HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
END


__ADS_3

"Panitera Pengadilan Agama Jakarta Pusat menerangkan bahwasanya hari ini tanggal 5 Februari 2021 berdasarkan Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan nomor 3022/PGA.CR/2021 tanggal 5 Februari 2021 telah mendeklarasikan perceraian sebagaimana mempunyai kekuatan hukum yang tegap atas saudara Bara Leonardo Adinata dan saudari Adhisti Jelita Nirmala Sanjaya secara hukum maupun agama!"


"Hak asuh atas anak kandung saudara Bara Leonardo Adinata dan saudari Adhisti Jelita Nirmala diputuskan oleh Pengadilan Agama Jakarta Pusat sebagaimana mempunyai kekuatan hukum, jatuh kepada saudari Adhisti Jelita Nirmala!"


Tok....


Tok....


Tok....


Ketukan palu hakim yang berbunyi tiga kali, menandakan bahwa perceraian antara Bara dan Jelita telah sah di mata hukum.


Kedua pasang mantan suami istri itu menangis dalam diam, menghiraukan sorakan senang dari kedua orang tuan dan adik angkat Jelita yang memekik kesenangan karena Jelita telah sepenuhnya lepas dari Bara.


Jelita menangis menatap suaminya yang juga menitihkan air mata. Entah harus senang atau sedih. Tapi yang pasti dikehidupan barunya ini, dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjalani hidup yang lebih baik lagi.


Sementara Bara di kursinya merasakan sakit hati yang begitu dahsyat. Hidup tanda Jelita di sampingnya ? Apa dia bisa ?


Jelita berdiri dari kursinya saat hakim sudah mulai beranjak keluar dari ruang sidang. Matanya melirik kedua orangtuanya dan Chika yang sudah keluar dari ruangan dengan senyum sumringah.


Lalu matanya beralih pada kedua orang tua angkat sekaligus mertua yang tatapannya sulit Jelita artikan. Seperti tatapan kosong ? Entahlah apapun itu Jelita tak mengerti. Ia tak pernah melihat kedua orangtuanya dengan tatapan begitu sebelumnya.


Tak ingin berlarut dalam pikirannya, ia melangkahkan kakinya pelan ke kursi Bara. Jelita menepuk pelan bahu pria itu, hingga kepala Bara mendongak–menatap Jelita dengan wajah sembabnya.


"Kak Bara..." ucapnya dengan senyum.


Mendengar nada yang mengalun indah keluar dari bibir tipis berwarna peach yang biasanya ia nikmati setiap hari itu membuat Bara tak bisa menahan isakannya.


Ia berdiri memeluk Jelita erat dengan bahu bergetar. "Ta...Jelita....maafin kak Bara...hiks....hiks..." keluhnya.


Jelita terkejut sejenak, lalu mengelus punggung lebat mantan suaminya dengan lembut–membiarkan Bara memeluk tubuhnya untuk yang terakhir kali.


"Sudah Jelita maaf kan kak, kakak gak perlu minta maaf lagi. Jelita sudah ikhlaskan semua perlakuan kakak yang kurang berkenan pada Jelita." Jelita tersenyum, ia mengelap air mata yang mengalir pada sudut padanya dengan bahu Bara.


Mendengar jawaban Jelita membuat Bara semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jelita, kembali mengingat masa-masa dimana ia menghancurkan dan melecehkan adiknya sendiri.


Saat Jelita berumur 13 tahun, Bara selalu memintanya menggunakan pakaian minum.


Saat Jelita berumur 14 tahun, Bara meminta Jelita untuk m3ngulum kej4nt4nannya setiap hari saat ia baru pulang sekolah.


Saat Jelita berumur 23 tahun, Bara memp3rk0sa dan menyebarkan video tak senonoh mereka di grup angkatan Jelita hingga membuat wanita itu harus menanggung malu seumur hidup dan masa depannya hancur.


Bahkan Jelita harus melahirkan bayi diusinya yang sangat belia. Padahal sudah jelas Bara tahu jika usia Jelita masih belum mampu menahan rasa sakit melahirkan. Tapi ia tak memperdulikan itu walau nyawa Jelita adalah ancamannya.


"Hukuman apa yang cocok untuk pendosa seperti kakak, Ta ? Hukuman apa...hiks...hiks..." Bara melepaskan pelukan lalu menjatuhkan dirinya dilantai. Bersimpuh didepan kaki Jelita.


Mata Jelita kembali menetes kan air mata, ia menarik bahu Bara untuk kembali berdiri. "Jelita ikhlas kak, lagipula jika kakak tidak melakukan hal itu sama Jelita, Jelita gak akan pernah bisa mendapatkan Gala sebagai anak Jelita!" Ia kembali memeluk tubuh mantan suaminya erat.


