
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Pagi-pagi buta, Bara sudah siap dengan kemeja kerjanya. Ia menatap pantulan tubuh tegapnya di cermin seraya tersenyum tipis.
"Padahal gue ganteng banget, tapi kenapa Jelita harus gue hamilin dulu baru mau sama gue ? Kurang bersyukur banget emang dia. Tipe cewek gak tahu diri!" kesalnya.
Bara menyemprotkan parfum istrinya ke jas dan kemeja dalam. Lalu mencium jas yang sudah ia beri parfum istrinya. "Selalu aja baunya bikin tenang," ucapnya lembut.
Ia beranjak dari walk ini closet, menuju sang istri yang masih tertidur pulas. Tangannya terangkat mengelus pipi kiri Jelita.
Cup...
Bara mencium lama kening istrinya yang masih terlelap dan tak terganggu dengan ciuman yang di berikan oleh Bara.
"Aku berangkat dulu, sweetheart..." bisiknya lembut.
Ia beranjak keluar dari kamarnya lalu menuju kamarnya anaknya. Sama seperti ibunya, bayi tiga bulan yang sangat mirip dengannya itu tidur sangat pulas. Bara tersenyum puas melihat hasil karyanya 12 bulan yang lalu.
Dikecupnya seluruh wajah sang anak. Ia mencium kuat aroma bayi yang begitu menguar dari tubuh Gala. Dilihatnya Mira–sang baby sitter yang juga masih tertidur, lalu segera keluar dari kamar dengan mengendap-endap.
Sebelum keluar dari rumah, Bara menyempatkan pergi ke dapur untuk mengambil sehelai roti dan susu kaleng mi*lo, yang ia makan sembari berjalan keluar rumah.
"Tuan, silahkan masuk!" ucap Gio yang melihat kedatangan Bara yang kini sedang berjalan ke arahnya. Dengan cepat, ia membukakan pintu mobil.
Bara masuk dan diikuti oleh Gio yang duduk di samping kursi kemudi. "Saat ini masih jam enam tuan, kantor masuk pukul 8 pagi, kita mau kemana dulu ?" tanya Gio menatap Bara dari kaca spion dalam mobil.
"Mm," gumamnya dengan mulut penuh dengan roti, lalu segera meminum susunya untuk menurunkan roti itu kedalam lambungnya. "Keluar dari rumah, sembunyi di balik pohon mangga besar yang berada di samping pos satpam!" titah Bara.
Kening Gio berkerut bingung, "sembunyi ? untuk apa tuanku ?"
Bukannya menjawab, Bara kini menatap intens dan tajam tangan kanannya yang selalu saja banyak bertanya seperti perempuan itu.
Glek...
Gio menelan salivanya susah payah karena takut akan tatapan bos besarnya itu, ia mengkode supir untuk segera melakukan mobilnya seusai dengan instruksi Bara.
"Akhir-akhir ini kau terlalu banyak bicara, Gio. Terlalu berisik, hingga membuat telingaku berdenyut sakit. Apa aku perlu mengganti sekretaris ?" tanyanya bersamaan dengan mobil yang sudah terparkir cantik di belakang pohon mangga besar.
"Ti–tidak perlu tuan, daripada mengganti sekretaris, akan membuat anda kesusahan. Lebih baik, biar aku saja yang menghentikan mulutku," jawabnya tergagap.
Tak memperdulikan ucapan Gio, Bara memilih untuk memejamkan matanya sembari menunggu mangsa yang akan ia intai.
Mobil mereka terdiam, diikuti keheningan yang melanda di dalam isi mobil. Ini sudah lebih dari satu jam mereka di mobil tapi bosnya malah tertidur!
Gio melirik kesal Bara yang tertidur di kursi penumpang dengan kedua tangan terkepal erat. "Jika ingin tidur, kenapa dia malah memintaku untuk datang ke rumahnya jam 6 pagi! Lebih baik aku tidur saja di rumah!" batinnya kesal.
Saat Gio mengalihkan pandangannya dari Bara ke depan, ia melihat seorang wanita menggunakan baju santai tengah mengendarai sepeda motor matic keluar dari perumahan elit mereka. Gio menajamkan matanya, sesekali mengucek untuk memperjelas pengelihatannya.
"Wanita yang sedang mengendarai sepeda motor itu, mirip sekali dengan Nyonya Jelita," gumam Gio pelan sekali, namun Bara yang dibelakang sudah membuka mata saat nama istrinya di sebut.
Ia mengalihkan pandangannya menatap seorang wanita yang sedang menyebrang jalan raya. "Itu Jelita," ucap Bara tiba-tiba yang membuat Gio menoleh kebelakang. "Ikuti perlahan motor Jelita, pastikan jika wanita itu sampai ke kantor dengan selamat tanpa lecet, tergores atau mengalami hal buruk di jalan!" titah Bara.
Mobil pun melaju mengikuti Jelita yang mengendarai motornya dengan sedikit cepat. Hingga tak terasa motor Jelita memasuki perusahaan tempatnya bekerja yang membuat mobil Bara harus berhenti di samping trotoar.
__ADS_1
"Nyonya sudah sampai dengan selamat, tuan!"
"Hm," jawab Bara acuh, namun beda dengan matanya yang masih memperhatikan pergerakan Jelita.
Gio menggigit pipi dalamnya agar tak tersenyum. "Ternyata tuan sangat romantis sekali, rela bangun pagi hanya untuk menjaga Nyonya Jelita yang hari ini berkendara dengan motor untuk yang pertama kalinya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk di jalan," goda Gio.
Bara memutar bola matanya malas, "jangan asal bicara, aku memang ingin mencoba tidur di mobil. Sekarang masuk ke kantor cepat!" titah Bara setelah memberikan alasan yang tak masuk agak.
Gio tertawa kecil lalu mengangguk. Mobil Bara pun sampai di depan perusahaannya. Dengan segera, Gio keluar dari mobil untuk membukakan pintu tuannya.
"Silahkan tuan," sapanya sembari membungkuk.
Bara keluar yang langsung di sambut tatapan kagum dari staf wanitanya. "Setiap paginya, kita akan mengikuti Jelita. Untuk memastikannya sampai di kantor dengan selamat!" titah Bara tak terbantahkan, lalu melangkahkan kakinya penuh keangkuhan.
Gio tersenyum geli, lalu menggelengkan kepalanya. "Dasar bucin!"
...o0o...
Hades kini sedang membaca buku dari sekian banyaknya buku yang ia bawa dari perpustakaan yang ada pada mansionnya di kamarnya.
Ia tak terusik dengan apapun yang mengganggunya, mata yang menatap setiap untaian kata yang disinambungkan menjadi sebuah kalimat yang runtut.
Hingga ia tidak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok...tok...tok....
Namun remaja itu masih tetap diam, ia menikmati buku pengetahuan yang dia baca.
Sedangkan di balik pintu, ada pria paruh baya yang berdecak kesal karena anaknya tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Karena sudah berdiri lama, pria paruh baya itu akhirnya memilih untuk menerobos masuk ke dalam kamar anaknya itu, meskipun tahu jika anaknya tak suka jika ada seseorang yang masuk dalam kamarnya.
Ceklek...
Hades berjengit kaget, dengan perlakuan dari ayahnya yang tiba-tiba itu. Ia membalikkan badannya menatap Rio dengan senyum.
"Ada apa, Dad ?"
"Kamu terus belajar, istirahatlah." Rio menatap anaknya dengan raut wajah serius. "Kamu kan sudah ikut program akselerasi. Di umur kamu yang ke 24 ini kamu juga akan lulusan kuliah S2. Pergilah bermain dengan teman-teman geng motor mu seperti dulu," sambung Rio.
Pria itu benar-benar heran dengan perkembangan Hades semenjak satu tahun belakangan ini. Jika biasanya anaknya itu akan terus pulang malam, pergi ke club, lalu ikut balapan dan menjadi ketua geng motor yang berisikan anak-anak berandal hingga tak ingat pulang.
Tapi kini semua itu berubah, entah apa gang terjadi. Tiba-tiba Hades meminta ikut program Akselerasi.
Program akselerasi atau loncat kelas bisa dilakukan sejak menempuh pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD), SMP, maupun SMA dan juga kuliah. Program ini biasanya dilakoni oleh siswa yang memiliki kemampuan akademis yang baik sehingga mampu mengikuti dan mengejar materi pelajaran dengan cepat.
Bukan hanya itu saja, Hades juga mengundurkan diri sebagai ketua geng motor yang selalu ia bangga-banggakan kepadanya. Hades belakangan ini lebih sering di rumah dan mengurung dirinya di perpustakaan.
Sebenernya bukan ia tak senang jika anak yang nantinya mewarisi segala kekayaannya itu telah berubah. Tapi ia menjadi bingung, dan takut anaknya memiliki masalah internal.
"Tidak Dad, aku harus belajar dengan giat. Aku harus segera lulus dengan nilai yang memuaskan lalu segera bekerja untuk menggantikan Daddy!" Karena ada seseorang yang harus kau kejar, Dad! sambungnya di dalam hati.
"Memang apa yang membuatmu ingin cepat menggantikan posisi Daddy ?" tanya Rio penasaran.
Hades tersenyum miring, "tentu saja, karena aku tidak ingin membuat Dad bekerja keras. Sudah waktunya Dad bersantai dan bermain-main dengan teman lama mu," jawabnya berbohong.
Rio tertawa lebar mendengar jawaban anaknya yang pasti hanya bualan semata. "Baiklah nak kalau begitu tunjukkan pada Daddy hasil kerja keras mu! Jangan membuat Dad kecewa!"
Hades menganggukkan kepalanya tegas, menatap Rio penuh dengan gelora api ambisinya.
...o0o...
__ADS_1
"Silahkan tuan, kopinya!" Jelita meletakkan gelas kopi ketiga yang ia bawa dari dapur, setelah dua gelas lainnya di tolak Bara dengan alasan. "Ini terlalu manis, Jelita! Kamu ingin membuat saya kena diabetes ? Lalu kamu ingin saya cepat turun dari posisi CEO karena sakit, benar begitu Jelita ?"
Bara tersenyum singkat kearah Jelita, lalu melirik kembali layar laptopnya, tangannya tak berhenti menghentikan sesuatu pada keyboard.
Melihat tak ada tanda-tanda protes yang keluar dari mulut Bara. Jelita memundurkan badannya menjauhi meja kerja Bara dengan tangan kanan yang membawa nampan.
"Kalau begitu saya per–"
"Tunggu, biar saya cicip dulu minumannya!" potong Bara cepat tanpa melihat wajah Jelita.
Jelita terdiam, mematung di tempat. Dilihatnya Bara masih sibuk dengan laptopnya, padahal ini sudah 15 menit berlalu.
Kaki Jelita bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mengurangi rasa kebas. Hingga ia menampilkan senyumannya tatkala Bara kini meraih gelas kopi lalu diarahkan ke mulutnya.
"Ck!" decak Bara kesal saat sudah meminum satu tenggukkan kopi. "Terlalu pahit, Jelita! kamu mau buat saya darah tinggi ?" tanya Bara dengan bahasa formalnya. "Cepat bawa pergi ini." Bara mendorong gelas kopi itu kedepan.
Dengan sigap Jelita mengambil gelas kopi itu, lalu di taruhnya di atas nampannya.
"Kamu gak bisa buat kopi, buatkan saya teh saja!" pinta Bara. Jelita menganggukkan kepalanya lalu meminta ijin untuk keluar dari ruang kerja Bara.
Jelita menuruni tangga dengan cepat, ia tak ingin membuat Bara menunggu. Namun ia sedikit memelankan langkah kakinya saat ada beberapa orang staff yang sedang bergosip di tangga darurat.
"Eh, nanti ikut aku ke PIM ya, mau beli dress buat dua hari acara Anniversary perusahaan!"
"Ikut dong, aku juga harus pake dress mewah yang terbuka! Pasti nanti tamu-tamunya dari korelasi perusahaan kita. Siapa tahu kan, salah satu Direktur atau Manager dari perusahaan sebelah ada yang kepincut sama aku..."
Gelak tawa mereka terdengar, membuat Jelita semakin menajamkan telinganya.
"Yoi, nanti jam 5 langsung ke Mall aja kita. Beli dress bermerk yang sedikit terbuka."
"Benar sekali! Siapa tau ada yang mengajak kita one night stand...."
Jelita memutar bola matanya malas, mendengar ucapan mereka. "Ah, ternyata berbicara soal gaun..." batinnya tanpa minat.
Tak mau mendengarkan lagi, Jelita segera berlari kecil untuk sampai ke dapur. Ia segera membuatkan segelas teh sesuai permintaan Bara.
Dengan gula sedikit, lalu air panas setengah gelas saja, dan sisanya air dingin. Ia mengaduk-aduk teh itu sembari merapalkan doa agar Bara mau menerima tehnya.
Ia menaruh teh itu di atas nampan, dan segera ke ruangan Bara.
"Eh Jelita tunggu," ucap Bu Dewi sembari berjalan mendekati Jelita yang sudah diam dan kini menatapnya dengan senyum.
"Ada apa, Bu ?"
"Dua hari lagi, pukul 7 malam kosongkan jadwalmu ya! Karena nanti ada acara Anniversary dari perusahaan kita ini. Jadi para Office Boy dan Office Girl akan menjadi petugas kebersihan dan juga pelayan di acara nanti," jelas Bu Dewi.
Hati Jelita sedikit ngilu mendengar kata pelayan, namun ia tetap tersenyum. "Baik Bu, saya siap!" jawabnya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Bara.
"Semoga tidak ada yang mengenaliku, di sana..."
...o0o...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUANYA