
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Dan yang terakhir berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Bara Leonardo Adinata dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00."
Tepuk tangan gemuruh terdengar bersamaan dengan langkah kaki Bara menuju podium yang berisikan para dosennya yang tersenyum menunggu kedatangannya.
Dengan pakaian Toga, Bara semakin terlihat gagah dan juga tampan. Ia bersalaman dengan salah seorang rektor sembari berfoto, lalu turun dari podium.
Ia berjalan dengan penuh angkuh menuju orangtuanya yang menatap penuh bangga dirinya.
"Kamu memang tidak pernah mengecewakan Mama, Bara!" ucap Fara memeluk tubuh tegap putranya.
Doddy tersenyum lebar, membenarkan ucapan Fara, sejak TK hingga lulus kuliah seperti sekarang Bara memang putra yang membanggakan.
Selalu mejadi yang pertama di kelasnya. Dan seperti hari ini juga. Bara–putra kebanggaannya berhasil lulus pada prodi Manajemen Bisnisnya di Universitas nomer satu di Indonesia dengan nilai yang sempurna.
Setelah pelukan anak dan istrinya terlepas. Doddy segera menarik tangan Bara kearahnya, dan memeluk tubuh putranya yang sekarang lebih tinggi darinya dengan erat.
"Papa bangga sama aku, nak!" bisiknya begitu bangga. Diumur Bara yang masih sangat muda, anaknya itu sudah bergelar Doktor (Dr), yang berarti Bara sudah lulusan S3.
Bukan malah senang dan membalas pelukan ayahnya, Bara malah memutar bola matanya jengah. Ia segera melepaskan pelukan itu dengan sedikit kasar.
"Bara gak bawa mobil, sekarang Bara mau pulang!" ucapnya setelah lama berdiam diri.
Fara menganggukkan kepalanya antusias. Lalu menarik tangan anaknya untuk keluar dari gedung wisudawan itu. "Ayo sayang, kita pulang. Kamu pasti capek kan, biar nanti kamu bisa cepat istirahat. Nanti malam kan keluarga Sinta bakal datang ke rumah," ucap Fara dengan senang. Sedangkan Bara hanya diam saja, terlalu malas meladeni kedua orangtuanya.
Kini mereka bertiga tengah berada di mobil, kedua orangtuanya tengah berbincang membicarakannya dengan Sinta.
Mendengar itu Bara diam saja, ia menutup matanya agar kedua orangtuanya mengiranya tidur, dan tidak bertanya apapun padanya.
Setalah 40 menit berkendara Bara langsung memasuki rumahnya dan akan memasuki kamarnya untuk beristirahat. Namun saat akan menaiki tangga, ia harus berhenti karena ibunya memanggil namanya dengan cukup keras.
"Bara, kamu bisa tidur 3 jam, nanti pukul 7 kamu harus bersiap karena keluarga dari calon tunangan mu akan datang!" teriak Fara.
"Sial!" gumam Bara, setelah ia langsung memasuki kamarnya.
...o0o...
Sesuai perkataan ibunya, kini ia tengah bersiap untuk menyambut tamu penting kedua orangtuanya.
Siapa lagi kalau bukan Sinta yang digadang-gadang akan menjadi istrinya dan juga keluarga drai wanita itu.
Istri ? Mendengar kata itu justru yang ada dikepala Bara hanya Jelita, Jelita, Jelita, dan Jelita.
__ADS_1
Wanita lain ingin menjadi istrinya ? Tidak bisa ? Apalagi Sinta, wanita itu hanya menang dewasa. Tapi jika kecantikan, keimutan, dan rasa nyaman tentu Sinta kalau jauh dengan Jelita!
Jelita selalu menjadi yang terdepan untuk Bara.
Bara tersenyum kecil membayangkan wajah Jelita, pasti gadis itu saat ini masih harus terjebak di kantor menjadi seorang Office Girl. "Salah sendiri kamu gak mau nikah sama kakak, gak mau nurut! Coba kalau kamu nurut, pasti kamu gak akan jadi Office Girl seperti itu sayang," batinnya sembari tersenyum lebar. Adiknya pasti sedang mengomel di sana.
Bara terus memikirkan Jelita, hingga tanpa sadar ia sudah berada di ruang keluarga yang di sulap sedemikian rupa hingga menjadi tempat ruang makan yang terlihat begitu mewah.
"Bara, kamu senyum-senyum sendiri, kenapa gitu ?" goda ayah Sinta, Puji.
"Ah, tidak om. Bara hanya memikirkan sesuatu."
"Kamu gak sabar ya tunangan sama anak Om ?" godanya lagi yang justru membuat semua orang di ruangan itu tertawa, namun tidak dengan Sinta dan Bara.
Sinta menundukkan kepalanya malu dengan wajah yang memerah, ia juga berfikir yang sama dengan ayahnya. Melihat Bara yang datang dengan senyum lebar ke ruangan ini membuat Sinta sedang bukan main.
Mungkin Bara juga sama sepertinya, tak sabar dengan pertunangan mereka.
"Awalnya saja kamu malu-malu dan mau menolak tunangan ini, tapi aslinya kamu mau kan ?" Rosa–ibu Sinta mengangkat alisnya beberapa kali menggoda Bara.
Bara tersenyum miring melihat mereka tertawa lagi karenanya. "Silahkan tertawa, sebentar lagi juga kalian akan menangis karena pertunangan bodoh ini akan batal!" batinnya.
"Sudahlah Ros, Ji! Jangan goda anakku, ayo mari kita minum dulu," ajak Doddy. Dengan semangat pria itu menuangkan red wine ke gelas kosong Puji, Rosa dan juga Sinta.