Mereka berdua saling berpelukan, hingga tidak sadar sedang di tatap oleh kedua pasang paruh baya yang juga ikut menitihkan air mata.


"Ayo Ma, kita dekati mereka. Kamu juga harus meminta maaf pada Jelita!" ucap Doddy–ayah Bara kepada istrinya Fara yang kini tengah menangis tersedu-sedu.


Fara mengangguk kecil, lalu menggenggam erat tangan suaminya menuju kedua anaknya.

__ADS_1


"Je–Jelita.....hiks....hiks...hiks...." Fara menangis yang membuat pelukan Bara dan Jelita terlepas.


Jelita tersenyum menatap ibu kandung sekaligus mantan mertuanya itu, ia berjalan mendekat dan memeluk tubuh wanita itu erat.


"Ma, terima kasih sudah menjaga dan merawat Jelita dari kecil hingga sekarang. Sekarang Jelita sudah bertemu keluarga kandung Jelita, aku harap kita sama-sama bahagia ya sekarang, Ma..."


Tangisan Fara semakin keras mendengar ucapan Jelita. Apa tadi yang anak angkatnya ini bilang ? Menjaga dan merawat ? Fara sama sekali tidak pernah melakukan itu.


Ia sama sekali tidak menjaga Jelita, karena ia selalu sibuk mengikuti suaminya mengurus pekerjaan. Ia juga sama sekali tidak pernah merawat Jelita, dari Jelita pertama kali ia bawa ke rumahnya, Jelita sudah diberikan satu pengasuh. Fara dulu tak mau repot-repot menanyakan kabar Jelita, karena dulu ia pikir Jelita baik-baik saja karena sudah ada pengasuh.


Yang selalu ia khawatirkan dulu hanya Bara, Bara, Bara, dan Bara. Sekalipun dulu tak ada nama Jelita terlintas dalam pikirannya.


"Maafkan Mama Ta, Maaf....." isaknya. "Maaf karena Mama masa depan Jelita hancur, maafkan Mama karena sudah membuat Jelita menjadi Office Girl diperusahaan keluarga kita. Maafkan Mama karena dulu Mama malu memperkenalkan kamu ke semua orang sebagai anak Mama. Mama menyesal Ta, Mama menyesal...." sambungnya memeluk tubuh Jelita semakin erat.


Bisa-bisanya ia dulu mengabaikan Jelita dan selalu berlaku kasar padanya. Sekarang ia tahu jika wanita yang selalu ia sakiti hatinya dan selalu ia rendahkan itu adalah wanita yang baik dan berhati tulus.


Jelita merenggangkan pelukannya mereka, lalu mengusap wajah ibu angkatnya yang dipenuhi air mata itu pelan, bibirnya tertarik keatas untuk membentuk senyuman tulus.


"Sudah gak perlu mengungkit masa lalu, sekarang kita sudah bahagia dengan cara ini. Mungkin memang semesta menginginkan hal ini terjadi!"


Jelita menatap satu persatu orang yang ada dihadapan ini. Matanya pertama menatap ayah angkatnya, dipeluknya tubuh pria patuh baya itu.


"Papa jaga kesehatan selalu ya, jangan kerja terus!" bisik Jelita dengan senyum.


Doddy menganggukkan kepalanya, mengelus surai lembut Jelita lembut. "Pasti sayang, akan selalu Papa ingat pesan Jelita. Maafkan kesalahan keluarga Papa ya, nak..." Jelita menganggukkan kepalanya sembari melepas pelukan itu dengan senyum.


Ia kini menatap Fara, memeluknya singkat dan mengucapkan kata perpisahan yang masih.


Dan terakhir Jelita menatap Bara yang masih menangis. Ia memeluk Bara yang disambut pelukan erat oleh mantan suaminya itu.


Jelita tersenyum menatap mantan suaminya. "Jika kita berjodoh maka Tuhan melalui semesta akan mempersatukan kita, kak!" jawabnya dengan lembut.


Tak kuasa menahan rasa sesaknya, Bara kembali membawa Jelita dalam pelukannya. Dan kembali menangis–mencurahkan rasa sakit hatinya.


"JELITA! AYO PULANG SAYANG!" teriak Bisma–ayah kandung Jelita yang berdiri didepan pintu.


Jelita melepas pelukannya, membalikkan badan menatap sang ayah. "Iya Dad! Sebentar!"


Lalu ia beralih menatap satu persatu keluarganya terdahulu. "Kalau kangen sama Gala, pintu rumah aku selalu terbuka 24 jam untuk Kak Bara, Mama dan Papa."


"Jelita gak bisa lama-lama, sebentar lagi Jelita harus ikut pendaftaran sekolah. Jelita pamit ya..." tanpa menunggu jawaban mereka Jelita melangkahkan kakinya keluar dari ruang persidangan dengan langkah kaki yang terasa berat.


