HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 8 – PILIHAN UNTUK BARA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Kak Bara 🦋


Maafin kakak ya gak bisa jemput adek.


Jangan tunggu kakak, langsung pulang


naik taxi!


Inget naik taxi!


JANGAN MINTA DI ANTAR TEMAN.


APALAGI TEMAN COWO!


Kakak bakal hukum kalo ngelanggar!


Kakak lanjut meeting,


I love you ...


Jelita mendesah panjang saat selesai membaca semua pesan kakaknya. Perasaan dongkol mulai menyelimuti hatinya.


Sudah hampir satu jam Jelita menunggu kedatangan kakaknya, namun yang di tunggu malah mengirimkan pesan setelah hampir satu jam jam pulang sekolah berlangsung.


"Tau gitu aku bareng sama Nisa aja!" gerutunya kesal.


Gadis cantik itu mendengus kesal, lalu berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari taksi atau angkutan umum.


Tapi setiap mata memandang, tak ada satupun kendaraan umum yang bisa mengantarkannya pulang dengan semangat.


Jelita mendudukkan kepalanya, dan kembali duduk ke bangku halte.


Tanpa sepengetahuan gadis cantik itu, ada seseorang pria dengan pakaian yang bermerk sama seperti terus memperhatikannya dengan intens.


Hingga seseorang menepuk bahu cowok itu hingga membuyarkan lamunannya. "Samperin aja, bro. Gue tahu akhir-akhir ini lo merhatiin Jelita terus. Saran gue deketin dia. Lo tahukan Jelita itu banyak disukai cowok di sekolah. Jangan sampai lo nyesel karena gak bertindak dulu."


"Ingat bro, lebih baik mati dalam Medan peperangan, daripada mundur sebelum berperang!" ucap Pandu, sahabat Hades yang beberapa hari ini mengetahui jika teman satu gengnya itu mempunyai perasaan lebih pada seorang gadis manis di sekolahnya.


Hades menatap Pandu yang berada di belakangnya dengan senyum tipis. "Thanks Du, gue coba dulu," jawabnya semangat.

__ADS_1


Tanpa ba-bi-bu lagi, Hades menaiki motor ninja merahnya dan menghampiri Jelita yang sedang mengotak-atik ponselnya.


"Ayo,"


Suara bariton lelaki memasuki gendang telinga Jelita, gadis itu mengarahkan pandangannya ke depan, dimana Hades tengah duduk diatas motor besarnya dengan helm full face.


Deg...deg...


Jantung Jelita berdebar seketika, Hades sungguh sangat tampan.


"A–apa ?" tanyanya tergagap.


"Ck, ayo cepet. Lo biar gue anter pulang. Pasti lo gak di jemput kan sama kakak lo yang posesif itu ?" tanyanya tepat sasaran.


Mendengar penuturan Hades bukannya marah, Jelita marah tersenyum malu. Jika diingat-ingat siapa yang tahu Bara di sekolahnya ? Nama Bara cukup terkenal di sekolahnya.


Itu bermula saat Jelita sedang mengikuti ekskul dance modern. Saat sedang latihan, seperti biasa Jelita hanya menggunakan celana pendek diatas lutut dan kaos pass body. Baru beberapa menit mereka latihan, Bara sudah datang dengan wajah memerah, pria itu menarik Jelita untuk pulang karena tak suka dengan pakaian yang di kenakan Jelita.


Sungguh Bara sangat posesif.


Dari situlah teman-teman Jelita selalu takut dengannya, bukan karena apa tapi kakaknya yang terkenal garang dan suka main tangan.


"Heh, malah bengong!" sentak Hades membuat lamunan Jelita buyar. Gadis itu tersenyum kikuk pada Hades. "Ayo pulang, udah mau hujan nih! Biar lo gue yang nganter."


Jelita menggeleng, merespon ajakan Hades. "Gak usah, aku udah pesan ojek online. Seben–"


"Itu udah datang!" pekiknya saat melihat motor matic yang memiliki nomor plat yang sama dengan yang tertera pada ponselnya.


Lalu Hades segera menghampiri ojek itu dan mengeluarkan 500 ribu dari dalam dompetnya. "Cewek yang pesan ojek udah pulang pak, ini biaya ongkosnya buat ganti rugi," ucapnya.


"Ya Allah nak, ini kebanyakan. Ongkosnya cuma 24 ribu." Bapak ojek itu terlihat syok dengan uang yang sedang ia pegang.


"Gak papa, itu sekalian buat anak istri bapak," ucap Hades setelah itu meninggal bapak itu tanpa menunggu jawabannya.


Sedangkan Jelita menatap cengo bapak ojek itu yang mengantongi beberapa uang lembar berwarna merah. Berapa pastinya ia tak tahu. Tapi yang pasti itu banyak.


"Udah pulang ojeknya, sekarang lo yang pulang sama gue!" titah Hades tak terbantahkan.


Masih dalam keterkejutannya, tanpa sadar Jelita sudah menaiki motor gede milik Hades. Hingga saat sudah berjalan jauh dari area Universitasnya ia seolah tersadar.


"Kak Hades, aku denger gak pernah boncengan sama cewek, itu bener ?" tanya Jelita sembari teriak karena pastinya suaranya kabur terbawa angin.


"Emang Ta, selain nyokap gue, lo perempuan pertama yang naik motor ini," jawab Hades dengan senyum kecil di balik helm fullfacenya.


Pipi Jelita memerah seketika, jantungnya kembali berdegup kencang.


"Rumah lo dimana Ta ?"


"Oh ya, Perumahan Pondok Indah, Bugenvil 3 kak," jawab Jelita sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Hades saat pria itu mulai melajukan motornya dengan kencang.

__ADS_1


Senyum Hades semakin melebar.


...o0o...


"Pokoknya Bara gak mau!" urat-urat leher Bara sudah tercetak jelas, tangannya terkepal hingga kukunya memutih.


"Pilihannya hanya ada dua Bara! Nikahi perempuan pilihan Papa dan Mama atau pilihan kedua kamu bisa menikah dengan perempuan pilihan kamu. Asalkan kamu harus menjauhi Jelita!" ucap Doddy tak terbantahkan.


Kini Bara dan kedua orangtuanya tengah berada di sebuah restoran bintang lima untuk makan siang.


Setelah beberapa jam yang lalu, Fara dan Doddy mengabari anaknya jika sudah sampai ke Indonesia dan sedang berada di restoran, segera Bara menghampiri mereka.


Niat awal Bara ingin menjemput Jelita terlebih dahulu. Karena hari ini hari Jumat jadi sekolah Jelita akan pulang pukul 10 pagi.


Tapi kedua orangtuanya menolak dengan cepat, dan meminta hanya Bara yang datang kemari.


Jadilah Bara beralasan meeting, karena tak ingin Jelita sakit hati dengan sikap kedua orangtuanya yang semakin kesini semakin terlihat dengan jelas pilih kasihnya.


"Papa gak bisa paksa seseorang untuk mencintai orang yang tidak ia sukai!" jawab Bara cepat.


Melihat emosi anaknya yang akan meledak-ledak, Fara mengelus lembut punggung tangan Bara. "Sayang, tolong kali ini jangan menentang kita."


Mendengar suara lembut ibunya, sebisa mungkin Bara mengontrol emosinya. Jika saat ini hanya ada Doddy mungkin Bara emosi Bara sudah meluap sedari tadi. Tapi saat ini ada Fara, ibunya ia sama sekali tidak ingin membuat Fara ketakutan akan sikapnya.


"Gak bisa Ma, gak bisa. Bara cinta Jelita," ucapnya dengan suara bergetar.


"Bara anak Mama, dia adik kamu nak." Fara menatap mata Bara dengan mata berkaca-kaca.


Bara mengalihkan pandangannya kearah lain, hatinya terasa sakit saat melihat mata ibunya yang sudah berair. "Seperti seminggu yang lalu, sama seperti yang Bara katakan saat itu. Dia hanya adik angkat. Bukan adik kandung. Kita tidak ada hubungan darah!" Bara mencoba menjelaskan.


"Tadi semua teman-teman Mama dan rekan bisnis Papa sudah tahu jika Jelita anak Mama. Mau di taruh dimana muka Mama, saat mengumumkan pernikahan kamu sama adik kamu ?"


Doddy yang sedari tadi mendengarkan penjelasan Bara semakin kesal, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Bara. "Cinta mu ini hanya cinta monyet saja Bara. Ini terjadi karena kamu terlalu sering bersama dengan Jelita. Kamu jarang berinteraksi dengan perempuan. Teman-teman kamu hampir semuanya laki-laki."


Fara mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. "Benar sayang, nanti lama-lama juga perasaan kamu ke adik kamu ini bakal hilang."


"Sudah Papa putuskan, hari Selasa besok keluarga kita akan melakukan makan siang dengan keluarga Abimanyu. Papa ingin menjodohkan kamu dengan Putri bungsu mereka. Dan ini juga sudah disepakati oleh Abimanyu sendiri. Pernyataan Papa ini mutlak, dan tidak bisa di ganggu gugat!"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2