HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 57 - HYPOCRITE


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Aduh-aduh, cucu kesayangan ku nomor satu tambah gendut ajaa," ucap Doddy menaik turunkan tubuh Gala yang tengah tertawa lebar di gendongannya.


Sementara di sana, Fara yang tengah menyusun mainan baru yang mereka bawa dari Singapura dalam lemari mainan Gala ikut tertawa mendengar tawa cucunya.


Kehadiran Gala merupakan suatu anugerah dalam hidup keluarganya. Gala adalah cahaya untuknya.


"Pa, jangan di cium gitu muka cucunya. Nanti merah-merah," peringat Fara yang melihat suaminya mulai brutal menciumi pipi Gala.


Doddy tertawa singkat, tapi tak urung menghentikan kecupannya pada pipi gembul cucu satu-satunya. "Kangen banget Papa, Ma. Satu bulan gak ketemu Gala, eh pas ketemu udah gede banget dia..." cibirnya.


"Ya namanya juga bayi Pa, pasti cepat pertumbuhannya." Fara memandangi mainan yang sudah ia susun dalam lemari Gala itu.


Ia dan suaminya memang sangat rajin membawakan Gala mainan jika pulang ke Indonesia. Bahkan sampai seringnya, kedua kakek dan nenek itu sudah membuat keempat lemari Gala penuh akan mainan.


Mereka benar-benar sayang akan cucunya. Hanya Gala dan demi Gala mereka rela bolak-balik dan selalu meninggalkan rapat penting di Singapura saat mendapat kabar Gala tengah jatuh sakit atau sesuatu yang bahkan tidak penting, tapi karena itu adalah Gala, jadi mereka rela melakukan itu.


"Sini-sini, gantian sekarang Mama yang gendong Gala." Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia langsung mengambil alih Gala dari gendongan Doddy.


Melihat cucunya sudah dikudeta, Doddy mengedus kesal. Dia masih sangat merindukan cucunya.


"Makin kesini, mukanya jadi mirip banget sama Bara ya, Pa...." Fara memperhatikan wajah tampan bayi satu tahun itu dengan seksama.


"Iya Ma, mukanya peraduan kita berdua," tambah Doddy.


Fara tersenyum sumringah mendengarnya, tapi senyumannya luntur saat mengingat satu hal penting yang ia lupakan. "Padahal Bara sudah sangat tampan, cerdas, sangat sukses dan kaya. Kenapa malah memilih istri seperti Jelita ?" Tampaknya Fara masih jengkel dengan kenyataan itu. Ia masih belum terima, jika Jelita adalah ibunya Gala. "Seandainya dulu, kita tidak memungut sampah itu untuk masuk ke keluarga kita, pasti tidak akan jadi seperti ini."


"Gala pasti sangat malu, jika tahu Ayahnya menikah dengan seorang anak buangan seperti Jelita. Gala pasti juga akan sedih dan pasti akan diejek oleh teman-temannya jika tahu latar belakang ibunya," sambung Fara dengan nada sedih.


Doddy menghela nafas panjang, cape juga dengan tingkat istrinya. "Bara kan sudah menikah, terus Gala juga sudah lahir di dunia ini. Kita sudah gak bisa memisahkan mereka," jawab Doddy.


Fara menatap suaminya tajam, "pokoknya Mama sampai sekarang gak terima kalo Jelita itu istrinya Bara!"


"Ya terus harus gimana ?" tanya Doddy menatap istrinya jengah. "Kita tidak bisa memisahkan takdir, Fara! Mereka memang di ciptakan bersama!"


"Kamu lupa apa sama kejadian yang sebelumnya ? Kamu mengirimkan banyak sekali wanita, tapi tetap saja Bara menolak! Itu artinya apa ? Bara memang mencintai Jelita!" tukas suaminya final.


Dengan cepat Fara menggeleng mendengar ucapan suaminya tak terima. "Jelita bukanlah takdir Bara, Pa! Jika memang kehadiran wanita baru tak bisa membuat Bara mengalihkan cintanya pada Jelita, maka mama akan buat Jelita sendiri yang membuat Bara membenci dirinya!" jawab Fara dengan seringai iblis.


...o0o...


"Tuan, ini sudah jam pulang!" peringat Gio pada tuannya.


Bara dan Jelita bersamaan mengalihkan fokus mereka pada Gio. Bara yang sedang sibuk dengan laptopnya, dan Jelita yang tengah berkutat pada ponselnya.


"Baiklah, kau pulang duluan Gio," titah Bara yang diangguki oleh asistennya itu.


Setelah Gio sudah meninggalkan ruang kerja Bara dan mengemasi barang bawaannya untuk pulang, akhirnya Bara pun menyelesaikan pekerjaannya.


"Pulang!" ucap Bara dengan dingin sembari berjalan dengan menenteng laptopnya tanpa melirik Jelita sedikit pun.


Glek....


Jelita menelan ludahnya susah payah, ia merapikan sedikit penampilannya lalu berjalan di belakang tubuh Bara dengan tergesa-gesa, karena kaki Bara benar-benar panjang. Ia tak sanggup mengikuti langkah kaki Bara meskipun dengan langkah lebar sekalipun.


Ting...


Pintu lift khusus CEO itu terbuka, dan kedua pasangan itu segera masuk sebelum pintu itu tertutup secara otomatis.


Sesekali Jelita melirik kearah Bara yang berada di depannya lalu menghela nafas panjang. Setelah pertemuan dengan Hades tadi, Jelita kira Bara tak akan marah karena sikap Bara yang terang-terangan mengejek Hades dan secara langsung menunjukkan pada Hades jika dirinya adalah milik Bara seorang.


Tapi ternyata Jelita salah!

__ADS_1


Setelah siang tadi Hades kembali ke kantor, setelah mengajak Jelita seorang diri untuk makan siang bersama. Suaminya itu nampak berubah menjadi dingin kepadanya.


Jangan salahkan Jelita, karena menerima ajak Hades untuk makan siang di sebuah restoran berdua. Tapi Bara yang mengijinkan Jelita untuk pergi ke restoran itu. Dengan alasan, "pergi aja sayang, temani tuan Hades makan siang. Dia akan teman sekolah kamu, yang sopan dong." begitu kata Bara.


Jadi Jelita terima saja saat Hades mengajaknya makan siang. Toh juga Bara yang mengizinkannya.


Eh tapi ternyata, saat Jelita sampai kembali di kantor. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Bara, pria itu mendiamkannya sampai detik ini.


"Sepertinya hujan ya kak, bagaimana kalo ki–"


Ting....


Ucapan Jelita terhenti karena pintu lift terbuka, tak mau mendengarkan lanjutan kalimat istrinya. Bara sesegar mungkin keluar dari lift tanpa menunggu Jelita untuk menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan gedung.


"Dia mengabaikan ku," gumam Jelita yang seraya mengikuti langkah suaminya. Ingin rasanya Jelita menangis dengan sikap dingin Bara yang baru pertama kali seperti ini.


Saat sampai di depan mobilnya, Bara langsung membuka pintu kemudi. "Kamu keluar, pulang naik taksi! Saya sendiri yang mau bawa mobilnya!" titah Bara pada sang supir.


Menganggukkan kepalanya mengerti, supir itu segera turun dari mobil. Dan Bara yang sudah duduk rapi di kursi kemudi.


JEDERRRRRRR.......


Suara petir, mengejutkan mereka semua. Saat ini cuaca malam hari sedang tidak baik-baik saja. Hujan badai serta petir datang menyambut malam yang sepi ini.


"Duduk di depan Jelita!" desis Bara saat melihat dari kaca spion, istrinya itu akan duduk di kursi belakang.


BRAKK....


Mendengar bariton suara suaminya, Jelita kembali menutup pintu belakang dan membuka pintu mobil di samping kemudi.


Dengan pakaian yang setengah basah ia memasuki mobil itu.


Belum sempat Jelita memasang sabuk pengaman. Bara sudah lebih dulu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Astaga kak, pelan-pelan. Jalanan lagi licin banget sekarang. Ada hujan badai," peringat Jelita.


Tak mengindahkan ucapan istrinya, Bara semakin menambah kecepatan mobilnya, kedua tangannya mencengkeram kuat setir mobil.


"Puas lo ?" tanya Bara dengan mata melirik Jelita tajam.


Jelita membuka matanya, menatap bingung suaminya. Puas ? puas untuk apa, batin Jelita kebingungan.


"Bisu ya lo sekarang ?"


"PUAS HA ?? PUAS SEKARANG ???" tanya Bara dengan membentak. "L0NT3 GAK BERGUNA!!!!" murkanya.


BRAKKK.....


CITTTTTT......


Bara membanting stir ke kiri dan memberhentikan mobilnya tepat di belakang sebuah pohon yang sangat besar.


"GUE TANYA SAMA LO PEREMPUAN B1N4L, PUAS LO UDAH NGELIHATIN TUBUH LO KE HADES ??? PUAS UDAH MAKAN SIANG SAMA DIA ??? PUASSS????" urat-urat leher Bara tercetak jelas, setelah meneriaki istrinya.


Jelita tergagap di tempat, ia ketakutan.


Tangan Bara mencekram kuat dagu Jelita, hingga kini mata mereka saling bertatapan.


JEDEEERRRRRR....


Kilat kembali menyambar. ..


"A–aku, aku gak ngerti maksud kamu...." ucap Jelita pada akhirnya setelah lama berdiam diri.


Bara tertawa sinis mendengar ucapan istrinya, tangannya semakin mencengkram kuat dagunya, hingga ia tak sadar jika kuku tangannya masuk pada kulit dagu Jelita.


"Gak ngerti ?" tanyanya sinis.


"Shhhh.....sakit Bara...kuku kamu...." ringis Jelita.


"GAK NGERTI LO BILANG ??? 4NJ1NG LO YA!!!" teriak Bara kesal. Kini tangan Bara yang berada pada dagu Jelita sudah terlepas dan berganti mencekik leher mulus Jelita.

__ADS_1


"LO SENGAJA PAKAI BAJU SEKSI TADI DI KANTOR KARENA LO TAHU KAN HADES BAKAL KE KANTOR ???" tanyanya curiga. "LO GAK PERNAH PAKAI PAKAIAN KAYAK TADI, TA. BARU HARI INI DOANG!!!!"


"Biar apa lo begitu ? Pengen digenj0t sama Hades ? Soalnya dia lebih kaya dari gue ? Iya ???" selidiknya.


Dengan air mata yang berderai, Jelita menggelengkan kepalanya. "Eng–enggak....uhukkk...uhukk...." Tangan Jelita mencubit tangan Bara agar pria itu lepas dari lehernya.


"L0nt3 gak tahu diri! Cewek kegatelan!!! Lo cewe terb4ngsat yang pernah gue kenal?!??" umpat Bara.


Krekkkk.....


Bara merobek pakaian atas Jelita, hingga tersisa ********** saja.


"Harusnya lo pakai begitu di depan Hades."


Jelita menggeleng, lalu meraih udara sebanyak-banyaknya saat Bara sudah melepaskan tangannya dari leher Jelita.


"A-aku gak bohong kak, aku sama sekali gak tahu kalo Hades bakal datang ke kantor. Dan aku nerima ajakan dia makan siang kan karena kak Bara sudah setuju."


Bara menatap Jelita penuh benci. "YA HARUSNYA LO NOLAK TOLOL!?? HARGAI SUAMI LO! GUE MASIH HIDUP BUKAN PAJANGAN!!!"


Tak mau mendengar penjelasan Jelita lagi, Bara kembali melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan.


"JANGAN NANGIS!!" bentak Bara sekali lagi saat mendengar tangisan Jelita semakin kencang dan menganggu konsentrasinya dalam menyetir.


Hingga mobil Bara sudah melesat jauh dan memasuki jalan tol. Pria itu semakin menambah kecepatan dan memperhatikan mobilnya saat dirasa jalanan sepi dan tak ada kendaraan lewat.


"Keluar!" titah Bara.


Mata Jelita membulat terkejut. "Plis antar aku sampai rumah kak. Ini sudah jam sembilan malam, dan ini di jalan tol. Gak ada kendaraan umum di sini...."


"Keluar....."


Jelita menggelengkan kepalanya sembari terisak. "Plis kak, ampuni Jelita. Jelita janji gak bakal pakai baju begitu lagi dan gak akan mau diajak jalan sama cowok lain selain kak Bara...." mohonnya.


"Lo budeg ya ? GUE BILANG KELUAR YA KELUAR!!!" teriak Bara di depan muka Jelita.


Dengan tubuh bergetar, Jelita membuka pintu mobil Bara dan keluar tanpa membawa barang-barang.


Baru beberapa detik keluar tubuhnya sudah basah kuyup karena hujan yang begitu keras.


"Kak plis, dengar Je–"


Brummm......


Mobil Bara melesat meninggalkan Jelita di tengah hujan badai di tengah jalanan tol itu.


Jelita menangis histeris ditinggalkan sendirian oleh suaminya. Ia tak membawa apapun dan bajunya sudah robek. Pikiran-pikiran negatif menghantui Jelita.


Tubuh Jelita menggigil hebat dibawah hujan itu.


Cittt......


Brakk....


Senyum diwajah Jelita langsung melebar saat ada mobil hitam yang mirip dengan suaminya berhenti tepat di hadapannya.


Perempuan cantik itu berdiri seraya tersenyum, ia tahu suaminya tak akan tega meninggalkannya sendirian di sini.


"Kak Bara aku tahu pasti––HADESS???" tanya Jelita dengan melotot saat tahu pria yang membuka pintu mobil itu bukan Bara tapi Hades.


Hades tersenyum menghampiri Jelita dengan membawa sebuah payung menutupi tubuhnya. "Gak sia-sia aku ngikutin kamu pulang Ta. Padahal niat awal aku mau ajak makan malam, eh ternyata aku sekarang jadi penolong kamu karena diusir Bara dari mobilnya," ucap Hades dengan senyum ceria.


"Ayo Ta, masuk ke mobil. Kamu tidur di Apartemen aku aja sekarang...."


...o0o...


RAMEIN YA SAYANGGG ❤️😘😘😘


JADI KALIAN TIM APA NIH ? MAU OLENG GAK KE TIM HADES-JELITA ?? 😘


LIKE + KOMEN +GIFT

__ADS_1


__ADS_2