
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
"Mereka terus memaksa tuan, mereka ingin tanah properti kita untuk pembangunan cabang baru perusahaan saingan kita itu," ucap Gio membawa laporan yang berisikan surat penawaran yang dikirimkan oleh perusahaan Jaguar Company.
Bara memijit pelipisnya yang berdenyut nyari, membaca semua isi dokumen yang dibawa oleh Gio pada malam hari ini.
Saat ini Bara dan Gio tengah berada di ruangan kerja Bara yang berada pada rumah milik Bara itu.
Seringkali Bara membawa pekerjaan ke rumah apabila memang ada hal penting yang mendesak dan tidak bisa diselesaikan keesokan hari-nya.
Jadi tak jarang Gio menginap di rumah Bara saat pekerjaaan mereka baru selesai pada dini hari, dan tak memungkinkan Gio untuk menyetir.
"Bocah itu benar-benar ingin bersenggolan denganku rupanya!" desis Bara kejam. "Benar dia sudah diangkat menjadi CEO baru Jaguar Company ?"
Gio menganggukkan kepalanya cepat. "Sudah lebih dari seminggu tuan, Hades diangkat sendiri oleh sang Ayah karena memang kemampuan pria muda itu tak diragukan."
"Saya dengar Hades mendapatkan nilai ujian tertinggi dan terbaik dari seluruh siswa di benua ASIA," sambung Gio yang membuat Bata kembali mendengus kesal.
Mata Bara kembali membaca dokumen itu. Lalu mengerutkan dahi saat ada kata dalam dokumen itu yang membuatnya terkejut. "Dia ingin membayar tanah properti kita yang jelas-jelas tidak dijual dengan harga 7 kali lebih tinggi dari harga pasar !?!" Bara memekik keheranan. "Apakah dia benar-benar seorang pebisnis ?" tanyanya bingung. "Harusnya sebagai seorang pebisnis dia mencari untung, tapi kenapa dia malah bertindak bodoh seperti itu ?"
Gio menggelengkan kepalanya, "saya juga tidak mengerti tuan, tapi Hades benar-benar memaksa melalui sekretarisnya untuk membeli tanah itu. Sedangkan tanah itu memang rencananya akan digunakan untuk pembangunan hotel keluarga Adinata," beritahu Gio lagi.
Bara memutar otaknya, memandangi foto Hades yang berada dalam dokumen itu, lalu serpingan-serpingan memori melintas pada otaknya. "Sepertinya aku pernah melihat si Hades-hades ini," gumam Bara yang masih terdengar oleh Gio.
"Tuan lupa dengan Hades ?" tanya Gio dengan tampang terkejutnya, ia kira selama ini Bara sudah tau siapa sosok bocah yang sering menggangunya.
Mendengar pertanyaan Gio, Bara semakin di buat bingung. "Kau seperti sudah tahu lama dengan bocah yang selalu menggangguku akhir-akhir ini," jawab Bara.
Bocah yang dimaksud oleh Bara itu adalah Hades, selama seminggu Hades diangkat menjadi CEO di perusahaan keluarganya, selama seminggu pula perusahaan Hades selalu mencari masalah dengan perusahaan milik Bara.
Hingga Bara sudah sangat hafal jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada perusahaan, seperti beberapa pengusaha menarik saham dari perusahaan, lalu harga sahamnya tiba-tiba menurun drastis, itu semua pasti ulah Hades.
Meskipun tak mudah bagi Bara mengembalikan keadaan, tapi Bara terlalu malas meladeni sikap Hades yang selalu mengekorinya.
"Tuan benar-benar lupa dengan Hades ?" tanya Gio sekali lagi.
Dan untuk yang sekian kalinya, Bara menggelengkan kepalanya. "Aku tak tahu dia siapa, tapi wajah sungguh tidak asing."
"Dia Hades tuan!!" pekik Gio. "Teman Nyonya Jelita waktu SMP, dia juga yang merubah penampilan Nyonya waktu acara Anniversary perusahaan anda!!!" sambungnya dengan semangat.
Mata Bara melebar saat ia ingat siapa bocah ini, pria kecil yang diam-diam mencinta istrinya. "Hades si brengsek rupanya yang sudah mengganggu ku akhir-akhir ini," gumam Bara dengan seringainya.
__ADS_1
"Sepertinya dia masih belum move on, dan masih mengharapkan Jelita..." sambungnya.
Tangan Bara menutup map kertas yang ada ditangannya itu dan menyobeknya menjadi dua.
"Tolak permintaan bocah brengsek itu! Aku tidak akan menjual tanah itu kepadanya!"
Gio menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf menyela, tuan. Tapi Hades melalui pengacaranya, memberikan ancaman pada kita jika tidak mau melepas tanah itu. Dia mengancam akan menghancurkan bisnis properti kita yang meβ"
Ucapan Gio terpaksa ia hentikan karena mendengar gelak tawa dari bosnya. "Menghancurkan bisnis ku ? HAHAHAHAHA......" Bara menghapus air mata di sudut matanya karena tertawa kencang. "Aku yang akan lebih dulu membuat perusahaan jatuh!"
...o0o...
Jelita dengan senyum ceria membawa nampan kopi hitam yang sudah ia buat untuk masuk di ruang kerja suaminya.
Hari telah berganti, terhitung ini sudah hari kelima ia tak membalas pesan Hades. Dan tidak terjadi hal buruk padanya.
Ternyata ucapan Hades, benar-benar hanya omong kosong belaka!
Ting...
Pintu lift terbuka, dengan tubuh berisinya ia melangkahkan kakinya dengan begitu sensu4l keluar dari lift untuk menuju ruang kerja suaminya yang berada di ujung lorong dengan pintu setinggi 2,5 meter.
"Pagi, Gio," sapa Jelita saat melewati tangan kanan suaminya itu.
"Pagi, Nyonya," sapa Gio balik, ia membukakan pintu besar itu untuk Jelita. "Silahkan masuk..."
Saat pintu sudah di tutup kembali oleh Gio, Jelita semakin berjalan lenggak-lenggok bak model menuju meja suaminya.
Bara yang mendengar pintu terbuka, langsung mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Matanya membulat terkejut melihat pakaian yang saat ini dikenakan oleh sang istri.
Belum lagi, cara berjalan Jelita yang benar-benar grrrrrr...... Setiap wanita itu mengangkat kakinya, bongkah belakang milik Jelita yang sebesar melon itu akan ikut terangkat.
"Sayang, hm..." panggil Jelita saat sudah berada di dekat meja pria itu. "Ini kopi hitam, pake dua sendok gula. Sesuai keinginan kamu.." Jelita meletakkan secangkir kopi itu di atas meja.
Tanpa melirik, Jelita bisa melihat Bara dari ujung matanya yang kini fokus dengan sepasang benda kenyal yang terlihat saat ia menundukkan tubuh menaruh kopi tadi.
Bara diam membeku, melupakan sejenak masalah perusahaannya dan matanya masih menatap benda kenyal favoritnya yang bak jatuh karena begitu besar dan cup itu sama sekali tidak bisa menampung isinya.
"Sayang..." panggil Bara dengan suara rendah, namun matanya masih fokus menatap hal itu.
Jelita menahan tawa, melihat wajah ingin suaminya.
Tak menghiraukan ucapannya suaminya, Jelita beralih pada dokumen yang ada diatas meja, ia mengambilnya dan membaca. "Sibuk yah kak ?" tanyanya memperhatikan setiap huruf yang sama sekali tak ia tahu.
"Ah, gak tahu lah!" Jelita menaruh kembali dokumen itu dan berjalan menuju sofa untuk duduk di sana seperti biasa, menemani Bara kerja hingga jam istirahat.
Jelita memainkan ponselnya dengan sengaja dan nakalnya ia merentangkan kakinya lebar-lebar hingga terlihatlah sesuatu yang membuat Bara semakin kepanasan di kursi kerjanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu tak bisa lari!" Bara tersenyum bak iblis. Ia berjalan mendekati istrinya dengan lebih dulu membuang jas dan mengendurkan ikatan dasi yang terasa memekik karena melihat tubuh putih bersih bercahaya milik sang istri.
Sedangkan Jelita masih pura-pura fokus dengan ponselnya, bersikap seolah-olah ada hal penting di sana. Tapi dalam hati ia deg-degan juga.
"Sayang...." bisik Bara tepat di telinga sang istri, kini pria itu sudah duduk di sofa berdempetan dengan Jelita.
"Ahh...." lenguhan lolos dari bibir Jelita, "jangan kak, Jelita cuma bercanda aja tadi. Gak beneran pengen!" jawabnya jujur.
Ia hanya ingin bermain-main dengan Bara, bukan bersungguh-sungguh ingin melakukannya di ruangan ini.
Jelita kembali mengeluarkan lenguhan saat jari Bara masuk pada dirinya.
Jelita menjerit saat mendapatkan pelepasan hanya dengan jari Bara. Tubuhnya lemas dan sudah tak bertenaga.
"Baru awal sayang, jangan lemas dulu..." bisik Bara lagi dengan menggoda.
Berulangkali Jelita menolak, Bara akan semakin memaksanya.
Kini mereka saling mengecap, dengan tangan Bara yang sejak tadi sibuk dengan benda kenyal Jelita. Ia memainkan choco chip yang masih mengeluarkan air itu dengan semangat.
"Aduhshhh...kak....."
"Tangannya kak, jangan...shh...nakal....." Tangan Jelita menyentak tangan nakal Bara yang ingin masuk kembali pada dress-nya.
Namun usaha Jelita tak sebanding dengan usaha Bara. Hingga dirinya kini mendapatkan puncak untuk yang kedua kalinya.
Ceklek....
Bersamaan Bara yang akan melepas ikat pinggangnya, pintu ruangan kerjanya dibuka secara kasar.
Gio, Hades dan juga Ranz masuk ke ruangan Bara dan dikejutkan dengan kegiatan tak senonoh yang ditayangkan secara live oleh sepasang suami istri itu.
"ARGHHHHHHHH!!!!!!" teriak Jelita kencang dengan wajah memerah sembari menutup bagian dadanya dengan kedua tangan.
Sedangkan Hades tercengang, dengan mulut yang terbuka lebar. "Jelita benar-benar luar biasa! Tubuhnya benar-benar kesukaanku..." batin Hades menikmati pemandangan itu.
Bisakah suatu hari nanti Hades menjamah tubuh itu seperti Bara ? Bisakah Hades mengantikan posisi Bara dalam hidup Jelita ?
...o0o...
RAMEIN YAA SAYANGNYA RATU...
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA π₯°
TERIMA KASIH SEMUANYA