
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
3 Minggu kemudian....
Sudah tiga Minggu Jelita bekerja di perusahaan ini menjadi Office Girl, kini Jelita sudah menghafal seluruh tempat yang berada di gedung besar ini.
Mulai dari lantai 1 hingga rooftop, Jelita paham dan hafal seluruh devisi yang berada di kantor. Ia dengan riang bekerja di sini, ternyata bekerja menjadi Office Girl tak seburuk seperti yang ada di pikirannya.
Jika ia disuruh beli makan, maka uang kembaliannya akan masuk dalam kantung sakunya. Sangat lumayan bukan ?
Apalagi pegawai di sini sangat ramah kepadanya. Berkat parasnya yang sangat cantik itu pula ia mudah bergaul dengan orang-orang kantor.
Seperti saat ini, ia sedang membuatkan kopi untuk seluruh devisi keuangan yang sejak tadi mengeluh pusing akibat proposal mereka yang di tolak oleh CEO meskipun sudah tiga kali melakukan revisi total.
"Permisi, kakak-kakak, om, Tante. Nih biar gak pusing Jelita buatkan kopi hitam, biar matanya pada melek semua..." ucap Jelita dengan senyum lebar meletakan satu persatu gelas berisikan kopi hitam kelima meja staff keuangan itu.
Mereka menyambut kedatangan Jelita dengan sorak senang. Ia yang mereka tunggu-tunggu, kopi hitam buatan Jelita.
"Hm, enak banget asli!" ucap Devi meminum kopi hitam itu.
"Siapa dulu ya ngaduk ? Jelita gitu loh!" jawab Aurel.
"Yoi, buatan dedek Jelita memang top. Bisa nih dijadiin istri," ucap Yohan yang mengundang sorakan dari keempat rekan kerjanya.
"Bukannya lo udah ada cewek Han ?Masih mau deketin yayang Jelita gue ?" tuduh David.
"Emang tuh sih Yohan, udah gila kayaknya," kini giliran Lula ikut mengomentari.
Rata-rata seluruh pegawai di sini memang sudah tahu jika Jelita hanya tamatan SMA. Bukan malah menjauh, mereka malah merangkul Jelita, menganggapnya seperti adik kandung sendiri.
Dan itu membuat Jelita menjadi merasa nyaman berada di kantor dibandingkan dengan rumahnya yang seperti perkumpulan para iblis.
"Ih udah-udah, kenapa malah godain Jelita sih," jawabnya dengan rona marah yang menjalar pada wajahnya. "Eh ini ada yang mau nitip beli makanan buat makan siang ? Kalau engga Jelita balik ke lantai bawah," tanyanya.
Kelima staff keuangan itu saling lirik lalu menggelengkan kepalanya. "Kayaknya enggak deh, Ta. Hari ini kita mutusin gak makan siang. Soalnya ini kerjaan benar-benar numpuk. Dan CEO minta semua tugas harus selesai hari ini juga!" ucap Aurel dengan wajah sedihnya.
"Emang sadis banget tuh pak Bara, mending ayahnya yang kerja daripada anaknya!" David menghela nafas kasar seraya mengacak rambutnya kasar.
Oh ya, ada satu hal yang Jelita lupakan. Iblis itu sudah menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan ini.
Awalnya saat ia belum bekerja di sini, hidup Jelita penuh dengan ketentraman. Namun saat pria itu bekerja tepat pada seminggu Jelita bekerja, Jelita merasakan kebebasannya perlahan hilang.
Bara selalu saja meminta ini dan itu setiap waktu, minta di buatkan kopilah, minta pijat, minta di siapin.
Dan yang paling parah adalah permintaan Bara, dua hari yang lalu. Ia minta Jelita menari dengan pakaian minum seperti para wanita yang bekerja di Bar, lalu Bara akan melakukannya di ruang pribadinya. Yang membuat Jelita bekerja dengan kaki pincang, karena menahan rasa perih pada daerah intinya.
__ADS_1
Memang jika pada dasarnya Brengsek, maka akan tetap brengsek.
"Eh Jelita, gue boleh minta tolong gak ?" tanya Lula menatap Jelita dengan penuh harap. "Boleh lah kak, masa gak boleh. Itu kan sudah jadi kerjaan Jelita!" jawabnya dengan senyum lebar.
Lula bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Jelita dengan membawa map bersampul merah. "Ini," ia menyerahkan map itu pada Jelita dan di terima olehnya.
"Apa ini kak ?" tanyanya.
"Lo kan dekat banget sama pak Bara, gue lihat selama pak Bara kerja di sini, dia selalu makan siang bareng lo. Jadi ini map tolong kasih ke mejanya pak Bara ya ?" pintanya dengan puppy eyes yang terlihat menggemaskan. "Gue banyak kerjaan Ta, gue yakin kalo lo yang kasih ke pak Bara pasti langsung di terima," sambungnya.
Jelita membulatkan matanya terkejut lalu menggeleng, ia tak setuju dengan permintaan Lula. "Gak ka–"
"Bener tuh, kayaknya pak Bara itu kasihan deh sama hidup lo yang tragis mangkanya dia selalu sabar kalo dekat lo," ucap Aurel yang diangguki oleh kelima temannya.
Hah ? Kasihan ? Yang benar saja! Malah Bara yang menyebabkan hidupnya menjadi tragis seperti ini! "Gak bis–"
"Tolong Jelita!" ucap mereka kompak dengan satu kali tarikan nafas.
Mendengar itu Jelita jadi tak kuasa, ia menganggukkan kepalanya lesu. "Ya sudah," jawabnya yang mendapatkan sorakan senang dari mereka berlima.
