
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Jelita kini tengah bersiap untuk memasuki kelas kuliah paginya, jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Itu artinya tiga puluh menit lagi jam kuliah Jelita akan segera dimulai.
Setelah siap, ia segera membuka kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga yang benar-benar sangat banyak ini.
Senyum merekah saat melihat kedua orang tua angkatnya yang sudah pulang dari Singapura. Segera ia berlari untuk sampai lebih cepat ke meja makan.
"MAMA PAPA!!" teriaknya kencang dan segera menubruknya dirinya pada tubuh wanita paruh baya itu.
"Hati-hati sayang!" ucap Bara dan Doddy dengan serentak.
Fara membalas pelukan Jelita dengan erat, lalu mengecup kening anak angkatnya itu lama. "Mama kangen kamu, nak.." ucapnya sembari melepaskan pelukannya.
Jelita tersenyum lalu mengecup singkat kedua pipi Fara. "Jelita juga kangen banget sama Mama!"
Kini gantian, gadis itu berpelukan dengan ayah angkatnya, menyalurkan rasa rindu selama hampir 3 Minggu tak bertemu dengan ayahnya itu.
Sama seperti Fara, Doddy juga mengecup lama anak gadisnya itu.
Sementara di sana, tangan Bara terkepal erat karena tak suka jika gadisnya melakukan hal intim dengan laki-laki lain selain dirinya.
Gila memang.
Karena melihat ada seseorang yang menatap tajam dirinya dari depan, Doddy tersenyum miring. Ia ingin menggoda Bara, dengan sengaja, ia mengecup lama pipi kanan anak gadisnya itu.
"Papa kangen banget sa–"
"Udah, sekarang kamu makan Jelita! 5 menit lagi kamu berangkat! Nanti diusir dosen lagi karena telat masuk ruangan, kamu nangis lagi kayak kemarin!' ucap Bara memotong ucapan sang Ayah sembari menarik tubuh gadisnya agar terlepas dari pelukan sang ayah.
Pria itu membawa tubuh Jelita untuk duduk di kursi yang berada di samping kanannya.
"Gimana kuliahnya sayang ? Kamu sebentar lagi naik semester ya ?" tanya Fara memecahkan kecanggungan akibat perbuatan anak kandungnya.
__ADS_1
Jelita menelan roti selai coklatnya lalu meminum susu putihnya perlahan dengan mata yang menatap Fara intens. "Iya Ma, 4 bulan lagi aku ujian. Berarti 6 bulan lagi aku udah bakal nyusun skripsi, terus lulus deh!" pekiknya senang.
"Wah, bagus kalo begitu nak. Kamu harus belajar yang rajin biar nilai ujianmu bagus," peringat Fara yang diangguki oleh Jelita.
"Benar itu sayang, nilai ujian kamu harus bagus biar nanti kamu bisa masuk ke perusahaan keinginan mu. Dan kamu harus masuk ke perusahaan besar, tahu gak kenapa ?" Jelita menggelengkan kepalanya tak tahu, menatap Doddy bingung. "Karena biasanya di perusahaan besar itu sudah pasti staff ganteng-ganteng dan juga kaya. Kamu bisa dapetin pacar yang gan–"
"PAK GUGUN!!!" teriak Bara yang lagi-lagi memotong pembicaraan ayahnya.
Sekuat tenaga Doddy menahan tawa melihat wajah kesal anaknya itu. Sejak dulu memang hanya Doddy yang tahu jika anaknya itu memiliki keanehan.
Cinta dengan anaknya sendiri.
Penyakit aneh!
Tak berselang lama, setelah namanya di teriaki beberapa kali oleh Bara. Datanglah pria tua yang menjabat sebagai supir memasuki ruang makan keluarga Adinata.
"Sana berangkat kuliah, nanti kamu terlambat!" titah Bara kepada sang adik. "Pak Gugun bawa tas Jelita, terus panasin mobil cepat!"
Tak menjawab, Pak Gugun langsung mengambil tas laptop Jelita yang berada di kursi dan langsung keluar rumah untuk memanasi mobilnya.
Sedangkan Jelita kini tengah berpamitan dengan Ayah dan Ibunya. "Ma, Pa Jelita berangkat sekolah dulu ya..."
"Iya nak," jawab Fara.
Lalu kini Jelita meraih tangan Bara dan diciumnya punggung tangan itu. "Aku berangkat kak," pamitnya.
Deg...
Selalu saja seperti ini, jika Jelita berpamitan untuk sekolah dan mencium punggung tangan Bara selalu saja jantung Bata berdetak menggila seperti saat ia hampir menabrak kucing dulu.
"Ingat pesan kakak. Kamu sekolah buat nyari ilmu bukan nyari pacar. Jangan genit!"
Jelita menganggukkan kepalanya mengerti lalu segera keluar dari rumah dan berangkat menuju sekolahnya.
Dan kini di ruangan itu hanya tersisa Fara, Doddy dan juga Bara.
"Gimana kantor, Bar ?" tanya Doddy.
Bara melirik singkat kearah ayahnya, lalu memasukkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya. "Baik."
"Kamu memang selalu menjadi kebanggaan Mama, masih kuliah tapi bisa handle kantor inti Papa di Jakarta." Fara menatap Bara dengan kagum.
__ADS_1
"Percuma udah kerja sambil kuliah kalo masih jomblo, Ma," ejek ayahnya.
Fara tersenyum jahil kearah Bara. "Benar banget Pa, kayak ada yang kurang gitu. Apalagi bentar lagi Bara udah mau 33 tahun. Teman-teman Mama semua udah pada gendong cucu, Mama doang yang gendong angin," jawab Fara lesu.
Inilah yang Bara malas kan jika kedua orangtuanya pulang ke Indonesia. Menuntut Bara untuk segera menikah. Tak bisakah kedua orang tua itu menetap di Singapura, dan membiarkan ia dan Jelita berduaan di rumah ?
"Kamu gak punya pacar memang Bar ?" tanya Doddy dengan nada bercanda.
Bara membanting sendok dan garpunya lalu menatap sinis kedua orangtuanya. "Gak punya. Semua cewek cuma mandang harta Bara doang," jawabnya.
"Hah...." Fara menghela nafas panjang. "Ya terus gimana, kamu gak mau nikah selamanya gitu ? Apa mau di nikahin sama anak teman mama ?" sambungnya.
"Kenapa Mama sama Papa gak nikahin aku sama Jelita aja nanti waktu Jelita lulus kuliah ? Dia pasti gak mandang harta dan me–"
"Gila kamu Bar! Dia adik kamu!" Doddy menatap Bara sengit. Tak menyangka jika anaknya seberani ini, apalagi sampai minta dinikahi dengan Jelita.
"Adik angkat. Gak ada hubungan darah sama sekali!" jawab Bara tak kalah sengit.
"GAK! POKOKNYA ENGGA! MAMA GAK MAU PUNYA MENANTU YANG ASAL USUL KELUARGANYA GAK JELAS! MAU DI TARUH DIMANA MUKA MAMA SAMA TEMAN-TEMAN ARISAN MAMA ?!?!" tolak Fara cepat dengan nada tingginya.
Bara menengguk habis air putihnya, lalu mengelap bibir berminyaknya dengan lap mulut. Ia tersenyum menyeringai menatap kedua orangtuanya.
"Kalau begitu, Bara gak mau nikah. Mama dan Papa gak bakalan punya cucu seumur hidup!"
Setelah mengatakan itu, Bara berdiri dari duduknya dan segera berjalan keluar dari meja makan mengabaikan teriakan kedua orang tua yang memanggil namanya.
"Apa aku salah kasih Jelita untuk teman main Bara, Pa ?"
"Nanti Papa berangkat ke Singapura duluan, Mama harus bertemu Jelita untuk meluruskan sesuatu...."
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA