
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Lulusan SMA mau kerja apa om ? Pelayan cafe atau tukang cuci piring di restoran?"
Ucapan Sinta membuat Doddy dan Fara diam mematung tak bisa menjawab. Sial! mereka lupa jika Fara hanya lulusan SMA, wanita itu tidak sempat wisuda.
"Om juga gak tahu Sin, jujur saja waktu itu om kalap hingga mengatakan tak akan menguliahkan Jelita. Karena om pikir Jelita akan tetap mendapatkan ijazah S1-nya. Ternyata tidak," jawab Doddy lesu. "Sebenernya om sayang kepada Jelita, tapi rasa kecewa om lebih besar saat ini," sambungnya.
"Benar Sin, meskipun dia bukan anak kandung kami tapi tetap kami menyayanginya," jawab Fara.
Sinta menganggukkan kepalanya mengerti, sepertinya memang benar jika Jelita adalah anak kesayangan keluarga ini. Buktinya saja saat Jelita ketahuan jalan berdua dengan pacarnya saat ini Bara benar-benar mengamuk, dan memukuli remaja pria itu habis-habisan.
"Terus om, cowok yang melakukan itu sama Jelita udah ketemu ? Soalnya waktu aku dan Bara pergi ke butik, aku sama Bara lihat Jelita lagi goncengan sama cowok. Pas lihat Jelita sama cowok, Bara langsung hadang motor cowoknya Jelita itu terus langsung mukulin cowok itu sampai babak belur," jelas Sinta panjang lebar. "Aku rasa cowok itu deh yang merk**sa, Jelita!" sambungnya dengan menggebu-gebu.
Doddy dan Fara saling tatap, lalu tersenyum tak enak pada Sinta. "Bu–bukan dia kok, pelakunya udah Tante jeblosin ke pen–"
"Gue!" ucapan Fara terpotong oleh ucapan anaknya yang kini menatap mata Sinta dalam.
Mendengar ucapan Bara, membuat Sinta mengerutkan dahinya bingung. "Maksudnya, Bar ?" tanyanya.
__ADS_1
"Gue!" ulangnya. "Gue yang merk**sa Jelita!" jelasnya.
Bukan marah, Sinta malah tertawa mendengar ucapan Bara yang menurutnya tak masuk akal itu. "Bara..ih..." kesalnya. "Ini lagi serius kamu malah bercanda..." sambungnya sembari tertawa kecil.
"Gak lucu tahu ih!"
Berbeda dengan Sinta yang menganggap jawaban Bara hanya guyonan. Kedua orangtuanya malah sudah ketar-ketir ditempat. Mereka takut Bara akan mengatakan yang sebenarnya dan membuat reputasi keluarga mereka hancur.
"Hehe, maaf ya Sin. Bara ini memang suka bercanda," ucap Fara tiba-tiba saat ia tahu Bara akan membuka mulut menjawab ucapan Sinta.
Tapi tentu dengan cepat Fara menyela Bara.
"Oh ya, ini sudah jam setengah delapan. Kalian katanya mau pergi ?" tanya Doddy mengalihkan pembicaraan.
Bara mendecih malas saat tahu jika orang tuannya sengaja mengalihkan perhatiannya.
Doddy tersenyum lalu menganggukkan kepalanya mengerti. "Ya sudah kamu ke mobil duluan bisa ? Om sama tante mau berbicara sebentar sama Bara soal perusahaan."
Tak menjawab, Sinta menganggukkan kepalanya patuh, lalu berdiri sembari membawa tasnya lalu keluar dari ruangan makan itu.
Kini hanya mereka bertiga yang ada di ruang makan. Fara berdiri dan menghampiri anaknya lalu menjewer telinga anaknya itu kasar.
"ARGHH...sakit ma?!!" teriak Bara berusaha melepas capitan tangan Fara dari telinganya.
Fara melepaskan jeweran itu lalu menatap tajam anaknya. "Kamu gila Bara ! Kenapa kamu kasih tahu Sinta kalau kamu yang memperk**sa Jelita ?" tanya Fara kesal, ia sungguh gak tahu dengan jalan pikiran anaknya ini.
"Jangan katakan hal bodoh Bara!" kini Doddy ikut berbicara, ia melirik sinis anak tunggalnya itu. "Kalau sampai Sinta tahu, kamu yang menye***tu**buhi adik kamu sendiri, sudah pasti ia akan membatalkan pertunangan kalian! Biarkan saja Jelita yang jadi tunggal, toh juga dia bukan anak kandung Papa. Hanya kamu yang mewarisi harta Papa, jad–"
__ADS_1
"Seperti yang Papa bilang barusan, Jelita bukan adik kandung aku. Emang salah kalo aku meniduri dia ?" tanya Bara dengan senyum miringnya.
Ia bangkit dari duduknya sembari membawa tas ranselnya. "Kemarin Papa ngancem aku kan ? Papa bilang mau asingkan Jelita ? Sekarang gantian aku yang mengancam Papa."
Bara membahasi bibir bawahnya yang kering, sedangkan kedua orangtuanya menunggu apa yang akan dikatakan Bara selanjutnya.
"Siapkan pernikahan aku sama Jelita secepatnya! Jika tidak, bukan hanya kepada Sinta tapi kepada wartawan aku akan mengatakan jika aku menye**tu*buhi adikku sendiri. Dan tentu bukan hanya nama baik kita yang akan tercoreng, tapi juga perusahaan kita akan bangkrut seketika."
"Yang kedua, Bara mau Papa berikan pekerjaan pada Jelita di perusahaan. Tidak muluk-muluk, cukup jadikan dia OB saja!"
Bara menahan tawa melihat wajah pucat pasi kedua orangtuanya mendengar permintaan gilanya. "Silahkan pilih, pilihan Papa. Bara kasih waktu satu Minggu!" ucapnya final sembari berlalu keluar dari rumah megahnya.
Doddy dan Fara saling berpandangan dengan wajah pucat mereka.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1