...o0o...
Kini Jelita sudah berada di lantai ruang kerja khusus milik CEO, di ruangan ini hanya ada 2 ruangan kerja. Milik CEO dan asisten CEO.
Dengan lesu Jelita melangkahkan kakinya berjalan keruangan Gio yang berada di depan ruang CEO.
tok...tok...tok..
"Masuk!"
Mendengar ucapan lembut adik dari bosnya itu, Gio berdiri dari duduknya dan mengacak pelan rambut lembut Jelita. "Baiklah gadis manis, ayo ke ruangan Tuan Bara," jawabnya lalu membuka pintu ruangan Bara.
Ya, untuk Gio, memang Jelita bersikap normal. Karena di perusahaan ini hanya Gio seorang yang tahu siapa Jelita.
Tak sama seperti pegawai lain, Gio menghormati Jelita sama seperti ia menghormati Bara.
"Tuan, nona Jelita datang," ucap Gio yang mengalihkan atensi Bara dari layar komputer ke adiknya.
Ia tersenyum kecil melihat adiknya datang, entah perasaannya saja tau bagaimana tapi sekarang tubuh adiknya terlihat menggendut.
"Oke, keluarlah Gio!" titahnya.
Gio menunduk dan keluar dari ruangan Bara. Meninggalkan kedua kakak adik itu di dalam ruangan Bara.
Saat Gio sudah keluar dari ruangan Bara, Jelita segera melangkahkan kakinya untuk mendekati meja kerja kakaknya.
Namun saat beberapa langkah lagi kakinya sampai ke meja Bara. Ia menutup hidungnya saat Indra penciumannya mencium bau tajam yang membuatnya mual.
Dengan tangan kiri yang menutup hidungnya, Jelita meletakkan map merah itu di atas meja kerja Bara. "Ini tuan, proposal dari devisi keuangan," ucapnya dengan suara sengau karena ia menjapit hidungnya. Meskipun ia benci Bara, tapi ia harus profesional. Ia harus memanggil Bara dengan sebutan tuan.
Bara mengangkat kedua alisnya bingung dengan sikap Jelita. Ia sedikit sakit hati, dengan perilaku Jelita.
Tak memperdulikan map itu, kini Bara mencium badannya sendiri yang terasa tak bau.
__ADS_1
"Kakak gak bau, kenapa di tutup hidungnya ?" tanyanya dengan suara tajam. Egonya tergores tak terima dengan perilaku Jelita.
Jelita menjapit hidungnya semakin kuat. "Gak tau tuan, tapi bau...huek..." Jelita menutup mulutnya saat cairan yang berada di tenggorokannya ingin keluar.
Melihat itu Bara jadi khawatir, ia bergerak berdiri dari duduknya dan mendekati Jelita. Namun semakin Bara mendekat, Jelita akan semakin menjauh.
"Tu–tuan jangan mendekat, Jel–jelita mau mun–hoek...."
Tak kuat menahan gejolak tak enak pada perutnya, Jelita segera berlari menuju kamar mandi yang berada di ruangan Bara lalu memuntahkan segala isi perutnya.
Tentu saja Bara membantu Jelita, ia menatap Jelita dengan penuh kesedihan. Dengan telaten Bara memijat tengkuk Jelita, membantu wanita itu mengeluarkan isi perutnya.
"Hiks...hiks...sakit.. perut Jelita sakit...." ucapnya lirih.
Bara segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dja menghubungi asistennya. "Bawa satu dokter kemari! Cepat!"
Panggilan berkahir, Bara melempar ponselnya acak, lalu membantu Jelita membersihkan wajahnya. Setelahnya menggendong tubuh itu untuk ditidurkan di ruang pribadinya yang terdapat kasur.
"Sebentar.lagi dokternya datang, sabar ya sayang..." ucap Bara menenangkan Jelita dan mengusap air mata dari cinta pertamanya itu dengan lembut.
...o0o...
Beruntungnya karena di perusahaan Bara memang di sediakan klinik kesehatan yang terdapat 1 orang dokter.
Jadi hanya membutuhkan waktu lima menit, dokter itu bisa datang ke ruangan Bara untuk memeriksa Jelita.
"Apa anda bulan ini sudah halangan ?" tanya dokter itu dan dijawab gelengan oleh Jelita dengan lemas.
Dokter itu menganggukkan kepalanya mengerti dan bangkit dari duduknya, yang semula duduk di tepi ranjang Jelita.
"Bagaimana ? Dia sakit apa ? Pasti kena maag, dia memang sulit sekali di suruh makan!"
Dokter itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya menatap Bara yang sejak tadi tersenyum sembari mengelus pelan kepala Jelita.
Dalam hati dokter itu bertanya-tanya, apa hubungan CEO mereka dengan Office Girl itu ?
"Tidak tuan, bukan maag. Tapi Jelita saat ini tengah mengandung di usia kehamilan yang bisa di bilang muda. Jadi itu yang membuat tubuhnya lebih sensitif sekarang," jawab Dokter itu tak menghilangkan senyumannya.
Mendengar jawaban Dokter itu membuat elusan yang berada di kepala Jelita berhenti. Begitupula dengan Jelita, tubuhnya yang tadi sangat terasa lemas dan tidak bisa digerakkan mendadak pulih dan jauh lebih kuat.
Bara dan Jelita saling tatap dengan mata melebar. "HAMIL!?!?!?" pekik merek terkejut.
Ini adalah kabar baik baik Bara, tapi mimpi buruk bagi Jelita.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA