
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o ...
Acara makan siang antara keluarga itu berjalan sedikit tidak mulus, tapi masing-masing kepala keluarga itu berusaha agar acara ini masih bisa berjalan baik.
Setelah Hades meneriaki nama salah satu pelayan Widya dengan keras hingga semua pasang mata pelanggan Widya beralih menatapnya, kini Hades mulai tenang dan membiarkan Jelita kembali bekerja.
Sesekali matanya akan melirik Jelita jika wanita itu sedang mengantarkan pesanan. Namun sama sekali ia tak menegur atau memanggilnya, ia masih harus bersikap tenang.
Sesuai apa yang ada dipikirannya, belum tentu jika Widya itu ada hubungan darah dengan Jelita, jadi Hades tidak boleh gegabah!
"Hah... aku rasa jam makan siang akan berakhir sepuluh menit lagi," ucap Rio sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.
Bisma–ayah Chika juga ikut melirik jam tangannya. "Benar, katamu kamu memiliki janji dengan seseorang setelah ini ?"
Rio menganggukkan kepalanya, "ada salah satu investor yang ingin bertemu," jawabnya sembari tersenyum.
"Baiklah, acaranya kita sudahi saja sampai di sini. Kamu bisa pergi sekarang Yo!" Bisma kembali menimpali.
Rio dan Sasa–istrinya berdiri dari duduknya diikuti oleh Bisma, Widya, Chika juga Hades. Lalu mereka saling bersalaman singkat. "Baiklah, aku harus segera pergi."Rio tersenyum, sembari mengelus kepala Chika. "Kamu minta diantar pulang saja sama Hades, nak," sambungnya.
Baru saja Chika akan membuka mulutnya, tapi Rio dan Sasa sudah berpamitan pulang. Dan kini meja itu hanya tersisa Keluarga Sanjaya dan juga Hades.
Dengan takut-takut Chika melirik Hades singkat, tangannya bergerak gelisah dibawah bajunya. "Emh, kak Hades maaf Chika gak bisa pulang bareng sama kakak. Chika sudah dijemput teman diparkiran," ucapnya dengan penuh sesal.
Jika memang Chika tahu bahwa Hades akan mengantarnya pulang, sudah pasti ia tak mungkin minta jemputan dengan teman satu sekolahnya itu.
Hades mengangguk mendengar ucapan Chika, lagipula siapa juga yang mau memberi Chika tumpangan ?
"Baiklah, kamu pulang saja. Aku masih di sini, karena ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dengan om dan tante," jawab Hades sembari melirik Bisma dan Widya yang masih setia duduk di mejanya.
Pipi Chika yang putih seketika berubah menjadi semerah tomat mendengar ucapan Hades, pikirannya mulai melayang tak karuan. Apa mungkin akan membahas pernikahan? Membahas tentang aku ?
Chika menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Hades, setelah menyalami kedua orangtuanya dan berpamitan, wanita itu segera berjalan untuk keluar dari resto.
"Apa yang ingin kamu katakan pada kami, nak ?" tanya Widya dengan raut wajah penasaran, meskipun dalam hati ia sangat takut jika Hades akan menolak perjodohan ini. Mengingat anak dari temannya ini benar-benar tak berekspresi saat membahasa mengenai pertunangan tadi.
"Sepertinya penting sekali," Bisma juga sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan anak muda yang berbakat dihadapannya ini.
Hades menghela nafas, ia keluar dari meja yang ia duduki dan beralih untuk duduk dihadapan kedua calon mertuanya itu. Jika jadi...
"Maaf sebelumnya jika Hades lancang, tapi apa boleh Hades sedikit bertanya tentang anak om dan tante yang hilang 17 tahun yang lalu ?" tanyanya dengan hati-hati.
Bisma dan Widya saling tatap, lalu kembali menatap Hades sembari mengangguk. "Memang apa yang ingin kamu dengar nak ?"
Mendengar ucapan Bisma yang seperti lampu hijau untuknya, Hades mulai memberanikan diri. "Bagaimana bisa anak kandung tante hilang ? Maksudku apa dia diculik atau bagaimana ?"
Bisma menghela nafas panjang, lalu tersenyum tipis menatap Widya. Rasanya begitu sakit mengingat kejadian itu, apalagi saat ada orang yang menanyakan. Rasanya seperti menyiram luka dengan air garam. Begitu perih.
"Entah disebut apa kejadian itu, om dan tante sendiri juga tidak tahu. Tapi om akan menceritakan semuanya kepadamu, lagipula kamu sebentar lagi akan menjadi keluarga Sanjaya juga, jadi seperti kamu memang harus dengan cerita tentang kelam keluarga kami." Bisma tersenyum menggenggam tangan istrinya dibawah meja dengan begitu erat. Seolah-olah mengatakan tidak pa-pa semuanya sudah berlalu....
Hades melihat kedua mata kedua orang paruh baya itu benar-benar terlihat hampa dan kosong. Pasti sangat sakit jika mengenang masa itu, tapi mau bagaimana lagi ? Hades harus mencari tahu. Jika memang benar hal itu, semua akan bahagia.
"Baiklah om, ceritakan sama Hades."
__ADS_1
"Kejadian itu 17 tahun yang lalu. Tepat sebelum kelahiran putri kami, malam itu hujan deras dan tante Widya mengalami kontraksi yang begitu hebat. Demi keselamatan mereka berdua, om membawa mobil sendiri ke rumah sakit dengan perlahan tanpa ditemani supir. Malam itu sekitar pukul 11 malam, tapi tante Widya masih pembukaan 2 jadi kami menunggu dengan sabar kedatangan putri kami ke dunia."
"Tepat pukul 4 pagi, akhirnya pembukaan tante sudah sempurna, sudah sampai ke pembukaan kesepuluh. Tidak sampai 30 menit, anak kami yang paling cantik se dunia itu lahir di dunia. Tak henti-hentinya om dan tante memberi ciuman pada seluruh wajah kecil putri om yang saat itu diberi nama Vanessa yang artinya kupu-kupu. Kenapa kupu-kupu ? sebenarnya itu adalah tanda lahirnya. Dipunggung sebelah kirinya ada tanda lahir bentuk kupu-kupu yang begitu cantik. Jadi kami memberikannya nama Vanessa."
Air mata Widya mengalir deras, sang suami menarik tangan istrinya dan membawanya ke dekapannya. "Setelah selesai dimandikan, putri kami menyusu dengan sangat kuat. Dia–dia sangat lahap meminum ASI-nya, dia bayi yang sangat pintar." Tanpa sadar Bisma menitihkan air matanya, lalu tersenyum membayangkan bayinya yang sejujurnya sangat ia rindukan. Kehadiran Chika dalam hidupnya, sama sekali tak bisa menggantikan anak kandungnya.
"Setelah selesai menyusui, ba–bayi kami...hiks...." runtuh sudah pertahanan Bisma. Pria paruh baya itu menangis dengan berpelukan dengan sang istri. "Dia dibawa oleh perawat, lalu kami beristirahat. Karena dari semalam hingga pagi kami tak tidur. Dan disitulah bencananya datang."
"Rumah sakit itu didatangi oleh beberapa penjahat dan ia melaporkan telah kehilangan 17 bayi dan salah satunya adalah bayi kami. Vanessa kami. Kupu-kupu kami...hiks..hiks..."
Hades yang setia mendengarkan cerita kedua paruh baya itu ikut meneteskan air matanya.
"Mendengar ada bayi yang hilang, saya dan tante yang baru saja setelah selesai dijahit langsung berlari sekuat tenaga ke ruangan bayi-bayi. Dan ya, kupu-kupu kami pergi, pergi jauh. Dia meninggalkan om dan tante sendiri."
Hades memberikan tisu kepada Bisma, dan tangannya kini kembali mengambil tisu dan mengelapnya dengan tangannya sendiri ke wajah Widya. "Sudah tidak perlu dilanjut jika terlalu menyakitkan, Hades mengerti. Sudah cukup, Hades tahu itu menyakitkan, dan maaf jika membuat kalian mengingat kembali masa itu." ucapnya penuh sesal.
Widya menggeleng sembari tersenyum dengan mata sembabnya. "Tidak pa-pa, malah tante senang jika ada seseorang bertanya tentang Vanessa. Om dan tante masih percaya jika dia masih ada di sini. Di dekat kami berdua."
"Sebenarnya, maksud Hades bertanya seperti itu karena hal penting yang ingin Hades konfirmasi kebenarannya," ucap Hades lagi.
Kedua orang paruh baya itu saling menatap dengan raut wajah bingung. "Memang ada apa nak ?" tanya Widya bingung.
"Waitress...."
Alih-alih menjawab, Hades malah memanggil salah satu pelayan yang sudah selesai mengantarkan pesanan di meja di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan ?"
Bukan menjawab pertanyaan Waitress itu, Hades malah menarik tangan sang pelayan hingga terduduk di sampingnya. "AKHH...."
"Hades kamu kena–"
Pelayan itu yang baru saja ditarik oleh Hades adalah Jelita.
Dan kini Bisma, dan Widya meneliti wajah syok Jelita dengan intens, apalagi Bisma. Benar kata Hades jika pelayan dihadapannya ini mirip dengan istrinya.
"Ti–tidak mungkin, dia adalah anaknya Fara," ucap Widya terbata-bata, meskipun dalam hati ia menolak ucapannya.
Hades menggeleng, "tidak tan, Jelita adalah anak yang diangkat oleh keluarga Adinata sejak umurnya 4 tahun di panti asuhan ilegal. Panti asuhan itu menjual anak-anak dengan harga yang fantastis. Tapi sekarang panti itu sudah ditutup, dan ketua organisasi serta pendirinya sudah dipenjara."
Mata Jelita melotot mendengar ucapan Hades, panti asuhan ilegal ? Pantas saja ia selalu dipukuli saat tidak bisa mendapatkan uang dulu...."
Sedangkan Widya malah terkejut saat mendengar ucapan Hades. Ia menatap Jelita dengan mata bergetar. Pantas saja Fara menjadikannya pelayan, ternyata dia bukan anak kandungnya....
"Ka–kamu punya tanda lahir berbentuk kupu-kupu dipunggung ?" tanya Bisma dengan terbata-bata.
Pandangan Jelita kini menatap pria patuh baya di hadapannya, terlihat begitu tulus dan juga baik.
Tanpa sadar Jelita mengangguk, mengiyakan ucapan Bisma. Matanya yang sudah berkaca-kaca, kini mengeluarkan air mata.
"Pu–punya...."
...o0o ...
Pukul delapan malam, Bara sudah menginjakkan kakinya di rumahnya. Wajahnya muram, dan bengkak. Pria itu seperti sudah menangis seharian.
Ia berjalan dengan lesu, seperti tak memiliki semangat hidup. Hingga indra pendengarannya, tengah mendengar suara tawa anaknya. Tanpa sadar ia tersenyum dan melangkahkan kakinya ke asal suara.
Tapi senyumnya memudar, saat melihat sang ibu yang merupakan sumber kesedihannya tengah tertawa dengan sang anak.
"Ah Bara, kamu sudah datang ?" tanya Fara dengan senyum saat matanya tak sengaja bertatap dengan Bara.
__ADS_1
Ia berjalan menuju sang anak yang kini berdiri didekat meja makan. Dalam hati ia tersenyum miring. Malam ini aku pastikan jika Bara akan semakin membenci Jelita!
Krekk.....
Fara menarik kursi lalu duduk sembari menggendong Gala yang terus mengoceh. "Duduk sini sayang, kamu mau makan apa ? Pasti capek ya ? Apa mau mandi dulu ?" tanyanya.
Bara diam, dengan mata yang masih menatap anaknya.
"Hari ini kamu Mama aja yang layani ya. Istri kamu keluar lagi hari ini, gak tahu kemana. Waktu kamu pergi kerja, dia juga ikut pergi. Dan sampai sekarang dia belum pulang. Mama gak tahu dia kemana, dia gak pamit sama Mama...."
"Ya, namanya juga anak muda pasti pikiran main terus. Apabila cuma lulusan SMP, pikirannya cuma gimana ngabisin duit terus."
"Tapi gimana ya, gak pa-pa sih kalo mau habisin uang toh kita kaya, ya. Tapi masalahnya, Mama takut dia selingkuh Bar."
"Soalnya Mama lihat dia pakai baju dress ketat seksi gitu, p4yud4ra-nya sampai kelihat–––"
Dug.....
Ucapan Fara terhenti saat melihat putra satu-satunya, putra kesayangannya bersimpuh dihadapannya dengan mata berlinang air mata.
Bara menundukkan kepalanya, mencium kedua kaki Fara setelah sekian lama tak ia lakukan pada sang ibu.
"Kenapa say–"
"Ma, mama sudah ya. Jangan jelek-jelekin Jelita lagi. Dia wanita baik, dia wanita yang baik, Ma. Dan Bara sudah rusak dia," ucap Bara memotong ucapan ibunya dengan berlinang air mata.
"Dari Bara kecil sampai sekarang, sekalipun Bara gak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Mama sibuk kerja sama Papa, Bara selalu ditinggal keluar negeri dan hanya ditemani sama baby sitter." Bara sekali lagi mengecup kaki ibunya. "Bara berfikir jika Bara ini tidak berguna, sampai pada hari ulang tahun Bara, mama kasih Bara kado berupa adik. Dan saat itu juga, Bara merasa berguna, dan ingin tetap hidup untuk menjaga Jelita."
"Sampai di satu hari, Bara baru sadar akan perasaan Bara. Bara mencintai Jelita, sangat mencintainya. Sampai rasanya Bara mau mati hanya untuk Jelita. Sedangkan Jelita sama sekali tak mencintai Bara, karena nekat Bara memp3rk0sa Jelita diusinya yang masih lima belas tahun."
"Stop jelek-jelekin Jelita, Ma. Stop!" pintanya dengan air mata yang mengalir. "Mama sakitin Jelita sama saja kayak Mama nyakitin aku. Aku tahu Mama yang suruh Jelita kerja dan Mama pura-pura tidak tahu Jelita di mana. Aku tahu Mama mau buat aku benci sama dia... Stop Ma, Stop ya..."
Deg....
Hari Fara terasa diremat mendengar ucapan sang anak. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya. "Sa–sayang, Ma–ma...hiks...mama...maaf yang....hiks..."
"Mama gak perlu minta maaf, ini salah Bara memang. Bara egois, karena terlalu mencintai Jelita. Sekarang Bara mau bebaskan Jelita, terserah dia, dia mau pergi atau bertahan sama Bara dan keluarga ini yang jelas-jelas selalu jahat kepadanya."
"Bara kasihan sama Jelita, dia selalu tersiksa. Bara–Ba–bara mau yang terbaik untuk seseorang yang sangat Bara cintai. Bara ikhlas...hiks....hiks...."
Bara menangis memeluk kaki sang ibu.
...o0o ...
HUAAA....🥺🥺😭
ENDING MENDEKAT KALIAN SIAP GAK ?
jangan lupa vote dan giftnya kakak 🥺🥺
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1