HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 17 – HANCUR SUDAH!


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Jelita memakan sarapannya dengan lahap bersama Ayah, Ibu dan juga kakaknya. Meskipun tadi malam Bara dengan lancang menyentuh tubuhnya, tapi hari ini ia akan semangat. Karena ia adalah pertemuan dengan dosen pembimbingnya yang terakhir. Dan itu artinya sebentar lagi ia akan ujian skripsi dan wisuda.


"Ingat pesan Mama, pasang telinga dengan tajam. Catat semua perkataan dosen, dan jangan buat kesalahan. Hari ini adalah hari terakhir," peringkat Jelita pada anak angkatnya itu.


Dengan mulut menggembung karena berisi nasi goreng penuh, Jelita menganggukkan kepalanya semangat. "Tentu saja, Ma. Tapi sepertinya Jelita akan menyelesaikan semuanya dengan cepat. Dan mendapatkan hasil yang maksimal!" jawabnya dengan percaya diri.


Mendengar itu sontak membuat kedua orang tua Jelita tertawa, berbeda dengan Bara yang sedari tadi hanya diam, memperhatikan pergerakan adiknya.


Pria itu melihat jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. "Sudah jam setengah 8 sayang, mau berangkat sekarang ? Sekalian kakak mau membeli sesuatu di minimarket," tawar Bara.


Jelita menatap tanpa minat kakaknya, si brengsek itu benar-benar tidak tahu malu! Tapi tentu saja ia tak bisa menolak ajakan kakaknya.


"Baiklah kak, kita berangkat sekarang saja," jawabnya, setelah itu ia meminum segelas susunya.


Bara dan Jelita kompak berdiri dari duduknya dan menyalami kedua orangtuanya. "Kami berangkat!" ucap mereka kompak.


Kedua orang tua itu tersenyum menatap punggung kedua anaknya yang semakin terlihat menjauh. "Seperti Bara mulai membuka hati untuk Sinta, Pa. Buktinya tadi ia sama sekali tidak menggoda Jelita. Sungguh aneh," ucap Fara.


Doddy setuju jika Fara mengatakan anak kandungnya itu aneh. Tapi ia sama sekali tidak setuju dengan ucapan Fara yang mengatakan jika Bara sudah tak mencintai Jelita. Karena itu pasti membutuhkan waktu lama untuk menghilangkan rasa suka terhadap seseorang. "Semoga saja," jawab Doddy acuh.


...o0o...


Mobil Bara melesat dengan kecepatan sedang menuju sekolah adiknya. Seperti kata Fara tadi, Bara terlihat aneh.


Biasanya jika berduaan dengan Jelita di mobil, Bara akan memanfaatkan keadaan dan melancarkan aksi tak senonohnya. Misalnya dengan cara tangan kirinya masuk ke dalam rok sekolah Jelita, atau siku Bara yang selalu menyenggol dengan sengaja gundukan Jelita.


Namun kali ini tidak, bahkan Bara tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Dan tentu saja menganggu pikiran Jelita. "Apa aku buat salah lagi ?"


"Ah, aku lupa. Kakak kan sudah ada tunangan, mungkin dia sudah tak berminat lagi padaku. Bukankah itu bagus ?" batinnya lagi.


Bisa-bisanya Jelita lupa dengan seorang wanita dewasa dan cantik yang hampir menjadi tunangan Bara itu.


Tentu saja jika wanita itu yang membuat perusahaan signifikan dari Bara. Apalagi dia sudah tak per**wan, mungkin Bara sudah bosan dengan tubuhnya.


"Kenapa diam ? Kita sudah sampai! Sana cepat masuk!"


Mendengar ucapan Bara membuat pikirannya jadi kembali pada dunia ini. "Ah iya kak, maaf tadi aku melamun." jawabnya meringis malu.


Segera Jelita melepas sabuk pengamannya, "aku masuk kak, terima kasih sudah mengantar!" membuka pintu, Jelita berlari kecil memasuki gerbang sekolah.


Ting...

__ADS_1


Suara notifikasi pada ponsel Bara, ia mengambil ponsel yang terletak di atas dashboard mobilnya dan membuka kunci ponsel itu.


Bara tak bisa tak tersenyum saat mendapat pesan yang sudah ia nanti-nantikan ini.


Rina Safitri


Sudah saja sebarkan ke grup angkatannya


Tidak ada wajahnya anda


Hanya wajah, tubuh Jelita yang


hanya terlihat sebatas dada


dan suara-suara desa**hannya.


"Kerja bagus Rina, kamu akan mendapatkan bayaran mahal atas kerja kerasmu," gumam Bara.


"Hah..." Bara menghela nafas panjang dan menaruh kedua tangannya di belakang kepala. Badannya ia sandarkan ke kursi mobil. "Lebih baik aku tak kuliah sekarang. Aku lebih baik di sini menunggu Jelita keluar dari sekolah. Sudah pasti wanita itu akan langsung pulang dan menangis, apalagi saat melihat video asusilanya," sambungnya sembari tertawa kecil membayangkan raut wajah panik adiknya.


"Percayalah Jelita, kamu hanya ditakdirkan untuk kakak!"


...o0o...


"Itu dia datang!!"


"Masih punya muka dia datang kemari ?"


"Mukanya boleh polos, kelakuannya lebih profesional daripada ja**l*ng!'"


Jelita mendadak pucat pasi saat terdengar bisik-bisikkan yang mengarah kepadanya. Bukan karena Jelita percaya diri atau apa, hingga membuatnya yakin jika orang-orang itu tengah membicarakannya.


Tapi tatapan mata mereka yang menusuk tajam tubuh Jelita-lah yang membuatnya yakin jika ucapan-ucapan tak pantas itu di tujukan padanya.


Semakin ia masuk kedalam universitasnya, maka umpatan-umpatan itu terdengar kian jelas dan menyakitkan.


"Padahal kalo ngomong polos banget loh! Gak nyangka aslinya bi**n*l banget!"


"Woy semalam berapa lo ? Sini sama gue !"


"Dasar aib!"


Hingga kakinya berhenti tepat di depan kelasnya. Sama seperti tadi disepanjang jalan kini Jelita juga ditatap menjijikkan oleh seluruh mahasiswa/i kampus.


Dengan gugup Jelita berjalan menghampiri bangkunya yang sudah terisi ketiga temannya.


"I–ini a–da apa sih Nis?"


Bukan menjawab, Nisa teman sebangku Jelita malah menjauhkan tubuhnya dari Jelita. Menganggap jika wanita itu adalah kotoran yang bisa saja membuat pakaiannya kotor.


"Jujur Ta, gue jijik sama lo!" Rinda terang-terangan mengatakan itu pada Jelita.

__ADS_1


"Kenapa lo bisa rusak gitu sih ?"


"Bisa-bisanya lo diumur 23 ini udah jadi pemuas nafsu ? Mana pake di rekam segala lagi!!"


Mata Jelita membulat mendengar ucapan temannya itu. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Beberapa kali Jelita membasahi bibir bawahnya yang tiba-tiba terasa kering.


"Apakah teman-teman sudah tahu jika ia di per**k*sa oleh Bara ?" batinnya.


"Maksud kalian apa ?" tanyanya dengan mata membulat terkejut.


Ada seseorang yang menepuk bahu Jelita, ia membalikkan badan menghadap seseorang yang kini terlihat sangat berantakan. Rambut dan bajunya sudah terlihat sangat acak-acakan.


"Ini apa Ta ? Lo beneran jadi pemuas nafsu ?" kali ini Hades yang bertanya dengan nada pias.


Cinta pertamanya hangus begitu saja.


Jelita merebut paksa ponsel Hades yang saat ini memperlihatkan videonya yang sedang beradegan panas dengan Bara.


Dan sialnya posisinya terlihat sangat menikmati sentuhan kakaknya itu. Dimana adegan ia berontak, menangis, menendang dan menjambak Bara ? Kenapa di video itu ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar mendambakan adegan itu ?


Double sial, hanya wajah Jelita yang terlihat. Wajah Bara di blur.


"SUMPAH DEMI TUHAN! ITU AKU–AKU–AK..." bibir Jelita keluh tak bisa berbicara.


Mau membela diri bagaimana pun, sudah jelas jika dirinya terlihat kenikmatan dengan hal intim itu.


"Gak bisa ngomong kan lo! Dasar lon–"


"KEPADA ADHISTI JELITA ADINATA DIMOHON SEGERA KE RUANG REKTORAT! SEKALI LAGI ADHISTI JELITA ADINATA SEGERA MEMASUKI RUANGAN REKTORAT. TERIMA KASIH!" pengumuman menggunakan speaker itu terdengar begitu jelas memotong ucapan Salsa yang sedari tadi memandang rendah Jelita.


"Mampus lo dikeluarin dari sini?!"


Tak kuat mendengar cemoohan teman-temannya, Jelita segera keluar dari kelas dan berjalan menuju ruang rektorat dengan tangan yang terkepal kuat.


"Terima kasih Bara Adinata karena anda sukses membuat hidup saya hancur, sehancur-hancurnya!"


...o0o...


UDAH HARI SENIN...


KASIH RATU VOTE KALIAN YA...


BIAR RATU SEMANGAT NULISNYA 🥰🥰🥰


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2