HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 33 - HARUS KUAT


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Sudah lebih dari satu jam Jelita berdiri di halte dekat rumahnya. Sungguh begitu malang, nasibnya. Sedari tadi ia menunggu adanya keajaiban angkot lewat di depan perumahan elit ini. Karena sejak tadi ia memesan taksi online selalu di tolak. Entah kenapa bisa. Apa mungkin Bara ?


Jelita menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran negatif dalam otaknya. Ia berjalan mondar-mandir di halte dengan raut gelisah.


Hingga ada seorang pria paruh baya dengan sepeda motor supra berwarna hitam menghampirinya.


"Mau kemana, neng ?" tanyanya.


Jelita tersenyum ramah kearah bapak itu, lalu berjalan mendekat. "Lagi nunggu angkot, pak. Tapi kok gak ada ya ?"


Pria paruh baya itu tertawa mendengar pertanyaan Jelita, "gak mungkin ada atuh neng, angkot lewat depan perumahan ini. Kalo pun kesini juga pasti gak ada yang mau naik. Pan ini perumahan orang-orang kaya," jawabnya.


"Iya juga ya..." gumamnya lesu.


"Emang neng mau kemana ? Kok nyari angkot segala ?"


"Saya mau kerja pak, ini nunggu angkot, gak dateng-dateng," gerutunya.


"Mau ikut saya aja gak ? Saya mau beli selang buat siram bunga. Saya tukang kebun dari rumah gede cat putih itu," tunjuknya pada sebuah rumah yang tepat di hadapan halte bus itu.


Mata Jelita menatap rumah besar dekat pagar pembatas rumah dengan jalan raya itu dengan mata membulat. "Loh bapak tukang kebunnya kak Rio ?" tanyanya saat menyadari jika rumah yang ditunjuk oleh pria paruh baya itu adalah rumah kakak kelasnya.


"Bener, neng tanya den Rio aja kalo gak percaya." Jelita menggeleng ia percaya dengan pria itu. "Jadi mau ikut kagak ?"


Jelita mengangguk antusias, dan segera duduk dibelakang pria itu. "Ke jalan Pattimura pak, Perusahaan ADN!"


"Siap! Pegangan neng..." serunya sembari melakukan motor butut miliknya.


...o0o...


Tiga puluh menit kemudian Jelita baru sampai ke perusahaan. Wanita itu menyerahkan uang lima puluh ribu ke pria paruh baya tadi untuk mengganti bensinya.


Jelita berjalan dengan perlahan memasuki kantor, jangan sampai ada seseorang yang mengetahui jika ia terlambat masuk ke kantor.


Dengan perlahan tapi pasti, kakinya membawanya ke tempat absensi karyawan. Ia menaruh ibu jarinya pada layar sensor untuk absen.


Namun sayang, alat absensi otomotif milik kantor itu berbunyi. Hingga semua pasang mata yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya kini menatapnya.

__ADS_1


Kringggg......


Anda terlambat, mintalah hukuman kepada HRD


Jelita memencet tombol yang ada pada alat absensi itu sembarang, bermaksud itu menghentikan bunyi yang cukup keras itu.


Keringat Jelita bercucuran karena gugup, tatapan tajam dari para staff semakin mengintimidasinya.


"Ekhem..."


Suara laki-laki yang terdengar berat dan seksi masuk ke gendang telinga Jelita. Ia memejamkan matanya mentransmisikan kegugupannya lalu membalikkan badan seraya menunduk di hadapan CEO-nya itu.


"Y–ya tuan ?"


"Terlambat 1 jam 20 menit," ucap Bara yang membuat bulu kuduk Jelita berdiri. "KAMU PIKIR INI PERUSAHAAN MILIK ORANG TUA KAMU?" bentaknya keras hingga urat lehernya keluar.


Jelita meremas kedua tangannya yang sudah basah. "B–bukan, tuan..."


"Seenaknya datang, jangan mentang-mentang habis melahirkan kamu bisa bertindak seenaknya! Di perusahaan ini tidak mentolerir hal-hal yang semacam itu. Saya berikan waktu 2 bulan bahkan hampir 3 bulan bagi para pekerja sama yang cuti melahirkan. Namun saat masa cutinya habis, ia harus kembali menaati peraturan kantor! Tidak ada keistimewaan!"


"Maaf tuan, saya lalai..."


"Angkat kepala mu! Saya mau lihat wajah dari staff bersih-bersih yang tidak menaati peraturan perusahaan!" titah Bara tak terbantahkan.


Jelita menelan salivanya, lalu dengan perlahan mendongakkan kepalanya menatap wajah Bara, lalu sedetik kemudian ia menetralkan matanya kearah lain. Tak sanggup melihat pesona Bara.


"Oh ini yang lulusan SMA itu ?" tanya Bara dengan senyum miring yang tentu saja tak disadari Jelita, karena wanita itu tengah melihat kearah lain. "Benar begitu, Gio ?" tanyanya lagi pada Gio.


Mendengar percakapan Bara dan sekretarisnya, bibir Jelita terasa kelu. Ia menatap Bara dengan pandangan bingung. "Apa maksud pria itu ?" batinnya.


"Ah iya, aku ingat. Hampir 3 bulan lalu aku mengantarnya ke rumah sakit karena akan melahirkan. Tapi saat aku menemaninya, tak ada satupun kerabat yang datang." Tatapan mata Bara dan Jelita beradu. "Memang dimana suami mu ? Kenapa tidak datang ke rumah sakit ?" pancing Bara.


Tangan Jelita terkepal erat, ia tahu jika kini banyak pasang mata yang menatapnya penasaran. "Itu masalah pribadi tuan, saya rasa tuan tidak perlu tahu."


"Sepertinya Bara ingin memainkan peran ? Berlagak seperti tak mengenalku ?" batin Jelita. "Aku ikuti permainan mu, aku tahu kamu ingin aku keluar dari perusahaan kan ? Maaf tapi tidak bisa Bar!"


"Ah begitu ?" tanya Bara.


"Ya, tuan saya tidak bisa membuka masalah priadi kepada orang lain. Karena saya terlambat kira-kira apa hukuman saya ?"


"Orang lain ? Saya tuan kamu. Apa seorang atasan tidak boleh mengetahui masalah pegawainya, Gio ?" tanya Bara pada Gio kali ini.


Gio menggeleng, "tidak benar tuan, sebagai seorang atasan yang baik, anda perlu memperhatikan seluruh bawahan Anda. Karena anda adalah seorang kepala bagi para pegawai anda."


Bara tersenyum mengejek kearah Jelita, apalagi melihat wajah kesal ibunya Gala itu, benar-benar imut!


"Menurut yang saya baca dari lamaran pekerjaan yang dikirimkan staff office girl itu pada perusahaan. Tidak tertera jika dia sudah bersuami, tuan."

__ADS_1


"Gio juga ikut dengan permainan Bara ini ?" batin Jelita menatap penuh kekecewaan pada Gio.


Mendengar penjelasan Gio, membuat Bara berusaha paya menampilkan ekspresi terkejut. "Ah benarkah ? Wanita berusia 23tahun sudah memiliki anak tanpa suami ?" tanyanya yang diangguki oleh Gio. "Kedua orang tua mu, pasti bangga!"


"Apa tanggapan orang tua kandungmu saat mengetahui kamu hamil tanpa suami ?"


Dada Jelita bergerak naik turun karena rasa sesak yang menghantam dadanya. Tanpa sadar tangan kanan Jelita menyentuh bagian jantung yang terasa amat nyeri.


"Dia pasti kecewa saat melihat anak gadisnya yang masih harus menempuh pendidikan dibangku kuliah sudah memiliki anak. Mungkin itu alasannya kenapa kamu hanya lulusan SMA, karena kamu sudah hamil duluan ya ?"


"Tolong jaga batasan bicara anda, tuan Bara!" tekan Jelita dengan air mata yang mengalir pada wajahnya.


Baru saja akan menjawab pertanyaan Jelita, Bara menutup mulutnya kembali saat mendengar suara Gio.


"Maaf memotong tuan, tapi kita harus berangkat meeting sekarang. Kita sudah terlambat 7 menit."


Bara mengangguk mengerti, "ah sudahlah, aku tidak ingin membahas masalah keluarga mu. Dan tadi aku dengar kau minta hukuman ? Baiklah aku beri."


Jelita menatap Bara dengan penuh kebencian. "Katakan!"


"Sapu dan pel dari ujung lorong hinggap ujung lorong lantai dua. Hingga bersih tanpa debu sedikitpun. Jika sudah selesai pergilah ke meja sekretaris keduaku yang berada di satu lantai di bawah lantai kerjaku ada dokumen dengan map berwarna merah. Fotokopi itu sebanyak 7 kali, lalu taruh 1 map yang sudah di fotokopi di setiap divisi yang berada di perusahaan. Mulai dari divisi keuangan hingga divisi pemasaran. Mengerti ?" tanya Bara yang diangguki cepat oleh Jelita.


Bara mengenakan kacamata hitamnya, lalu keluar dari perusahaan dengan Gio di depannya.


Kini Jelita berjalan menuju loker untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerja. Ia berjalan menunduk karena sadar tengah jadi bahan perbincangan seluruh isi kantor yang berada di lantai satu ini.


"Masih kecil udah hamil! Orangtuanya gak ngajarin yang bener!"


"Kayaknya memang orangtuanya udah lepas tangan!"


"Inilah akibat pergaulan bebas, amit-amit jangan sampai anak kita jadi hina kayak dia!"


"Mukanya polos, anaknya juga keliatan lugu. Eh aslinya bin**al!"


Jelita menutup telinganya rapat, hatinya berdenyut sakit jika mereka membawa nama kedua orangtuanya. "Jangan kan mendidik aku, mereka aja gak mau lihat aku. Mangkanya aku di buang..." batin Jelita tersenyum pedih.


...o0o...


HARI SENIN JANGAN LUPA VOTENYA 🥳❤️


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2