
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Ah sial, bukannya berhenti hujan ini malah semakin deras!" gerutu Bara dalam mobilnya kesal.
Harusnya jarak antara rumah dengan sebuah apartemen yang ditempati Jelita hanya berjarak 2 jam. Namun karena adanya hujan badai yang semakin menggila pada malam hari ini, bisa Bara pastikan ia akan sampai sangat larut malam.
Jalan yang licin ditambah angin badai yang membuat mobilnya terbawa oleng sangat membuatnya kesusahan untuk menancap gas mobil.
Oh, dan jangan lupakan sambaran kilat yang berkali-kali membuat pohon-pohon yang berada pada sepanjang jalan menjadi patah dan roboh. Hingga banyak jalan ditutup dan di arahkan ke jalanan lain.
Yang membuat Bara lagi-lagi harus menahan umpatannya saat jarak ke apartemen itu semakin jauh.
"Ini salahku sendiri. Andai saja aku tidak gegabah. Andai saja aku tidak terbawa emosi. Pasti saat ini Aku, Jelita dan Gala tengah bermain di dalam kamar dibawah selimut hangat." Bara mengucapkan itu dengan raut wajah yang benar-benar menyesal.
"Maaf Jelita, maaf...."
"Maaf karena masih belum bisa menjadi suami yang baik. Maaf jika aku yang lebih tua darimu tadi belum bisa mengontrol emosiku...."
Tanpa terasa air mata Bara turun membasahi wajah tampannya, hanya setetes tapi sungguh hati Bara terasa sesak.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Bara menitihkan air matanya.
...o0o...
Sementara di dalam apartemen mewah yang begitu hangat karena telah menyalakan mesin penghangat tengah meminum coklat panas mereka.
Tidak ada perbincangan, karena sang wanita terlihat begitu pucat dan tak bersemangat, hingga membuat sang pria jadi segan itu membuka pembicaraan.
__ADS_1
Jelita, wanita itu kini telah berganti pakaian dengan menggunakan kemeja kerja Hades yang tergantung di lemari.
Bukan Jelita sendiri yang ingin memakai pakaian itu, tapi dalam apartemen Hades ini memang tidak ada pakai lain selain kemeja kerja.
Jadi mau tak mau Jelita harus menggunakan kemeja ini daripada menggunakan pakaian robek dan basah tadi.
"Gimana Ta ? Ada gak ada lagi kesempatan buat gue ?" suara Hades memecahkan keheningan yang begitu canggung itu.
Mata Jelita yang membengkak karena terlalu banyak menangis melirik Hades singkat. "Aku udah punya anak kak, udah punya suami." Jelita kembali menyesap coklat panasnya.
Hades memijat keningnya berkerut lalu menatap cerita lagi namun kali ini dengan tatapan mata yang serius. "Ta, lo tahu gue udah janji sama lo bakal datang nyelamatin lo. Gue sama sekali gak perduli lo udah punya anak atau enggak. Gue bisa jadi ayah yang baik untuk Gala."
"Banyak wanita cantik, yang masih perawan juga banyak. Kamu kaya kak, ganteng juga, apalagi sekarang kamu udah menjabat menjadi CEO." Jelita menjeda kalimatnya, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Hades di atas meja. "Kakak udah sukses, sekarang bukan kakak yang ngejar wanita. Tapi kakak yang dikejar. Suatu saat kakak bakal dapat perempuan yang kakak cintai, lalu kakak akan menikah dan hidup bahagia selamanya bersama dia."
Hades menggeleng-gelengkan kepalanya, tak setuju dengan pernyataan Jelita. "Enggak! Gak bakal ada wanita yang aku cintai lagi. Cuma kamu Ta, cuma kamu! Aku mau bahagia sampai tua sama aku. Sama anak-anak kita nanti."
"Kakak tahu kan, aku ini dibuang sama orang tuaku di jalanan dekat panti asuhan ? Akโaku anak yang tidak diharapkan orang tuaku kak. Aku ini juga korban pemerk0s4an. Apa kakak gak jijik sama Jelita ?" mata Jelita kini berkaca-kaca.
Hades menghapus air mata yang membasahi pipi mulus wanita idamannya ini. "Aku gak perduli Ta, aku benar-benar cinta sama kamu Ta. Aku gak bisa jelasin gimana rasa cinta aku ke kamu. Tapi tiap malam aku selalu kepikiran kamu, kamu udah makan atau belum, atau kamu udah tersenyum belum. Ini selalu jadi pertanyaan aku di malam hari."
"Kamu lupa janji kita dulu Ta ?"
Jelita semakin dibuat haru oleh Hades, ia tak menyangka jika ada seseorang yang benar-benar menyayanginya.
"Aku janji bakal nolong kamu, Ta. And then kita hidup bahagia setelah kamu terlepas dari kakakmu yang gila itu," sambung Hades.
Jelita kembali menggeleng, "Lupakan janji itu kak, aku gak mungkin bisa lepas sama Bara. Kita sudah menikah dihadapan Tuhan. Dan itu sakral, aku gak mau merusak janjiku sama Tuhan."
Dengan sesegukan Jelita tersenyum, kembali menggenggam tangan Hades. "Aku mencoba buka hati buat Bara, aku coba menyayangi anakku, meskipun setiap aku melihat wajah Gala yang begitu mirip dengan Bara memori-memori pelecehan itu kembali teringat. Tapi aku tepis, aku mencoba berusaha keras menyayangi Gala dengan tulus."
Hades menepis tangan tangan Jelita yang menggenggam tangannya. "Dia pedofil Ta! Dia sumber kehancuran hidup kamu! Orang seperti dia itu sakit jiwa. Kalau misal suatu hari dia dapat wanita muda lalu kamu ditinggal karena sudah tua bagaimana ?"
__ADS_1
"Lepas Bara dan Gala, Ta. Aku bakal sepenuhnya jaga kamu untuk selamanya. Aku sama sekali gak butuh anak dari kamu. Yang terpenting kamu selalu ada di sisiku!" sambung Hades.
Jelita memejamkan matanya, ia sungguh tak ingin hasutan Hades masuk dalam pikirannya meskipun itu terdengar sangat logis.
"Aku gak percaya dia pedofil, aku yakin kalo dia benar-benar cinta tulus sama aku!"
"Ck!" Hades mendecak kesal mendengar jawaban Jelita. "Buka mata kamu, Ta! Dia adalah predator. Aku yakin seratus persen kalo nanโ"
Ting tong.....
Ting tong....
Bell apartment Hades berbunyi beberapakali kali.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang lihat siapa yang datang," ucap Hades lalu berjalan menuju pintu apartemennya.
...o0o...
Bata tersenyum lebar saat mobilnya sudah terparkir dengan cantik di basement gedung apartemen mewah ini.
"Akhirnya sampai juga, untung aku tadi minta di kawal polisi..." ucap Bara seraya keluar dari mobil untuk memasuki gedung Apartemen.
Oh ya, karena kesal sudah dua jam perjalan tak kunjung sampai. Bara langsung menelpon aparat polisi agar bisa membukakan jalan untuknya.
Dan setelah hampir satu jam ia dikawal, akhirnya ia sampai juga di gedung apartemen mewah ini.
"Apart Bugenvil Reos. Lantai 10 no. 03!" gumam Bara memasuki lift dan memencet tombol 10.
Ia masih menyunggingkan senyumnya, dalam hati ia merapalkan doa agar Jelita mau ikut pulang bersamanya.
"Sayang, semoga kamu memaafkanku yaa...."
...o0o...
MAU LANJUT ? VOTE DULU SAYANGG ๐๐
__ADS_1