana saja, biar lusa menjadi surprise untukku!" pekiknya girang.
Ia mengambil laptop yang berada di atas meja lalu mengetikkan sesuatu di sana. "Perusahaan ADN Corp," ketiknya.
Layar laptop itu kini menampilkan informasi mengenai seluruh informasi tentang perusahaan milik ayahnya itu.
"Astaga, ADN Crop masuk kedalam 10 besar perusahaan paling berpengaruh di Indonesia....huaaaaa aku senang bisa bekerja di sana!!!" ucapnya girang.
Beribu-ribu terima kasih ia ucapkan kepada Tuhan karena memberikannya orangtua angkat yang kaya.
"Baiklah Jelita! Lusa kamu sudah berkerja di perusahaan besar! Kamu harus pintar, jangan membuat malu keluarga!"
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA