HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 42 - MARAH ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Jelita keluar perlahan dari mobil sembari memeluk tubuh anaknya yang sudah tertidur pulas.


Ia menatap wajah anaknya dengan senyum getir, pasti bayi ini merasakan kelelahan karena sampai pukul sebelas malam tidak bisa membaringkan tubuhnya di kasur empuknya.


"Sudah sampai rumah, bentar lagi bersihin badan terus bobok lagi," ucapnya saat melihat Gala mengerjapkan matanya karena mendengar suara mobil Bara yang berjalan menuju garasi.


"Aku tunggu di kamar!" titah Bara tak terbantahkan.


Pria itu dengan langkah tegasnya berjalan mendahului Jelita yang masih diam di tempatnya.


Brak...


Dengan sekali tendangan, pintu rumah yang tadinya terkunci langsung terbuka oleh pria yang Jelita yakini tengah merasakan emosi yang amat sangat.


Diam-diam Jelita tersenyum miring, menantikan hukuman apa yang akan diberikan Bara padanya. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah besar keluarga Adinata.


"Dia yang salah, dia yang merasa tersakiti. Aneh, dasar pria manipulatif, tukang playing victim!" gerutu Jelita.


Wanita itu menaiki tangga dengan perlahan. Jujur saja, sekarang betis dan paha Jelita mulai terasa kram karena hampir 4 jam berdiri dengan menggunakan high heels tinggi. Ya, meskipun beberapa kali duduk, tapi tetap saja lebih banyak ia berdiri dari duduk!


"Eh, Nyonya. Sudah pulang," sapa Mira saat Jelita membuka pintu kamar anaknya.


Jelita menganggukkan kepalanya singkat, menyerahkan Gala pada Mira dan tentu saja di terima dengan hati-hati oleh pengasuh Gala itu.


"Tolong di bersihkan badannya pakai lap sama air hangat kasih bedak biar harum. Kasian dia kalo tidur tapi badannya lengket." Jelita mengelus pipi Gala. "ASI nya masih ada kan stoknya ?"


Mira menganggukkan kepalanya cepat, stok ASI Gala masih banyak dalam lemari pendingin yang setiap hari Jelita isi setelah memerah pay**daranya.


"Masih banyak banget, Nya."


"Ya sudah kak, nanti habis dibersihkan tolong di kasih susu ya. Kasian tadi minumnya sedikit, pasti dia masih laper," ucap Jelita yang diangguki oleh Mira.


Jelita keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya. Ia beralih pada pintu kamarnya dan juga Bara, berdiam di depan pintu untuk mengumpulkan segala keberanian.


Berulangkali menghela nafas, akhirnya Jelita mengetuk pintu kayu itu perlahan.

__ADS_1


"Masuk!"


Dengan gugup, Jelita memutar knop pintu, ia masuk dan menutup pintu itu rapat agar tak ada yang mendengar pembicaraannya dengan Bara.


Ia melihat keadaan Bara yang tampak kacau duduk di tepi ranjang. Jas yang sudah terkapar di lantai, lalu kedua sepatunya yang sudah berada di atas sofa, jika boleh Jelita menebak, pasti Bara yang melemparkan barang-barang itu karena kesal.


"Kemari Jelita," panggil Bara, ia menepuk sisi ranjang di sebelahnya. Meminta Jelita untuk duduk di sisi tepi ranjang yang sedang ia duduki.


Dengan patuh dan tanpa bantahan, Jelita segera melangkahkan kakinya untuk duduk di tepi ranjang.


Dari jarak dekat seperti ini, Bara terlihat sangat tampan dengan rambut yang acak-acakan dan tiga kancing atas kemejanya yang dibiarkan terbuka.


"Kamu tahu kesalahan mu apa ?"


Suara berat Bara membuyarkan lamunannya, Jelita tak menjawab pertanyaan Bara, karena menurutnya tak ada yang salah dari dirinya hari ini.


"Jawab Jelita!" Bara berulangkali menghela nafas panjang.


"Aku gak tahu," jawabnya tenang.


Bara tertawa, bukan karena ia senang atau ada hal yang lucu hingga membuatnya geli. Tapi ia menertawakan nasibnya yang begitu malang.


Selama bertahun-tahun ini apakah rasa sayang dan cintanya masih tak terlihat di mata Jelita ? Tak tahukah istrinya itu, jika suaminya ini sangat amat tidak suka jika Jelita berdua dengan laki-laki ?


Sebegitu besar rasa cinta Bara pada Jelita. Namun istrinya nampak tak perduli dan cenderung menyepelekan rasa cintanya.


"Aku tanya sekali lagi, sayang. Kamu tahu kesalahan kamu ?" Bara memutar tubuhnya, hingga kini mata mereka saling bertatapan.


Jelita menggelengkan kepalanya tanpa tak mengerti. "Aku sudah bekerja dengan benar mengantar minuman di pesta perusa–"


"FU**CK ABOUT COMPANY JELITA! " teriak Bara dengan keras, dadanya bergerak naik turun. "Bukan soal perusahaan, tapi kamu dengan bocah kecil itu!" sambungnya menggebu-gebu.


Ah! Jelita mulai paham alur pembicaraan Bara. Ternyata Bara membahasa mengenai Hades. Tadi awalnya Jelita mengira Bara marah karena Jelita sempat membuat kekacauan dengan salah seorang artis fenomenal yang membuat heboh seluruh isi ballroom hotel tadi.


