HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 62 - DUA ANCAMAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


BRAKK....


Bara menutup pintu mobil dengan begitu kencang, ia membuka kaca mata yang bertengger pada hidung bangirnya lalu tersenyum manis menatap gedung tinggi yang berada di hadapannya saat ini.


Saat supirnya sudah membawa mobilnya memasuki parkiran gedung, ia berjalan dengan langkah angkuh untuk memasuki perusahaan IT nomor satu di Indonesia itu.


Tak memperdulikan tatapan kagum yang di berikan oleh orang yang melihatnya, ia berjalan menuju resepsionis.


"Anda tahu saya kan ?" tanyanya pada dua resepsionis itu yang sedang berjaga.


Kedua resepsionis itu sedikit cengo melihat wajah tamban bule di hadapannya, lalu beberapa saat menganggukkan kepalanya kompak.


"I-iya tuan, Bara Adinata kan ?" tanya mereka.


Hell! Siapa yang tidak tahu pengusaha properti di hadapannya ini. Tidak ada kesuksesannya yang membuat namanya naik, tapi wajah tampannya yang selalu memikat itu juga menjadi faktor besar ia populer.


Mendengar jawaban resepsionis itu, Bara tersenyum miring. "Bagus, aku ingin bertemu CEO kalian hari ini!"


"Em, maaf sebelumnya tapi CEO kita hari ini tidak datang ke kantor, tuan. Jadi digantikan oleh tuan Rio Jagakarsa selaku CEO terdahulu dan Ayah dari tuan Hades," jelasnya.


Bara menganggukkan kepalanya mengerti, ia tau jika Hades pasti tak masuk ke kantor hari ini. Bahkan ia juga tahu karena apa Hades tak masuk.


Sudah pasti karena pria muda itu kini tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Bara tertawa dalam hati.


"Baiklah, sekarang telfon sekretarisnya dan katakan aku ingin berbicara dengan tuan Rio!" ucap Bara.


Salah seorang resepsionis itu mengangguk dan segera menelfon sekretaris dari CEO mereka.


Tak berselang lama, kurang dari satu menit resepsionis itu menutup telfon.


"Tuan Rio menunggu kedatangan ada di ruangannya, mari saya antar..."


Bara menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah resepsionis itu menuju lift menuju lantai paling atas.


Pintu lift terbuka, sang resepsionis keluar terlebih dahulu di susul Bara menuju ruangan CEO.


"Kamu boleh pergi, Siska," ucap Ranz pada resepsionis itu. Lalu mata Ranz beralih pada Bara.


"Silahkan masuk tuan, tuan Rio menunggu anda." Ia membukakan pintu untuk Bara.


Saat pintu sudah tertutup, senyuman hangat Rio menyambut kedatangannya. Pria paruh baya itu berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri Bara untuk menjawab tangan pria muda itu.


Dengan malas-malasan Bara membalas uluran tangan Rio–ayah Hades, tak lupa ia juga memberikan senyum tipis.


"Silahkan duduk, Mr. Adinata." Rio duduk terlebih dulu di salah satu sofa di susuk dengan Bara yang duduk di hadapannya.


"Apa yang membuat Mr. Adinata datang kemari ?" tanyanya tanpa basa-basi. "Apa anda ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan IT kita ?"


Setelahnya Rio tertawa kecil, "memang saya sangat tahu di dunia properti pasti juga membutuhkan teknologi yang tinggi. Saya bisa mensupport kebutuhan teknologi, mulai dari CCTV hingga satelit untuk meningkatkan keamanan pada bisnis properti anda."


Bara masih diam tak bersuara, membiarkan pria tua dihadapannya ini berbicara.


"Seharusnya saat ini anda bisa berbincang dengan anak saya, Hades Kalian sama-sama muda, pasti akan keluar ide-ide inovatif yang dapat memajukan kedua perusahaan kita," ucapnya. "Tapi sangat di sayangkan, anak saya, Hades sedang di rawat di rumah sakit," sambungnya dengan nada sedih. Raut bahagia di wajah Rio mulai memudar. "Sepertinya dia habis berkelahi dengan temannya, wajahnya sedikit babak belur. Biasalah namanya juga anak muda....hahahah....."

__ADS_1


Rio tertawa kecil dengan ucapannya diakhiri, namun suara tawanya berhenti tatkala mendengar sesuatu yang mengejutkan keluar dari mulur Bara.


"Saya, bukan teman Hades yang membuat dia babak belur. Tapi saya yang memukulnya di apartemen pada malam hari kemarin," ucap Bara dengan sekali tarikan nafas.


Mata Rio membulat terkejut, otaknya masih linglung tak bisa mencerna ucapan Bara. "Maksudnya apa Mr. Adinata ?" tanya Rio dengan raut wajah marah.


Tangan Bara menarik dasi yang serasa mencekik di lehernya. "Saya bilang saya yang memukul Hades. Dia membawa istri saya ke apartemennya. Dia memberikan istri saya obat p3r4ngsang, dan berniat tidur dengan istri saya. Untung saya datang tepat waktu."


Bara berdiri dari duduknya, menatap Rio yang masih terduduk di sofa. "Saya datang kemari bukan ingin melakukan kerja sama, atau bertemu Hades. Saya datang kemari memang ingin datang menemui anda, secara pribadi selaku ayah dari Hades."


"Tolong ajarkan anak anda agar berhenti menggoda istri saya. Saya masih berbaik hati tidak melaporkan anak anda ke polisi dan melakukan visum terhadap istri saya. Tapi jika sampai kejadian ini terulang lagi, saya pastikan jika tidak ada satu orangpun yang bisa membuat Hades keluar dari penjara. Dan nama baik keluarga anda akan hancur!" ancam Bara.


Setelah mengatakan itu, ia segera keluar dari ruangan sembari menggenakan kacamatanya kembali.


Sementara di ruangan itu, Rio memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


"RANZ!!! RANZ!!!" panggilnya nyalang.


Tak lama, Ranz datang dengan terburu-buru. "Tu–tuan Rio ada apa ?" tanyanya terkejut pasalnya keadaan tuannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Katakan padaku, ap–apa Hades benar-benar berniat menggoda istri Bara ?" tanyanya sembari memegangi dadanya.


Di otaknya ia sangat menyangkal jika anaknya yang masih belia itu menggoda istri orang.


"Be–benar tuan..." jawab Ranz pelan.


Mendengar jawaban Ranz, Rio langsung terduduk lemas. Nyeri di dadanya semakin menjadi-jadi.


"ARGHHH....." pengelihatan Rio semakin buram, hingga ia jatuh tak sadarkan diri di lantai, karena serangan jantung.


"TUAN!!!!" teriak Ranz khawatir.


...o0o...


Ia menatap ngeri pantulan di tubuhnya dimana terdapat banyak sekali tanda cinta mulai dari rahang hingga dada yang diberikan oleh suaminya.


Bagaimana bisa Jelita tahu jika itu dari suaminya, bukan Hades ? Semenjak Bara pergi kerja tadi ia berusaha untuk kembali mengingat kejadian semalam.


Dan ya, ia ingat tapi tidak sepenuhnya. Yang pasti, ia pulang larut malam dengan di gendong oleh Bara. Lalu Bara melemparkan tubuh Jelita diatas kasur dan mereka melakukannya berulang kali.


"Tapi untung aja kak Bara datang tepat waktu. Kalo enggak mungkin sekarang aku udah di tanam di tanah!" ucapnya sembari bergedik ngeri. "Sumpah, Hades jahat banget. Gue gak bakalan mau lagi dekat sama dia! Sialan!" sambungnya kesal.


Dengan mulut yang masih berceloteh, Jelita memandikan dirinya. Hingga beberapa menit kemudian, ia sudah cantik dengan dress rumahannya.



"Ngapain ya ? Main sama Gala aja deh di taman belakang," gumamnya sembari berjalan keluar kamar menuju kamar sang anak.


Brak...


Membuka pintu secara perlahan, namun senyum diwajah cantiknya memudar saat hanya melihat Mira yang sedang melipat baju-baju Gala dalam lemari, tanpa ada Gala di kamar itu.


"Nyonya pulang jam berapa kemarin ? den Gala nangis terus nyariin nyonya..." adu Mira menatap Jelita yang masih diam di ambang pintu, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Jelita tersenyum kikuk, "larut malam, soalnya banyak kerjaan," bohongnya. "Gala mana kak ?"


"Den Gala dibawah Nya, lagi makan sama Neneknya."


"Neneknya ? Maksudnya nenek siapa ? Jangan bilang kau nenek sihir itu sudah pulang," batin Jelita. "Nenek ? Maksudnya ibunya Bara, kak ?" tanya Jelita.


Mira mengangguk mengiyakan. Tubuh Jelita lemas seketika, ia masih belum siap bertemu dan mendengar segala celotehan dari mulut nenek sihir itu.


"Ya udah deh, aku ke bawah kak."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Mira, Jelita segera menutup pintu dan berjalan menuruni tangga dengan lemas dan tanpa semangat.


Dan benar saja, dari atas sini mata Jelita sudah melihat ibu angkat sekaligus mertuanya itu tengah menyuapi Gala sembari bercanda gurau.


Jelita jadi semakin malas untuk ke bawah.


"Hari ini Gala makan apa, Ma ?" tanya Jelita basa-basi menarik satu kursi di hadapan Gala.


Mata Fara yang sedang menyuapi cucunya langsung terkejut mendapati Jelita di sini.


"Loh, kamu gak kerja ?" tanyanya.


Jelita menggeleng, ia mengambil roti dan mengoleskan dengan selai coklat. "Aku udah gak kerja Ma. Sama kak Bara gak dibolehin kerja lagi mulai sekarang. Aku cuma di suruh jaga Gala aja di rumah." ia menyuapkan roti itu dalam mulutnya.


"Mam.....ma...mamm...." Baby Gala mulai berceloteh membuat senyum Jelita yang tadi dipaksakan kini mengembang dengan tulus.


Semetara Fara berdecak tak suka mendengar jawaban Jelita. "Kok mau sih kamu di pecat sama Bara ? Harusnya nolak dong. Lulusan SMP tuh susah banget, Ta nyari kerja. Apalagi kamu juga punya aib besar banget. Untung-untung kemarin Mama mohon-mohon sama Papa kamu buat masukin kamu ke kantornya. Kalo enggak kamu bakal jadi pengangguran."


"Ya mau gimana. Aku gak bisa nolak kemauan kak Bara, Ma. Mama tahu sendiri gimana sifat Bara."


"Terus kamu di rumah ngapain ?" tanya Fara lagi, ia kembali menyuapkan bubur nasi ini dalam mulut cucunya perlahan.


"Gak ada, aku gak ngapa-ngapain. Cuma nemenin Gala sama ngurusin suami," jawabnya acuh tak acuh.


Mata Fara mendelik menatap Jelita. "Wow!" ia menepuk-nepuk tangannya di depan dada. "Enak banget ya jadi Ratu. Udah lupa ya dulu kamu rebutan nasi di panti asuhan ? Untung Mama angkat kamu jadi anak."


Jelita mengalihkan pandangannya, saat dirasa air matanya akan menetes. Tidak! Tidak! Jelita tidak boleh memperlihatkan kelemahannya di depan Fara.


"Nih kamu lihat Mama, lulusan S2 manajemen bisnis. Itulah kenapa Papa mu kalo ada perjalanan bisnis selalu ngajak Mama karena Mama berguna. Papa Doddy selalu minta pendapat ke Mama mengenai semua hal termasuk bisnis. Jadi Mama ini ibarat sekretaris kedua Papa." sombongnya.


"Coba kamu jadi kayak Mama, bisa berguna buat suami kamu. Bukan cuma bisanya ngabisin duit. Ingat waktu kamu susah dulu." sambungnya Fara kembali menyuapkan bubur pada Gala.


"Eh astaga, maaf Mama gak bermaksud nyinggung kamu. Astaga! Mama lupa kalo kamu ini cuma lulusan SMP, mana bisa dibandingin sama Mama yang S2....."


Jelita menganggukkan kepalanya, terlalu malas meladeni Fara. "Ya gitu deh."


"Cari kesibukan sana, jangan cuma bisanya yang hasil kerja keras anak kandung saya. Jadi pelayan cafe kek, tukang cuci piring restoran atau apa gitu."


Fara menatap Jelita yang tak menjawab ucapannya, wanita itu kini sedang menikmati sarapan paginya dengan sesekali menatap Gala.


Tangan Fara terkepal, sungguh wanita tak sopan ini sangat tak pantas bersanding dengan anaknya.


"Nanti siang, ikut Mama pergi. Kalo gak salah teman Mama baru buka restoran. Nanti Mama bantu masukkan ke bagian dapur buat cuci piring. Maaf Mama gak bisa bantu banyak, kamu cuma lulusan SMP. Yang lulus karena aib!"


Jelita kembali mengangguk, terserah saja ia tak peduli. Toh juga nanti ia akan menghubungi Bara dan mengatakan ulah ibunya. Sudah pasti Bara akan memihak kepadanya.


"Kapan sih nih orang balik ke Singapura," batin Jelita menatap jengah ibu mertua sekali ibu angkatnya itu.


Tak memperdulikan celotehan wanita tua itu lagi, Jelita memakan makanannya dengan santai.


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2