
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Hari ini sebenarnya masih hari kerja, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di perusahaan ADN Corp, pintu terkunci dan hanya ada beberapa orang satpam yang menjaga seperti hari libur pada biasanya.
Sekarang adalah hari perayaan lahirnya perusahaan besar itu. Jadi semua staff dari segala divisi diliburkan selama beberapa hari yang bisa mereka gunakan untuk bersantai dan juga nanti malam akan diadakan pesta yang sangat mewah dan juga meriah yang dihadiri oleh seluruh staff, manager dan direktur dari berbagai perusahaan yang diundang, lalu juga akan ada para artis terkenal ibukota yang ikut memeriahkan pesta.
Seperti biasanya pesta Anniversary yang diadakan tiap tahun ini sebagai apresiasi CEO dan para pendiri ADN Corp sebelumnya, kepada seluruh staff yang sudah bekerja keras untuk memajukan perusahaan.
"Bagaimana ? Apa persiapan telah siap 100 %" tanya Bara pada sambungan telfonnya.
Pria itu kini tengah dalam posisi tidur menyamping, menatap anaknya yang baru bangun tidur dan senang asik minum ASI dari ibunya.
Tangan Bara mengelus lembut pipi berisi Gala, dengan sesekali tangannya menyerempet kearah benda kenyal Jelita. Dimainkannya ASI itu hingga berulangkali keluar dari mulut Gala.
"Seratus persen sudah siap tuan, semua sudah saya check. Tidak ada satu kesalahan pun, saya jamin itu!" jawab Gio cepat.
"Oek...oek...oek..." suara tangis Gala pecah, karena Bara yang selalu menarik put***ng Jelita hingga terlepas dari mulut anaknya, yang membuat bayi itu kesal.
Melihat anaknya yang kembali menangis, setelah baru beberapa menit lalu terdiam karena tangisannya yang meminta ASI, membuat Jelita ikutan kesal. Terang-terangan ia melirik suaminya tajam.
"Stt, sudah sayang. Ayo ini mimik lagi..." ucapnya lembut, menepuk-nepuk pantt anaknya.
"Kenapa kok nangis gitu, itu sebenarnya punya Papa dua-duanya, kamu cuma minjem doang sebentar, nanti malem juga papa habisin semua susunya!" Bara meledek sang anak.
Gala kembali menangis, membuat Jelita sudah frustasi menghadapi tingkah bapak dan anak itu yang membuatnya kelelahan.
"Apa sih, jangan pencet-pencet ASI-nya nanti merembes!" titah Jelita sedikit berteriak.
Bara acuh dan kembali memainkan kedua benda itu.
Sedangkan di ujung telfon, muka Gio sudah memerah malu karena mendengar percakapan sepasang suami-istri itu. Ia paham, bahkan sangat paham tentang pembahasan mereka.
"Tuan, tadi tuan Doddy dan Nyonya Fara mengatakan tidak bisa datang ke Indonesia. Karena harus ke Dubai. Jadi anda yang memimpin sem–"
"Ahh..stttt....Bara...."
__ADS_1
Suara de**han Jelita kembali membuat otak polosnya ternodai, sadar atau tidak sinyal radar pribadi milik Gio kini tengah menyala sepenuhnya.
"Ya, aku sudah tahu. Aku yang memimpin acaranya nanti malam."
"Baik tuan, nanti pukul 5 sore saya akan mendatangkan hairstylist dan juga wardrope yang akan mendandani anda dan tuan muda Gala. Lalu jangan lupakan nona Raisa yang ak–"
"Faster kak....arghhh...janganshh... digigit...."
Gio memejamkan matanya sejenak, tangannya yang memegang ponsel kini gemetaran. "Itu saja informasi dari saya, tuan. Terima kasih."
Tanpa menunggu jawaban Bara, Gio sudah menutup telfonnya terlebih dahulu. Terse jika ia nanti akan disemprot Bara karena tidak sopan. Yang terpenting sekarang adalah menuntaskan has**ratnya.
"Aish, waktunya bermain solo lagi..." gumamnya.
...o0o...
Sesuai ucapan Gio tadi di telfon, kini sudah ada beberapa orang yang datang ke rumah Bara untuk mendandaninya beserta anaknya.
Ada satu orang pria berwajah bule kini tengah memakaikannya jas merk Dior yang berharga fantasi yang sebenarnya juga berseragam dengan anaknya Gala.
Ketiga kedua lelaki itu sudah memakai jas mereka lengkap, Bara dengan di bantu pria gemulai kini memulai merapikan rambutnya.
Kini pria setengah bule itu sudah siap dengan seragamnya. Dengan perlahan ia menggendong sang anak yang juga sangat tampan sepertinya, lalu di bawah keluar dari kamar.
"Tentu saja," balasnya dengan senyum miring penuh keangkuhan. "Tidak ada yang lebih tampan selain aku dan anakku."
"Benar, tuan! Benar!" Gio benar-benar tak berbohong sangat mengatakan itu. Matanya berbinar menatap Gala.
"Dari kecil udah jadi Sultan aja, saya iri sama tuan muda!"
Bara memutar bola matanya malas, Gio membukakan pintu mobil dan dengan berhati-hati agar anaknya tak terbentur bagian mobil, Bara menaiki kendaraannya itu.
Setelah Bara masuk, kini gantian Gio yang masuk dan duduk di kursi samping kemudi. "Hari ini aku akan memperkenalkan anakku sebagai penerus kepada seluruh tamu undangan. Bawa masuk setidaknya 10 orang bodyguard di dalam gedung. Suruh kesepuluh bodyguard itu untuk terus menjaga mata kepada anakku. Jangan sampai ada sesuatu hal yang buruk terjadi padanya!"
Gio menganggukkan kepalanya tegas. "Siap di mengerti, tuan!"
"Jelita sudah berangkat ?" tanya Bara.
"Sudah sejak satu jam yang lalu tuan, Nyonya menjadi pelayan yang mengantarkan makanan dan juga minuman di meja-meja tamu yang kosong," jawab Gio sembari meringis.
Rahang Bara mengeras, istrinya itu benar-benar menguji kesabarannya. Sudah berkali-kali mengatakan untuk di rumah saja tapi tetap saja wanita itu ingin bekerja menjadi pelayan di sana.
__ADS_1
"Wanita itu benar-benar tak bisa di kasih tau! Jaga Jelita juga, buat istriku tidak melakukan hal berat. Aku tidak ingin dia sampai kelelahan apalagi sampai jatuh sakit!" ucap Bara tegas. "Jika itu terjadi, maka gajimu yang akan aku pertaruhkan!" sambungnya.
Menghela nafas panjang, Gio menganggukkan kepalanya dengan malas. "Baik tuan," jawabnya melemas. "Selalu saja aku yang menjadi tumbal. Sial!"
...o0o...
"Kamu sudah siap, nak ?" tanya Rio pada sang anak yang baru saja menuruni tangga dengan menggunakan setelan jas yang senada dengan jas yang kini sedang ia gunakan.
Dengan langkah tegas dan begitu berwibawa, Hades berjalan menuju Ayahnya yang nampaknya sudah menunggunya sedari tadi.
"Maafkan aku jika membuat Daddy menunggu lama, aku sudah siap. Ayo kita pergi," ajaknya pada ibu dan ayahnya.
Kedua orangtuanya mengangguk lalu berjalan beriringan menuju mobil. "Anak Mommy, ganteng banget, pasti nanti di pesta keluarga Adinata banyak banget nih undangan makan malam buat kenalin anak gadisnya ke anak kita, Dad," goda Widya pada anak tunggalnya itu.
Mobil mewah yang di tumpangi keluarga Hades kini sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah menuju hotel tempat diadakannya acara pesta Anniversary perusahaan keluarga Adinata.
"Benar Mom, pasti banyak banget yang minta di jodohin Hades." Rio ikut berkomentar menggoda anaknya, sesekali ia melirik bangku ketiga yang berada di belakangnya, tempat anaknya duduk.
Hades yang sedari tadi menatap jalanan, kini menghadap kearah depan dengan malas. "Ck, Hades gak suka dijodoh-jodohin gitu. Hades punya pilihan sendiri," jawabnya mantap tanpa keraguan.
Senyum lebar menghiasi wajah Rio dan juga istrinya, mereka saling tatap lama. "Kalau gitu cepat kenalin dong sama Mommy, sayang..." pinta Sasa.
"Pasti Mom, pasti. Tinggal tunggu waktu aja." Hades tersenyum menyeringai sembari membayangkan wajah manis Jelita. "Tunggu Hades bisa sesukses si brengsek Bara..." sambungnya dalam hati.
"Ya sudah terserah kamu aja, asal gadis itu berasal dari keluarga yang jelas dan baik. Daddy dukung!" Rio ikut menimpali.
"Tenang Dad, wanita yang aku suka berasal dari keluarga terpandang. Yang pasti tidak akan mempermalukan keluarga kita!"
Doddy tersenyum semakin lebar. "Oke son, Daddy percaya padamu!"
Hades kembali menatap jalanan, tangan kanannya memegang dada kirinya yang kini berdegup dengan kencang.
"Jelita degupan jantung ini rasanya masih sama, seperti saat pertama kali aku melihatmu. Semoga saja kita bertemu di pesta nanti. Sedetikpun tak apa, yang penting aku bisa membayar rasa rindu ini yang cukup menyiksa batin dan pikiranku..."
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA