HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 44 - KEPUTUSAN HADES DAN JELITA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Hades duduk!" teriak sang kepala keluarga untuk yang ketiga kalinya. Urat-urat leher pria paruh baya tercetak jelas, menandakan kemarahan yang benar-benar telah meluap.


Bagaimana tidak, anak sulungnya itu benar-benar membuatnya harus menahan emosi selama beberapa hari ini.


Sejak insiden Hades hilang pada acara pesta Perusahaan Adinata yang membuatnya kelimpungan, lalu tiba-tiba ia kejutkan dengan kedatangan anaknya setelah satu jam kemudian dengan membawa seorang gadis yang sangat cantik.


Dan yang lebih parah, dan membuatnya murka seperti sekarang adalah pemberitaan yang sudah menyebar di seluruh media.


Penerus keluarga Jagakarsa bertengkar hebat dengan CEO muda keluarga Adinata.


Begitulah headline yang tersebar di media-media online yang sudah ia baca.


Perbuatan Hades kali ini benar-benar mencoreng nama baik keluarga Jagakarsa yang terkenal cerdik, cerdas, dermawan, dan bijaksana.


"Sudah Dad, sudah...." Sasa sang istri terus mengelus lengan suaminya, berusaha menangkan suaminya yang memang memiliki sifat keras dan tak suka di bantah.


Sedangkan Hades yang baru saja keluar dari perpustakaan yang berada di mansion mereka hanya menatap malas kedua orang paruh baya itu.


Namun ia berjalan mendekat kearah mereka, ia tahu ia salah, maka dari itu beberapa hari ini memang ia sedikit menjauh dari kedua orangtuanya.


Hades duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Rio–ayahnya. Kini mereka bertiga tengah berada di ruang keluarga.


"Ada apa ?"


Rio melototkan matanya tak percaya mendengar pertanyaan anak sulungnya itu. "Ada apa katanya ? Dasar anak kurang ajar! Udah bikin nama baik rusak malah nanya ada apa!" batin Rio geram, menatap putranya penuh kesal.


"Kalau gak ada yang mau diomongin Hades mau ke kamar, kau tidur." Remaja itu berdiri untuk keluar dari ruangan.


"Duduk!" titah Rio tak terbantahkan.


Tak mau memperpanjang masalah, ia duduk kembali pada kursinya menatap Rio dengan alis terangkat.


"Hades, kamu diam! Yang sopan sama Daddy!" sentak ibunya. Kini Sasa–ibu Hades beralih pada suaminya. "Lanjutkan sayang..." Sasa masih setia mengelus lengan suaminya.


Rio berdehem sejenak setelah mencium pelipis istrinya. "Kenapa kau membantu pelayan saat di pesta kemarin ? Setelah itu kau menghilang dari pesta dan sejam kemudian kau datang dengan membawa seorang gadis. Lalu kau menghilang lagi saat pesta berakhir. Dan saat pulang-pulang pada subuh dini hari kau dalam keadaan babak belur, lalu pagi harinya ada berita kau berkelahi dengan si penerus Adinata itu."


Kuping Hades berdengung mendengar ucapan Ayahnya yang tanpa rem, ia mengalihkan perhatiannya menatap lukisan, sofa dan benda-benda yang ada di sekitar ruangan itu karena terlalu malas mendengar ucapan sang Ayah.


"Hades! Dengar Daddy tidak ?" geram Rio melihat anaknya yang nampak tak memperdulikannya.


"Intinya apa sih Dad ?" tanya Remaja itu.


Kini bukan Rio lagi yang kesal, sang ibu yang sedari tadi menenangkan suaminya malah jadi terbawa emosi juga.


"Ya intinya kenapa kamu ceroboh ??" geram Sasa.

__ADS_1


Rio memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Then, tell me boy. Who is the girl and why did you fight with Bara yesterday ?" tanya Rio to the point.


*Sekarang katakan anakku, Siapa gadis itu ? dan kenapa kamu berkelahi dengan Bara ?*


"Dad, kenapa kamu mempermasalahkan aku berkelahi dengan Bara ? Biasanya kamu akan diam saja saat aku tawuran, bahkan saat aku memukuli bodyguard Daddy juga tidak marah. Then, kenapa sama Bara, Daddy marah sekali ?" bukan malah menjawab pertanyaan ayahnya, Hades malah memberikan pertanyaan balik untuk sang anak.


"Karena si Bara itu bukan orang biasa, boy. He's a main character. Dia sedang berjaya sekarang, meskipun kita tetap ada di nomor satu tapi tidak menutup kemungkinan Bara akan segera menyusul posisi kita. Maka dari itu, sebaiknya kita memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Adinata. Bisa saja di kemudian hari kita yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka," jelas Rio dengan perlahan dan bahasa yang mudah dipahami sang anak.


Ia tahu betul jika pada pasar saham saat ini perusahaan Bara tengah naik daun. Itu terjadi setelah Bara yang menduduki posisi CEO. Pria muda itu benar-benar cerdas mengolah perusahaannya dibandingkan kedua orangtuanya.


Sebagai seorang pebisnis tentu saja tak menutup kemungkinan jika Jagakarsa akan berkolaborasi dengan Adinata demi mendapatkan keuntungan yang banyak.


"Tidak! Aku menentang itu! Aku tidak sudi jika perusahaan kita meminta bantuan apapun dari pria brengsek itu!" tolak Hades cepat setelah mendengar usulan sang ayah.


"Kamu ini kenapa sih sayang, kayaknya gak suka banget sama Bara ?" tanya Sasa. Ia tahu betul mata anaknya berapi-api saat suaminya tengah membicarakan kepopuleran Bara saat ini.


Rio menaikkan kedua alisnya bingung, anaknya benar-benar tak suka dengan Bara sepertinya. "Ada apa, boy ? Jangan bilang kamu berkelahi dengan Bara gara-gara wanita yang kamu bawa ke pesta itu ?" tebak Rio tepat sasaran.


Tak mau menyangkal lagi, Hades menganggukkan kepalanya cepat. "Ya, Bara adalah pria brengsek! Wanita yang aku ke bawa ke pesta beberapa hari yang lalu itu adalah adik angkat Bara. Dengan bod**hnya dia meniduri adik angkatnya sendiri hingga dikeluarkan dari sekolah."


Mata kedua paruh baya itu membulat terkejut mendengar penuturan Bara.


"Anak yang di bawa oleh Bara pada pesta kemarin adalah anaknya dengan adik angkatnya yang tak lain adalah teman satu sekolah ku saat dibangku kuliah," sambung Hades dengan berapi-api.


Dada Hades bergerak naik-turun, amarahnya kini sudah menggebu-gebu untuk di keluarkan.


"Dia Jelita, wanita yang aku sukai! Maka dari itu aku belajar mati-matian dari pagi hingga pagi lagi agar aku cepat lulus. Tapi melihat bagaimana Jelita di siksa aku jadi tak tega, Dad, Mom..."


Tubuh Rio dan Sasa mendadak mematung mendengar penjelasan Hades. Tak ada satu kata yang keluar dari mulut mereka.


"Dia di berlakukan tidak adil di rumahnya, dia di perkejaan sebagai Office Girl di perusahaan orang tua angkatnya sendiri. Mereka tak mengijinkan Jelita untuk bersekolah lagi!" kini suara Hades menjadi lirih, bayangan wajah Jelita yang tengah tersenyum melintas pada pikirannya.


Sementara kedua orang tua Hades saling tatap, mereka tahu jika semua omongan Hades bukanlah main-main.


...o0o...


Wajah Jelita memerah malu, sungguh ia sangat menyesal mengirimkan pesan itu pada Bara, ia nampak seperti 'merindukan Bara' begitu gara-gara tidak pulang berhari-hari ?


Atau malah ia tengah tak enak hati, pasalnya pemberitaan yang belakangan ini menyatakan jika Raisa adalah kekasih Bara ?


Jelita menggelengkan kepalanya, bukan, bukan begitu! Ini mengirimkan Bara pesan karena Gala ya merindukan!!!


Ya benar! Gala pasti rindu pada ayahnya tak sudah berhari-hari ini tak menggendongnya ? Jelita menganggukkan kepalanya kali ini.


"Kamu tuh ngapain sayang ? Tadi geleng-geleng sekarang malah ngangguk-ngangguk. Pertanyaan aku belum di jawab dari tadi juga!!" ucap Bara yang tengah heran menatap istrinya yang berada di sudut ranjang.


Kini Bara tengah menggendong Gala yang sudah tertidur sembari berdiri di dalam kamar mereka.


Sejak Jelita mengiriminya pesan beberapa saat lalu, Bara segera meninggalkan Raisa yang masih berada di Apartemennya untuk kembali pulang menemui istri dan anaknya yang katanya merindukannya itu.


Sementara Jelita yang mendengar ucapan Bara kembali bersemu merah, ia sungguh malu sekaligus tak percaya. Selang sepuluh menit setelah ia mengirimkan pesan itu, Bara tiba-tiba saja memasuki kamar dan memeluknya dengan begitu erat.


"Pertanyaan yang mana ?" Jelita berpura-pura.


"Ck!" Bara menatap tak suka istrinya. "Aku tanya tadi, yang kangen cuma Gala aja ? Mamanya gak kangen juga sama Papa ?"

__ADS_1


Jelita mengalihkan pandangannya ke arah lain, entah mengapa setiap matanya bertemu dengan mata Bara, mendadak jantungnya berdebar hebat.


"Tidak! Aku malah senang kamu gak pulang. Tapi itu Gala kasian, nangis-nangis itu. Pasti dia kangen kamu." Jelita berdehem sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. "Lagian ngapain gak pulang ? Aku tahu kalo aku salah kemarin, tapi gak harus kamu gak pulang selama berhari-hari juga!" sambungnya.


Bara tersenyum geli, ia tahu jika Jelita pasti merindukannya namun beralasan jika Gala yang merindukan. Bayi 3 bulan memang sudah tahu kangen-kangenan ?


"Ya, aku banyak kerjaan jadi aku milih buat kerjain di Apartemen aku. Kalo di rumah nanti gak fokus, kamu ngajak aku perang mulu" jawab Bara dengan jujur, ia meletakkan hati-hati anak sulungnya di ranjang samping Jelita, lalu ia ikut menaiki ranjang.


Jelita mendengus sebal mendengar jawaban Bara. "Banyak kerjaan ? Banyak kerjaan apa banyak wanita ?" batinnya kesal.


"Banyak kerjaan tapi bisa ke club ya ?"


Alis Bara terangkat menatap Jelita yang tiduran di sampingnya. "Kamu cemburu ?"


"Tidak!" jawabnya cepat. "Aku cuma kasihan sama Gala, dia kangen Papanya tapi yang dikangenin malah asik-asikkan sama cewek-cewek di club!" Jelita mengelus wajah sang anak yang tengah tertidur.


"Aku gak asik-asikkan, dia sendiri yang nyamperin aku ke club!" jawabnya, "Kamu cemburu ? Kalo iya cemburu, itulah yang aku rasakan saat kamu berdekatan dengan laki-laki lain, sakit Ta!"


Hening, Jelita tak menanggapi ucapan Bara, ia memilih untuk diam dan mengelus kepala anaknya.


"Jadi gimana dengan perkataanku yang kemarin ? Kamu mau menurut sama aku ? Mau menganggap aku suamimu ? Lupakan perjanjian konyol itu! Ayo sama-sama kita berdua membangun rumah tangga ini agar lebih baik. Bukan hanya dua tahun kita bersama, tadi selamanya hingga kematian yang memisahkan kita. Bagaimana Jelita ?" tanya Hades setelah lama mereka berdiam.


"A–aku, aku tidak tahu," jawabnya terbata-bata sembari menahan sesak pada dadanya.


"Aku tahu kamu gak mencintai kakak, Ta. Tapi kakak mohon maafkan kesalahan kakak yang sudah mencintai Jelita, maafkan kesalahan kakak yang mencintai adik kakak sendiri, maafkan kesalahan kakak karena keegoisan kakak membuat kamu harus menjadi seorang ibu di usia dini. Ayo kita coba bersama untuk bangun keluarga ini dari nol ya ?" tanya Bara sekali lagi, kini pria itu memegang kedua tangan Jelita sementara tangan kirinya memegang dagu Jelita agar membalas tatapan matanya.


"Tapi aku gak mencintai kakak, aku ingin menikah dengan pria yang aku cintai," jawabnya lirih menyebutkan keinginan terbesarnya.


"Cinta itu soal waktu, kamu selama ini terlalu membenci kakak hingga tak membiarkan cinta kakak masuk dalam hatimu. Coba buka hati buat kakak ya, Ta ?" pintanya lagi dengan suara memelas.


Jelita memilin jarinya, dilihatnya sang anak yang tengah tertidur pulas. Selama beberapa bulan ini Gala memang bisa merebut semua perhatian dan kasih sayang Jelita. Yang tadinya ia begitu membenci Gala, kini malah teramat sayang pada anaknya.


Jika pikir-pikir lagi, saat umur Gala 2 tahun dan perjanjian itu tetap berjalan dan kemudian mereka bercerai, apa ia bisa melihat Gala lagi ? Apa ia bisa menggendong anaknya lagi ? Apa ia bisa mencium Gala lagi ?


Tidak! Jawabannya adalah Tidak! Bara pasti tidak akan sudi membiarkan Gala untuk menemuinya.


"Bagaimana, Ta ?" tanya Bara untuk yang kesekian kalinya.


Setelah menghela nafas berulangkali, akhirnya Jelita menganggukkan kepalanya mantap. "Iya, kita mulai sama-sama dari nol tanpa ada paksaan!" jawabnya mantap.


Iya, ini semua demi Gala! Ia tak boleh egois!


Mendengar jawaban istrinya sungguh membuat Bara memekik kegirangan, ia memeluk istrinya erat. Bara tak akan menyia-nyiakan kesempatan langkah ini. Ia akan membuat Jelita mencintainya dengan sepenuh hati!


Semoga saja ia bisa!


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2