Meninggalkan keluarganya terdahulu yang kini masih merasakan kesedihan yang tak terkira, meskipun mereka selalu bersikap kejam kepada Jelita. Tapi ia tahu jika mereka pasti menyayanginya dengan tulus, terutama Bara.


"Aku harap setelah ini, kita semua hidup bahagia...." batin Jelita.


Ia berjalan beriringan bersama sang ayah yang memeluk bahunya erat. Mereka tertawa kecil saat Bisma mengucapkan lelucon kepadanya.


Hingga ia keluar dari gedung pengadilan agama itu, dan kini matanya beralih pada ibu dan adik angkatnya yang bermain dengan Gala.


Ternyata tidak seperti yang ada dipikirannya, yang berfikir jika Chika akan membencinya karena mengambil alih kasih sayang orang tuanya. Chika malah menyambut kedatangannya dengan senyum hangat.


Adik angkatnya itu juga begitu tulus menyayangi anaknya–Gala.

__ADS_1


"Kakak udah selesai ?" tanya Chika.


Jelita tersenyum lembut mengelus kepala adiknya. "Sudah selesai, semuanya sudah clear!" jawabnya dengan tegas.


Bisma, Widya, dan Chika tersenyum menatap Jelita dengan bangga. Pasalnya korban pelecehan akan terasa susah memaafkan pelaku, tapi Jelita berbeda. Dia memaafkan keluarganya dengan tulus.


"Ya sudah, ayo kita pulang ke rumah, kamu juga harus mendaftar sekolah sayang..." ajak Widya yang diangguki oleh mereka berempat.


Namun saat akan memasuki mobil, terdengar suara pria memanggil nama Jelita dengan begitu keras.


"Jelita!"


"Jelita tunggu!"


Sontak mereka berempat membalikkan badan, dan dengan kompak tersenyum kearah pria yang terus memanggil nama Jelita sembari berlari dan membawa sebuket bunga ditangannya.


"Hosh....hosh....hosh...." Hades–pria itu mengatur nafasnya saat sudah berdiri dihadapan Jelita.


Ia tersenyum lebar kepada Jelita, memberikan sebuket bunga kepada wanita itu. "Selamat jadi janda ya," ucapnya dengan jahil dan mata yang berkedip sebelah.


Mata Jelita melotot garang mendengar panggilan baru yang disematkan padanya. "Ihh, kok janda sih...." ia mengambil sebuket mawar putih itu dan dipukulkannya pada lengan Hades pelan.


Semua orang tertawa mendengar ejek Hades, termasuk Chika. Berbicara mengenai hubungan Chika dan Hades, gadis itu memilih untuk tidak melanjutkan pertunangannya dengan teman kakaknya itu. Ia tidak mau menikah dengan pria yang tidak mencintainya.


Jadi dia tidak akan memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan Hades. Karena ia pasti tahu jika pria itu selamanya tak akan pernah bisa mencintainya.


"Kok marah sih dipanggil janda ?" tanya Hades dengan senyum jahil. "Kamu kan jamur, Ta..."


Widya mengerutkan dahinya bingung, dengan ucapan Hades. "Jamur ? Apa tuh ?" tanyanya.


"Janda di bawah umur..." jawab Hades lalu mereka kembali tertawa terkecuali Jelita yang kini mengerutkan bibirnya kesal. Tak henti-hentinya, ia mendaratkan pukulan pada dada serta lengan Hades karena kesal di ejek!


Sementara di balik mobil, sejak tadi pria yang tengah bersembunyi itu mengepalkan tangannya kesal melihat wajah bahagia keluarga baru itu.


Apalagi sang wanita yang terus bercanda gurau dengan pria muda di sana, mata tajam itu berkilat marah. Urat-urat tangannya yang terkepal sudah menjadi bukti seberapa marahnya dia.


"Jelita, aku gak sanggup hidup tanpa kamu. Jika Tuhan memang tidak mau menyatukan kita kembali, maka tidak boleh ada satupun pria yang bisa mendapatkan mu! Karena hanya aku! Hanya Bara Leonardo Adinata yang bisa memiliki Jelita!" ucapnya Bara dengan sungguh-sungguh.


...o0o...


...END ❤️❤️...


Ratu ucapkan terima kasih buat kalian semua yang setia sama cerita-cerita Ratu 🥺🥺🥺


Ratu beneran sayang kalian semua. Rasanya mau peluk kalian satu persatu. ❤️❤️❤️


Oh ya, Ratu bakalan buat cerita baru. Kalian tungguin ya...


Yang pasti bakalan lebih seru dari cerita ini....


RATU SAYANG KALIAN ❤️❤️❤️


__ADS_1


Gimana jadinya cewe cantik + body bagus + Ratu di kampusnya jadi pengasuh bapak beranak satu ? YUK KEPOIN CERITA RATU ❤️❤️


__ADS_2