HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 47 - JELITA x RAISA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Ahhhh.....kak Bara...." lenguh Jelita saat dirinya sudah sampai pada puncak kenikmatan yang diberikan pada suaminya.


"Selalu sempit....ahhh...." Bara menyemprotkan miliknya dalam inti Jelita hingga rasanya rahim Jelita penuh oleh benih-benih milik Bara.


Setelah selesai, Jelita segera memakai pakaiannya kembali yang berserakan di ruang kerja Bara.


Bara tersenyum melihat tubuh polos istrinya yang sedang kelelahan itu kini malah mencari-cari dalaman miliknya.


"Kakak lempar kemana ih, cel**n4 dalam aku," ucapnya gusar.


"Di atas laptop," Bara tertawa melihat Jelita berlari ke arah meja kerjanya dan memakai dalaman itu cepat-cepat. "Santai saja sayang, di sini hanya ada kita berdua..."


Jelita mendengus, setelah memakai semua pakaiannya. Jelita mengumpulkan pakaian Bara lalu memberikannya ke suaminya itu yang kini sedang duduk di atas sofa dengan dada yang bergerak naik-turun karena kelelahan setelah menggembornya 2 ronde.


Tangannya terulur menyerahkan pakaian itu pada Bara. "Ayo pakai kak, bentar lagi jam pulang." Sungguh Jelita sang takut jika nanti Gio tiba-tiba masuk lalu mengatakan jam pulang telah tiba. Seperti waktu lalu, Gio mempergoki dia dan Bara tengah bertukar saliva.


Mengingat itu muka Jelita memerah, karena rasa malu.


"Pakaian sayang, aku masih cape banget," pintanya dengan suara yang dibuat-buat.


"Ah, gak mau ah," tolaknya mentah-mentah. "Buruan pakai kak, emang gak malu nanti dilihat Gio, kakak gak pakai baju gini ?" Jelita menakuti-nakuti.


Dengan polosnya, Bara menggeleng. "Enggak, ngapain malu ? Ya paling kamu yang malu. Kan udah pasti aku gini karena habis ++ sama kamu," goda Bara.


Muka Jelita semakin memerah, tak banyak bicara, wanita anak satu itu segera memakaikan seluruh pakaian suaminya satu persatu.


Bara tertawa kecil melihat wajah Jelita yang memerah, tangannya mengusap pipi tembem istrinya yang sedang mengancingkan setiap kancing kemejanya. "Kalau nurut gini, aku makin sayang. Istri yang nurut sama suami itu jaminannya surga."


Entah mengapa sosok Bara setelah mereka berdamai beberapa minggu yang lalu itu juga ikut berubah. Bara yang sekarang lebih agamis.


"Dosa, Ta. Kalo nolak perintah suami, apalagi kali urusan ranjang."


"Sudah selesai," ucap Jelita memotong pembicaraan Bara, ia sangat tahu mau dibawa kemana. Pasti ngen–


Tok...tok...tok....


"Masuk," ucap Bara dingin dengan tatapan mata mengarah pada istrinya yang berani memotong pembicaraannya.

__ADS_1


"Tuan, sudah jam pulang." Gio berdiri di depan pintu sembari menundukkan kepalanya, takut-takut sepasang suami-istri itu akan melakukan hal aneh seperti kemarin.


Tak menjawab, Bara berdiri dari duduknya lalu berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil laptop dan juga ponsel miliknya.


"Ayo sayang," ajaknya pada Jelita.


Jelita mengangguk lalu berjalan berdampingan dengan suaminya keluar dari ruang kerja itu sembari bercanda gurau.


Mereka masuk ke lift khusus CEO dengan tawa Jelita yang menggema akibat candaannya sendiri, sedangkan Bara hanya tersenyum kecil dan sesekali mengecup bib1r Jelita.


Hingga lift itu terbuka saat sudah berada di lantai 1, mereka bertiga keluar dengan langkah angkuh seperti biasa, serta mengabaikan tatapan para karyawan yang menjuru pada mereka bertiga.


Seperti biasa para wanita berkumpul dan mulai membicarakan yang tidak-tidak tentang Jelita.


Entah kebetulan atau tidak, tapi Jelita dengan jelas mendengar ucapan mereka yang mengatainya lonT. Dengan sengaja Jelita memegang lengan kanan Bara, lalu melirik wanita itu sembari menjulurkan lidahnya mengejek.


"Wleeee!!"


...o0o...


"Menurut papa gimana ? cocokkan Bara sama Raisa ?" tanya Fara lalu memasukkan sendok berisi makanan dalam mulutnya.


Tangan Jelita yang sedang mengiris daging di piringnya terhenti, ia menatap Fara dengan raut wajah terkejut, lalu beralih pada Raisa yang duduk berhadapan dengan Bara kini tersenyum malu-malu.


"Ya, kalo Papa sih terserah Mama saja." Doddy menatap istrinya dengan senyum kecil sembari mengunyah makanannya.


Sepulang kerja tadi Jelita di kejutkan dengan Raisa yang sedang menggendong anaknya sembari memberikan dot susu bersama Fara.


Kini malah ia mendengar ibu angkatnya itu akan menjodohkan Bara dengan Raisa ?? What??? Hello?!? Bara sudah punya istri dan anak loh.


"Kamu gimana Bar ? Setuju kan sayang ?" tanya Fara menatap anaknya yang hanya diam, menikmati makanannya.


"Ah, Tante. Bara jangan dipaksa. Lagian aku sama Bara juga baru bertemu dua kali." Raisa menjawab ucapan Fara, karena Bara sama sekali tak mengindahkan ucapan wanita tua itu.


Jelita memutar bola matanya malas, menatap Raisa dengan tatapan mengejek. "Gak tahu diri banget sih, udah tahu udah punya anak masih ngebet aja!" batinnya kesal.


"Papa selesai, ke kamar dulu ya Ma.." pamit Doddy lalu segera meninggalkan ruang makan setelah meminum habis air putihnya.


"Bara, gimana nak ? Kasian loh anak kamu, masa gak punya ibu ? Di umur Gala yang ke–"


Bara menjatuhkan sendoknya hingga membuat suara yang cukup keras di ruang makan itu, ia menatap penuh benci kepada sang ibu.


"Gak punya ibu ? Mama udah buta kah ?" tanya Bara sinis. "Terus yang disamping aku siapa ? Dia ibunya Gala!" sambungnya kesal.


Jelita mengigit pipi dalamnya agar tak tersenyum, lalu kembali memakan makanannya yang terasa sangat nikmat setelah Bara mengatakan jika Jelita adalah ibunya Gala.


Ia menikmati wajah geram Fara dan wajah terkejut Raisa yang tengah menatapnya.

__ADS_1


"Gala punya ibu dan dia sama sekali tidak membutuhkan ibu baru!" ucap Bara final, dengan perasaan kesal ia berdiri dan berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Wajah Raisa masih tetap terkejut, ia menolehkan wajahnya ke Fara. "Be–beneran Tante, kalo a–adik angkatnya Bara ini ibu kandungnya Gala ?" tanyanya terbata-bata.


Tak menjawab pertanyaan Raisa, wanita paruh baya itu membanting sendoknya lalu segera pergi dari ruang makan meninggalkan Raisa yang masih syok dengan fakta yang baru terungkap.


Kini di meja itu hanya tinggal Raisa dan juga Jelita yang asik memakan makanannya, bahkan ibu anak satu itu menambahkan nasi dan beberapa lauk untuk mengisi piringnya yang mulai kosong.


"Hei, anak pungut!" panggil Raisa pada Jelita dengan dagu terangkat. "Beneran lo ibunya Gala ?"


Jelita tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya, ia meminum minumannya hingga tandas. "Iya bener, anak iblis," jawabnya dengan senyum.


Mata Raisa melotot mendengar jawaban Jelita, "apa tadi lo bilang ? anak iblis ? lo tuh anak pungut berhati iblis!"


"Gak usah sok ya lo lonT! Pasti Bara lo goda supaya mau tidur sama lo, dasar gak ada harga diri!


Jelita tertawa kecil, "maaf kak, bukan aku yang goda Bara. Dia sendiri yang mau sama aku. Beda sama kamu yang harus mengemis-ngemis dulu ke mama Fara bisa dekat sama Bara." jawabnya.


Jelita berdiri dari duduknya, "udah tahu kan kalo aku ini istri sekaligus ibunya Gala ? Jadi aku harap kedepannya gak usah ganggu-ganggu suami orang. Malu kak, kesannya kak Raisa ini kayak gak laku banget." setelah mengatakan itu Jelita menaiki tangga untuk menyusul suaminya yang kini pasti bermain dengan anak mereka.


Sedangkan di ruang makan, Raisa mengepalkan tangannya kuat-kuat menatap kepergian Jelita dengan penuh kebencian.


...o0o...



MAMPIR YA KE KARYA KETIGA AKU ❤️❤️


MASUKIN KE DAFTAR FAVORIT YA ❤️😘


KISAH INI MENCERITAKAN SEORANG NIA YANG MERUPAKAN ANAK TUNGGAL KAYA RAYA YANG HARUS MENJADI SEORANG IBU TIRI.


INI CERITA TRANSMIGRASI/ISEKAI ❤️❤️❤️


SEMOGA SUKA


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2