HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 48 - MENYERAH ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Sepertinya gertakan Jelita beberapa hari yang lalu sama sekali tidak digubris oleh Raisa, wanita keganjenan itu selalu saja menempel pada suaminya.


Seperti sekarang saat Bara sedang mengerjakan laporan penting perusahaan di ruangan kerjanya ditemani Jelita yang juga berada di ruangan itu membaca majalah, tiba-tiba saja Raisa masuk bersama Gio dengan membawa 2 rantang makanan.


"Baraa...." teriaknya manja dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.


Mendengar suara yang sangat tak asing pada Indra pendengarannya, Jelita langsung mengalihkan pandangannya dari majalah yang tengah ia baca ke seseorang yang baru saja datang.


Mata Jelita menatap tak suka seseorang yang baru saja datang, lalu ia beralih menatap Bara yang juga menatapnya.


"Usir dia," ucap Jelita tanpa suara, hanya gerakan bibir.


"Maafkan saya tuan, tadi saya sudah menyuruh nona Raisa untuk tidak masuk, tapi dia terus memaksa dan mengancam akan menelpon Nyonya Fara," ucap Gio penuh sesal, wajah khawatirnya tercetak jelas di wajahnya.


Bara menggeram tak suka, dilihatnya wanita itu yang seenaknya duduk disofa samping istrinya sembari mengeluarkan isi rantang dan menatanya di meja.


"Kau memang tidak bisa diandalkan, Gio..." desis Bara dingin.


Gio menelan salivanya susah payah, "astaga pasti gaji bulan ini akan dipotong setengah oleh Bara," batinnya. "Maafkan saya tuan, lain kali tak akan saya ulangi!" jawabnya.


Bara tak mengindahkan ucapan Gio, ia berjalan menuju sofa dan duduk dekat dengan istrinya yang sudah badmood. Lihatlah pipi menggembung Jelita, bukannya terkesan menyeramkan malah sangat terlihat menggemaskan.


"Ah, Bara bentar lagi jam makan siang, ayo makan dulu." Raisa tersenyum manis.


Pria itu sama sekali tak menggubris ucapan Raisa, matanya masih terus menatap wajah ngambek istrinya.


"Hari ini aku masak Ayam bakar madu, kata Tante Fara itu masakan kesukaan kamu. Benar kan, Bar ?" tanya Raisa lagi.


Krik....krik...krik...


Raisa memang senyum terbaiknya, meskipun dalam hati ia mengumpati Bara. "Asal kamu tahu ya, Bar. Aku cari resep ini sampai beli buku loh. Soalnya resep di internet kurang lengkap. Jadi kemarin aku ke toko buku khusus buat beli buku masak. Itu semua untuk kamu Bar," sambungnya.


"Gio!" panggil Bara setelah ia berdiam beberapa saat.


Mendengar nama orang lain disebut, Raisa mendesah kesal, dilihatnya Jelita yang sama sekali tak memperdulikan kedatangan dan malah kembali asik membaca majalah.


"Awas saja, kalo sudah jadi adik ipar gue bakalan gue usir tuh dia dari rumah biar jadi gelandangan!" batin Raisa kesal.


"Ya, tuan ?"

__ADS_1


"Sekarang jam makan siang ?"


"Benar tuan, 5 menit lagi jam makan siang tiba."


Bara menganggukkan kepalanya, lalu menyatukan jari-jemari tangan kanannya pada jemari kiri Jelita.


"Sayang, ayo kita makan siang," bisik Bara lembut, ia menarik tangan Jelita hingga istrinya itu berdiri lalu keluar dari ruang kerjanya bersama dengan Gio.


Sementara Raisa mematung di tempat, melihat adegan mesra sepasang istri itu yang kini meninggalkan diruang kerja Bara sendirian.


"BRENGSEK!!!!!!".


Prangggg...


Raisa membanting semua rantang makanan yang sudah ia susun diatas meja dengan brutal hingga makanan itu sudah berceceran di lantai.


"AWAS SAJA KAU JELITA!!! AKAN KU BUAT RUMAH TANGGAMU BERANTAKAN!!!"


********


Namun kejadian itu sama sekali tak membuat Raisa menjadi jera, wanita cantik nan dewasa itu masih terus datang berkunjung ke perusahaan Bara, menengok Bara bekerja.


Kadang Raisa juga datang ke rumah keluarga Adinata, meskipun Fara sudah kembali ke Singapura, dan tak ada yang mengundang wanita itu untuk datang.


Setiap Raisa datang selalu saja berasal "Aku tidak menemui Bara, aku datang kemari hanya untuk bertemu dengan Gala. Aku merindukan bayi kecil itu..."


Meskipun Jelita dan Mira–baby sitter Gala itu tahu jika Raisa hanya menjadikan Gala alasan, dan datang ke rumah mereka hanya untuk mencari muka pada Bara agar melihatnya.


Jelita membuat beberapa makanan dan minuman hanya untuk sebagai pelengkap. Mereka berdua juga libur ke kantor hanya untuk menemani Gala.


"Anak Papa udah umur 4 bulan ya sayang." Bara menciumi pipi gembul anaknya dan bayi tampan itu tertawa bahagia mendapat serang bertubi-tubi dari sang ayah.


"Papa jangan diciumi terus pipi aku, sakit tau!!" jawab Jelita yang menirukan suara anak kecil.


Lalu mereka bertiga tertawa bersamaan, Bara menarik tangan Jelita hingga kini mereka saling memeluk Gala dengan erat.


"Selamat 4 bulan say–"


"BARAAAA!!!!" teriak seseorang yang datang dari arah pintu rumah penghubung dengan halaman belakang.


Jelita memutar bola matanya malas dan melepas pelukan mereka dengan sekali sentakan.


Bara yang melihat wajah kesal milik istrinya jadi ikutan kesal, ia menatap tak suka kearah Raisa yang baru saja dan kini sedang berjalan kearahnya.


"Bara, aku tadi ke kantor kamu. Tapi di ruangan kamu hanya ada Gio. Kata dia kamu hari ini libur," adunya. "Kenapa kamu gak kabarin aku sih, jadi kan aku bisa langsung ke sini, gak perlu ke perusahaan kami dulu!!!"


Wanita itu kini sudah duduk di tanah yang sudah diberi karpet samping Bara.


"Apa urusannya sama lo kalo gue gak ke perusahaan ? ngapain juga gue harus ngabarin lo ?" tanya Bara menatap tak suka Raisa.

__ADS_1


"Ya kan, aku calon istri kamu."


"Gak usah mimpi lo, gue udah punya istri. Lo jangan terlalu diambil hati deh ucapan nyokap gue yang bilang mau jodohin kita. Karena itu gak bakalan pernah terjadi!" jawab Bara mantap.


Tanpa menunggu jawaban Raisa, pria itu menggendong anaknya dan masuk ke rumahnya. Moodnya sudah hancur berantakan setelah kedatangan Raisa.


"Lo dengar kan kak, suami gue bilang apa ?" tanya Jelita yang benar-benar sudah muak.


"Bilang apa ya ? Gue gak denger tuh...."


Jelita memainkan lidahnya didalam mulut, wanita tua dihadapannya ini. "Kenapa gatel banget sih jadi perempuan ? Dia udah punya anak sama istri loh. Kenapa masih lo deketin ? Emang cowo single diluar sana gak ada yang mau sama lo ?"


Tangan Raisa terkepal tak terima dengan ucapan bocah didepannya ini. "Bukannya kemaren gue udah bilang ya, kalo istri yang lo maksud itu gak disukai sama orang tua kandungnya Bara. Malah ibunya sendiri yang ngejodohin gue sama anaknya. Jadi gimana dong..."


"Ini peringatan terakhir dari gue kak, sekali lagi kakak gangguin keluarga gue. Gue jamin kakak akan menyesal, karena gue kali ini gak bakalan biarin gitu aja."


Setelah mengatakan itu Jelita memasuki rumahnya dan langsung berjalan menuju kamar mereka setelah menanyakan pada pelayan dimana Bara.


Dengan langkah kaki yang dipenuhi emosi, Jelita memasuki kamar dan menatap Bara yang sedang menidurkan anak mereka.


"Dia sudah pulang ?" tanya Bara lembut pada istrinya.


Brakkk.....


"Oek...oek...oek..."


Jelita menutup pintu kencang hingga membuat anaknya terbangun dan menangis kencang karena terkejut.


"Jelita kamu apa-apaan sih!!! Anak kamu nangis!" Mata Bara melotot dengan dada naik turun.


"Aku capek gini terus, Bar. Aku gak dianggap jadi istri sama mertua sendiri. Aku sakit hati setiap mama kamu jodohin kamu sama perempuan lain. Aku juga punya hati Bar. Aku nyerah kalo gini terus."


Jelita mengungkapkan semua isi hatinya hingga tanpa sadar air matanya menetes. "Kalo emang orang tua kamu sampai sekarang gak bisa nerima aku. Dan aku sampai sekarang gak dianggap sebagi istri kamu mending kita cerai aja!"


...o0o...



MASUKIN KE LIST FAVORIT YA SAYANGKU 😘😘


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2