HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 14 - BERTEMU BARA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Bara terus saja menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Sudah jam setengah tiga, sebentar lagi Jelita akan pulang


Tapi keempat orang tua dan satu wanita muda yang terlihat sangat dewasa ini tampak asyik mengobrol tak kenal waktu.


Sudah sejak jam makan siang, sampai saat ini mereka terus saja mengobrol. Jika dihitung mungkin mulut kelima orang itu tak berhenti berbicara sejak tiga jam yang lalu.


"Jadi gini, Bara." Mendengar namanya di sebut, mata Bara yang semula menatap jam tangan kini menatap Ayahnya–Doddy yang kini menatapnya.


"Tujuan Papa, Mama, Om Puji sama tante Rosa mengajak kamu sama Sinta kesini itu karena rencananya kami yang akan menjodohkan kalian berdua," ucap Doddy gamblang.


Sinta–anak dari Puji dan Rosa yang akan menjadi calon dari Bara tersenyum malu. Sebenarnya ia sudah tahu, tapi bukankah lebih bagus jika ia berpura-pura tidak tahu.


Berbeda dengan Bara yang melotot kaget mendengar ucapan tak masuk akal Ayahnya.


"Papa ?!?!" sengitnya tak terima.


"Ya Bara, yang dikatakan Papa mu itu benar. Ini adalah pernikahan bisnis. Meskipun begitu om harap kamu dapat mencintai Sinta sepenuh hati," tutur Puji.


"Kamu mau kan sayang ?" tanya Fara menatap Sinta dengan senyum lembut.


Dengan wajah memerah bak kepiting rebus, Sinta menganggukkan kepalanya singkat. "Jika memang ini baik untuk perusahaan Ayah, Sinta gak bakal nolak kok. Apapun untuk Ayah," jawabnya dengan suara lembut.


Bohong! Bukan untuk Ayah, melainkan Sinta yang sudah menyukai wajah tampan Bara hanya dalam sekali pertemuan.


Mendengar jawaban Sinta, membuat Doddy dan Fara tersenyum lebar. "Memang pintar kamu mendidik anak, Ros," puji Fara.


Rosa tertawa ringan, lalu melingkarkan tangannya pada lengan suaminya. "Begitupula Sinta, selalu saja mementingkan kebahagiaan orang lain daripada kepemimpinan sendiri."


"Kalo kamu gimana Bar, kamu setuju kan ? Minimal kalian tunangan dulu, jadi bisa saling kenal," usul Puji.


Tangan Bara terkepal kuat, ia melayangkan tatapan nyalangnya pada Doddy yang kini tersenyum miring ke arahnya dengan kedua tangan pria itu yang mengetikan sesuatu pada ponselnya.


"Gimana, Bar ?" desak Rosa, ia sebal karena Bara tak kunjung menyetujui pertunangan ini. Memang apa yang kurang dari anaknya.


Bara menghela nafas panjang untuk menetralkan emosinya, lalu menatap Puji dan Rosa bergantian. "Bara ga–"


Ting...


Mendengar ada notifikasi masuk, Bara mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka benda pipih itu.


Papa


Kalo sampai kamu nolak,


Papa jamin saat kamu sampai


di rumah, Jelita sudah Papa pastikan


tidak ada di dalam rumah.


Papa asingkan Jelita keluar negeri


Dan Papa jamin, kalau tadi pagi


adalah hari terakhir kamu bertemu

__ADS_1


dengan Jelita.


Membaca pesan WhatsApp dari Ayahnya membuat darah Bara berdesir, Ia marah tentu saja. Ia mencekram kuat benda pipih itu, tak lupa menatap Ayahnya dengan tajam.


"Jadi gi–"


"Tunangan dulu, kalo Bara gak cocok, Bara gak bakal melanjutkan acara konyol ini. Bara akan batalkan," jawab Bara cepat, memotong ucapan Rosa.


Wajah muram Puji, Rosa dan Sinta tergantikan dengan senyum lebar. Mereka sangat puas dengan jawaban yang di berikan Bara.


Sedangkan orang tua Bara hanya saling tatap dan tersenyum manis. Tangan mereka saling bertaut.


"Semoga Bara bisa melupakan Jelita ya, Pa," bisik Fara.


Doddy menganggukkan kepalanya singkat, dan mengeratkan tautan tangan mereka. "Semoga saja Ma."


"Maafkan Papa ya Bar, ini demi kamu..."


...o0o...


Jelita menundukkan kepalanya malu dan semakin mempererat pelukan pada pinggang Hades saat semua mahasiswa/i menatap motor Hades yang berlalu meninggalkan halaman universitas dengan intens.


Saat ini jam kelas pagi berakhir dan kelas berikutnya akan dimulai, jadi banyak mahasiswa/i yang datang dan keluar dari universitas dan menggerombol di pekarangan universitas.


Pria itu terus mendesak Jelita agar ikut pulang bersamanya, karena rengekan Hades membuat semua semua mata semakin berspekulasi yang iya-iya, mau tak mau Jelita mengiyakan ajakan Hades agar pria itu berhenti merengek.


Meskipun jauh dari dalam lubuk hatinya ia juga senang karena bisa bersama dengan Hades, laki-laki yang sukses membuat jantungnya berdebar kencang. Tapi di satu sisi Jelita ingat ada monster yang kapan saja bisa menerkamnya.


"Mau jalan-jalan dulu gak ?" tanya Hades, ia sengaja memelankan laju motornya agar suaranya dapat terdengar jelas oleh Jelita.


"Mau! Jelita mau banget!" batinnya bersorak riang. "Aku mau langsung pulang aja deh, takut dicariin kakak," jawabnya dengan senyum kecil, apa yang dikatakan jauh berbeda dengan apa yang dia inginkan.


"Dicariin kenapa ? Aku ke cafe dulu bentar, aku yang terakhir. Aku janji sebelum magrib kamu sudah ada di rumah." Hades mendesak Jelita, sepertinya pria itu benar-benar tertarik dengannya.


"Kayaknya ga–"


Tin....tin...tin...


Dari belakang motor Hades, ada sebuah mobil sport mahal yang ingin mengehentikan motor Hades.


Namun Hades masih tak mengerti dengan kode yang diberikan penyetir mobil itu. Ia melakukan motornya di tepi jalan, karena ia pikir bel mobil itu dibunyikan karena motor Hades menghalangi jalan mobil mewah itu.


Tin...tin...tin....


Tapi saat motor Hades sudah melaju di pinggir, mobil itu kembali berbunyi membuat Hades geram.


"Sialan! Kenapa sih tuh mobil ?" gumamnya yang masih di dengar oleh Jelita.


Karena penasaran ia membalikkan tubuhnya melihat siapa yang menganggu Hades, dan betapa terkejutnya ia melihat mobil dan plat nomor dari mobil itu sangat ia hafal.


B 4I24 ADN


Bara Adinata.


Brakk...


Krekkk...


Kini mobil sport milik Bara telah berhenti tepat di depan motor Hades. Bara dengan sengaja menghadap jalan mereka.


Sedangkan Hades yang melihat ada mobil yang berhenti tepat di depannya, mau tak mau menghentikan motornya karena memang sudah tidak ada jalan lain.


"SIALAN?!! SIAPA SIH ANJ!" umpatnya kesal.


Jelita turun dari motor seraya menundukkan kepalanya, bersamaan dengan Bara yang turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras.

__ADS_1


"JELITA!!!" teriaknya kencang.


Tubuh wanita itu menegang saat namanya diteriaki oleh Bara. "PEREMPUAN MURAHAN, KAKAK SUDAH BILANG JANGAN DEKAT SAMA LAKI-LAKI LAIN SELAIN KAKAK!" teriaknya nyalang di depan wajah Jelita.


Plakk...


Tamparan yang cukup keras bagi anak remaja di layangkan oleh Bara kepadanya adiknya. "Perempuan gak tahu diri!" ucapnya.


Melihat itu tentu saja membuat tubuh Hades mematung beberapa saat, namun saat suara tamparan itu terdengar sangat menyakitkan. Hades segera turun dari motor dan melepas Helmnya lalu berjalan ke arah Bara dengan tangan yang terkepal.


Bugh....


Bogeman mentah Hades berikan pada pria yang berani menampar Jelita-nya. "SIAPA LO ANJ! BERANINYA SAMA CEWEK! LAWAN GUE KALO BERANI!" teriaknya.


Bara mengusap darah yang mengalir pada sudut bibirnya dengan ibu jarinya. Ia menatap remeh Hades yang tingginya hanya sebatas kupingnya.


"Gak usah ikut campur, ini urusan gue sama dia!" tunjuknya pada Jelita yang sedari tadi hanya menunduk takut.


"Dia teman gue, gue temannya. Lagipula gue yang nganter dia pulang, jadi sudah jadi tanggung jawab gue buat ngelindungin dia sampai kita tiba di rumahnya!"


Bara tersenyum miring, ia mendekatkan dirinya pada Hades lalu mencekram kera pakaian Hades. "Dia adik gue sialan, lo yang gak perlu ikut campur!"


Bugh...


Bara melayangkan tangannya pada pelipis Hades, dan tentu saja dibalas oleh pria itu. Mereka terlibat perkelahian yang sengit.


Jelita yang melihat itu menjadi takut, tak ada keberanian untuknya memisahkan kedua pria itu.


Tubuhnya gemetar saat melihat wajah babak belur Hades. Tentu saja Hades kalah jika di bandingkan dengan Bara. Hades berusia 23 tahun dengan Bara, pria dewasa 33 tahun. Tentu tenaga mereka jauh berbeda.


"Kak Hades....hiks...hiks..."


"Kak Bara stop...hiks...kasian kak Hades..." pinta Jelita dengan isak tangisnya.


Namun bukan berhenti, Bara malah semakin terpancing emosinya karena tak terima jika Jelita menangisi remaja ini.


"BARA BERHENTI!!!!" teriak seorang wanita yang keluar dari mobil Bara.


Wanita anggun dan cantik dengan dress yang hanya sampai lutut berwarna kuning cerah, dipadukan dengan higheels berwarna putih.


Seperti model...


Apalagi wajahnya yang tirus dengan tubuh ramping itu. Benar-benar sangat cantik.


Bak pahlawan, wanita itu langsung menarik tangan kerah belakang kemeja Bara hingga tubuh pria itu terseret ke belakang dan otomatis Bara menghentikan pukulannya.


"Kenapa malah berantem sih ? Kita kan mau lihat baju tunangan kita ! Ayo, jangan buang-buang waktu!" rengek wanita itu.


Tu–tunangan ????


Mata Jelita membulat kaget, tubuhnya mematung beberapa detik.


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2