HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 32 - PERATURAN BARU


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Bara pulang ke rumah milik keluarga Adinata dengan senyum mereka di bibirnya. Seperti biasa, Bara akan selalu bekerja lebih keras dan pulang lebih awal karena tak sabar melihat wajah lucu anaknya, apalagi mata bulat anaknya itu. Benar-benar sangat–ARGGGG!!! terlalu menggemaskan untuk di katakan.


Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki tangga menuju kamar sang anak.


Ceklek…


Seperti biasa aroma kamar Gala yang tercium bau minyak telon dan bedak bayi benar-benar bisa menghilangkan penat yang bersarang dalam kepalanya.


Ia berjalan memasuki kamar, membiarkan pintu itu terbuka menuju box bayi. Senyumnya semakin melebar melihat langsung wajah anaknya yang terlelap.


“Baru saja tidur tuan, tapi habis di beri ASI sama nyonya,” jelas Mira yang sedang membereskan mainan bayi Bara dan memasukkan mainan itu lagi kedalam box-nya.


Bara mengangguk mengerti, lalu mencium seluruh wajah, tangan perut dan kaki Gala dengan gemas. “Baru selesai mandi dia ?”


“Tadi mandi dulu, terus baru minum susu dan tidur, tuan.”


“Mamanya mana ?”


“Ah, nyonya baru saja masuk ke kamar tuan. Tadi katanya mau mandi.”


Senyum kecil terbit pada wajah Bara, ia mengelus kepala anaknya dengan sayang. “Jaga dia, jangan sampai digigit nyamuk,” pesan Bara yang diangguki dengan cepat oleh Mira.


Setelah itu Bara keluar dan menutup pintu anaknya kembali, dan kini berjalan memasuki kamarnya dengan Jelita. Lalu mengunci pintu kamar itu dari dalam.


Hening tak ada suara gemericik air, padahal Bara sudah menempelkan telinganya pada pintu kamar mandi.


Pikiran buruk, mulai membayangi otak Bara. “Jangan bilang dia kabur dari rumah ini,” gumamnya dengan tangan terkepal.


Tak ingin berlarut dalam pikirannya, Bara langsung menobrak pintu kamar mandi, hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Brakk…


“Argghhh….” Teriak Jelita yang sedang berendam di dalam bathup karena kaget. Segera ia menutupi tubuh polosnya dengan busa-busa dari sabun yang mengambang di sana.

__ADS_1


Sedangkan Bara sedikit terkejut dengan teriakan Jelita, namun sedetik kemudian ia bernafas lega karena berhasil menemukan Jelita.


“Ka−kamu ngapain sih ?” tanya Jelita dengan gugup, setelah tersadar dari keterkejutannya.


“Aku kira kamu pergi.”


“Gak mungkin banget, mau pergi kemana ? Ini sudah jam 5 sore, nanti kamu marah lagi sama aku,” jawab Jelita, ia masih menyilang kan kedua tangannya di dada menutup sesuatu yang memang harus di tutup.


Mendengar jawaban Jelita, Bara menjadi tersenyum lega. Ia melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang wajahnya sudah sangat pucat itu.


“Ka−kamu, mau ngapain ? Sana jauh-jauh!” usirnya. “Aku mau mandi sebentar!”


Sekuat tenaga Bara menahan tawanya agar tak meledak, menggoda Jelita adalah hobbynya sedari dulu. “Aku mau mandi bareng, kamu sudah selesai nifas kan ? Jadi gak ada alasan lagi.”


Bara melepaskan semua pakaian yang menempel pada tubuhnya, sedangkan Jelita sudah gemetaran di bath-up. “Aku gak mau!” jawabnya cepat.


“Perjanjiannya ? Kamu mau pisah sama aku gak ? Mau kerja gak ?” tanya Bara dengan senyum miringnya.


Tangan Jelita terkepal di depan dadanya, ia berusaha menetralkan emosinya agar tak terlihat oleh Bara. “Baiklah, lakukan saja.” Senyum kemenangan terbit ada wajah pria itu, ia semakin mempercepat gerakan tangannya yang membuka pakaian pada tubuhnya.


Setelah tubuh Bara sudah polos, ia memasuki bath up dan mulai bermain dengan Jelita hingga beberapa ronde. Intinya, nyaris membuat Jelita pingsan.


...o0o...


Sesuai janji Bara, hari ini Jelita sudah sangat rapi dengan kaos dan celana panjang jeans berwarna putih. Ia merias dirinya secantik mungkin, tak salah kan ? Ini adalah dari pertamanya bekerja setelah hampir 2 bulan ia cuti. Meskipun hanya bekerja sebagai Office Girl, Jelita harus tetap menjaga penampilannya.


Setelah selesai ia menuju kamarnya dan memberikan ASI sedikit untuk Gala sebelum ia berangkat kerja. “Nyonya bekerja hari ini ?” tanya Mira penasaran karena pakaian Nyonya-nya yang tidak terlihat seperti seorang karyawan di perusahaan besar.


Jelita tersenyum kecil melihat Mira yang memperhatikan penampilannya dengan tampang mengejek. Kemarin ia hanya mengatakan akan mulai bekerja lagi diperusahaan milik Bara, tanpa mengatakan posisi apa dia bekerja.


“Iya, aku mulai kerja hari ini.”


“Dengan pakaian itu, Nyonya ?” tanyanya spontan, lalu Mira mengedipkan matanya beberapa kali saat menyadari ucapannya yang terkesan mengejek Jelita. “Ma−maksud saya, bukan saya menghina pakaian Nyonya, hanya saja pakaian Nyonya terlihat santai…” sambungnya mencoba menjelaskan.


Jelita tertawa kecil mendengar kegugupan dari suara baby sitter anaknya itu. “Seragam kerjaku ada di loker khusus karyawan, jadi aku pakai baju santai aja, soalnya nanti juga ganti seragam.”


Mira menganggukkan kepala mengerti, “pasti posisi Nyonya sangat penting ya ?” tanyanya yang hanya diangguki singkat oleh Jelita.


Setelah lama berdiam diri, Jelita berdiri dari duduknya dan menaruh anaknya yang sedang tertidur ke box bayi dengan hati-hati, tak ingin membangunkan anaknya. Bisa berabe kalau anakanya bangun dan kembali menangis.


“Persediaan ASI di kulkas masih ada kan ?”


“Ada Nya, masih banyak kok.”

__ADS_1


“Ya sudah kamu di sini aja, saya mau sarapan terus langsung berangkat kerja. Saya mungkin pulang malam, saya titip Gala ya.” Jelita tersenyum singkat pada Mira.


“Siap Nya!”


Jelita berjalan keluar dari kamar anaknya, menuruni tangga. Dari atas bisa ia lihat suaminya sudah rapi dengan pakaian yang ia pilih tengah memakan nasi goring, di sampingnya ada tablet yang menampilkan grafik saham perusahaanya.


Kriett..


Suara kursi di tarik mengalihkan perhatian Bara dari tablet pengeluaran terbaru miliknya. Ia mengalihkan tatapannya kearah istrinya yang amat termat cantik meskipun hanya memakai kaos hitam dan jeans putih.


Bara menjatuhkan sendoknya, membawa tangannya ke bawah meja dan mengepalkan dengan sangat erat. Sungguh ia tak rela Jelita harus dandan secantik itu hanya itu bekerja, bagaimana jika nanti ada seorang pria yang menyukai Jelita ? Batin Bara berkecamuk.


“Aku bekerja sekarang,” ucap Jelita saat ia menyadari tatapan tajam Bara semakin mengintimidasinya.


Ia memasukan nasi goring kedalam piringnya, dan memulai memakan sarapan paginya.


Sementara berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terbawa emosi. Ia harus menunjukkan pada Jelita jika dia adalah pria yang memegang omongannya.


“Ya, kamu bisa bekerja kapanpun kamu mau,” jawab Bara yang langsung direspon senyuman manis oleh Jelita. “Meskipun kamu istriku dan ibu dari darah dagingku, tapi perlakuanku akan tetap sama seperti pegawai lain. Tidak ada perilaku khusus, kamu harus bekerja seperti biasa. Yang berbeda adalah jam kerjamu, jika dulu yang semakin singkat. Jam pulangmu adalah jam 4 sore, tidak ada bantahan.”


Jelita menghela nafas panjang, lalu menganggukan kepalanya. Memang apa bedanya ? Bukankah sejak dulu memang ia tak pernah dispesialkan oleh Bara.


“Baiklah, aku setuju.”


Bara tersenyum lalu ia menenggak habis air mineralnya, berdiri dari duduknya dengan tangan kanan yang menggenggam tabletnya “Aku berangkat, kamu jangan telat. Terserah kamu mau berangkat naik apa. Ojek online atau angkot terserah, karena seperti yang aku bilang tidak ada perlakuan khusus dari aku untuk kamu. Jadi supir yang biasanya buat kamu sudah aku pecat,” beritahunya.


"Karena itu mobilku, dan aku adalah bosmu. Jadi aku tidak bisa memberikan barang pribadiku kepada pegawai biasa."


"Lalu seperti biasa, jika ada sedikit kesalahan, aku tidak akan menolerir. Sama seperti karyawan ku yang lain. Kamu akan di beri sanksi membayar tiga kali lipat dari yang kontrak dan akan di pecat dari perusahaan. Jadi jangan sampai buat kesalahan, sayang," sambungnya terakhir.


Setelah mengatakan itu Bara langsung pergi berlalu keluar dari ruang makan, meninggalkan Jelita yang masih mematung, mencerna omongan Bara.


“Sial, brengsek!” umpatnya kesal. "Dia ingin bermain-main denganku rupanya. Baiklah, mari kita mulai..."


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2