
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Tidur Bara terusik saat merasakan ada seseorang yang mengelus lembut rambutnya. Memberikannya rasa nyaman tapi juga membuat dirinya kaget hingga terbangun.
Perlahan mata Bara terbuka, pria itu mengerjabkan matanya beberapa kali guna menyesuaikan pencahayaan yang masuk melalui indra pengelihatannya.
“Papa, ayo bangun nanti kamu bisa terlambat. Gala aja udah bangun daritadi.” Suara lembut yang berasal dari seorang wanita yang berada disebelahnya membuat senyum Bara seketika terbit
Pria itu menatap Jelita yang sudah cantik dengan dress berwarna putih bermotif bunga. Rambut yang dibuat bergelombang diujungnya, serta bando yang berwarna senada dengan dress-nya itu membuat Jelita semakin terlihat sangat luar biasa cantik dimata Bara.
“Kamu senyum-senyum ngapain sih, Pa ? Ayo sudah cepat bangun, kalo kamu terlambat bisa dipecat Papa Doddy!” ucap Jelita menakut-nakuti Bara.
Bukan takut, Bara malah tertawa mendengar ucapan Jelita. Benar-benar sangat menggemaskan.
Dengan sekali tarikan, tubuh Jelita sudah berada di atas tubuh Bara dengan pria itu yang memeluk pinggangnya erat. “Sayang, aku tidak akan pernah di pecat. Aku CEO-nya! Perusahaan itu kini sudah berpindah tangan menjadi milikku!” sombongnya. "Bahkan saat aku sedang tidur seperti ini, uang akan terus mengalir pada rekening ku!"
Jelita memutar bola matanya malas, lalu berusaha melepaskan pelukan Bara pada tubuhnya. “Iya-iya, suamiku memang yang paling kaya!”
Lagi-lagi Bara tertawa, pria itu merubah posisiya menjadi duduk diatas ranjang dengan senyum yang masih terpatri pada wajahnya. “Berikan aku morning kiss, aku akan langsung mandi,” pinta Bara.
Mata Jelita melotot mendengar perminta Bara, dengan lembut ia mendorong dada Bara yang sudah mendekat kearahnya. “Pa, sudah jangan bermain-main. Ini sudah siang, aku harus menjemur Gala. Dan kamu harus berangkat kerja!”
“Sayang, cium satu kali, please…”
Jelita menghela nafas panjang, lalu mendekatkan wajahnya kearah Bara. Mereka saling tatap, lalu terseyum lebar.
Cup…
“I love you Jelita, sangat!” ucap Bara setelah ci**man pada istrinya terlepas.
Dengan wajah yang masih tersenyum, pria itu turun dari kasur dan menuju kamar mandi.
Brakk…
Setelah suaminya menghilang dari tatapannya, perlahan senyum Jelita menghilang dari wajahnya digantikan dengan wajah datar. “Hanya dua tahun,” gumamnya.
__ADS_1
Jelita segera berdiri dari ranjang lalu mempersiapkan pakaian kerja suaminya, ia berdiri di depan lemari Bara lalu mengambil pakaian sesuai dengan moodnya, setelah itu ia meletakkan kemeja, jas, dan celana yang sudah ia pilih sebelumnya di atas ranjang . Ia segera keluar dari kamar untuk menemui sang bayi.
Ceklek...
Jelita membuka kamar anaknya, dan mendapati Mira-baby sitter Gala yang sedang kesusahan menghentikan tangisannya. Mira menepuk-nepuk pant bayi itu, bukannya berhenti, Gala malah semakin menangis.
“Ada apa Mir ?” tanya Jelita.
Mira membalikkan badannya menatap sang nyonya dengan cemas. “Anu-nya, den Gala gak mau tidur. Padahal sudah saya berikan susu.”
Tangannya Jelita terulur kedepan mengkode Mira untuk menyerahkan Gala padannya. Dengan hati-hati Mira memindahkan tubuh Gala yang menangis itu kepada ibunya.
"Stt, ayo jalan-jalan sama Mama," bujuk Jelita berusaha menghentikan suara tangisan bayi itu. Jelita menimang-nimang Gala pelan.
"Kamu beresin kamar Gala ya, saya mau jemur Gala dulu, mumpung mataharinya belum naik," sambung Jelita.
Mira menganggukkan kepalanya mengerti, lalu segera melakukan perintah nyonya-nya. Sementara Jelita sudah keluar dari kamar Gala itu. Semakin hari memang Jelita semakin terlihat dekat dengan Gala. Jadi Mira bisa tenang saat Gala bersama ibunya, tak perlu merasa was-was seperti dulu, saat Jelita masih membenci anak kandungnya.
Perlahan Jelita menuruni anak tangga, dan berjalan keluar dari rumah menuju kolam ikan yang di depannya sudah tersedia sebuah box bayi yang memang khusus Bara siapkan untuk sang anak jika ingin berjemur.
"Ayo sini, kamu berjemur dulu. Biar sehat, gak kena penyakit kuning," ucap Jelita meletakkan bayi merah yang sudah berhenti menangis kedalam sebuah box khusus.
Tak lupa Jelita memberikan sebuah kacamata hitam yang melindungi putra matanya yang masih tak bisa berhadapan langsung dengan sinar matahari itu agar tak sakit.
"Kenang-kenangan, foto ini bakal mama cetak, Gal. Kalo Mama kangen kamu nanti, bisa lihat foto ini," gumamnya menatap layar ponsel dengan senyum kecil.
Gala masih diam menikmati sinar matahari yang menusuk kulitnya. Saat kulitnya sudah mulai memerah, tak lupa Jelita membalikkan tubuh Gala agar semua bagaian tubuh bayi itu terkena sinar matahari.
Setengah jam Jelita menjemur Gala, bayi itu kini tengah tertidur pulas. Sementara pada ponsel Jelita sudah terdapat puluhan foto Gala yang menggemaskan menggunakan kacamata hitam.
"Jemurnya sudah, sekarang kita masuk ya." Jelita mengangkat tubuh Gala, digendongnya menuju rumah mewah itu.
Hingga langka kaki Jelita terhenti, di depan meja makan. Ia menarik salah satu kursi lalu duduk, dengan Gala yang masih berada pada gendongannya.
Dengan cekatan ia menuangkan satu centong nasi goreng kedalam piringnya, tak lupa ia mengisinya dengan lauk dengan gerakan cepat takut Gala akan terbangun karena pergerakannya.
Satu sendok nasi goreng berhasil kedalam mulutnya, namun tidak untung sendokan yang kedua. Anaknya itu merasakan adanya gerakan, hingga ia terbangun dari tidurnya.
"Oek...oek...oek..."
"Ah, iya sayang iya..." Jelita menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan masih duduk di kursi. "Haus ya, Gala ?" tanyanya sembari membuka kancing dress-nya sebatas dada.
Gala terdiam dengan senyum lebar saat melihat sumber ASI yang sudah dikeluarkan Jelita dari pelindungnya.
__ADS_1
"Ayo Gala, buka mulut." Jelita mengarahkan dadanya pada sang anak lalu di sambut girang olehnya.
Suara sedotan itu terdengar begitu kuat, Jelita melanjutkan makannya sembari melihat wajah anaknya yang sangat kelaparan itu.
Hingga tak sadar jika dirinya ditatap oleh sang suami dengan senyum lebar. Bara benar-benar merasa bahagia melihat pemandangan ini.
Jelita tengah makan dengan menyusui sang anak. Ini adalah impian Bara sejak dulu, hidup berdua dengan Jelita hingga maut memisahkan, di temani dengan banyak anak yang memanggil mereka dengan sebutan 'Mama dan Papa'.
Cupp....
Bara mencium lama kepala Jelita, menyalurkan rasa sayangnya. Setelah itu ia mencium sang anak yang menikmati susunya.
"Aku sayang kalian berdua, aku gak bisa bayangin hidup tanpa kalian," jujur Bara menatap Jelita. "Kamu juga begitu kan, Jelita ? Tak bisa hidup tanpa kami berdua ?" tanya Bara
Jelita hanya tersenyum kikuk, tanpa ada niat membalas ucapan Bara.
"Ayo Pa, kamu sarapan dulu." Jelita mengalihkan pembicaraan.
Sedangkan Bara hanya tersenyum kecut saat tahu Jelita mengalihkan pembicaraan. Nyatanya meskipun telah memiliki tubuh Jelita seutuhnya, tidak membuat Bara bisa mendapatkan hatinya.
"Tidak sayang, aku ada meeting penting. Aku akan makan nanti saja," jawabnya. "Aku berangkat ya.."
Jelita mengambil tangan Bara lalu diciumnya punggung tangan itu. "Iya, Pa. Hati-hati di jalan."
Cupp...
Sekali lagi Bara mencium kening istrinya dan anaknya, lalu segera berbalik untuk keluar dari rumah, namun suara Jelita menghentikan pergerakannya.
"Pa, Mama lupa bilang kalo sudah selesai nifas sejak 3 hari lalu. Besok Mama ingin bekerja!" pintanya tanpa bantahan.
...o0o ...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1