
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Mending kita cerai aja!"
"Mending kita cerai aja!"
"Mending kita cerai aja!"
Kata-kata itu terus masuk dan terngiang-ngiang pada telinga Bara. Entah mengapa sejak saat itu hatinya mendadak tak tenang setalah mendengar perkataan Jelita yang seperti ancam itu.
Well, sebenarnya Bara sama sekali tidak takut dengan ancaman istri kecilnya itu. Mau bagaimana pun juga Jelita adalah miliknya dan tidak ada satu hal pun yang membuat istrinya itu berpisah dengannya.
Tapi yang membuat Bara menjadi gusar adalah perlakuan Jelita yang terus menjauh darinya dan itu benar-benar membuat frustasi.
Seperti saat Jelita sedang menyusui Gala di ranjang mereka, saat itu Bara baru selesai pulang bekerja dan langsung berjalan memasuki kamar mereka.
Bara membuka pintu dan tersenyum tipis saat melihat Jelita menyusui Gala, saat ia hendak berjalan kearah istrinya.
Jelita dengan cepat memasukkan kembali payvd4ranya agar tak terlihat oleh Bara dan mengganti susu Gala dengan cara menggunakan botol.
Bara mendengus kesal melihatnya, ia tahu jika istrinya tak ingin memperlihatkan miliknya itu pada Bara. Namun tak apa, Bara memakluminya karena mengganggap Jelita masih dalam mode ngambek karena sikap Raisa.
Tapi kenyataannya tidak saat itu, tapi setiap hari Jelita menjauhi Bara.
Dari tidak menyiapkan perlengkapan suaminya, tidak mengajak ngobrol suaminya, hingga di kantor pun Jelita menjadi mendiami Bara.
Dan yang lebih parah adalah Bara tidak di beri jatah lebih dari satu bulan oleh Jelita!
"ARGHHHH!!!!" teriak Bara sembari mengacak rambutnya frustasi.
Pria dengan setelan jas formal yang sedang duduk di kursi penumpang di mobilnya itu benar-benar sudah muak dengan perlakuan istrinya yang terus bersikap asing padanya.
"Baiklah Jelita, aku turuti semua keinginan mu!" gumamnya kesal.
Mobil yang ditumpangi Bara berbelok ke arah restoran mewah bertaraf internasional dimana Bara sudah memiliki janji dengan seseorang.
Setelah mesin mobil dimatikan, Gio segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk tuannya.
BRAKK...
Setelah Bara keluar dari mobil, pria mapan itu membanting pintu mobilnya untuk menyalurkan rasa kesal yang ditimbunnya beberapa Minggu ini.
"Silahkan tuan," ajak Gio mendahului jalan memasuki restoran.
__ADS_1
Restoran itu nampak sangat mewah dan hanya berisi tamu yang memiliki dompet yang cukup tebal. Itu terbukti karena para pelanggan yang datang di petang hari ini memakai setelan jas yang cukup mahal, dan wanitanya juga memakai dress milik designer terkenal.
Bara menengok ke kanan dan kiri untuk mencari seseorang yang sudah sampai terlebih dahulu di restoran ini.
Pria itu tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju seseorang yang sudah ia temui melalu ekor matanya.
"Papa, Mama..." sapa Bara lalu menarik kursi yang berhadapan dengan kedua orangtuanya yang sudah ia ajak untuk berbicara enam mata.
Melihat anaknya sudah tiba, Doddy dan Fara tersenyum lebar dan memeluk tubuh anaknya singkat.
"Ada apa sebenarnya sayang ? Kenapa kamu mengajak kita mengobrol di luar ? Kenapa tidak di rumah ? Memang ada hal penting apa ?" tembak Doddy secara langsung.
Fara menginjak kaki suaminya di bawah meja dan memberikan pelototan tajam pada suaminya. "Kau ini, kita jarang-jarang kumpul keluarga malah langsung menanyai anak kita panjang lebar." kesalnya, kini mata Fara menatap Bara yang sedang meminum winenya. "Bagaimana kalau kita makan dulu, nak ?" tawarnya.
Bara tersenyum singkat lalu menganggukkan kepalanya.
Mereka memanggil pelayan dan memesan makanan, sembari menunggu pesanan mereka tiba. Keluarga kecil itu saling berbicara dan sesekali tertawa.
Satu jam kemudian makanan mereka datang, pembicaraan berhenti dan mereka memakan makanannya dengan tenang tanpa suara.
...o0o...
"Aku selesai," ucap Doddy yang seperti biasa mendahului mereka makan.
Bara menganggukkan kepalanya mengerti meminum air di mejanya dan mengelap bibirnya dari sisa makanan dengan tisu.
Sebelum berbicara, Bara menghela nafas panjang dan menatap bergantian kedua orangtuanya.
"Ada apa nak ? Katakan saja!"
Mendengar nama Raisa disebut, mata Fara langsung berbinar. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala antusias. "Ya sayang, Raisa benar-benar sebanding dengan keluarga kita. Apalagi dengan kamu dan Gala, benar-benar kombinasi yang sempurna!"
"Maksudnya ?" tanya Bara pura-pura tak mengerti. "Apa maksud ibu mengirim Raisa kepadaku ?" jelasnya.
Fara berdecak, menatap Bara kesal. "Ya tentu saja agar kalian menjadi dekat. Ibu menyuruh Raisa agar selalu menempel padamu agar kamu terbiasa dan lama-kelamaan akan menyukai Raisa," jawabnya jujur.
Bara meminum winenya lagi, saat merasakan tenggorokan kosong, ditatapnya sang ayah yang sibuk bermain ponsel. "Untuk apa aku dan Raisa dekat, Ma ? Aku rasa itu tidak penting, karena Raisa bukanlah seorang pebisnis, jadi aku tak perlu berdekatan dengannya!"
"Sayang," Fara berdiri dan kini duduk di kursi bersebalahan dengan Bara, digenggamnya kedua tangan anaknya itu. "Tentu saja Mama mendekatkan kalian untuk kearah hubungan yang lebih serius. Gala butuh figur seorang ibu yang bisa dijadikan panutan," jelas ibunya.
Bara diam, ia lebih memilih untuk mendengarkan seluruh ucapan ibunya daripada memotong-motong terus.
"Apa yang bisa dibanggakan dari wanita seperti Jelita ? Dia itu aib, pasti Gala malu jika mempunyai ibu seperti dia, apalagi jika dia tahu jika Jelita dikeluarkan dari tempat kuliahnya dan hanya lulusan SMA, pasti dia sangat malu!"
"Ibu adalah seorang guru pertama bagi anak mereka. Maka dari itu Mama ingin memberikan yang terbaik untuk cucu pertama Mama sekaligus penerus perusahaan kita selanjutnya. Salah satunya dengan cara memberikan ibu yang baik untuk Gala!" final Fara tersenyum menatap Bara antusias.
Bara menyentak tangan ibunya diatas punggung tangannya. "Aib ? Jelita tidak memiliki aib, karena aku yang menorehkan aib itu padanya. Aku sumber aibnya, Ma. Dan saat anakku sudah besar nanti aku sendiri yang akan menjelaskannya. Bahwa ibunya adalah wanita hebat karena lebih mengutamakan dirinya hingga keluar dari sekolah, menerima hinaan dari semua orang yang menggunjingnya, bahkan ia bekerja sebagai seorang office girl di perusahaan keluarganya sendiri. Itu semua ia lakukan demi Gala, anak kami!"
"Jadi aku rasa tidak ada ibu yang lebih baik daripada Jelita. Mungkin dia hanya lulusan SMA dan kurang membanggakan bagi Mama. Tapi bagiku dan Gala pendidikan tidak penting. Karena yang aku dan Gala butuhkan hanya Jelita, wanita tangguh yang berhasil merebut hati kamu sepenuhnya."
Tubuh Fara dan Doddy mematung saat melihat Bara yang sudah berdiri dari duduknya.
"Aku mohon bawa Raisa jauh dari keluarga kecilku. Aku bisa mencopot gelar CEO ku dan hidup bahagia dengan keluargaku di luar negeri dengan membuka usaha baru."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Bara bersama dengan Gio pergi keluar dari restoran meninggalkan kedua orang tua itu.
"Sudah kukatakan berapa kali padamu, Fara! Untuk berhenti ikut campur dengan keluarga anakku!" kecam Doddy yang muak dengan tingkah istrinya.
Fara memutar bola matanya malas, "itu semua demi Gaβ"
"Sudah hentikan! Kalau sampai Bara benar-benar keluar dari perusahaan, bukan Bara saja yang akan berpisah dengan istrinya! Tapi aku juga akan menceraikan mu!" ancam Doddy. Saat ini perusahaan mereka yang ada di Indonesia tengah mengalami kenaikan saham yang begitu signifikan karena berada di tangan Bara.
Jangan sampai jika Bara keluar dari perusahaan malah saham kembali anjlok. Meskipun mencintai istrinya, Doddy akan tetap memilih perusahaan yang sudah dibangun oleh keluarganya berpuluh-puluh tahun itu.
...o0o...
"Nyonya...."
"Nyonya....."
Teriak Mira nyaring di lantai satu, wanita dewasa itu mencari keberadaan nyonya sembari membawa satu bucket bunga mawar putih yang sangat cantik di tangan kanannya.
Merasa nyonya tak ada di lantai satu, Mira langsung menuju kamar Gala karena mungkin saja nyonya itu ada di sana.
Ceklek...
Pintu kamar Gala terbuka, Mira tersenyum lebar saat mengetahui nyonya ada di sana. Dengan langkah riang ia berjalan menuju Jelita.
"Nyonya!" Mira menepuk bahu Jelita.
Jelita berjengit kaget, lalu membalikkan tubuhnya yang tengah menyusui Gala yang hampir tertidur.
"Astaga kak, untung aja Gala gak ikutan kaget!" kesalnya.
Mira tertawa, lalu menyerahkan bucket itu pada Jelita dan mengambil alih gendongan Gala.
"Kamu dapet bucket bunga, tuh..."
Jelita menatap bingung satu bucket bunga itu, tangannya mengacak-acak susunan bunga itu untuk mencari kartu atau nama dari si pengirim bunga.
Wanita itu tersenyum saat menemukan sepucuk kartu yang terjatuh di batang bunga mawar. Segera ia membuka dan membawa isi kartu itu.
"Hades ?" gumam Jelita melihat isi kartu ucapan itu. "Tunggu sebentar lagi ? Maksudnya apa ?" tanyanya bingung.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA π₯°
TERIMA KASIH SEMUANYA