HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 43 - CLUB


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Setelah keributan semalam, Jelita masih terus diam merenungi setiap perkataan Bara yang sungguh amat mengganggu pikirannya.


Bahkan ia sampai tak fokus melakukan sesuatu pekerjaan, karena ucapan Bara masih setia terlintas di kepalanya.


Seperti saat ini, ia sedang menggendong Gala yang menyusu padanya. Ia tak sadar jika saat ini Gala sudah melepaskan putt*ng Jelita dari mulutnya dan tengah menangis histeris.


"Oek...oek...oek..."


"Oek...oek...oek..."


Jelita diam mematung, tanpa ada niat untuk menangkan sang anak karena memang ia tak sadar jika anaknya sedang menangis.


Hingga suara pekikan cukup keras terdengar dari belakang tubuhnya. "Ya Allah den Gala, kenapa Nya ?" Mira berlari memasuki kamar sembari berteriak.


Mendengar itu, tentu saja membuat Jelita keluar dari lamunannya. Ia langsung menatap bayi mungil itu dengan mata melebar.


"Astaga, kenapa den Gala nangis Nya ?" tanyanya lagi.


Jelita mengedipkan matanya beberapa kali guna menjernihkan isi pikirannya. "Ah, sstt tenanglah Gala...." ia menepuk-nepuk pelan pantt bayi itu dan bergerak ke kiri dan ke kanan.


Setelah itu, dengan perlahan Jelita mengarahkan putt*ng nya kembali pada mulut bayi itu. Dengan cepat Gala menyedot kuat ASI yang diberikan ibunya karena memang ia masih sangat lapar.


"Gak papa kok kak, tadi cuma Gala cariin ASI-nya. Putt*ng aku tadi lepas dari mulut dia," jelasnya setelah beberapa saat.


Mira menatap curiga pada majikannya. Bukan karena apa, tadi ia sangat tahu bagaimana hubungan Bara dan Jelita, waktu awal kerja saja secara terang-terangan Jelita menatap tak suka pada anaknya sendiri. Apalagi sudah beberapa hari ini tuannya tak pulang setelah cek-cok dengan Jelita.


Jadi, bukankah wajar jika Mira mencurigai Jelita melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada anaknya ?


"Begitukah ?" tanyanya ragu, "sini Nya, biar saya saja yang gendong."


Mendengar nada suara Mira yang terkesan tak percaya itu Jelita hanya bisa menghela nafas. "Aku gak mungkin sakitin Gala kak, yang aku benci cuma bapaknya aja!" jawab Jelita mengerti isi pikiran Mira.


Mira tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia mengucapkan permintaan maaf beberapa kali dari dalam hati.


"Ya sudah sana, siapkan air untuk Gala mandi!"


Dengan segera, Mira meleset menuju kamar mandi melaksanakan perintah Nyonya-nya. Sungguh malu ia ketahuan berfikir yang tidak-tidak pada majikannya sendiri.


Sementara di sana, Jelita diam sembari mengamati anaknya. "Sebegitu jahat kah mama dulu sayang, sampai-sampai dituduh mau mencelakai kamu karena membuat kamu menangis ?" gumamnya getir.


Sejujurnya ia sama sekali tak membenci Gala, ia hanya benci bagaimana cara bayi mungil itu lahir di dunia ini.


Andai saja, dulu Bara tak memperk0s4nya dan menikahi dia dulu. Sudah pasti Jelita akan menjadi istri penurut dan ibu yang baik untuk Bara dan Gala, meskipun ia sama sekali tak mencintai pria itu.


Tapi jika sudah begini, meskipun Bara sudah mendapatkan raga Jelita sebagai miliknya, tentu saja pria itu masih tak bisa mendapatkan hati Jelita. Bukan semakin sayang, malah Bara membuat Jelita semakin membencinya.


"Nyonya, air-nya sudah siap. Sini biar saya mandikan." Mira berdiri di samping Jelita dengan kedua tangan yang mengarah keatas.


Jelita membuka pengait selendangnya di bahu, lalu menyerahkan Gala yang sudah kenyang kepada Mira.


Mira menerima Gala, dan segera membawanya masuk ke kamar mandi. Berbeda dengan Jelita yang menunggu di luar, karena jujur ia masih terlalu kaku untuk memandikan bayi.


Karena bosan, Jelita meraih remot TV yang di atas meja dan mulai menyalakan TV.


Ia menatap penuh jenuh pada layar TV yang menampilkan gosip dari seorang Ayah kandung dan ibu tiri dari artis terkenal yang beberapa hari lalu mengalami kecelakaan hingga tewas yang sedang di wawancarai perihal warisan dan ahli waris dari cucunya yang ingin ia rebut.


"Ampun, emang dasar lelaki bandot gak mau kerja! Kalo butuh duit kerja, kenapa malah mau ngambil warisan cucunya sendiri ?!?!" kesalnya.


"Itu lagi si ibu tiri dari mukanya aja ketahuan kalo jahat banget. Jangan sampai deh pengadilan mutusin kalo dia yang dapet hak ahli waris! Mending mantan besannya aja yang dapet!" sambungnya.


Hingga berita gosip itu berakhir, bergantian dengan gosip dari pengusaha muda kaya raya yang sangat ia kenali.


"Baru-baru ini atau lebih tepatnya hari Sabtu malam kemarin, sosok pengusaha muda Bara Adinata terlihat tengah keluar dari club malam dengan keadaan mabuk berat..." pembawa berita itu menampilkan foto Bara dengan muka babak belur keluar dari club malam bersama dengan seorang wanita yang juga Jelita tahu.


Jelita membulatkan matanya terkejut, "Sabtu malam ? itu kan malam dimana aku dan Bara berantem, terus Bara yang keluar dari rumah," gumamnya setelah mengingat.


Memang sejak kemarin hingga tiga hari ini Bara belum menampakkan batang hidungnya pada Jelita dan juga Gala gara-gara masalah kemarin.

__ADS_1


"Bara ke club sama si Raisa-raisa itu ?" tanyanya menatap layar TV dimana Bara yang sedang dipapah oleh Raisa.


Jelita menekan tombol volume untuk menaikkan suara TV agar terdengar jelas pada telinganya.


"Saat ingin di wawancarai mengenai mengapa wajahnya bisa babak belur, Bara dan juga Raisa langsung kabur dan menaiki mobil mereka. Tampaknya sepasang kekasih itu masih belum ingin memberikan komentarnya mengenai permasalahan ini. Bagi para netizen yang penasaran dengan bagaโ€“"


Dengan cepat Jelita mematikan layar televisi itu, entah mengapa saat pembawa berita itu mengatakan Bara dan Raisa adalah sepasang kekasih membuat relung hatinya sedikit tak nyaman.


"Sepasang kekasih ya ? Enak sekali Bara mendapatkan kekasih. Sedangkan aku di sini sudah hanya dianggap sebagai alat pemu4s n4psunya saja. Mungkin saat ia bosan padaku, ia akan membuatku," ucapnya miris pada dirinya sendiri.


Ia meraih ponsel pada saku celana jeans sepaha miliknya lalu mengetikkan sesuatu di sana.


Bara Pria Brengsek


Pulanglah, Gala terus menangis


mencarimu. Sepertinya dia merindukan mu


Terkirim.


...o0o...


Dengan sangat perlahan, Raisa mengobati luka lebam pada seluruh wajah tampan pria itu. Ia meringis saat Bara merintih kesakitan karena Raisa yang terlalu kuat menekan lukanya dengan kapas.


"Perlahan, Raisa!" desisnya tajam.


Raisa memuat bola matanya malas, "kenapa kamu bisa berantem dengan bocah itu ?" tanyanya geram.


Flashback On...


Ini semua terjadi saat Bara meninggalkannya sendiri di pesta. Dengan santainya Bara pulang bersama gadis muda yang menggendong Gala, dari pendengaran Raisa, gadis muda itu bernama Jelita.


Bara pulang bersama dengan Jelita sedangkan dirinya di tinggal sendirian di pesta. Sungguh sangat menyebalkan!


Karena rasa penasaran Raisa yang cukup tinggi, wanita itu mengikuti mobil Bara dari belakang. Sungguh ia penasaran bagaimana bisa Bara mengijinkan Jelita untuk menyentuh Gala yang notabenenya Jelita adalah orang asing.


Sedangkan dirinya, yang diutus oleh ibu kandung Bara agar menemani pria itu ke pesta sama sekali tak di ijinkan menyentuh Gala. Jangankan menyentuh, Raisa melihat Gala saja langsung dijauhkan tubuh bayi itu dari pandangan Raisa.


Hingga kini taksi yang ditumpangi Raisa berhenti tepat di sebuah rumah berlantai yang sangat mewah dan juga megah. Di depan gerbang rumah itu di jaga oleh 2 security.


Saat melihat Bara dan Jelita masuk ke rumah itu dari kejauhan, Raisa keluar untuk menanyakan pada satpam atas rasa penasarannya.


Security itu memandang Raisa dari atas sampai bawah berulangkali sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.


"Ini rumah dari keluarga Adinata!"


Mata Raisa membulat kaget, jika ini memang rumah Bara lalu kenapa ia membawa Jelita masuk ke rumahnya. Apa Jelita dan Bara saling kenal sebelumnya ?


"Tapi bagaโ€“"


"Maaf sebelumnya nona," satpam itu memotong ucapan Raisa. "Ini bukan jam untuk bertamu, sekarang sudah hampir tengah malam. Jadi saya mohon nona segera keluar sebelum saya usir!" tekan security itu.


Raisa membulatkan matanya terkejut, ia menatap angkuh security itu, "mengusir Raisa ? tak tahukah siapa seorang Raisa Andriana Harianto itu ? Berani sekali kasta rendahan seperti security ini mau mengusir dirinya ?" batinnya tersenyum remeh.


Brakk....


Baru saja akan menyombongkan diri pada satpam itu, seseorang tengah membanting pintu rumah dengan keras. Itu Bara yang sepertinya tengah emosi berjalan menuju mobilnya dengan tergesa-gesa.


Raisa langsung lari dan memasuki kembali taksinya, takut-takut jika Bara mengetahui jika sedari tadi ia mengikuti Bara.


"Pak, ayo ikutin lagi mobil itu!" seru Raisa saat melihat mobil Bara keluar dari pekarangan rumah.


Supir taksi langsung menghidupkan mobilnya dan segera mengikuti mobil Bara yang berjalan ugal-ugalan dan begitu kencang hingga berhenti pada sebuah klub.


Bara berjalan memasuki club dengan terburu-buru, sementara Raisa kini sudah menyerahkan beberapa lembar uang pada supir dan mengikuti Bara yang sudah lebih dulu memasuki club.


Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Bara. Berkali-kali ia menepis tangan-tangan nakal yang dengan sengaja menggerayangi tubuhnya.


Hingga ia menampilkan senyum kecil saat melihat Bara di temani dengan beberapa botol b1r tengah duduk di meja bartender.


"Bara, kenapa kamu ninggalin aku sih ?" Raisa tiba-tiba memeluk tubuh Bara dari belakang.


Bara tentu saja terkejut, ia menolehkan pandangannya ke belakang untuk melihat siapa yang memeluknya dari belakang.


"Ck!" ia mendecak malas, "kenapa mengikuti ku ?" tanyanya kesal. "Aku kira Jelita yang memelukku," sambungnya dengan sedikit rancau. Seperti Bara kini sudah terpengaruh dengan alkohol.


Kini giliran Raisa yang mendecak mendengar ucapan Bara. Ia menarik satu kursi ke arah Bara lalu mendudukkan dirinya berhadapan dengan pria yang kini tengah menenggak habis satu botol B1r.

__ADS_1


"Jelita lagi, Jelita lagi! Dia itu siapa sih sebenarnya ? Mukanya aja udah kayak bocah. Gak pantes sama kamu yang kayak om-om gini. Mending sama aku aja, Bar! Udah pasti di restuin sama mama Fara!"


Bara tak mengindahkan ucapan Raisa yang seperti tengah berbisik itu. Bukan karena wanita itu memelankan suaranya, tapi suara musik DJ yang begitu keras hingga ia tak bisa mendengar ucapan Raisa. Ia terus asik meminum air sugarnya entah untuk yang keberapa botol.


Sedangkan Raisa ? Ia masih terus berbicara meskipun tak ditanggapi oleh Bara. Ia mengatakan jika dirinya lebih unggul dari Jelita dari segi manapun.


"Eh, ada calon kakak ipar ?" tanya seseorang di balik badan Bara dan juga Raisa.


Kedua orang dewasa itu membalikkan badan menatap Hades yang tengah tersenyum miring pada Bara.


"Eh, ada pacarannya kak Bara juga ?" tanyanya lagi dengan maksud terselubung.


Raisa tahu pria itu, pria yang menjadi pasangan Jelita pada pesta tadi.


"Bocah brengsek sialan! Sudah puas merusak hubungan orang ?" tanya Bara dengan suara meninggi.


Ia berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Hades hingga jarak tubuh mereka tinggal beberapa centi saja. Mata mereka beradu saling menatap penuh kebencian yang begitu dalam.


"Belum puas, mau lebih merusak. Ya, setidaknya sampai Jelita mengandung anakku dan kamu menceraikannya." Hades tersenyum menyeringai saat mengetahui tubuh Bara kini menegang. "Kalau lo bisa ngehamilin dia, gue juga bisa!" sambungnya.


"BOCAH BRENGSEK SIALAN!!!" teriak Bara kencang.


Bugh...


Bugh....


Bugh....


Mereka saling beradu jotos, tidak ada tanda-tanda salah satu pihak ada yang mengalah. Hingga datang seorang satpam yang menyeret mereka berdua keluar dari Club.


Raisa dengan hati-hati membawa Bara menuju mobilnya setelah melewati beberapa wartawan yang memberondong mereka dengan banyak pertanyaan.


"Ini mau pulang ?" tanya Raisa yang duduk di kursi kemudi.


Bara menggeleng, "ke apartemen gue, di daerah setia Budi!"


Flashback Off...


"Kalau lo emang gak mau bantu, mending lo pergi aja! Lagian siapa juga yang nyuruh lo ke Apartemen gue setiap hari ?"


Raisa mendengus kesal, sejak malam dimana Bara bertengkar dengan pria kemarin malam. Sudah terhitung tiga hari Raisa selalu mendatangi apartemen Bara untuk mengoles salep dan juga membawakan makanan pada pria itu.


Namun tetap saja, segala usahanya tak dianggap oleh Bara. Pria itu sama sekali tak menganggapnya ada, bahkan hanya bicara seperlunya pada dirinya.


"Aku inisiatif lah, gak tega aku ninggalin kamu sendirian di apartemen!"


Ting...


Seperti biasa, Bara tak akan lagi menjawab Raisa, pria itu sama sekali tak menganggap Raisa ada. Selama tak menganggu ia mengizinkan Raisa berada di apartemen.


Bara berjalan menuju sofa dimana ponselnya berada, tadi ia mendengar ponselnya itu berbunyi.


Mama Jelita Adhisti


Pulanglah, Gala terus menangis


mencarimu. Sepertinya dia merindukan mu


Bara tertawa terbahak membaca pesan itu. Moodnya yang hancur berantakan selama tiga hari ini, langsung membaik setelah membaca pesan dari istrinya.


^^^Iya, Papa pulang sekarang ^^^


^^^Pasti bukan cuma Gala yang kangen ^^^


^^^Mamanya juga pasti kangen.. ^^^


Setelah mengirimkan balasan untuk Jelita, Bara memasuki kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga.


"Aku harus segera mandi dan pulang kerumah. Semoga saja, ini menjadi yang terbaik untuk hubunganku dan Jelita. Semoga Jelita sudah mau menerimaku sebagai suaminya." ucapnya sebelum memasuki kamar mandi.


...o0o ...


MAAFKEUN YA SEMUA


RATU LAGI PINDAHAN ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜ญ


TAPI BAKAL DI SEMPETIN UP KOK โค๏ธ

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE + KOMEN + GIFT + VOTENYA YA...


BIAR RATU MAKIN RAJIN UP ๐Ÿ˜˜


__ADS_2