HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 56 - WANGI PANDAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Bagaimana apa semua sudah dikonfirmasi ?" tanya Hades.


Pria dengan setelan jas mahal itu meneliti grafik saham di layar komputer, entah apa yang terjadi kepada perusahaannya yang baik-baik saja, hingga terjadi penurunan saham yang begitu drastis.



Hades memijit pelipisnya pelan, bahkan selama ia bekerja seminggu di sini terus menaik drastis bahkan mencapai angka 100.00 dollar tapi kenapa menurun drastis menjadi 51.500 dollar.


Sungguh aneh.


"Sudah tuan, pihak IT kini tengah merubah secara signifikan teknologi kita sesuai dengan permintaan tuan. Pihak IT mengubah akses internet menjadi lebih luas dan meningkatkan jaringan kita lebih merata di seluruh daerah." Ranz menjelaskan perubahan apa saja yang terjadi di perusahaan mereka.


Perusahaan Jaguar Company merupakan perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di ASIA yang berpusat di Indonesia.


Perusahaan milik Hades itu merupakan perusahaan IT terbesar dan paling berjaya di Indonesia.


Di detik ini saja, tak ada satupun perusahaan IT yang bisa menyaingi Jaguar Company. Perusahaan itu selalu menaiki kenaikan saham setiap harinya.


Dan hari ini, ia dikejutkan dengan penurunan saham lebih dari 48 %. Sungguh sangat mengherankan.


"Baguslah, aku tadi sudah merubah akses jaringan kita dengan formula baru. Sampaikan kepada karyawan IT untuk mengikuti akses jaringan baruku," pinta Hades yang langsung diangguki oleh Ranz.


Dengan segera, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelfon seseorang. Sedangkan Hades masih fokus dengan layar komputernya yang memperlihatkan saham perusahaan yang terus bergerak naik.


Setelah hampir satu jam, Ranz menyelesaikan panggilannya. "Sudah tuan, mereka merubah akses jaringannya."


"Saham berangsur naik kembali..." sambung Ranz.


Hades tersenyum, ia terus memperhatikan grafik merah yang kini tengah berubah menjadi hijau.



Tidak mau berfikir negatif tapi turunnya saham ini, pasti ada sangkut pautnya dengan Bara. Hades tersenyum miring. "Apa Bara sudah tahu jika aku adalah dalang dibalik turun saham di perusahaannya ?" gumamnya yang tak di dengar oleh Ranz yang sibuk dengan ponselnya.


"Bara lo udah tau ya ?" tanyanya dengan tawa kecil.


Setelah puas memandangi layar komputer, Hades berdiri dari duduknya yang membuat Ranz mengalihkan perhatiannya pada tuannya.


"Sudah kamu bawakan uangnya ?" tanya Hades.


Ranz menganggukkan kepalanya, ia mengambil 4 koper di dekat sofa, lalu membukanya di hadapan Hades. Memperlihatkan bergepok-gepok uang di dalamnya. "Sudah tuan," jawabnya. "Total uangnya sesuai dengan permintaan tuan, 250 Milyar rupiah."


Hades menganggukkan kepalanya, ia memang meminta Ranz mengambil uang itu di akun rekening pribadinya. "Kita berangkat ke ADN Corp sekarang dan aku ingin menyerahkan seluruh uang itu untuk membayar tanah milik Bara itu."


Setelah mengadakan itu ia keluar dari ruang kerjanya, diikuti oleh Ranz dibelakangnya dengan membawa 4 koper tadi.


Mereka memasuki lift, dan setelah keluar lift mereka berjalan menuju parkir mobil tempat dimana mobil Hades terparkir.


Hades duduk di bangku belakang kemudi bersama dengan 4 koper uangnya sedangkan Ranz duduk didepan kemudi.


Mobil bergerak meninggalkan perusahaan Hades, dengan Ranz yang masih terdiam dengan pikirannya.


Hades yang melihat Ranz diam di kaca spion dalam mobil, mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa ?" tanyanya pada akhirnya. "Apa yang menganggu pikiran mu ?" sambungnya.


Ranz tersenyum kikuk, lalu membalikkan badan menatap Hades. "Saya hanya sedikit bingung, tuan. Untuk apa anda membeli tanah itu dengan harga yang tinggi ? Padahal harga pasarnya gak lebih dari 20 Milyar, tapi kenapa anda membeli tanah itu sebanyak 250 Milyar rupiah ? Saya rasa tidak hanya tanah itu yang strategis, banyak tanah di Jakarta yang sangat strategis dan sangat jauh lebih murah," akhirnya Ranz mengeluarkan keluh kesahnya akhir-akhir ini.


"Tidak ada yang perlu kau tahu, Ranz." Hades tampak tak menyukai ucapan Ranz, secara tak langsung pria itu mengatakan jika ia telah bodoh karena mau membeli tanah itu dengan harga 12 kali lipat dari harga pasar. "Yang perlu kau tahu hanya bagaimana, aku bisa mendapatkan tanah itu!"


"Ba–baik, tuan," jawab Ranz gugup.


Tak ada lagi percakapan yang terjadi, keheningan mengisi mobil itu.

__ADS_1


Perjalanan menuju perusahaan Bara yang memakan waktu hampir 3 jam itu sungguh sangat membosankan.


Ranz yang merasa bersalah, dan Hades yang menyusun berbagai rencana licik di otaknya.


Hingga tak terasa mobil itu sudah sampai pada kawasan perusahaan Bara yang tinggi menjulang.


Ranz membukakan pintu untuk Hades dan kembali membawa 4 koper itu. Mereka berjalan melewati para karyawan yang memandang Hades dengan liar.


"Saya ingin ke ruangan CEO, Bara!" tekan Hades pada dua resepsionis. "Saya sudah memiliki janji dengannya," sangkal Hades berbohong.


Resepsionis itu menganggukan kepalanya mengerti, ia terhipnotis dengan ketampanan wajah milik Hades. "Ba–baik, pak. Lantai tuan Bara di lantai paling atas yaitu lan–"


Tak mau mendengarkan lagi, Hades segera berjalan menuju lift bersama dengan Ranz yang setia dengan membawa koper berisi uang itu.


Ting....


Pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan berjalan menuju satu-satunya ruangan yang berada di ujung lorong.


Otomatis itu adalah ruangan milik Bara.


"Tuan, ada siapa kemari ? Apa sudah ada janji dengan tuan Bara ?" pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut Gio yang menghadap jalan kedua orang pria kaya itu.


Hades menaikan sebelah alisnya, menatap Gio remeh. "Awas! aku ingin bertemu Bara !" titah Hades.


Namun saat ingin melangkah Gio kembali menghalangi jalan mereka hingga membuat Hades serta Ranz geram.


Ranz menurunkan koper-koper itu di lantai, dan mendekati Gio. Kini Ranz yang menghadang Gio, dan mempersilahkan Hades untuk memasuki ruangan Bara.


"Tuan, tolong jangan! Tuan Bara sedang sibuk saat ini!!" teriak Gio nyaring di belakang tubuh Ranz.


Dalam hati ia berharap tuannya mendengar teriakannya.


Sedangkan Hades menulikan teriakan-teriakan Gio, ia membuka pintu itu dengan sangat kasar bersama dengan Ranz dan Gio dibelakang panggungnya.


BRAKKK.....


"ARGGGHHHHHHHHHH........" saat pintu itu terbuka, bersamaan Hades melototkan matanya melihat Jelita yang bertelanjang d4d4.


Setengah mati menahan hasrat, Hades langsung mendorong Ranz dan Gio untuk keluar ruangan.


...o0o...


Setelah kecanggungan beberapa saat yang lalu, kini Hades, Gio dan juga Ranz kembali masuk ke ruangan kerja milik Bara saat pemilik ruangan itu mempersilahkan mereka untuk masuk.


Mata Hades bergerak kesana-kemari, mencari keberadaan wanita yang berhasil menaikkan hasrat s3ksu4lnya hanya dalam sekali tatap.


"Silahkan duduk, tuan muda Jagakarsa." Dengan senyuman manis, Bara mempersilahkan tamu tak diundangnya untuk duduk.di sofa yang terletak di depannya.


Sedangkan kedua orang sekretaris itu–Gio dan Ranz– berdiri di depan pintu dengan mata yang memperhatikan masing-masing tuan mereka.


Hades duduk, dengan mata yang masih memperhatikan kej4nt4nannya. "Sialan dia masih terbangun..." desis Hades dalam hati.


"Selamat datang di perusahaan yang sangat mungil ini," ucap Bara merendah, ia mengulurkannya tangannya di hadapan Hades, dan disambut oleh Hades–mereka saling bersalaman. "Maaf jika tidak ruangan ini sangat kecil, dan membuat pengap tuan muda Jagakarsa."


Hades memainkan lidahnya dalam mulut, Bara sangat merendah. Padahal perusahaan sama besarnya dengan miliknya.


"Ah, tidak tuan Adinata. Perusahaan ini sangat besar," jawab Hades menimpali, lalu matanya menatap sudut ruangan kerja Bara. "Dan ruang kerja anda juga luas, ada sedikit wangi pandan juga dekat sini," sambung Hades menggoda Bara.


Mendengar kata bau panda membuat Bara tertawa, kejadian memalukan tadi diruangannya.


"Ya, tuan Hades. Wangi pandan itu asli buatan istriku," Bara tertawa kecil. "Istriku memang pintar jika disuruh membuat wewangian pandan. Apabila jika pada pagi hari ini..."


Tangan Hades terkepal, bukan karena marah tapi menahan hasrat. Dan rasanya ia ingin sekali menyalurkan h4srat itu kepada Jelita saat ini juga.


"Ah lupakan dengan wangi pandan milik istriku, jadi apa yang membuat tuan Hades datang kemari ?" tanya Bara yang menahan tawa melihat wajah pucat Hades.


Sebagai seorang pejantan tangguh, Bara tahu jika Hades kini tengah dalam h4srat tinggi.


"Ekehm," Hades berdeham sebentar, lalu menatap Bara serius. "Aku ingin membeli tanah salah satu tanah di bawah tangan perusahaan milik anda. Tapi sepertinya anda tidak ingin melepaskan tanah yang saya maksud itu. Padahal saya ingin membayar 12 kali lipat dari harga pasar," sambung Hades.


Bara menganggukkan kepalanya, ia merubah raut wajah jahilnya menjadi serius. "Bukankah waktu itu sudah saya tolak ? Kenapa anda sangat memaksa ingin tanah itu ? Bahkan sampai repot-repot datang kemari."

__ADS_1


"Saya berbaik hati ingin membawa uang saya langsung di hadapan tuan." Hades membalikkan badan dan mengkode sekretarisnya membuka keempat koper itu di atas meja depan sofa. "Dua ratus lima puluh Milyar rupiah!"



(((Ranz lagi sibuk nata uang :())))


"Bagaimana tuan Bara ? Saya harap anda sedikit mendengar tengang ancaman saya melalu surat yang sekretaris saya kirimkan ?" sambung Hades dengan seringainya.


Bara tersenyum kecil, uang dihadapannya ini tentu tak ada apa-apanya dengan miliknya. Tapi yang membuat Bara heran adalah apa faktor utama Hades membeli tanahnya dengan harga yang begitu gila begini ?


"Ancaman yang mana yang tuan Hades maksud ?" tanya Bara pura-pura tak mengerti. "Bukannya sudah hampir seminggu ini perusahaan anda yang terus menganggu perusahaan saya ? Saham perusahaan saya, anda kan yang membuatnya turun ?" tembak Bara langsung.


Tangan Hades terkepal, dari raut wajah Bara sepertinya pria itu sama sekali tak takut dengan ancamannya. "Bukannya sama ? Anda juga kemarin yang membuat perusahaan saya hampir bangkrut?!?!" jawab Hades menimpali.


"Anda sebaiknya mengaca tuan Hades, anda duluan yang mulai menyenggol saya! Perlu anda ingat perusahaan milik andalah adalah perusahaan IT sedangkan perusahaan milik saya adalah perusahaan properti. Jadi stop ganggu bisnis saja! Anda buat saya kelelahan!"


Hades mengalihkan pandangannya kearah lain, Bara menembaknya secara langsung dan dia tak berkutik.


"Apa anda melakukan ini karena istri saya ? Anda mencintai istri saya ?" tembak Bara lagi dengan seringai liciknya.


Baru akan menjawab pertanyaan Bara, seorang wanita dengan kecantikan bak Dewi Yunani keluar dari ruangan kecil yang berada di ujung ruang kerja Bara. Kulit yang seputih susu, membuat Hades serta Bara tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Jelita yang datang mendekat dengan pakaian baru.


"Tu–tuan, saya ijin pergi ke dap–"


"Mau kemana sayang ? Duduklah di sini." Bara menepuk-nepuk pahanya, mengkode Jelita untuk duduk diatas pahanya. "Ada tamu di sini, kemarilah dan sambut dia."


Muka Jelita kembali memerah, mengingat kejadian beberapa saat lalu.


"Duduk sayang," titah Bara sekali lagi. "Ada teman sekolah kamu itu."


Hades sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari Jelita. Wanita idamannya itu benar-benar sempurna. "Duduk saja, Ta." kali ini Hades yang bersuara.


Sebentar Jelita ingin balik ke dapur saja, tapi dikarenakan di dekat pintu sudah ada dua orang yang melihat tubuhnya hampir n4ked itu. Ia jadi sangat malu jika nanti melewati tubuh Gio dan Ranz saat keluar nanti.


Jadi dia memutuskan untuk duduk di samping Bara dengan kepala menunduk. Pasalnya kini semua perhatian ada pada Jelita.


"Kenapa kamu berganti pakaian sayang ?" tanya Bara menggoda.


"Ba–baju yang tadi basah...." jawabnya dengan suara kecil.



Bara tertawa, sedangkan Hades menahan mati-matian keinginannya untuk meng4g4hi Jelita di bawahnya. Mendes4ahkan namanya kencang.


"Gio dan sekretaris Hades, silahkan keluar ruangan. Biarkan istriku berbicara santai dengan temannya ini..." usir Bara kepada kedua sekretaris itu. Hingga kini diruangan itu hanya ada Bara, Jelita dan juga Hades.


Ahh, rasanya Hades benar-benar tak sabar menunggu hari itu datang.


"Kamu setelah melahirkan semakin seksi, Ta. Badanmu benar-benar luar biasa," puji Hades secara terang-terangan. Tak sadarkan dia jika di hadapannya ada sang suami ?!?!?????


BENAR-BENAR BOCAH KURANG AJAR!!!


Tak marah mendengar ucapan Hades, Bara malah semakin tertawa. Dengan sengaja ia menarik Jelita hingga jatuh diatas pangkuan.


"Ahh...kakak..." teriak Jelita terkejut.


"Tentu saja istriku ini tambah cantik, dan juga se**ksi. Aku sering memijat p4yud4ra-nya begini," tangan Bara dengan kuat meremas d4d4 Jelita hingga wanita itu memekik kencang.


"Lalu aku juga memberikan kepuasan batin, yang membuat istri kecilku ini meminta terus dan tidak mau berhenti," sambung Bara membuat.


Bara menjatuhkan tubuhnya istrinya, hingga yang ada dipangkuannya ini hanya bongk4h4n p4ntt sang istri.


Plak....


Plak.....


Berulangkali Bara menampar keras p4ntt putih mulus Jelita. "Dari sini, bau pandan itu berasal. Kau mengerti BOCAH ????" sindir Bara pada pria yang 10 tahun lebih mudah darinya itu.


Bocah itu mau merebut istrinya ? Yang benar saja!


Tangan Hades terkepal dikedua sudut tubuhnya, berusaha mengalihkan pandangannya, tapi pemandangan di depannya benar-benar sulit di lewatkan. Hingga tak ia sadari jika sinyal dibawahnya sudah ikut berdiri...........

__ADS_1


...o0o...


KALAU SUKA SAMA CERITA JELITA JANGAN LUPA LIKE+KOMEN SAMA GIFTNYA YA SAYANGNYA RATU 🥺


__ADS_2