
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Udah Ta, gak usah dipikirin. Dia cuma ngancem aja kok..." gumamnya untuk yang kesekian kalinya di dapur kantor.
Saat ini Jelita tengah membuatkan kopi untuk CEO sekaligus suaminya yang meminta kopi hitam dengan dua sendok gula.
Namun bukan fokus membuat kopi, Jelita malah semakin teringat dengan pesan yang dikirimkan Hades tiga hari yang lalu.
Setelah pada tiga hari yang lalu ia dikirimkan pesan oleh Hades yang memintanya untuk datang lagi ke apartemen pria itu, Jelita memilih untuk mengabaikan pesan ambigu dari Hades.
Untung saja tiga hari yang lalu Jelita cepat-cepat merebut ponselnya dari genggaman Bara saat pria itu baru selesai mandi, kalo tidak mungkin Jelita sudah menggunakan kursi roda sekarang.
Karena tentu saja Bara akan memberikan hukuman enak yang kasar pada inti tubuhnya.
Flashback on....
Jelita saat ini tengah bermain-main dengan anaknya. Mereka saling tertawa dan Jelita yang berulang kali menciumi pipi gembul sang anak.
Hingga beberapa menit setelah Bara pergi untuk mandi, Jelita baru saja jika ponselnya masih ada di atas nakas.
"Sialan! Handphone gue masih di cas..." umpatnya sembari mengubah posisinya sembari berdiri.
"Kak Mira....."
"Kak Mira......"
Setelah meneriaki nama baby sitter anaknya itu beberapakali, akhirnya Mira datang ke kamar Gala dengan berlari kecil.
"Ada apa Nya ?" tanyanya dengan mata bulat, ia nampaknya takut terjadi hal yang tidak-tidak pada Gala atau Jelita, karena tak biasanya Jelita meneriaki namanya dengan nada suara yang panik.
Melihat Mira sudah datang, ia meminta wanita dewasa itu untuk mendekat dan Jelita turun dari ranjang dengan pelan. Takut sang anak jatuh.
"Tolong jaga Gala sebentar ya. Saya mau siapin baju untuk papanya Gala," alibinya dengan gemetaran.
Tanpa menunggu jawaban Mira, Jelita langsung berlari dengan cepat menuju kamarnya. Dalam hati ia merapalkan doa agar Bara belum selesai membersihkan dirinya.
Ceklek....
Pintu di buka dengan sedikit keras, hingga membuat Bara yanng bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang melilit pada pinggangnya juga terkejut.
__ADS_1
Mata Jelita membulat melihat Bara yang tengah memegang ponselnya. Ia berjalan mendekati suaminya.
"Kamu ini apa-apa sih..." Bara berdecak sebal, kegiatannya yang akan mengotak-atik ponsel Jelita terganggu.
"Baru selesai mandi kamu kak ? Mau aku ambilin baju ?" tanya Jelita dengan mata wanita itu yang masih menatap ponselnya.
"Sial! Bara sama sekali tak melepaskan ponsel itu. Ada apa ? Kenapa dia kepo dengan ponsel ku. Biasanya jarang dia menyentuh ponsel ku..." batinnya takut.
Bara mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan istrinya. "Ambilin aku piyama aja." pintanya.
Dengan secepat kilat, Jelita mengambil satu set piyama tidur untuk suaminya, lengkap dengan pakaian dalam Bara.
Ia menyerahkan baju itu tepat di hadapan Bara. "Nih ambil bajunya." Mata Jelita kembali melirik ponselnya. "Ponselnya aku ambil dulu, kamu pakai baju nanti baju main hape aku lagi." Perlahan tapi pasti kini ponsel miliknya sudah beralih pada tangannya.
Jelita memekik senang dalam hati, pasalnya Bara sama sekali tak mempermasalahkan ponselnya yang sudah berhasil Jelita ambil. Pria itu menuruti perintah Jelita yang menyuruhnya memakai pakaian.
"Tumben banget kamu buka ponsel aku, ada apa ?" tanya Jelita pada akhirnya.
Bara yang sedang memakai d4l4man, membalikkan badannya menatap Jelita. "Tapi apa bunyi notifikasi. Aku penasaran, mangkanya aku mau buka. Eh tapi kamu keburu datang, aku jadi gak sempat buka," jawab Bara.
"Coba kamu buka, siapa yang berani-beraninya chat istri Bara malam-malam gini!" titah Bara.
Susah payah Jelita menelan salivanya, sesuai permintaan Bara ia membaca seluruh isi pesan dari Hades itu.
"Siapa yang chat ? Apa isi pesannya?" tanya Bara.
Kepala Bara menganggukkan kepala percaya. "Ya sudah kamu sekalian Videocall sama Mama sana, Gala juga kangen neneknya pasti..."
Tanpa menjawab Jelita langsung keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat. Tak masuk ke kamar sang anak, Jelita malah berdiri di depan pintu.
"Sialan, pesan ini terlalu ambigu!" tangan Jelita cepat-cepat menghapus pesan itu. Faktanya Jelita tak melakukan hal nakal lain, Hades mencium Jelita tapi dengan cepat Jelita menangkis ciuman itu. Setelahnya Jelita memilih untuk langsung pergi dari Apartemen Hades.
"Cukup sekali gue nurut perintah lo! Gak mau lagi ke Apartemen itu!" sambungnya sungguh-sungguh.
Flashback off...
Jelita kembali mengaduk kopi yang ia buat dengan sendok kecil, ia tak mau lagi memikirkan ancaman Hades.
Toh buktinya, ini sudah tiga hari, dan Hades sama sekali tak ada tindakan-tindakan yang mengganggunya.
"Udah tiga hari, tapi Hades gak ganggu gue lagi. Itu berarti semua omongan dia cuma omong kosong belaka! Lagian siapa dia, mau cari masalah sama gue!" sengitnya kesal.
Jelita menaruh kopi yang sudah ia buat di atas nampan. "Gak usah pikirin Hades! Fokus kerja Jelita!" semangatnya.
Ibu beranak satu itu terlihat begitu semangat sekarang, mengabaikan tatapan sinis dari pegawai lainnya, Jelita memasuki lift dengan nyanyian kecil. "Hades cupu!" gumamnya lalu tertawa.
...o0o...
__ADS_1
Pyarrr.....
Pyarrrr......
"ARGHHHHHH...." teriakan begitu kencang di ruangan kerja yang begitu mewah. "JELITA SIALAN!!!"
Vas bunga hancur, meja yang terbuka dari kaca hancur lebur, laptop kerjanya juga menjadi sasaran amukan dari pria muda yang masih belum bisa mengontrol emosinya.
Sedangkan di ujung ruangan, Ranz–sang sekretaris hanya bisa gigit jari melihat sifat asli CEO barunya itu.
"KENAPA LO GAK DATANG JELITA ????" tanya Hades dengan berteriak. Hingga tubuhnya lelah dan terduduk di sofa.
Hades memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Tiga hari yang lalu ia mengirimkan pesan untuk meminta bertemu dengan Jelita dan sudah tiga hari pula chatnya hanya di baca saja.
Setiap hari ia bolak-balik dari kantor ke apartemennya yang menempuh waktu 1,5 jam karena berharap Jelita akan datang kembali.
Tapi kenyataannya wanita itu tak datang, dan nomornya juga sudah di blok.
Padahal Hades sudah mengatakan isi hatinya, berharap Jelita akan memekik senang dengan perbuatannya yang mengutamakan dirinya. Tapi tenyata malah sebaliknya.
Jelita mengabaikannya.
"Gue belajar mati-matian cuma buat lo. Gue jadi CEO juga buat lo, biar gue bisa lawan suami lo. Lo janji sama gue bakal nolong lo!"
"LO SENDIRI YANG MINTA GUE BUAT NOLONGIN LO TA!!!" Hades menjambak rambutnya frustasi.
Tangannya terkepal kuat di setiap sisi tubuhnya. "Lo cuma punya gue Ta! Apapun itu gue bakal dapetin lo! Mau pakai cara kotor atau tidak gue gak peduli!"
Hades berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. "Ranz, kamu sudah beli tanah itu ?" tanyanya di kepala Hades sudah mulai merencanakan beberapa rencana.
Ranz menundukkan kepalanya, "maaf tuan komisaris ADN Corp menolak. Mereka beralasan bahwa tan–"
"Persiapkan semuanya, besok kita akan datang ke perusahaan milik Bara itu!" ucap Hades memotong ucapan Ranz. "Dan aku akan membuat sedikit pelajaran pada gadis nakalku!"
"Baik tuan, saya persiapkan semua dokumennya."
...o0o ...
AYO RAMEIN GAISS
LIKE SAMA KOMEN
BIAR RATU SEMANGATT ʕ´• ᴥ•̥`ʔ
BIAR BISA UPDATE CEPATTTT
KASIH GIFT KALAU SUKA YAA SAYANG 😘
__ADS_1