HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 35 - BERTAHAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Pukul empat sore, Jelita sudah keluar dari perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Bara kemarin, ia akan pulang lebih cepat dari karyawan biasa.


Ia pikir dirinya akan menjadi bahan omongan pada OB dan OG karena pulang cepat, ternyata tidak. Bara masih berbaik hati padanya, karena bukan hanya dirinya saja yang pulang lebih cepat.


Tapi seluruh OB dan OG akan pulang pukul empat sore, sebagai banding atas pengurangan pegawai yang dilakukan oleh Bara.


Di sini Jelita sekarang, sedang menunggu kedatangan ojek online untuk membawanya pulang.


"Neng Jelita ?" tiba-tiba ada satu motor matic yang berhenti tepat di depan halte.


Jelita mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap pria dengan jaket hijau menyala itu dengan senyum. "Bang Ardi ?" ucapnya setelah mencocokkan plat nomer motor itu dengan yang ada di ponsel.


"Benar, neng. Ayo langsung aja."


Jelita berdiri, lalu segera duduk pada motor ojek online itu. "Sesuai aplikasi ya, neng ?" tanyanya yang dijawab gelengan oleh Jelita. "Mampir ke dealer motor yang deket-deket sini aja ya bang, mau beli motor."


Ojek itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Siap neng," jawabnya lalu segera melajukan motor maticnya.


Ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, di daerah perumahannya tak ada angkot, jadi lebih baik ia membeli kendaraan pribadinya sendiri.


Beruntung saat ia melahirkan Gala, kedua orang tua angkat sekaligus mertuanya memberikan banyak uang dan perhiasan yang berharga begitu fantastis. Jadi bisa ia gunakan jika ada hal genting seperti ini.


Motor itu berhenti di salah satu dealer, Jelita meminta ojek itu untuk menunggu sebentar.


Berlari kecil Jelita memasuki toko motor itu dan di sambut beberapa sales yang menyambutnya dengan senyum.


"Selamat datang kakak, ada yang bisa di bantu ?"


Jelita tersenyum sembari mengedarkan pandangannya mencari motor impiannya. "Langsung aja ya kak, aku mau beli sepeda motor sc**py warna merah yang itu," tunjuk Jelita pada motor yang ia maksud.


Sales wanita itu mengalihkan pandangannya ke belakang, melihat sepeda motor yang Jelita tunjuk.


"Ah, baik kak, kalo begitu mari di lihat dulu keadaan mesin, bisa sekalian test drive."


Jelita menggeleng, "tidak perlu, langsung bayar saja. Saya lagi buru-buru," jawabnya berjalan menuju kasir.


Sales itu tersenyum sumringah, ia mengarahkan Jelita pada kasir, lalu dengan cepat Jelita mengurus pembayaran.


"Besok pagi-pagi sekali sudah sampai ke alamat yang tadi saya bilang ya."


"Baik kak, terima kasih banyak telah mendatangi dealer kami. Semoga hari anda menyenangkan..."


Mendengar itu Jelita tersenyum lalu menundukkan kepalanya sopan. Dan keluar untuk segera pulang.


...o0o...


Setengah jam kemudian Jelita sudah sampai rumah, di halaman Jelita melihat mobil Bara sudah terparkir dengan rapi.


Jelita menghela nafas kasar, ia ingin tahu drama apa lagi yang akan dimainkan pria itu. "Dimana Gala, kak ?" tanyanya pada Mira.


Mira yang sedang menonton TV di ruang tengah buat kaget dengan kedatangan Jelita yang tiba-tiba. Ia membalikkan badannya mengarah pada Jelita.

__ADS_1


"Dikamar sama Papa Nya, mangkanya aku nonton di sini. Takut sama Papanya Gala!" jawabnya. Jelita tersenyum geli mendengar itu, Mira memang sangat takut pada Bara yang tak pernah tersenyum selain pada dirinya dan Gala.


"Ya sudah kamu lanjut nontonnya kak, aku mau ke atas."


"Eh Nya," panggil Mira yang menghentikan langkahnya Jelita. "Apa apa ?"


"Katanya pulang jam 9 kok jam lima sudah sampai rumah ? Tapi waktu tuan tanya Nyonya dimana, saya jawab 'Nyonya tadi pagi pesan sama saya pulang larut malam, tuan' gitu," jelas Mira.


Jelita meringis takut, pasti Bara mengira dirinya keluyuran. Padahal aslinya ia lupa memberitahu Mira jika jam kerjanya sudah di rubah oleh Bara.


"Maaf ya, Nya.." cicit Mira merasa bersalah. Karena selama tinggal 3 bulan di rumah ini, ia sudah mengetahui sifat Bara, dan bagaimana sifat kasar Bara pada Jelita jika wanita itu tak bisa di atur.


"Gak papa, tadi aku udah kabarin Bara kok," jawabnya berbohong menenangkan Mira. Tak mungkin jika ia marah pada Mira, jelas-jelas ini salahnya yang lupa akan jam kerjanya. "Kalau begitu aku keatas dulu ya," pamitnya.


Mira menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lega, lalu melanjutkan menonton serial drama yang sedang di tayangkan di TV.


...o0o...


Selesai membersihkan dirinya dengan guyuran air shower dan mengganti pakaiannya. Jelita keluar kamar menuju kamar sang anak.


Dengan perlahan Jelita memutar knop pintu itu, lalu menutupnya tanpa suara. Di lihatnya sang suami yang terus menatap sang anak yang sedang tertidur dengan tatapan penuh rasa sayang.


Jelita melangkahkan kakinya mendekati ranjang itu, lalu duduk di tepi kasur yang membelakangi Bara


"Darimana kamu ?"


Glek...


Suara dingin Bara membuat bulu kuduknya merinding. Ia kesulitan menelan salivanya. "Maaf, tadi selesai bekerja aku mampir ke dealer untuk membeli motor," jujurnya.


"Alasan! Mira bilang kamu ijin pulang malam, mau kemana ?"


Jelita menggeleng cepat, meremas kedua tangannya takut. "Enggak kemana-mana, cuma emang bener tadi pagi aku bilang sama kak Mira kalo pulang malam. Aku lupa kalo jam kerjaku udah di rubah."


"Sumpah, demi apapun!"


"Coba, siniin ponsel kamu," pinta Bara.


Wanita itu menghela nafas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celananya dan menyerahkannya pada Bara. "Tuh, cek aja kalo gak percaya!"


Dengan semangat Bara menerima ponsel Jelita, sekuat tenaga ia tak tersenyum senang saat melihat wallpaper ponsel Jelita adalah wajah anaknya saat berjemur menggunakan kacamata hitam yang terlihat menggemaskan. "Syukurlah, mungkin Jelita mulai menerima Gala..." batinnya memekik senang.


"Gak ada kan ?" tanya Jelita setelah beberapa menit Gala mengotak-atik isi ponselnya.


Bara berdehem untuk menjawab pertanyaan Jelita. Ia melihat isi chat Jelita tak ada satu pun pesan. Dan lagi hanya ada kontak dirinya saja di ponsel Jelita.


"Kenapa kontak kamu cuma ada satu ?" tanya Bara tiba-tiba disertai degupan jantung yang menggila. Ia merasa besar kepala, karena senang kala mengetahui kontak ponsel Jelita hanya dirinya saja.


"Memang siapa lagi yang bisa aku hubungi ? Sejak kejadian di sekolah, aku sudah tidak punya teman. Saat aku melihat status mereka di WA sama Instagram juga selalu menyindir ku, lebih baik aku hapus dan blok saja semua sosial media mereka agar kesehatan mentalku tetap dalam batasan," jawab Jelita sedikit menyindir Bara.


Bara menganggukkan kepalanya setuju, teman toxic lebih baik dijauhi. Tidak ada gunanya juga mereka. "Baguslah, lebih baik kedepannya pilih teman yang tulus. Bukan malah meninggalkan mu saat kamu dalam keadaan susah!"


Mendengar itu Jelita hanya mengangguk saja. Sepertinya Bara tak tahu jika dirinya sedang menyindir suaminya itu.


"Lalu kamu kenapa pulang hampir 2 jam terlambat ? Kan jam pulang kantor sudah aku majukan."


"Aku sudah bilang, aku pergi ke dealer untuk membeli motor." Jelita mengeluarkan struk pembelian motornya pada Bara. "Itu buktinya."


Dengan cepat, Bara merebut tanda beli itu. Benar saja, Jelita membeli sebuah motor matic.


"Untuk apa ?" tanyanya dengan suara dingin. Tangannya tanpa sadar meremat kuat kwitansi itu.

__ADS_1


"Di sini tidak ada angkot lewat, pesan taksi online juga selalu di cancel. Jadi aku beli motor aja, biar gak terlambat lagi. Lagipula aku hanya seorang OG di perusahaan suamiku sendiri, mana mampu membeli mobil," sindirnya.


