
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Aku sama Jelita harus cepat nikah! Jelita hamil, anak aku dan penerus keluarga ini."
Bara tersenyum lebar saat berhasil mengucapkan kata itu sekali tarikan nafas. Ia tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Jelita sejak tadi.
Berbeda dengan Jelita, wanita hamil itu tak merespon apapun. Mau suka tau tidak kedua orang tua angkatnya ia tak peduli. Ia sudah sangat lelah menjadi kehidupannya yang penuh keterkejutan ini.
Sejak dokter mengatakan ia hamil kemarin, rasanya Jelita ingin menghilang saja dari Bumi. Masa depannya benar-benar sudah hancur di tangan Bara.
"A–apa ?" tanya kedua orangtuanya yang syok dengan kabar ini.
"Aku rasa Papa sama Mama gak tuli. Jadi aku gak akan mengulangi perkataan ku dua kali!"
Mulut kedua orangtuanya tertutup rapat, mereka benar-benar terkejut dengan berita yang anaknya ini sampaikan.
"Bagaimana bisa hamil Jelita ?" tanya Fara dengan seluruh badan yang gemetar.
Jelita menatap Fara sebentar, lalu menundukkan kepalanya melihat ubin lantai. "Tentu saja karena Bara menghamili Jelita, Ma." bukan Jelita yang menjawab. Tapi Bara yang menyerobot mengatakan hal frontal itu.
"Bagiamana ini Pa ? Mereka tak bisa menikah. Tinggal 5 hari lagi Sinta dan Bara akan bertunangan. Undangan juga sudah di sebar, bisa malu kita Pa!"
Doddy memijit pelipisnya yang berdenyut, ia pun bingung harus melakukan apa.
"Jika Mama dan Papa tidak mengizinkanku menikah, maka aku akan mengatakan kepada media jika aku akan segera memiliki anak dari seorang Office Girl yang berada di kantor kita," ancam Bara dengan seringai tipis.
Tangan Doddy terkepal erat, ia sudah tersudut sekarang. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menyetujui permintaan anaknya.
Karena Bara akan selalu menepati omongannya. Pria itu sama sekali tak bermain dengan ucapan yang sudah ia katakan.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan Ma, kita tidak ada pilihan lain." Doddy menatap nata istrinya dalam. "Siapkan pernikahan siri mereka Ma. Nikahkan Bara dan Jelita secara siri, besok di rumah ini!" final Doddy.
Fara menatap tajam suaminya, berbeda dengan Bara yang tersenyum lebar dengan setelah mendengar keputusan ayahnya, dan Jelita yang acuh tak acuh.
"Tapi Pa–"
"Lakukan saja Ma, kita tak ada pilihan lain. Keluarga Sinta biar Papa yang mengurus. Papa akan mencarikan pasangan yang cocok untuk menggantikan Bara bertunangan dengan Sinta!"
Tak ada pilihan lain, Fara kini setuju dengan ucapan suaminya. Jika Jelita dan Bara tak di nikahi bisa hancur nama baik mereka.
...o0o...
"Bagaimana para saksi ? SAH ?!?!" tanya penghulu dari KUA itu sembari berteriak saat Bara selesai mengucapkan ijab kabul.
"SAHH!!" teriak para saksi yang tak lain adalah kedua orang tua Bara dan juga para pekerja di mansion Bara yang di sulap oleh Fara dengan menggunakan setelan batik mahal.
Sehingga para satpam, maid dan juga pekerja lain kini tampak bersih dan rapi.
"Alhamdulillah, kini saya nyatakan jika saudara Bara Leonardo Adinata dan saudari Adhisti Jelita Nirmala adalah seorang suami istri yang SAH di mata agama," ucap penghulu dengan senyum lebar.
Jelita meneteskan air matanya, tak terbayang ia menikah dan akan menjadi seorang ibu diusianya yang baru sangat muda pada tahun ini. Mimpi-mimpinya yang ingin menjadi orang sukses dan membuat kedua orang tua angkatnya bangga padanya sekita sirna begitu saja.
Bara tersenyum melihat bahu istrinya yang bergetar, ia menangkup wajah Jelita yang di banjiri oleh air mata lalu menghapusnya dengan kedua ibu jarinya.
"Mama Jelita jangan nangis, nanti bayinya ikut nangis," ucap Bara sembari tersenyum manis, ia berusaha menenangkan Jelita.
Cup...
__ADS_1
Bara mengecup kening Jelita lama, sembari membacakan doa. "Sekarang dan selamanya, Jelita hanya untuk Bara, dan Bara untuk Jelita."
...o0o...
9 bulan kemudian...
Perut Jelita kini sudah sangat membesar, usia kandungannya kini tengah memasuki 9 bulan 2 Minggu.
Meskipun begitu, Jelita tetap bekerja menjadi Office Girl. Meskipun Bara selalu melarangnya, Jelita akan tetap berangkat ke kantor.
Mau bagaimana lagi ? Jika Jelita berdiam di rumah maka ia hanya akan berdua bersama ibu angkatnya. Dan ibu angkatnya itu benar-benar mengeluarkan sifat aslinya sekarang.
Menyuruh Jelita ini dan itu, selalu mengatakan hal buruk kepada Jelita. Dan Jelita membenci itu, sangat benci.
Jadi biarlah Jelita bekerja, menghabiskan waktunya di sini. Ia bisa beranggapan jika dirinya tak hamil.
"Hah...." Jelita mendesah lelah saat baru selesai membersihkan toilet pegawai.
Keringat bercucuran pada dahinya, wanita hamil itu mendudukkan dirinya di kursi yang berada di dapur sambil meminum air putih botol yang baru saja ia beli.
"Ya ampun, Ta. Udah hamil besar gini masih kerja aja," ucap Aurel yang baru masuk ke dapur sembari membuka bungkusan kopi instans. Melihat itu Jelita berdiri ingin membantu Aurel.
Namun dengan cepat, Aurel menyuruh Jelita agar duduk kembali. "Ngapain sih! Sana duduk aja!"
"Tugasku kan itu kak!"
Aurel mendecak kesal sembari menuangkan air mendidih dalam kelasnya. "Tuh anak lo ntar brojol mampus lo!" tunjuk ke arah perut buncit Jelita.
Jelita mengarahkan pandangannya kearah tunjukan Aurel, ia menatap perut buncitnya dengan senyum sinis. "Anak ? aku bahkan tak sudi menyebutnya sebagai anakku! Dia hasil dari pemer**sa!" batinnya mengeram kesal.
"Gak papa kok, aku kuat. Aku buat kopi bera–ARGGHHH!!" teriak Jelita saat merasakan kram pada perutnya.
Mendengar teriakan Jelita, Aurel segera mengehentikan aktivitasnya dan menatap Jelita dengan mata yang melebar.
"Anjr! Jelita, lo mau melahirkan sekarang ??" teriaknya kencang.
"JANGAN KEMANA-MANA!!! GUE CARI BANTUAN!!"
Aurel berlari keluar dari dapur, dan sialnya lantai satu ini terlihat sangat sepi. Ia mengarahkan pandangannya ke kanan-kiri untuk mencari seseorang yang mungkin bisa membantu Jelita.
Matanya melebar saat melihat lift khusus CEO terbuka, ia segera berlari menuju depan pintu lift. Benar saja CEO dan asistennya keluar dari lift itu.
"Tu–tuan tolong saya! Ada Office Girl yang akan melahirkan," ucap Aurel dengan dada yang bergerak naik turun.
Mendengar kata Officer Girl, mendadak tubuh Bara mematung, Ia teringat Jelita. "Dia ada di dapur, saya min–"
Aurel belum menyelesaikan ucapannya, Bara dam Gio sudah berlari menuju dapur. Dan tentu saja Aurel jadi ikut-ikutan berlari menuju dapur.
Dengan sigap Bara menggendong tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri di dapur ala bridal style. "GIO SIAPKAN MOBIL CEPAT!!!" teriaknya nyalang.
Mendengar itu tubuh Aurel sontak bergetar, dalam hati ia merapalkan doa agar Jelita bisa melahirkan bayi itu dengan selamat.
Bara membawa tubuh Jelita memasuki mobil, Jelita membuka matanya tersadar dari pingsannya.
"Rumah, rumah, rumah. Aku mau lahiran di rumah..." gumamnya tanpa sadar lalu ia pingsan kembali karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
Bara menganggukkan kepalanya, "putar balik, kita kembali ke rumah. Siapkan dokter di rumah jika dokter itu tidak sampai sebelum kita datang, maka kepala mu yang akan aku tebas Gio!"
Gio menelan salivanya susah payah lalu menganggukan kepalanya. "Siap, tuan!"
...o0o...
Derai keringat membasahi pelipis wajah wanita cantik itu. Rasa sakit ini benar-benar luar biasa, seperti tulang-tulang tubuhnya di patahkan secara bersamaan.
Matanya melihat ke arah samping, di sana ada seorang pria dengan kemeja hitam dan jam tangan mahal memperhatikannya dengan tanpa minat.
__ADS_1
Ia mengepalkan tangannya melihat wajah pria brengsek itu. Pria yang setiap hari pem***per**k**osanya dan membuatnya menjadi ibu hari ini.
"Terus nyonya, kepalanya sudah terlihat..." ucap dokter wanita itu.
Jelita mengejan sembari memejamkan matanya erat, ini benar-benar sangat sakit.
"Hosh....hosh.....hosh....."
Sekali lagi Jelita mengejan dengan keras, kedua tangan terkepal dengan kuat menahan rasa sakit yang di deritanya.
Dilihat dari jendela kamarnya ini hujan tengah turun sangat deras. Di kamarnya? Iya, Jelita tidak ingin melahirkan di rumah sakit. Jadi Bara membawa dokter beserta beberapa perawat ke mansion milik keluarga Adinata.
Dimana Jelita melahirkan tak masalah baginya, asal anaknya lahir dengan selamat. Meskipun nyawa Jelita sebagi taruhannya.
Ctarrr.....
Bunyi gledek terdengar begitu kencang yang pastinya akan mengagetkan siapapun yang mendengarnya. Bersamaan dengan suara petir tadi, keluarlah bayi mungil tak berdaya dari dalam rahim Jelita.
"Hahhh!!!!" teriak Jelita untuk yang terkahir kalinya sebelum bayi itu diangkat oleh dokter.
Oek....oek...oek....
Tubuh Jelita yang masih gemetar, mengalihkan pandangannya saat sang dokter memberikan bayi mungil itu pada Bara.
Melihat anaknya telah keluar, segera Bara mengambil alih anaknya dari dokter dan tersenyum lebar melihat wajah sang anak yang begitu mirip dengannya.
"Selamat tuan, nyonya. Bayi anda laki-laki...." ucap dokter wanita itu riang. Begitu pula dengan para perawat yang berdecak kagum melihat wajah tampan sang anak.
Tangisan bayi itu masih terdengar sangat kencang, tangan Jelita yang masih bergetar, ia arahkan ke kedua telinganya bermaksud menutup telinganya agar tidak mendengar suara tangisan bayinya.
Melihat Jelita yang tak suka dengan kehadiran sang anak membuat Bara menggeram kesal.
"Keluar!" titahnya pada sang dokter dan juga para perawat itu.
Dokter dan para perawat itu saling berpandangan dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tu–tuan, bayinya belum di mandikan..." ucap salah seorang perawat.
"Keluar!" titah Bara lagi kali ini dengan nada suara yang sangat dingin.
Mau tak mau dokter beserta perawat itu keluar dari kamar Jelita, hingga menyisakan Bara, Jelita, dan sang bayi.
Bara yang sedang menggendong anak mereka segera berjalan menuju Jelita yang tergeletak lemas dengan kedua tangan menutupi telinganya.
"Selamat ulang tahun sayang, ini aku berikan kado istimewa untukmu," ucap Bara sembari mengangkat bayi mungil tak berdosa yang masih berlumuran dengan darah. Agar jelita dapat melihat anak tampan mereka.
Namun respon Jelita malah membuatnya tersulut emosi, dengan sekuat tenaga Bara meredam kembali emosinya, ia tak ingin marah di hadapan anaknya.
Dada wanita itu tampak bergerak naik-turun karena kelelahan mengejan. Hampir 8 jam ia bertaruh nyawa untuk melahirkan anak itu sampai ke dunia ini.
"JAUHKAN ANAK HARAM ITU DARIKU!!! AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAH ANAK HARAM ITU!!!" teriak Jelita dengan kekuatan yang masih tersisa.
Bara mengangkat kedua bahunya, sepertinya katanya ia tak akan marah di depan sang anak. Pria yang sudah resmi menyandang gelar sebagai ayah itu berjalan mendekati Jelita dan mengecup lama kening sang wanita.
Cup....
"Selamat ulang tahun Mama Jelita..."
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA