HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 34 - TRAGEDI


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Setelah berganti pakaian dengan seragam Office Girl, Jelita menaruh pakaian ke loker lalu menguncinya.


Saat ini pergi ke. lantai dua untuk mengerjakan tugas yang di berikan Bara. Jelita mengintip ke ruangan para Office Boy-Girl yang tampak ramai. Karena penasaran Jelita masuk ke ruangan tanpa AC yang hanya memiliki 5 kursi kayu sederhana itu.


"Selamat pagi, maaf Jelita terlambat," ucapnya sembari mendudukkan kepalanya ke arah Dewi–bos Office Girl.


"Masuk Jelita, ada yang ingin ibu dan Pak Tomo sampaikan," jawab Dewi.


Seusai intruksi, Jelita masuk dan berdiri bersebelahan dengan salah seorang rekan kerjanya.


"Kak Ris, kok kak Winda gak kelihatan ?" tanya Jelita berbisik kepada Riska yang berada di sebelahnya.


Riska melirik sebentar ke Jelita, lalu kembali memandang Dewi. "Di pecat."


Jelita membulatkan matanya terkejut, bagaimana seseorang yang pekerja keras seperti Winda bisa dipecat ? sungguh aneh.


"Bagaima–"


"Jelita, kamu diman dulu ya. Pak Tomo ingin menyampaikan sesuatu pada kalian," ucap Dewi memotong pembicaraan Jelita.


Wanita itu menunduk malu, saat ketahuan mengobrol, lalu menganggukkan kepalanya mempersilahkan mereka berbicara.


"Baiklah, jadi seperti yang kalian semua tahu. Bahwa di ADN Corp memiliki 10 orang Office Boy dan juga 7 orang Office Girl. Tapi secara mendadak pemimpin perusahaan ini memecat 5 orang office girl dan 4 orang office girl secara mendadak tadi pagi," ucap Tomo–bos Office Boy. "Beliau mendadak ingin mengurangi pegawai bersih-bersih kantor karena dianggap kurang berguna di kantor. Jadi karena itu saya mengumpulkan kalian semua di sini, untuk meminta kalian bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya."


Tomo menatap mata ke-delapan anak buahnya yang tampak begitu lesu. "Saya tahu ini berat pagi bekerja seperti kita, tapi kita buktikan kalo kita mampu dan kita bisa. Kalo perlu kita tunjukkan pada pemimpin kantor jika kita sangat berguna di kantor ini. Kalian mengerti ?" tanya Tomo dengan senyum cerah.


"Apa gaji kita akan naik, pak ?" tanya seorang OB dengan badan kurus kering.


Bukan menjawab, mereka malah menanyakan masalah gaji yang membuat senyum Tomo luntur seketika. "Tidak, gaji kita tetap sama."


Wajah mereka semakin menggelap, Dewi yang mengetahui tak ada semangat di tubuh anaknya itu hanya bisa tersenyum maklum. "Ya sudah, itu saja yang ingin ibu sampaikan, kalian bisa lanjut kerja saja."


Dewi dan Tomo keluar berbarengan dari ruangan OB-OG yang sangat sederhana.


Seluruh OB-OG kini menggerutu kesal, tak terima dengan pemecatan yang besar-besaran yang dilakukan oleh CEO mereka.


"Kasian banget loh Winda, padahal suaminya udah meninggal, dia juga sudah jadi tulang punggung keluarga, eh di pecat. Dia kan lulusan SMP seperti kita, mau kerja dimana dia ?" tanya Riska pada rekan kerjanya.


Para Office Girl menggerombol di sudut ruangan, sedangkan Office Boy sudah bergerak untuk bekerja.


"Iya loh kasian banget dia..." jawan Wirda.


"Jangan lupa sama Nafisa, dia kan harus biayain ibunya yang sakit keras."

__ADS_1


Jelita masih diam di tempatnya, ia sengaja menguping pembicaraan mereka dengan raut wajah pias dan rasa bersalah yang amat dalam


Tanpa sadar tangannya terkepal dengan sorot mata tajam memandang dinding. Membayangkan jika itu adalah Bara. "Pasti pria itu yang memecat semua pegawai demi menyiksaku di kantor!" batinnya.


Tak ingin mendengar percakapan mereka, Jelita segera keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan hukuman dari Bara.


"Tuan Bara, aku tak akan menyerah secepat ini!"


...o0o...


"Hah....hah...hah..." dada Jelita bergerak naik turun setelah menaruh alat pembersih ke sudut ruangan dapur. Ia berdiri menuju kulkas dan mengambil minuman dingin lalu ia bawa ke salah satu kursi yang ada di sana. "Akhirnya selesai juga," gumamnya.


Tangan Jelita gemetar memutar penutup botol itu, ia sungguh sangat kelelahan karena baru saja menyelesaikan tugas pertama dari Bara.


Glek....glek...glek....


Jelita meminum air itu hingga tandas, ia berdiam beberapa saat, menyenderkan tubuhnya dipunggung kursi seraya memejamkan mata.


Setelah lebih baik, Jelita membuang minumannya kedalam tong sampah lalu berdiri untuk menyelesaikan tugas kedua Bara.


Baru dua langkah menaiki tangga darurat, kakinya sudah kram. Rasa sakit menjalar pada betis dan tumitnya. Jelita tak mampu untuk menaiki tangga. "Akibat kelelahan membersihkan satu lantai sendirian, aku jadi kesakitan begini," gumamnya.


Dengan terpaksa Jelita menuruni tangga lagi, ia melirik kekanan-kiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Jika sudah di rasa aman, Jelita berjalan menuju lift.


Di perusahaan ini, tak memperdulikan para pegawai kebersihan menaiki lift staff, kecuali memang ada hal penting dan mendesak. Biasanya para petugas kebersihan akan menaiki tangga darurat jika ingin naik ke lantai atas.


Jelita memencet tombol agar lift terbuka, saat pintu itu sudah terbuka dia dikejutkan dengan para staf yang ingin keluar dari lift.


"Nih, bocah mau ngapain naik lift ? Gak inget jabatan ?"


"Mentang-mentang pas lahiran di tolong sama bos Bara jadi seenaknya, dia pikir dia spesial ?"


"Ngelahirin anak haram jangan sok keras!"


"Kocak banget emang nih cewek, gak ada malunya. Udah ngelahirin di usia belia, gak ada suami pula! Miris!"


Jelita semakin menunduk takut, tak ada kekuatan darinya untuk membantah ucapan mereka. Karena itu semua benar.


"Padahal mukanya cantik, manis, polos gitu, eh ternyata aslinya. Bicil..."


"Hah apaan tuh Bicil ?"


"BI*N*AL CILIK!!!"


"HAHAHAHAHA...."


Tawa mereka begitu menggema, mereka menertawakan ketidakberdayaan Jelita, wanita malang itu benar-benar tak bisa berkutik.


Jelita menangis tanpa suara, jika begini terus mentalnya juga pasti akan ikutan terganggu


"Kalian ngapain ketawa ?"


Suara itu menghentikan tawa mereka yang menggema di seluruh penjuru lantai satu ini menjadi berhenti. Suasana hening di tambah aura yang mencekam membuat bulu kuduk mereka merinding.

__ADS_1


"Saya tanya, kenapa kalian tertawa ? Ada yang lucu ?" tanya Bara sekali lagi menatap kelima staff yang ia tahu dari divisi umum.


"Ini masih jam kerja dan kalian terlihat sangat santai seperti hingga bisa tertawa lebar begitu, apa sudah tidak ada pekerjaan di divisi umum?" Bara menatap tajam mereka berlima. "Jika tidak ada pekerjaan lagi di divisi umum hingga membuat kalian bersantai seperti ini lebih baik saya membubarkan divisi umum saja!" sambung Bara.


Mendengar itu, dengan kompak kelima staff itu mengangkat kepalanya dengan mata melotot-terkejut kearah Bara. Jika divisi umum di bubarkan, sama saja artinya mereka akan di pecat!


"Jangan, bos!" ucap mereka kompak.


Bara tak mengindahkan mereka berlima, kini matanya menatap Jelita yang tengah menundukkan kepalanya dengan wajah berderai air mata.


Pria itu menatapnya tak suka, karena tak ada yang boleh menyakitinya selain Bara!


"Kamu Office Girl!" Jelita mendongak menatap Bara. "Ya, tuan ?"


"Kamu saya suruh untuk fotokopi laporan, cepat naik lift dan selesaikan tugasmu. Sebentar lagi jam istirahat."


Jelita menganggukkan kepalanya, berjalan melewati tubuh kelima staf divisi umum itu yang mematung.


"Jadi kenapa kalian tertawa ? Tidak menjawab kalian saya pecat!" ancamnya saat Jelita sudah naik ke lantai atas dengan lift.


"Sa–saya ah, maksud saya, kami sedikit memberitahukan kepada Office Girl itu untuk tidak memakai lift. Kami hanya menginginkan dia tahu akan posisinya yang hanya OG agar tidak semena-mena di kantor!" ucap salah seorang dari mereka dengan menggebu-gebu. "OB hanya boleh menggunakan tanga darurat!"


Bara tersenyum miring, menatap remeh kelima. "Ah begitukah ?"


Mereka kompak menganggukkan kepalanya, saat melihat senyum pada wajah pria kejam itu. "Iya benar Bos! Untung ada kamu, jadi kami sedikit membully-nya agar tahu diri!"


Bara menganggukkan kepalanya merespon ucapan mereka. "Bagus kalau begitu, kalian bisa lanjut bekerja." Bara tersenyum dan di balas dengan senyuman yang sangat lebar dari wajah kelima staffnya itu.


Mereka berlima merasa lega, karena Bara yang sepertinya senang akan prilakunya yang tadi sempat membully Jelita.


Bara memasuki lift khusus CEO dengan senyum yang masih melekat pada wajahnya.


Ting...


Namun saat pintu lift tertutup, ia menghilangkan senyumannya dalam sekejap. Raut wajahnya kini berganti dingin. "Pecat mereka berlima, dan blacklist nama mereka dari perusahaan manapun, agar setelah di pecat dari sini, tak ada satupun perusahaan mereka yang mau memperkerjakan para pecundang itu!" titahnya pada Gio.


Gio menundukkan kepalanya hormat, "segera saya laksanakan tuan."


"Ini hukuman bagi mereka karena sudah merendahkan istriku!"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2