HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 63 - JANGAN IKUT CAMPUR


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"ANAK GAK TAHU DI UNTUNG!"


PLAKK.....


Suara tamparan kini menggema di ruangan VVIP sebuah rumah sakit mewah di daerah Jakarta, pria paruh baya itu dengan tanpa perasaan menampar wajah anaknya yang masih terdapat luka lebam.


"YA AMPUN DAD! PLIS JANGAN PUKUL HADES LAGI!" teriak Sasa–ibu Hades dengan air mata yang berderai.


Ibu mana yang tega melihat anaknya yang sudah babak belur tak bertenaga itu di pukul lagi oleh suaminya.


Rio–ayah Hades memutar bola matanya malas, ia mengalihkan pandangannya ke sang istri. "Kamu diam aja! kamu gak tahu apa yang sudah diperbuat sama anak kesayangan kamu itu!" dengusnya kesal.


Sementara yang ditampar hanya diam saja, kedua sudut bibirnya sobek akibat bogeman Bara kemarin malam.


Sasa mengusap bekas tamparan Rio pada pipi kanan sang anak pelan. "Sakit ya sayang..."


"Shh...." Hades hanya meringis nyeri tanpa menjawab pertanyaan Sasa.


"Jangan buat Daddy malu kamu!" peringat Rio yang sudah duduk di salah satu sofa, matanya menatap Hades nyalang. "Belakang ini Daddy bangga sama kamu karena sudah buat sistem operasional baru. Terus kamu juga selama seminggu ini tidak pernah absen mengisi layar televisi dan juga berita online sebagai CEO muda paling inovatif."


"Jangan sampai atas kesalahan yang kamu perbuat kemarin bisa membuat nama baik kamu tercemar. Kalau sampai itu terjadi, Daddy gak bakalan sudi kamu yang ambil alih perusahaan Daddy. Mending Daddy kasih sama tangan kanan kamu, sih Ranz!" sambungnya mengancam.


Tangan Hades terkepal kuat, ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Yang benar saja! Masa hasil kerja kerasnya akan di berikan pada si bodoh Ranz! Tidak akan pernah Hades berikan!


"Memang sebenarnya salah Hades apa sih Dad ? Terus apa Dad udah nemuin siapa yang mukul Hades kemarin malam ?" tanya Sasa yang bingung dengan ucapan suaminya.


Rio menganggukkan kepalanya seraya berdiri. "Kemarin Hades menyembunyikan istri orang di dalam Apartemennya, dan yang memukuli Hades adalah suami dari wanita itu," jawab Rio yang membuat Sasa membulatkan matanya terkejut.


"Dad kembali ke kantor!" ucapnya seraya berjalan keluar dari ruangan Hades. Meninggalkan Sasa dan Hades seorang.


"Be–bener kamu sembunyi istri orang ?" tanya Sasa pada Hades dan tentu tak dijawab oleh pria muda itu.


Melihat keterdiaman anaknya, Sasa meringis. Berarti memang benar jika anaknya suka dengan istri orang. Sepertinya dirinya harus segera mencarikan Hades jodoh....


...o0o...


Sepasang wanita berbeda umur itu kini sedang dalam mobil yang membawa mereka pada tempat yang sudah mereka sepakati.


Hingga 30 menit mobil itu melaju dalam keheningan, akhirnya mobil sedan hitam itu berbelok pada sebuah restoran sushi yang cukup besar, diperkirakan memiliki dua lantai, jika dilihat dari bangunannya.


"Ayo keluar, teman Mama pasti sudah menunggu," ajak Fara sembari membuka pintu mobil.


Jelita diam, dan mengikuti perintah Fara untuk keluar dari mobil dan berjalan memasuki restoran itu.


"Bu Fara, sudah ditunggu Bu Widya di ruangannya. Mari saya antar..." tiba-tiba ada seorang pelayan yang mendatangi Fara dan Jelita yang baru sampai di depan pintu resto.


Fara tersenyum sumringah, menarik pergelangan tangan kanan Jelita untuk mengikuti jejak lantainya menuju lantai dua resto itu.


Pelayan itu membawa Fara ke sebuah ruangan dengan pintu kayu bermotif, bertulisan "OWNER".


Tak mau berbasa-basi, Fara langsung masuk dengan Jelita. Senyuman semakin melebar saat melihat temannya sudah merentangkan tangan menyambutnya.


Fara membalas pelukan Widya–temannya, lalu duduk disalah satu sofa bersama dengan Jelita disampingnya.


"Ada apa kamu kemari ? Tumben banget ?" tanya Widya.


"Emang gak boleh aku mau lihat teman sendiri ?" balas Fara sengit tapi hanya bercanda.


Mereka tertawa lalu kembali berbasa-basi, menanyakan kabar, keluarga sampai masalah pekerjaan.


Hingga Fara melirik Jelita hanya duduk diam, dengan mata yang sibuk melihat menilai ruangan Widya.


"Eh Wid, ini perkenalkan anak angkat ku Jelita..."


Widya menatap wanita muda dibelakang tubuh Fara lalu tersenyum hangat. "Astaga, dia sangat cantik Ra, kamu beruntung punya anak angkat sepertinya. Sungguh dia seperti model," jawab Widya.

__ADS_1


Jelita tersipu dengan pipi yang kemerahan. "Tante juga sangat cantik," balasnya.


Widya tertawa kecil, sedangkan Fara tersenyum kecil. "Kelas berapa kamu ?" tanya Widya lagi.


"Dia udah dikeluarkan dari sekolah Wid," belum sempat Jelita menjawab, Fara terlebih dulu memotong ucapan temannya itu. "Dia hanya lulusan SMP. Waktu kelas 3 SMP dia hamil duluan, biasalah pergaulan anak jaman sekarang kan ngeri," sambungnya.


Mata Widya membulat sempurna, "astaga malang sekali nasib anakmu, Ra." Widya menatap iba Fara. "Tapi pelaku p3m3rosaannya udah ditanggap kan ?" tanyanya pada Jelita.


Fara gelagapan, menatap ke kanan ke kiri. "Bu–bukan p3m3rosaannya kok Wid, itu d–dia sama-sama mau. Dia hamil anak pacarnya yang kebetulan satu kelas." Jelita tersenyum miring mendengar jawaban penuh dari mulut Fara.


"Loh tapi itu bisa dipidanakan kok Far, dulu pernah ada anak dari temanku juga dipe–"


"Ahh sudahlah Wid, jangan buat luka baru. Kasihan Jelita kalo harus mengingat kejadian itu. Lagipula dia sudah bahagia dengan anaknya." Fara tersenyum kikuk. "Aku datang kemari sebenarnya ingin mencarikan pekerjaan untuk anak angkat ku, dia kan cuma lulusan SMP jadi agak susah cari kerja. Barangkali ditempat kamu ada lowongan," sambungnya mengalihkan pembicaraan.


Widya menatap Jelita penuh iba, "kalo lulusan SMP gak bisa bekerja di sini. Soalnya restoku kan cabang dari Jepang, takut kalo ada meeting dengan orang Jepang, Jelita akan kesusahan," jawabnya tak enak.


Fara menggeleng setelah mendengar ucapan Widya. "Eh kamu salah paham, aku bukan mau memasukkan Jelita ke salah satu staff penting kamu. Aku mau kamu masukkan dia sebagai pelayan atau bagian cuci piring."


Mulut Widya terjatuh mendengar ucapan Fara. Dia ingin anaknya bekerja sebagai pelayan ? Dia orang tua macam apa ?


"Kamu gila Far ? Dia anak kamu masa mau–"


"Jadi lowongannya ada atau enggak ?" desak Fara.


"A–ada sih, tapi aku gak tega kalo Jelita yang–"


Fara menganggukkan kepalanya mengerti. "Oke kalau memang ada, mulai besok Jelita akan bekerja di restoran kamu, Wid." Fara menarik tangan Jelita untuk berdiri. "Makasi banyak, Ya..." lalu mereka berdua keluar dari ruangan, dengan tangan Jelita yang diseret oleh Fara.


"Kasihan sekali, gadis muda itu.." cicit Widya melihat kepergian Jelita. Melihat Jelita ia kembali teringat dengan anaknya yang sudah meninggalkannya 17 tahun lalu.


Jika anak perempuannya masih hidup, pasti akan secantik Jelita. "Vanessa, bunda kangen kamu sayang...." ucapnya lirih.


...o0o...


Kini jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Bara dan Rio berjalan dengan langkah lebarnya di lantai satu perusahaan untuk keluar.


Seperti biasa, seperti pemeran utama sebuah drama. Kini semua pasang mata menatap Bara dengan penuh minat, namun ada satu yang mengganjal dalam hati mereka.


Wanita ganjen itu kemana ? kenapa tidak membuntuti CEO mereka ?


Bisik-bisik pun mulai terdengar di telinga Bara, namun ia sama sekali tak memperdulikan bisikan itu dan terus melangkah kakinya dilantai yang sangat luas ini.


"Iya, setelah kemarin gatel sama pak Hades."


"Aku lihat kemarin makan siang sama Hades pulang diantar bos Bara, berasa tuan putri..."


"Bagus deh kalo dipecat. Enek juga ngelihat babu sok berkuasa di perusahaan ini. Bikin malas kerja."


Namun lama-kelamaan telinga Bara terasa panas juga mendengar ucapan tak mengenakan tentang istrinya.


"Rio, pecat semua wanita itu," Bara melirik gerombolan wanita yang berada di dekat meja resepsionis. "Tanpa diberi uang pesangon!" sambungnya.


Rio menganggukkan kepalanya mengerti, matanya terus memperhatikan kelima wanita itu dengan rasa iba. "Benar kata orang, jika mulutmu adalah harimaumu. Daripada bergunjing, bukanlah lebih baik mulut itu digunakan untuk makan ?" batinnya.


Sementara yang ditatap malah tersipu malu, kelima gadis itu tampak mati gaya karena dilirik oleh Bara dan ditatap secara terang-terangan oleh Rio.


"Ahh~~~~ aku malu....."


Sampai di dalam mobil, Bara meminta kepada supir untuk mengendarai dengan menambahkan kecepatan mobilnya. Karena terbiasa ada Jelita yang menemaninya selama hampir 24 jam dalam sehari, membuatnya harus merasakan rindu yang teramat sangat karena 12 jam tak bertemu.


"Lebih cepat," pintanya yang langsung ditanggapi oleh sang supir.


Hingga beberapa menit kemudian mobil Alphard milik Bara sudah berhenti tepat di pintu rumah mewahnya.


Rio membukakan pintu untuk Bara, "tidak perlu masuk. Kau pulang saja," usianya lalu memasuki rumahnya.


Aroma makanan menguar saat menginjakan kakinya di dapur, Bara tersenyum kecil lalu berjalan menuju dapur.


"Akhirnya kamu pulang juga, Mama lapar nunggu kamu!" gerutu Fara yang sudah duduk di meja makan dengan wajah masam.


Bara tersenyum kecil, menghampiri ibunya dan memberi kecupan singkat pada puncak kepala Fara. Lalu kakinya berjalan menemui sang istri yang masih sibuk memasak.


"Ashh...kak Bara...." kagetnya karena tiba-tiba Bara memeluknya dari belakang.


"Aku kangen sayang, kangen banget...." bisiknya s3nsual mengigit daun telinga Jelita.

__ADS_1


Jelita tersenyum kecil, lalu memindahkan sayur yang sudah ia buat dalam mangkuk. "Suruh siapa aku dipecat, jadi gak bisa nemenin kamu kerja deh..."


Bara semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher istrinya. "Mana tega aku lihat istriku kerja, lagipula aku gak mau nanti kalo ada lelaki lain yang suka sama kamu. Kamu terlalu seksi kalo pakai pakaian kerja sayang. Gak tahan aku!"


Sekuat tenaga Jelita, menahan tawanya. Jika dalam mode manja begini Bara sudah pasti meminta jatahnya.


"Gak tahan apa ?" goda Jelita.


Mendengar pertanyaan istrinya Bara tersenyum menyeringai, "gak tahan mau masukin 2 jari ku!" jawabnya berbisik.


Mata Jelita membulat, ia menepuk pelan tangan Bara yang berada di pinggangnya. "Mes–"


"Kamu lelet banget masakannya Ta! Mama lapar!" teriak seseorang dengan nada jutek yang membuat Jelita mengehentikan ucapannya.


Mendengar teriakan nenek sihir yang tengah lapar itu, Jelita segera membawa sayur yang sudah ia masak menuju meja makan dengan Bara yang masih setia memeluk tubuhnya dari belakang.


"Nih Ma, udah matang," jawabnya malas.


Tak menjawab ucapan menantunya Fara langsung mengambilkan Bara nasi dan beberapa lauk tanpa mengambilkan sayur yang sudah Jelita masak.


"Sayang lepas dong pelukannya, ini Mama sudah ambilkan makanan. Makan dulu," ucap Fara lembut pada anaknya.


Bara menurut, ia melepaskan pelukan dan duduk di kursi bagian kepala keluarga dengan Fara dan Jelita yang duduk di sisi kanan dan kirinya.


"Mama kenapa gak ikut Papa ke Singapura ?" tanyanya sembari memasukan makanan dalam mulutnya.


"Enggak, Mama udah lama gak luangin waktu buat Gala. Jadi mungkin sebulan penuh Mama di sini..."


Uhukkk.....


Jelita terbatuk-batuk, mendengar ucapan Fara. Sial! Nenek lampir ini sebulan di rumah ??? Bencana!


Bara menyodorkan segelas air putih kepada istrinya. "Makan pelan-pelan sayang...."


"Mama dengar kamu berhentiin Jelita kerja, kenapa ?"


"Aku gak mau istriku kerja, aku udah kaya, ngapain Jelita perlu kerja ? Cukup urus aku sama Gala plus adik-adiknya Gala nanti!" jawab Fara melirik ibunya.


Fara mendengus mendengar jawaban Bara, matanya menatap Jelita yang sibuk makan. "Nanti dia jadi manja, sayang. Jangan terlalu–"


"Bagus kalo dia manja aku suka. Aku suka kalo Jelita bergantung sama aku. Itu artinya aku berguna." Bara membanting sendok dan garpunya diatas piring, menimbulkan suara yang nyaring. "Intinya aku gak suka Jelita kerja!"


"Sayang, dengar Mama. Coba kamu lihat Mama ini, secara gak langsung Mama ini kerja loh jadi sekretaris Papa. Mama selalu bisa mengusulkan ide-ide yang bagus untuk perusahaan. Jadi wanita itu harus seperti itu, bisa membuat bangga–"


"Gak usah disama-samakan. Jelita sama Mama itu beda orang. Dan Mama juga gak perlu ngurusin rumah tangga Bara!" ucapnya final.


Tanpa sepatah kata kali, Bara menenggak minumannya lalu pergi dari ruang makan menuju kamarnya.


"Mama juga selesai makan," Fara mengelap noda minyak di bibirnya. "Kamu beresin semua, cuci piring. Jangan bergantung sama pembantu!"


Fara kini sudah ikut pergi menaiki tangga, hanya menyusahkan Jelita yang masih memakan makanannya.


Jelita mengangguk mengiyakan permintaan Fara.


"Ah kenyangg~~~"


Jelita mengusap perutnya, "mbak, ini tolong diberesin ya. Jelita mau ke kamar!"


"Baik Nya!" jawab maid itu.


Kalau sudah ada orang yang dibayar untuk beberes rumah, kenapa harus dia yang melakukan ?


...o0o ...


MINTA DUKUNGANNYA YA SAYANGNYA RATU 🥺🤩😘


1900+++ kata ini semu kalian puas 🥰


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2