"Aku mengantar minuman, lalu aku tak sengaja menyenggol lengan seorang artis hingga bajuku dan baju artis itu basah. Akhirnya ada seorang pria yang membantuku, dia Hades. Hades temanku, kamu ingat kan ? Kalian pernah bertemu, bahkan pernah berantem sebelumnya."


Bara memejamkan matanya menahan emosi. "Aku gak ngomongin soal putra tunggal Jagakarsa yang menolong kamu. Yang mau aku bahas di sini adalah aku gak suka gimana dia gandeng kamu, pegang-pegang Gala, cara dia natap mata kamu. Aku gak suka Jelita!"


Jelita diam, mulutnya terasa keluh tak bisa membantah omongan Bara. Ia membiarkan Bara mengeluarkan isi hatinya terlebih dulu.


"Berulangkali aku kasarin kamu, tapi kamu tetap aja membantah omongan aku. Aku harus bagaimana supaya kamu nurut sama aku ? Sama suami kamu ? Apa yang aku larang malah itu yang kamu lakukan," sambungnya.


"Ka–kamu juga pergi sama perempuan cantik itu. Kenapa aku pergi sama Hades di permasalahkan ?" tanyanya.


Menyesal! Jelita menyesal menanyakan hal itu, ia takut Bara akan besar kepala dan menanggap jika ia sedang cemburu dengan perempuan bersama Raisa itu, padahal tidak sama sekali, Jelita bah–

__ADS_1


"Kamu tahu apa, ha ? Itu suruhan Mama sama Papa. Mereka yang meminta aku untuk membawa wanita itu, aku tak bisa menolak, Jelita. Aku tak bisa berkutik jika mereka sudah mengancam, apalagi kamu yang menjadi bahan ancaman mereka. Bisa gila aku kalo gak ada kamu di sisi ku!"


Setetes air mata jatuh pada sudut mata Jelita, entah mengapa ia bisa merasa bersalah pada Bara. Lebih tepatnya, merasa jika dirinya tengah ketahuan selingkuh.


Jelita mengusap wajahnya kasar, dan menatap Bara intens. "Tapi aku dan Hades juga gak salah. Sebagai teman, aku rasa sudah menjadi hal wajar untuk saling tolong menolong. Baju aku basah, dia bantu ak–"


"Teman macam apa yang gandengan tangan ? Teman macam apa yang natap mata kamu dalam ? Teman macam apa bersikap begitu intens ? Ingat posisi kamu Jelita! Kamu wanita yang sudah bersuami!" Bara menahan sesak yang ada di dadanya. "Kamu tahu sayang, aku rasanya ingin menjambak rambut kamu, melu**da**hi wajah kamu, yang ingin bermain kasar pada inti tubuhmu. Seperti yang biasa aku lakukan saat aku marah sama kamu!"


"Lakukanlah," jawab Jelita dengan suara bergetar. Ia sudah tahu akan kebiasaan Bara, pria itu sama sekali tak bisa menahan emosi. Ia harus melampiaskan amarahnya baru akan tenang.


Bara tersenyum getir kearah Jelita, "buat apa ? Itu hanya akan membuatku sesak! Melihat mu kesakitan sama sedang menyakiti diriku sendiri. Dulu aku pikir jika aku menyiksa kamu, kamu bakalan takut dan tunduk sama perintah ku. Tapi kalau aku pikir-pikir lagi, ternyata aku salah. Siksaan yang aku berikan, yang semata-mata untuk menakut-nakuti kamu ternyata gak berarti sama sekali buat kamu."


"Sekarang terserah kamu, Ta. Jujur aku cape, dan aku yakin kalau kamu cape. Aku mencintaimu tapi kamu membenciku. Aku tahu aku salah, karena memperkos4 mu hingga Gala hadir diantara kita. Tapi aku melakukan hal keji itu semata-mata hanya untuk mengikatmu agar bertahan di sisiku. Aku minta maaf jika itu menyakitimu."


Bara berdiri dari duduknya, tatapan matanya masih melihat Jelita yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. "Aku suami mu, itu adalah fakta yang tidak bisa kamu ubah. Hapus rasa cintamu terhadap putra tunggal keluarga Jagakarsa itu. Renungkan kesalahan mu, Jelita."


"Tidurlah yang nyenyak, aku akan tidur di hotel malam ini."


Setelah itu Bara keluar dari kamar, meninggalkan Jelita yang masih menangis. Ia bertanya dalam hati, kenapa jadi ia yang salah ? kenapa ia jadi yang di sudutkan ? Padahal semua ini jelas salah Bara kan ? Benar kan ?


Jelita harusnya bersekolah tinggi, tapi karena Bara merusak masa depannya, ia jadi tidak bisa melanjutkan sekolahnya dan hanya jadi pekerja biasa.


Jelita harus merasakan menjadi seorang ibu di usia muda, dan tentu itu tidak mudah baginya dan juga mentalnya.


Setiap hari Jelita harus mendengarkan ucapan tidak enak dan juga fitnah yang dilayangkan kepadanya.


Salahkan Jelita jika membenci Bara ? Salahkah Jelita jika ia memiliki rasa kepada pria lain selain Bara ? Salahkah Jelita jika berharap suatu hari nanti ia menikah dengan pria yang dia cintai ?


...o0o...


KALIAN TIM HADES ATAU BARA NIH ??


JANGAN LUPA VOTENYA SAYANG 🥰😘


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2