
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Hades berjalan memutari ruang kerjanya dengan gelisah. Bukan, bukan karena acara perjodohannya yang semakin dekat.
Tapi ia saat ini tengah gelisah karena terus mengingat senyuman tante Widya yang begitu mirip dengan Jelita.
Apa mungkin tante Widya adalah ibu kandung Jelita ?
Atau bisa saja tante Widya adalah saudara jauh Jelita ? Mengingat Jelita adalah seorang bayi yang dibuang di panti asuhan.
"ARGH!!!" Hades mengacak rambutnya frustasi, "apapun yang terjadi aku tidak akan diam. Meskipun aku tidak bisa mendapat Jelita nantinya, yang pasti aku harus terus menepati janjiku untuk menyelamatkan Jelita dari tawanan Bara dan keluarganya yang gila!" gumamnya.
Lalu ia mengecek ponselnya yang berada didalam saku celananya, sepi, tidak ada satupun notifikasi yang ia tunggu.
Hades menghempaskan dirinya untuk duduk di sofa yang berada pada ruang kerjanya.
"Kenapa kamu gak balas pesanku sih, Ta!" Ia melemparkan ponselnya di atas sofa dengan kasar.
Sementara tuannya sedang terlihat begitu frustasi, Ranz–tangan kanan Hades yang sedari tadi memperhatikan tuannya itu di ujung pintu meringis bingung.
Kedua tangannya, masih memegang setumpuk dokumen yang harus Hades periksa dan ditandatangani, tapi jika dalam keadaan mood Hades yang rusak begini, pasti akan susah untuk meminta Hades fokus bekerja.
"Haduh... itu yang namanya Jelita kenapa peletnya kuat banget sih bisa bikin tuan Hades klepek-klepek...." ucap Ranz setengah berbisik sembari menggelengkan kepalanya melihat tuannya yang seperti sedang kesetanan.
Memang jatuh cinta itu berbahaya. Jangan jatuh cinta jika tidak siap untuk menyakiti dan disakiti.
...o0o ...
Jelita sudah siap dengan dress hitam yang melekat pada tubuh idealnya.
Ting....
Bunyi ponsel Jelita, wanita itu segera mengeluarkan ponsel, wajahnya langsung berubah muram saat melihat siapa orang yang menghubunginya.
"Astaga, bajingan ini benar-benar tidak tahu malu. Dia masih berani menghubungi ku, setelah dia hampir memp3rk0s4ku!" umpatnya.
Panggilan tak terjawab (Hades) 29x
Pesan masuk (Hades) 117x
Karena penasaran, Jelita membuka pesan masuk itu.
Hades SMP Pelita
Jelita, aku mohon agar kamu bisa menemuiku hari ini. Ada sesuatu hal penting yang harus kamu tahu. Tolong hubungi aku kembali jika tidak sibuk!
Jelita memutar bola matanya malas membaca pesan itu. Dengan kesal ia menghapus semua pesan dan telfon masuk dari riwayatnya. Ia tak mau jika sampai suaminya membaca itu, bisa-bisa ia dibunuh oleh Bara!
Setelah menyusui Gala, ia langsung keluar dari kamar sang anak untuk berangkat bekerja. Sial! Suaminya masih tak mempercayai nya. Jadi ia harus terus mengikuti perintah dari nenek sihir itu.
"Apa yang harus aku lakukan agar Bara memercayai ucapan ku ?" gumamnya sembari menuruni tangga.
Hingga di anak tangga terakhir, ia bisa lihat dari sudut matanya, nenek sihir itu tengah memakan buah di meja makan dengan mata yang menetap layar ponselnya.
Sesekali nenek sihir itu tertawa menatap ponselnya, hingga mata Fara dan Jelita saling bertubrukan. Jelita langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ih astaga, udah mau berangkat kerja ya Ta ? Ya sudah sana, nanti kamu telat bisa dipotong gaji kamu," ucapnya dengan senyum. "Masa udah gaji cuma sejuta, mau di potong sih... kasian...." ledeknya lalu kembali tertawa.
Tangan Jelita terkepal, dalam hati ia menyumpahi ibu mertuanya itu. "Awas saja, jika Bara sudah mengetahui semuanya, aku pastikan kau sendiri yang akan mencium kakiku nenek sihir!"
Tak ingin terlalu lama berada di ruangan yang sama dengan Fara. Jelita langsung segera keluar dari rumah untuk berangkat bekerja.
Sementara Fara kini tersenyum pongah melihat kepergian menantunya. "Dia ingin membongkar rencanaku dihadapan Bara ? Tidak akan pernah B1tch!" umpatnya disertai senyum miring dan kembali memakan buahnya tenang.
...o0o ...
__ADS_1
Saat sampai di restoran, setelah memberi salam dengan pegawai lain. Jelita langsung masuk ke ruang kerja Widya, seperti kemarin, sebelum memulai bekerja ia harus membersihkan ruang pribadi Widya.
Tok....tok...tok....
"Masuk!"
Jelita membuka pintu itu perlahan disertai senyum kecil ia memasuki ruangan Widya.
"Pagi Bu, saya mau bereskan ruangan ibu..."
Widya tersenyum lalu mengangguk, memberitahu Jelita merapikan ruangannya yang mulai kacau.
"Panggil tante aja kaya kemarin ya Ta! Kamu ini akan anak teman tante, jadi biar kita makin akrab ya, bukan cuma sebagi atasan dan bawahan," ucap Widya.
Dengan senyum kikuk Jelita menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Widya.
Jelita bergerak cepat, menyapu lalu disusul mengepel ruangan Widya. Sungguh berada satu ruangan dengan Widya sangat menyesakkan dadanya.
Padahal Widya tidak memiliki salah apapun padanya, dan Widya juga sangat baik kepadanya. Tapi entah mengapa ada perasaan sedih yang begitu membuncah saat Jelita bersama dengan Widya.
"Sebentar lagi anak perempuan saya satu-satunya akan bertunangan loh Ta, saya senang bercampur sedih saat ini," ucap Widya setelah keheningan melanda ruang kerjanya.
Deg....
"Anak perempuan satu-satunya," Jelita tersenyum miris. Dalam hati ia berfikir pasti anak Widya benar-benar diperlakukan bak putri dalam rumahnya. Apalagi dia beruntung karena memiliki ibu yang baik seperti Widya.
"Senang karena putri saya dapat bertemu cepat dengan jodohnya, lalu sedih karena itu artinya saya harus mulai belajar melepas putri saya dengan calon suaminya nanti." Widya tersenyum menatap lurus lukisan foto keluarganya yang terpanjang di dinding.
"Seandainya Putri kandung saya tetap ad–"
"Tante, saya sudah selesai membersihkan ruangan ini," ucap Jelita dengan senyum memotong ucapan Widya. Entah mengapa tapi ia sungguh tak suka saat Widya membahas megenai anaknya.
Widya tersenyum ramah, "baiklah, kamu bisa langsung kedepan, sayang..."
Jelita mengangguk lalu berjalan menuju pintu ruangan, tapi sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu, Widya kembali memanggil namanya.
"Ta!" panggil dan Jelita menoleh, "nanti akan ada acar makan siang antara keluarga saya dengan calon besan. Nanti kamu ya layani ya..." pintanya.
Wanita itu mengangguk, "baik tante, saya permisi..." lalu Jelita benar-benar keluar dari ruang kerja Widya.
"Meja nomor 17 ya, Ta!"
"Siap chef!" jawabnya.
Dengan lihai, Jelita mengangkat nampak itu dan membawanya ke meja sesuai dengan perintah chef tadi.
Lalu ia kembali kedapur untuk membawa makanan baru dan kembali menaruhnya di meja yang berbeda, lalu begitu seterusnya.
Karena terlalu sibuk bekerja, ia sama sekali tak sadar jika seseorang terus memperhatikannya secara intens.
Cekrek...
Cekrek....
"Selesai, ini saya buktinya, mari kita berikan pada tuan..." ucapnya pada rekan kerjanya dan mereka keluar dari resto.
...o0o ...
"Ini tuan, foto yang anda minta..." ucap seorang pria dengan pakai serba hitam.
Dengan cepat, pria yang menggunakan jas berwarna merah maroon itu mengambil amplop putih yang di serahkan kepadanya dan membukanya dengan cara yang brutal dan tidak santai.
Di dalam amplop itu terdapat foto-foto Jelita tengah berpakaian pelayan dan membawa nampan berisi makanan.
"SIAL!!" umpatnya cukup keras. Ia meremas foto istrinya yang sedang memakai baju pelayan itu dengan erat, menyalurkan rasa kesalnya.
"Kenapa wanita tua itu selalu mencampuri urusan rumah tanggaku ? Berani sekali dia menjadikan istriku sebagai seorang pelayan!" urat lehernya tercekat jelas–menandakan jika dia benar-benar marah saat ini.
Pria berjas merah maroon itu mengendurkan dasinya yang terasa mencekik, memutar kursi kerjanya hingga matanya kini menatap bangunan tinggi yang terlihat dari dinding ruang kerjanya yang transparan.
"Begitu berat kah Ta menjadi istriku ? Kamu terlihat begitu tersiksa...." gumamnya sendu.
Ia sadar telah menyakiti Jelita hampir setiap hari, bahkan sekarang dia baru tahu jika ibunya juga selalu menyakiti Jelita.
__ADS_1
"Haruskah aku melepaskan mu, Ta ? Haruskah aku memberikan kamu sebuah kebebasan yang tidak kamu dapatkan selama ini ?" tanyanya.
Haruskah Bara egois ? Haruskah Bara mempertahankan rumah tangganya yang sudah sangat toxic ini ?
Atau Bara harus melepaskan cintanya ? Melepas semua perasaannya pada Jelita dan biarkan istrinya itu bahagia walau dia akan tersiksa nanti ?
...o0o ...
Seperti yang dikatakan kemarin malam, kini keluarga Sanjaya dan Jagakarsa tengah mengadakan makan siang di restoran milik ibu negara Sanjaya, untuk mempererat hubungan mereka.
Tak henti-hentinya Widya dan Sasa terus bercerita tentang fashion hingga dapur. Lalu tak mau kalah, Rio–Ayah Hades dan Bisma–Ayah Chika, calon tunangan Hades juga sibuk membahas mengenai pekerjaan.
Sementara Chika dan Hades yang sedang duduk di meja yang berbeda hanya diam. Atau mungkin lebih tepatnya, Hades yang tak ingin menjawab pertanyaan yang Chika tanyakan kepadanya.
"Hm, kak Hades kenapa umur 17 sudah kuliah ? Chika sebentar lagi 17 tapi masih SMA. Kak Hades berarti pintar ya ?" tanya Chika.
Krik....krik....krik....
Hening, Hades kembali tak menjawab pertanyaan Chika.
"Ajarin Chika dong kak, Chika paling gak bisa matematika. Ajari Chika ya...." pintanya.
Tak gentar! Meksipun semua pertanyaan tak ditanggapi oleh Hades, tapi gadis cantik itu terus saja mengajukan pertanyaan.
Chika terus berbicara, dan Hades juga terus masih memikirkan Jelita. Memikirkan bagaimana caranya memberitahu Jelita jika kemungkinan besar atau kecil Widya masih memiliki hubungan darah dengannya.
Ah! Tapi Hades tak boleh gegabah. Meksipun wajah Widya dan Jelita hampir mirip, tapi bisa saja jika mereka berdua sama sekali tak memiliki hubungan darah.
Hades melemas, benar! Bisa saja hanya mirip, dan tidak ada hubungan darah. Jangan sampai Hades memberikan harapan pada Jelita.
"Hades...."
"Sayang..."
"Kak Hades!!!"
"HADES!!!"
Terlalu asik bergelut dengan pikirannya, ia sampai tak mendengar panggilan yang di berikan oleh Sasa, Widya, Chika dan juga Rio padanya.
Namun teriakan Rio langsung menyadarkannya dari lamunan. Hades mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menjawab panggilannya.
"Ah, maaf. Hades masih memikirkan beberapa pekerjaan yang tadi Hades tinggal," jawabnya berbohong.
Semua orang tertawa mendengar jawaban Hades. "Lupakan nak, sekarang kita makan-makan dulu. Masa ada cewek cantik di depan mu kamu anggurin sih.." ucap Rio–ayah Hades menggoda.
Wajah Chika memerah bak kepiting rebus, sedangkan Hades tersenyum tipis.
"Sudahlah Rio jangan goda anakmu!" jawab Widya. "Hades kami manggil kamu daritadi karena ingin tanya kamu pesan apa, kita sudah pesan tapi kamu-nya diam aja!" sambungnya.
Kini mata Widya beralih pada wanita cantik yang sedari tadi mencatat pesanan mereka.
"Ta! Catat pesanan calon mantu tante ya," pintanya pada pelayan itu.
Sang pelayan menganggukkan kepalanya, lalu menatap Hades yang kini melihat buku menu. "Silahkan pesannya, tuan.."
"Aku mau sushi roll sama ice matcha latte." Hades masih menatap buku menu itu, lalu menutupnya jika dirasa tak ada yang menarik lagi untuk ia makan.
"Itu saja tuan, ada lagi ?"
Hades mendongak menatap pelayan itu, "itu saja du–– JELITA!!!!!" teriak Hades dengan mata bulat melihat Jelita dan Widya secara bergantian.
...o0o ...
JANGAN LUPA LIKE+KOMENNYA SAYANG ❤️🥰🥰
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA