HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 29 – PERUBAHAN JELITA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Sesuai janjinya dengan Bara kemarin, dengan masih merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Jelita bangun dari tidurnya pukul 6 pagi, lalu segera membersihkan dirinya.


Setelah berpakaian, wanita itu berjalan dengan pelan keluar dari kamarnya, menuju kamar bayi yang berada tepat di samping kamarnya.


Ceklek....


Dilihatnya sang baby sitter anaknya yang sedang ingin tertidur, lalu membuka mata lagi setelah melihat kedatangannya.


"Ah, nyonya, ada apa kemari ?" tanyanya berdiri dari ranjang.


Jelita tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya, berjalan menuju box bayi di sudut kamar.


"Dia tidak rewel semalam ?"


Mira–baby sitter Gala menggeleng, mendekatkan dirinya kearah Jelita. "Tidak nyonya, den Gala gak rewel. Dia tetap bangun 2 jam sekali buat minum susu. Semenjak minum ASI den Gala jadi semakin gembul," jawabnya. "Baru sekitar beberapa menit yang lalu ia tidur setelah meminum ASI yang sudah saya hangatkan," sambungnya.


Tangan Jelita mendekat kearah pipi berisi anaknya lalu mengelusnya pelan. "Baguslah, aku akan rajin-rajin pumping ASI untuknya."


Pumping ASI adalah proses memerah ASI dari pa**y*u*ara dengan menggunakan pompa.


Tanpa sadar Mira tersenyum, masih ia ingat beberapa hari yang lalu hingga kemarin betapa Jelita membenci bayi tak berdosa itu.


Ia senang jika akhirnya Jelita mulai memperhatikan Gala. Meskipun dari mata Jelita masih terpancar rasa benci. Tapi setidaknya ibu dari bayi itu mencoba untuk dekat dengan anaknya.


"Terima kasih, Nya. Den Gala pasti senang banget!"


Usapan pada wajah Gala terhenti, Jelita menarik tangannya kembali. "Kenapa dia mirip sekali dengan Bara ?" gumamnya yang terdengar oleh Mira.


Mira meringis mendengar pertanyaan Jelita, yang entah sadar atau tidak sadar itu. "Itu karena tuan Bara adalah Ayahnya den Gala."


Jelita tersenyum miris mendengar fakta itu. Ia berbalik menatap Mira dengan senyum tipis. "Ya sudah, kamu lanjut tidur. Saya mau masak buat sarapan."


Setelahnya Jelita berjalan dengan perlahan dari kamar Gala menuju dapur, satu persatu anak tangga ia turuni, meskipun harus berhenti beberapa saat, karena rasa nyeri pada jahitannya itu terasa.


Saat sudah merasa lebih baik, Jelita akan mulai berjalan kembali.


Bisa dilihatnya di dapur hanya ada 2 orang maid yang sedang memasak.


"Mau masak apa untuk sarapan hari ini ?"


Kedua maid itu berjengit kaget mendengar suara tiba-tiba dari belakang tubuh mereka. Dengan kompak mereka berbalik menatap ke sumber suara, saat melihat Jelita-lah yang datang baru mereka bisa bernafas lega.


"Nyonya, anda mengagetkan kami!" pekik mereka takut. Dan Jelita hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Mau masak apa ?" tanyanya lagi.


"Kemarin tuan Bara bilang mau makan ayam kecap untuk sarapan. Jadi hari ini kita masak ayam kecap dan nasi goreng."


"Nyonya duduk saja, kami berdua sudah pernah melahirkan. Jadi kami tahu bagaimana rasanya, apalagi jahitan nyonya belum kering!"


Jelita menggeleng, "tidak aku tidak apa, sini biar aku yang buat ayam kecapnya. Mba Risna, kamu buat nasi goreng. Kalo Mba Dea tolong buatkan jus semangka dan melon ya!"


Tak ingin membantah ucapan nyonya mereka, kedua maid itu menganggukan kepalanya. Mereka mengikuti perintah Jelita.


Hingga tak terasa sudah 1 jam mereka berada di dapur. Mereka tak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan mereka–ah maksudnya hanya memperhatikan Jelita memasak.


Pria itu tersenyum tipis lalu berjalan mendekat kearah Jelita dan memeluk tubuh berisi wanita itu dari belakang.


"Mama Jelita," bisiknya sembari mengecup daun telinga istrinya yang membuat Jelita merinding dan terkejut secara bersamaan. Tak hanya itu Bara mer**mas sedikit gumpalan bulat Bara.


Reflek, Jelita melepas pelukan itu dan membalikkan badannya menatap Bara tajam. "Astaga, kak. Jangan seperti, jangan buat aku semakin benci kepadamu!"

__ADS_1


Bara melirik kedua maid itu yang menunduk takut melihat kedatangannya. "Kalian berdua cepat bawa makanan itu ke meja makan, lalu menyingkir dari dapur!"


"Baik tuan," ucap mereka kompak.


Setelah maid itu pergi, baru Bara kini mengalihkan pandangannya pada Jelita. "Apa salah jika aku memeluk istri sendiri ?" tanyanya dengan alis terangkat.


Tangan Jelita terkepal erat dikedua sisi badannya. "Ingat perjanjian, kak!"


"Yang mana ? Kamu lupa jika istri harus melayani suami ?"


"Aku tidak suka di sentuh-sentuh!" jawab Jelita ketus.


Senyum miring terukir pada wajah Bara, ia menatap remeh Jelita. "Kontak fisik dengan suami termasuk dalam kategori melayani suami. Jika memang kamu tak bisa, perjanjian batal dan kamu akan tetap menjadi istriku untuk selamanya!" jawabnya enteng.


Jelita menghela nafas panjang, menatap Bara penuh emosi.


"Hanya dua tahun, jadilah ibu yang baik, dan istri yang melayani suaminya!"


"Baiklah, akan aku lakukan Papa Bara..."


...o0o...


"Salah!" Bara melempar satu dokumen setelah mencoretnya.


"Ini juga salah!" teriaknya menyobek setumpuk kertas yang sudah disusun menjadi sebuah makalah itu.


Bara menuliskan huruf "X" besar pada dokumen terkahir dan membantingnya dengan keras. "Kenapa kalian bodoh sekali ?" tanya Bara menatap kelima anak buahnya dengan tajam.


Sedangkan kelima anak buah Bara dari divisi keuangan sudah gemetar ketakutan mendengar suara amarah Bara.


Meskipun ini tak menjadi yang pertama bagi mereka dimarahi oleh CEO baru itu, tapi tak ada yang tidak takut dengan Bara di perusahaan ini.


"Maafkan saya, Pak! Kami akan segera merevisi ulang semua dokumen itu. Kami akan memperbaiki cara penyusunan anggaran pada bulan Mei ini," ucap David dengan tanpa melihat wajah Bara, pria itu menunduk takut.


"Sudah tidak perlu, lebih baik saya cari karyawan baru!" putus Bara.


Mendengar itu mata mereka membulat takut, masuk di perusahaan besar ini mereka harus bersaing dengan ribuan orang. Masa setelah masuk harus di pecat sih ?


Terdengar decakan malas dari mulut Bara, "kalian semua ini lulusan S2 tapi seperti lulusan SMA yang tidak punya skill! Hanya satu kali kesempatan! Jika kalian masih tidak becus mengolah semua dokumen keuangan di perusahaan saya, kalian di pecat tanpa pesangon!"


Glek...


Mereka menelan salivanya susah payah, setelah mengambil dokumen yang dilempar oleh Bara mereka mendudukkan kepala menghadap CEO kejam itu.


"Yes, sir!" jawab mereka kompak lalu keluar dari ruangan CEO yang terasa bagaikan neraka baginya.


Saat sudah di lift mereka membuka dokumen yang di coret-coret oleh Bara. Kompak, mereka membulatkan matanya terkejut.


"Astaga, yang ini cuma kurang spasi sama nama tuan Bara gak ada huruf kapitalnya!" ucap Devi sebal.


Lula menganggukkan kepalanya, "ini gak ada kesalahan sama dokumennya kita hanya sedikit salah ketik! Benar-benar tak ada hati nurani pria itu! Masa hanya karena masalah sepele kita di pecat!" ucapnya tak terima.


"Sstt," Aurel meletakkan jari manisnya didepan bibir Lula. "Dia kan memang seperti itu, lebih baik jika CEO-nya tuan Doddy saja!" gerutunya.


Mereka berlima menganggukkan kepalanya kompak, ia mengira kedatangan Bara yang tampan, bahkan sangat tampan itu akan membuat hawa segar diperusahaan ini, yang menggantikan Doddy yang kriput. Tapi mereka salah, mereka bukan kedatangan CEO baru, tapi monster yang berwujud pria tampan.


"Dia memang CEO kejam tak berperi kemanusiaan!"


Ting...


Pintu lift terbuka, mereka keluar dan berjalan cepat menuju meja kerja dan mulai merevisi dokumennya.


"HAAAH!!! SEANDAINYA JELITA MASUK PASTI TIDAK AKAN SEPERTI INI!" teriak Aurel, ia tahu hanya Jelita yang bisa menjinakkan Bara.


...o0o...


Bara selalu pulang cepat karena tak bisa menahan rindu dengan anaknya yang sangat lucu itu.


Tapi tidak dengan hari ini, ia harus pulang lebih larut malam dari biasanya karena harus menghadiri rapat penting dengan calon investornya.

__ADS_1


Jadilah ia baru sampai rumah tepat pukul 11 malam, dengan berlari kecil ia menaiki tangga menuju kamar anaknya.


Glek...


Bara berjalan menuju box bayi, matanya membulat terkejut melihat box bayi itu kosong, lalu ia menatap kearah ranjang melihat betapa pulasnya Mira tidur.


Tapi ia tak peduli, ia harus menanyakan dimana anaknya berada, rasa rindu itu terlalu menggebu-gebu untuk di abaikan.


"Oek...oek...oek..."


Baru saja akan menyentuh lengan Mira, telinga Bara mendengar suara tangisan bayi. Pria itu menajamkan telinganya, berusaha mengetahui keberadaan Gala dari suara tangisan bayi itu.


Hingga langka kakinya berhenti pada pintu kamarnya dan Jelita. Alis pria itu menyatu bingung, apakah Gala bersama ibunya sekarang.


"Sst, berhentilah menangis. Tadi kan sudah minum susu, sekarang mau apa lagi ?" tanya Jelita dengan lembut dari dalam kamar yang pintunya di biarkan terbuka sedikit.


Tak salah lagi, pasti Gala sedang bersama Jelita!


Bara membuka pintu itu lebar, lalu menutupnya dengan pelan. Pria itu melepaskan sepatu dan juga jas kerjanya dan diletakkan diatas sofa. Ia berjalan mengendap-endap kearah Jelita yang tak menyadari keberadaannya.


Grepp...


Bara memeluk Jelita erat, meletakkan dagunya pada bahu polos wanita itu yang kini sedang menggunakan dress malam berbahan satin berwarna merah muda dengan tali spaghetti.


Jelita menahan nafasnya karena terkejut, namun ia mulai rileks, ia tak mau melanggar janjinya kepada Bara.


"Aku sangat suka kamu sudah mau menggendong Gala, Ma. Setiap hari gendong dia ya ?"


"Iya Pa, setiap hari Mama bakal gendong Gala," jawab Jelita yang membuat senyum terbit pada wajah pria itu.


"Oek...oek...oek..."


Bara melepaskan pelukannya dan mengambil alih Gala yang berada pada gendong Jelita. Ia mendekap erat bayi mungil itu.


"Berhentilah menangis sayang, Papa sudah pulang."


Ajaib, Gala langsung terdiam dengan badan yang masih sesegukan, menatap Bara dengan berkaca-kaca.


"Sst, ayo tidur sayang. Ini sudah malam, Papa di sini, tidak akan pergi lagi!"


Gala menurut, bayi itu dengan perlahan memejamkan matanya. Bara dengan senantiasa menepuk-nepuk pan**t bayi itu.


Jelita yang melihat itu tanpa sadar tersenyum tipis. "Bara sangat menyayangi anaknya, aku tidak pernah melihat sifat Bara yang seperti ini sebelumnya," gumamnya.


Sudah lima belas menit berlalu, Gala juga tertidur. Jelita yang sedari tadi duduk di tepi rajang menatap sepasang ayah dan anak itu menguap beberapa kali.


"Gala sudah tidur, taruh saja dia di box. Kamu juga pasti capek kan, Pa ? Ini sudah jam setengah 12, kamu harus tidur!" ucap Jelita mengingatkan.


Bara berbalik badan, menatap Jelita yang sudah terlihat sangat mengantuk. "Tidurlah, nanti Papa akan menaruh Gala di box nya. Aku sangat merindukannya sekarang. Aku pulang terlambat dan badanku terasa pegal, tapi entah keajaiban apa yang Gala berikan pada Papa, Ma. Rasa lelah yang Papa rasakan mendadak hilang saat Papa mencium wangi tubuh Gala," jelas Bara.


Tak tahu akan menjawab apa, Jelita hanya menganggukkan kepalanya lalu menarik selimut dan menutup matanya.


Meninggalkan sepasang ayah dan anak yang masih melepas rindu itu.


...o0o...


RATU BENERAN SIBUK SEMINGGU INI, JADI GAK BISA UPDATE BANYAK... 🥺


TAPI KALO UDAH BERES PASTI CRAZY UP KOK, TUNGGUIN TERUS YA 😘


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2