Bara membalikkan badannya menatap Jelita dengan pandangan tak suka. "Aku gak suka kamu naik motor, bahaya!" tegasnya.


Jelita tertawa hambar mengalihkan pandangannya kearah Gala yang masih tertidur pulas tak terganggu dengan pertikaiannya dengan Bara.


"Lalu aku naik apa ke kantor ? Jalan ?"


"Ck!" Bara mendecak tak suka. "Naik apapun, asal jangan motor, bahaya Jelita!" ucap Bara bersungguh-sungguh.


Ia tahu jika Jelita bisa menaiki motor. Tapi ia tak bisa melepas Jelita ke jalan raya begitu saja. Bara bersumpah, jika terjadi sesuatu pada Jelita, pria itu tak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Gak ada kendaraan umum Bara! Mau tidak mau aku harus tetap naik motor!" Jelita terlihat ngotot sekali yang membuat Bara semakin kesal.


Pria itu mengacak rambutnya frustasi, seraya bangkit dari duduknya. Menyeret Jelita keluar dari kamar Gala dengan kasar. Lalu ia bawa masuk ke kamar mereka.


BRAKK....


Dug...


Bara menutup pintu kamar mereka dengan kencang bersamaan dengan melemparkan tubuh Jelita ke lantai.


"Kalau gitu gak usah kerja! Ikut kata suami! Ngapain sih kerja ? Aku bakal kasih kamu nafkah berkali-kali lipat daripada gaji kamu jadi babu di sana!!" ucap Bara sombong. "Mikir lah Jelita, aku malu punya istri kayak kamu. Udah lulusan cuma SMA, jadi office girl lagi. Gak sebanding sama mantan-mantan aku!"


Jelita mendongak menatap Bara dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Gak! Aku gak mau! Jangan ingkar dari pernjanjian kak Bara! Kamu memperbolehkan ku melakukan apapun selama dua tahun ini asal aku merawat Gala dan melayani kamu dengan baik!" jawab Jelita dengan menggebu-gebu. "Dan kamu jangan lupakan dua tahun lagi kita berpisah!" sambungnya.


Tangan Bara terkepal di kedua sisi, emosinya meluap. Ia menatap Jelita tak terima, tidak ada satu orangpun yang bisa memisahkan mereka, termasuk perjanjian konyol itu.


Bara berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Jelita. Tangannya menjambak rambut Jelita dengan erat.


"ARGHH!!!" ringis Jelita, ia merasakan rambutnya akan copot dari kulit kepalanya. "Lepaskan brengsek!" Jelita menampar lengan Bara dengan sekuat tenaga untuk menghentikan jambakan Bara pada rambutnya.


"Dengarkan aku btch! Jika kamu tidak berhenti dari pekerjaanmu, jangan harap kamu bisa hidup tenang di perusahaan!" ancam Bara.


"SILAHKAN!! SILAHKAN LAKUKAN APAPUN PADA SAYA! SAYA TIDAK TAKUT!!!" teriak kencang dengan penampilan yang berantakan. "SAYA TIDAK AKAN MENYERAH UNTUK MENDAPATKAN KEBEBASAN SAYA!" sambungnya.


Bara tertawa mendengar itu. "Baguslah, silahkan lanjutkan saja perjanjian konyol itu Jelita!" ucap Bara melepas jambakan pada rambut istrinya.


Pria itu berdiri dan mulai melepaskan semua pakaiannya.


"Tentu, saya akan tetap melakukan perjanjian kita. Saya akan merawat Gala dan juga anda sesuai janji! Silahkan saja jika anda ingin mempermalukan saya seperti tadi pagi."


Bara menganggukkan kepalanya, "puaskan aku kalo begitu, Sayang..."


Jelita mengusap air matanya yang mengalir pada wajah cantiknya itu dengan kasar. Menatap Bara dengan senyum kecil, lalu bangkit untuk berdiri.


"Pasti, aku pastikan kamu yang bakalan pingsan kali ini!" ucapnya penuh keyakinan.


Bara mendekat dengan senyum miringnya. "Pastikan Jelita! Jika berhasil aku tak akan mengganggumu lagi dan mengijinkan mu membawa motor ke kantor."


Dengan penuh keberanian, Jelita mulai membuka sabuk pinggang Bara, mengeluarkan isinya lalu–––·


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2