Setelah itu mereka semua bersulang, termasuk Bara dan meminum red wine itu dengan sekali tegukan.
"Bara, kamu berencana untuk liburan dulu atau langsung bekerja ?" tanya Puji pada calon menantunya itu. Kalau jadi...
Bara meletakkan gelasnya, sembari meringis kecil merasakan cairan panas yang begitu nikmat memasuki kerongkongannya.
"Ya begitulah, sekarang aku sudah sepenuhnya memberikan perusahaan itu pada Bara. Mungkin setelah Bara sudah mulai paham dengan mekanisme kantor, aku akan segera memberikan perusahaan yang di Singapura. Aku ingin pensiun muda, dan ingin bermain dengan istri dan cucu saja di rumah," sambung Doddy sembari tertawa kecil.
Fara menganggukkan kepalanya setuju. "Benar, suamiku memang ingin pensiun secepatnya saat Bara sudah bisa mengambil alih perusahaan. Ingin cepat-cepat gendong cucu dan bersantai di rumah."
Mendengar itu pipi Sinta kembali memerah, ia melirik Bara dengan takut-takut. Yang di lihat malah sibuk dengan minumannya.
"Tenanglah Ma, Pa. Sebentar lagi Bara akan memberikan Mama dan Papa cucu. Tunggu saja," jawabnya dengan seringai iblis.
Mereka lagi-lagi tertawa, salah mengartikan ucapan Bara.
"Tuh Sin, kamu siap gak ?" Rosa menatap anaknya dengan senyum kecil. Bukannya menjawab Sinta malah semakin menunduk dan tersenyum lebar. "Si–siap," jawabnya dengan terbata-bata.
"Kita doakan semoga Bar–"
"Eh itu adik Bara kan ? Anak kedua kalian ?" tanya Puji memotong ucapan Fara saat melihat gadis dengan pakaian kusut melewati mereka.
Mendengar itu tentu saja Jelita yang baru pulang kerja menghentikan langkahnya menatap ke dalam ruangan itu yang kini semua orang yang berada di sana juga menatapnya.
"Kemari Jelita," panggil Doddy dengan senyum lebar.
Mau tak mau Jelita melangkah menuju kedua iblis, eh maksudnya kedua orang tua angkatnya. Ia tersenyum menatap ketiga orang asing di sana.
__ADS_1
"Ah ada Sinta, mungkin Bara di tunangkan sekarang. Baguslah, dia bisa pergi secepatnya dari rumah ini jika dia menikah kelak!" batinnya tak perduli.
"Ini Jelita, adik angkat Bara. Aku sama Fara mengadopsi dia sejak umur 4 tahun," jelas Doddy yang diangguki oleh Puji dan Rosa.
"Dia sangat cantik," puji mereka dengan kompak. "Benar-benar seperti seorang model anak angkat mu ini, beruntung sekali kamu Fara," imbuh Rosa yang kini menatap Jelita dengan berbinar.
Fara tersenyum kikuk, dan melihat tak suka pada Jelita. "Ya begitulah, tapi kau tahu Rosa. Paras tak selalu menjadi yang utama. Jelita baru beberapa Minggu lalu dikeluarkan dari Universitasnya karena kenakalannya," ucap Fara menatap sinis Jelita.
Jelita meremas tangannya kuat mendengar ucapan ibu angkatnya itu.
Kini ia beralih pada kedua orang tua Sinta yang menatapnya kaget. "Astaga sayang, jagalah perilaku mu. Orang tua mu ini pengusaha sukses, kamu ini hanya anak angkat. Jadi jaga sikap, tunjukkan rasa terima kasih mu pada mereka. jika bukan karena mereka kamu pasti sudah jadi gelandangan sekarang," kata Puji yang menohok hati Jelita.
"Sekarang sudah hampir jam 10 kamu baru pulang, jaga sikap nak," tegur Rosa.
Berulangkali kali Jelita menghela nafas untuk menyebarkan dirinya. "Ya, Om, Tante, Mama, Papa, kakak, Jelita minta maaf ya," ucapnya menundukkan kepala lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
Bara menahan tawa melihat wajah kesal adiknya, sungguh menggemaskan untuknya.
"Bara ijin ke atas sebentar. Mau ambil ponsel!" ijinnya.
...o0o...
Ceklek...
Bara masuk ke kamar adiknya itu, ia duduk di sofa bermain dengan boneka beruang raksasa yang ia berikan pada Jelita dulu.
Adiknya itu tengah mandi sekarang, terbukti dengan telinga Bara yang mendengar suara rintikan air.
Tak berselang lama Jelita keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit setengah tubuhnya.
Matanya membulat kaget, tanpa sadar ia mencekram kuat tali lilitan handuknya saat melihat Bara yang duduk seraya tersenyum manis kearahnya.
"Gimana enak jadi Office Girl ? Salah kamu sendiri yang gak mau nurut sama kakak." Bara tersenyum seraya berdiri dari duduknya.
"Kamu sudah tanda tangan kontrak! Jangan pernah berfikir akan keluar dari perusahaan dan menjadi pekerjaan baru. Karena kamu tidak akan bisa! Selamanya kamu akan menjadi Office Girl di sana," sambungnya seraya berjalan menuju pintu dan membukanya. "Selamat tersiksa Jelita!"
Brak...
Bara keluar dan menutup pintu itu dengan kencang, meninggalkan Jelita sendiri di kamarnya.
"Memang brengsek kamu Bara!" umpatnya menatap tajam pintu uang tertutup rapat itu.
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA