HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 19 - HUKUMAN DARI PAPA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Jelita dengan tangisnya berlari kearah pagar universitas. Beruntungnya jam pelajaran tengah berlangsung jadi tak ada satu mahasiswa/i pun yang melihatnya.


Tanpa memperdulikan tatapan satpam yang menatapnya heran, Jelita keluar dari universitas yang dulunya tempat ternyaman, dan sekarang berganti dengan tempat paling mengerikan untuknya.


Jelita mengeluarkan ponselnya untuk memesan taxi online. Ia harus cepat, jangan sampai jam istirahat telah berbunyi.


"Aku mohon, cepatlah datang. Aku ingin pulang..."


"Aku ingin pulang, dan tidak ingin keluar lagi dari rumah. Aku malu..."


Jantungnya berdebar kencang, apalagi saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya yang bersautan.


Sudah pasti itu berasal dari grup kelas yang sedang membicarakan dirinya. "Ah iya grup kelas!" pekiknya.


Dengan gemetar ia membuka aplikasi WhatsApp dan masuk dalam grup kelasnya itu. Air matanya kembali luruh saat melihat video itu, apalagi membaca gunjingan-gunjingan temannya.


"Aku harus segera keluar dari grup sialan ini!"


Sesuai perkataannya, Jelita keluar dari grup itu dan menghapus seluruh riwayat chat yang berisikan hinaan terhadapnya.


Tin...tin....tin...


Mendengar klakson mobil, segera Jelita memasukan ponselnya kedalam saku seragamnya. "Akhirnya taxi ku datang!" batinnya semangat.


Namun semangat itu hilang, tergantikan oleh rasa benci saat melihat mobil yang berdiri tepat dihadapannya itu.


Tin...tin...tin..


Sekali lagi Bara membunyikan klakson mobilnya. Namun tak ada sedikitpun keinginan Jelita untuk masuk dalam mobil itu.


"Masuk Jelita! Atau aku akan memberikan video-video mu yang lain!" ancam Bara. Pria itu tak keluar dari mobil hanya membuka sedikit kaca mobilnya.


Tangan Jelita terkepal kuat, rasa kebencian pada Bara bertambah berkali-kali lipat.


Mau tak mau Jelita harus memasuki mobil mahal milik Bara. Jangan sampai pria itu melakukan aksi gilanya, karena Jelita sangat yakin jika Bara tak pernah bermain dengan kalimatnya.

__ADS_1


Brakk...


Jelita membanting pintu dengan sangat kasar, bukan marah, Bara malah tertawa geli melihat asik ngambek (?) adiknya ini.


Mobil Bara melaju meninggalkan pekarangan sekolah dengan kecepatan sedang, sesekali Bara mengalihkan perhatiannya kepada Jelita.


Adiknya itu tak mengeluarkan suara sama sekali. Bara kira Adiknya akan menangis meraung-raung meminta bantuannya. Tapi ternyata tidak, gadis itu tampak seperti mayat hidup dengan tatapan kosong.


"Apa kamu suka videonya ?" Bara memecahkan keheningan.


Jelita mengalihkan pandangannya kearah lain, saat merasakan air matanya kembali menetes. Ia benci terlihat lemah dihadapan Bara, pria itu mungkin akan semakin menindasnya.


"Kenapa anda memvideokan hal itu ? Kenapa anda menyebarkannya ? Saya salah apa ? Anda merusak masa depan saya!" Ia berusaha mati-matian agar tak menangis, meskipun suara sudah serak.


"Kenapa di videokan ? Karena aku ingin. Jika aku merindukanmu, aku bisa langsung melihat video itu. Kenapa di sebar ? Karena kamu pembangkang!"


Bara tersenyum kecil melihat tubuh Jelita gemetar menahan amarah. "Dan soal merusak masa depan, kakak rasa, kakak gak merusak masa depan kamu sayang. Karena apa ? Karena dari awal kamu gak punya masa depan! Kamu hanya anak yang tidak di harapkan oleh orang tua aslimu. Dan kamu hanya beruntung karena di angkat anak oleh keluarga ku!"


Jelita menutup mulutnya mendengar fakta yang keluar dari mulut Bara. Ia tak sanggup menyangkal ucapan pedas pria itu.


Itu menang benar, jika dirinya anak yang tak di harapkan!"


...o0o...


Plak...


Doddy menampar bolak-balik pipi mulus milik anaknya itu. Dengan dada naik turun karena amarah yang menguasai dirinya, ia menatap tajam Jelita.


"ANAK GAK TAHU DI UNTUNG!! AIB ORANG TUA! SAYA MENYESAL MENGANGKAT KAMU JADI ANAK!" teriak Doddy nyalang di depan wajah Jelita.


Istri yang melihat itu hanya diam saja, sama seperti suaminya ia juga sangat membenci Jelita karena anak angkatnya itu membuat baka baik keluarganya tercoreng.


Beruntung keluarga mereka memiliki uang banyak, setelah beberapa menit video itu tersebar, Doddy segera memerintahkan anak buahnya itu menghapus video itu dari semua platform media sosial.


Ia membungkam semua orang yang menggunjing anak angkatnya itu dengan uang. Beruntung Bara segera menelfonnya jika video asusila Jelita tersebar. Jadi ia bisa mencarikan seorang gadis berwajah mirip dengan Jelita sebagai kambing hitam.


Nama baik Jelita terselamatkan oleh Doddy dan Bara.


"Siapa pria itu Ta ? Siapa partner mu ? Dan dari video itu aku lihat jika kamu melakukannya di dalam kamarmu sendiri, benar ?" tanya Fara dengan pelan, meskipun nada menusuk itu terasa sekali.


Dengan mata sembab, dan wajah bengkak akibat tamparan Doddy, Jelita mendongakkan kepalanya menghadap Fara. "Iya Ma...hiks..hiks..Jelita melakukannya di dalam kamar...hiks.."


"Katakan pada Mama, siapa pria itu ?" tanyanya.


Jelita mengigit bibir bawahnya lalu menggeleng, "maaf Jelita tak bisa menjawab pertanyaan Mama..."

__ADS_1


"Hah..." Doddy menghela nafas panjang menatap Jelita dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dengarkan Papa, kamu tidak akan Papa kuliahkan lagi. Kamu hanya akan mendapatkan uang satu juta selama sebulan untuk membeli keperluan mu. Tapi tenang kamu masih bisa tinggal dan makan di rumah ini dengan gratis! Jika ingin uang tambahan silahkan kerja sendiri. Papa dan Mama angkat tangan!"


Setelah mengatakan itu, Doddy menarik tangan istrinya untuk memasuki kamar mereka dengan langkah lebar. Meninggalkan kedua anaknya.


"Satu juta perbulan ?" Bara tertawa kencang, "jika itu aku, uang itu hanya cukup untuk membeli bensin mobil mewahku selama dua minggu," ejeknya pada Jelita.


"Jika kau ingin uang lebih jadilah kekasih ranjang ku Jelita! Semua kebutuhan akan terpenuhi! Apapun itu akan kamu dapatkan! Berapapun nominal yang kamu sebut akan aku berikan!" sambungnya dengan nada sombong.


Jelita menghela nafas panjang, dan memandang datar Bara. "Menurut saya satu juta perbulan itu sudah cukup. Lagipula saya tidak perlu membeli makan dan membayar tempat tinggal. Saya lebih memilih satu juta daripada berzina," jawabnya dengan tenang lalu pergi meninggalkan Bara.


Bara tersenyum miring melihat punggung Jelita dari belakang. "Lihat saja, kamu sendiri yang akan datang kepadaku Jelita!"


Sedangkan Jelita kini memikirkan ucapan Bara, satu juta memang tak cukup. Ini bukan desa, ini adalah kota besar. Ini Jakarta, tidak mungkin uang satu juta cukup untuk sebulan.


"Besok aku akan mencari pekerjaan! Apapun itu asal halal aku akan lakukan!" batinnya semangat.


...o0o...


"Bara!"


"Aku sangat yakin jika itu anak Bara, Ma!" ucap Doddy dengan menggebu-gebu.


Mendengar ucapan suaminya, Fara menganggukkan kepalanya. Tak mungkin jika Jelita berhubungan dengan laki-laki lain. Karena ia dan suaminya tahu seposesif apa anaknya itu pada Jelita.


"Lalu kita harus bagaimana, Pa ?"


"Apapun yang terjadi pertunangan itu harus dilaksanakan. Kita tidak mungkin menikahkan Bara dengan adiknya sendiri. Bisa-bisa nama baik kita yang akan tercoreng!" ucap Doddy.


Mereka berdua kini berdiskusi tentang kedua anaknya di atas ranjang empuk mereka. Sudah mencoba beberapa kali untuk tidur, namun kedua mata mereka tak bisa terpejam.


Mereka benar-benar tak habis pikir dengan perbuatan Bara. Sebegitu cinta kah Bara dengan adik angkatnya ? Bahkan ia sampai merusak adiknya sendiri.


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA πŸ₯°


TERIMA KASIH SEMUANYA

__ADS_1


__ADS_2