
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Astaga!! sialan banget Hades!" umpat Jelita penuh dengan kesal.
Berulangkali ia menggosok lehernya, berharap ada keajaiban hingga satu tanda merah yang diberikan Hades itu akan hilang.
Namun pada kenyataannya, bukannya menghilang leher Jelita malah semakin memerah.
"Aku diapain nih sama Bara, kalo sampai ketahuan..." desisnya takut, lalu ia menoleh pada jam yang melingkar pada tangan kirinya. "Udah jam enam, bentar lagi pasti papanya Gala bakal sampai rumah!"
Wanita itu langsung keluar dari kamar mandi di kamarnya menuju meja rias. Ia duduk di depan meja itu, lalu tangannya beralih pada beberapa foundation atau bedak cair yang biasa ia pakai saat akan bekerja.
Senyum kecil muncul pada wajah cantiknya, "hehe, kan bisa ditutupin pake ini," gumamnya tertawa kecil.
Ia menuangkan bedak cair itu pada ujung jarinya, dan mulai menutupi bekas tanda merah itu pada leher jenjangnya.
Jelita tersenyum senang, saat tanda merah itu sudah tak terlihat lagi, rencananya berhasil dan Bara pasti tak akan curiga!
"Hah, selesai..." ucapnya sumringah, ia mencepol rambutnya dan mengganti pakaiannya dengan baju santai.
Tak lupa, Jelita memasukkan baju yang ia pakai tadi langsung ke menaruhnya pada ranjang baju kotor. Takut-takut jika Bara akan mencium parfum laki-laki pada pakaiannya.
Dirasa sudah cukup untuk menghilangkan barang bukti, Jelita melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar sang anak.
Ia tersenyum sumringah melihat Gala yang tengah bermain-main dengan sang baby sitter–Mira di atas ranjang.
"Anak Mama udah bangun ya, sayang..." ucap Jelita seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang samping anaknya.
Cup...
Cup...
"Hahahahha....." bayi laki-laki itu tertawa mendapat serangan bertubi-tubi dari ibunya.
Berbeda dengan Jelita dan Gala yang tengah bersenda gurau, Mira malah menatap majikan perempuannya itu curiga yang pulang lebih awal.
"Tumben banget Nya, pulang cepat ? Biasanya bareng tuan," tanya Mira. Pasalnya beberapa bulan ini tuan dan Nyonya itu selalu pulang bersama.
Kadang pulang larut, kadang juga pulang cepat. Yang pasti mereka berdua selalu bersamaan datang ke rumah.
Mendengar pertanyaan Mira, Jelita langsung mengalihkan pandangannya kearah Mira yang juga menatapnya.
Ah ya, Jelita lupa! Ada Mira yang harus ia bungkam, jangan sampai Mira mengatakan pada Bara jika ia tidak pulang pada saat jam makan siang.
__ADS_1
"Tadi aku ekhem, ada acara reuni sama teman-teman SMP ," jawabnya gugup. "Tapi Bara gak tahu, soalnya aku gak diijin pergi ke reuni," sambungnya.
Jelita menatap dalam mata Mira. "Minta tolong ya kak, jangan bilang Bara kalau aku pergi ke reuni. Aku takut dia marah. Semisal nanti Bara tanya sama kak Mira, aku pulang kerumah di jam makan siang atau engga. Plis banget kak Mira jawab iya ya...." pinta Jelita dengan puppy eyes-nya.
Mendapati gelagat aneh dari Nyonya-nya, Mira hanya menganggukkan kepalanya. "Emang reuni sekolah harus banget ya diadain pas hari kerja ? Kenapa kok gak pas hari libur ? Kenapa pas jam kerja ? Kenapa kok gak sore atau malam hari ?" batinnya bertanya-tanya.
"Jangan ngangguk-ngangguk aja dong kak! Jawab iya gitu," desak Jelita penuh permohonan. "Pokoknya kalo Bara tanya itu, kak Mira langsung jawab iya! Dan jangan bilang kalo aku pergi ke acara re–"
Ceklek....
Tak sampai Jelita menandaskan ucapannya, pintu kamar Gala telah di buka lebar oleh sang kepala keluarga.
Jelita membalikkan badan tersenyum kikuk kearah suaminya, sedangkan Mira sudah lebih dulu berdiri dari posisi tidurnya dan membungkuk kearah Bara.
"Malam, tuan..."
Mata Bara melirik singkat ke arah Mira, lalu kembali menatap anak dan istrinya dengan senyum tipis.
"Sudah mandi, sudah makan ?" tanya Bara.
"Sudah tuan, tuan muda Gala sudah mandi tadi jam 4 sore. Setelah mandi dia langsung saya beri ASI," jawab Mira.
Bara menganggukkan kepalanya mengerti, pria dewasa itu menjatuhkan dirinya di samping istrinya. Setelah melepas sepatu dan kaos kakinya ia ikut tertidur sembari memeluk pinggang sang istri dari belakang.
Cup...
Seperti biasa, Bara selalu mengecup singkat kepala sang istri dengan sayang.
"Ya sudah kamu boleh pergi," usir Bara pada Mira, pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.
"Lepas jasnya dulu ka–"
"Eh tunggu sebentar Mira," panggil Bara yang langsung memotong ucapan istrinya.
Mira berhenti dan membalikkan badannya menatap tuan. Sekilas ia melirik Jelita yang memberikan kode lewat mata.
"Tadi Jelita pulang jam berapa ?" tanya Bara cepat.
Sungguh rasanya Mira ingin tertawa melihat wajah Nyonya yang pucat pasi. Apalagi wanita itu mengedipkan matanya berkali-kali kepadanya.
"Ehm, jangan makan siang tuan. Sepertinya pukul setengah dua belas lebih sedikit."
Bara menganggukkan kepalanya, lalu menyuruh Mira pergi dari kamar.
"Beneran ternyata, kamu jam istirahat pulang ke rumah," gumam Bara di telinga istrinya. Pria itu semakin menempel pada ceruk leher Jelita.
Seperti biasa, Bara mengendus aroma nikmat yang keluar dari tubuh sang istri.
"Ya beneran lah, tadi aku gak bisa balik ke kantor karena Gala rewel banget. Gak bisa ditinggal. Minta gendong aku terus," alasannya.
"Padahal aku nungguin kamu di kantor," jawab Bara. Jelita tersenyum senang, seperti Bara benar-benar percaya dengan alasannya.
"Ngalah dong kak sama anaknya, masa kamu terus yang aku sa– ahhh kakak...." des4h Jelita saat Bara menggigit daun telinganya.
__ADS_1
Lalu wajah Bara turun kembali ke leher saat ia puas *****4* telinga sang istri.
"Argh....." teriak Bara menjauhkan dirinya pada leher Jelita. Pria itu memposisikan dirinya duduk di atas ranjang. "Aku jilat leher kamu, kok rasanya pahit banget sih...." kesal Bara.
Ia menatap tajam sang istri, sedangkan Jelita sudah ketar-ketir di tempat. "Jangan bilang tempat yang Bara jilat itu ****** yang udah aku tutupin foundation..." batinnya.
"Ditanya malah bengong! Kenapa pahit itu lehernya ? Aku gak suka!!!"
Jelita tersenyum memperlihatkan deretan giginya. "Ah maaf kak, Jelita abis pake Aut4n tadi. Abisnya banyak banget nyamuknya." untungnya Jelita teringat dengan obat nyamuk yang dioleskan ke tubuh itu. Jadi bisa ia jadikan alasan!
Bara memberengut, "aku gak suka! lain kali jangan pakai!"
Setelah mengatakan itu, Bara langsung bangkit dan berpamitan untuk mandi di kamarnya. Meninggalkan Jelita yang memekik kesenangan karena berhasil mengelabuhi suaminya.
Berbeda dengan di kamar Gala, situasi di dalam kamar Jelita dan Bara cukup hening. Hanya ada suara guyuran air yang dihasilkan Bara di kamar mandi.
Ting....
Hingga beberapa saat kemudian, datang suara notifikasi dari ponsel Jelita yang tengah di cas diatas nakas.
Kak Hades SMP Pelita
Jelita sayang, makasi ya untuk yang tadi.
I'm in love sama kamu...
Kayaknya aku bakal ketagihan
sama kamu, Ta...
Gimana besok kita ketemu lagi ?
Gak ada penolakan.
Besok jam makan siang di tempat biasa....
...o0o...
Ratu kasih tipis-tipis dulu ya sayangg
Banyak tugas 🥺
Ramein dong Like sama Komennya biar Ratu makin semangat. Bisa sempetin tulis Chapter baru 🥺🥺❤️❤️❤️
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA