HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 6 – BANTU ?


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Jelita saat ini memasuki semester akhir kuliah, yang berarti ia akan lulus dari dunia perkuliahan, menuju dunia kerja yang sesungguhnya. Maka dari itu ia diharuskan untuk mengikuti bimbingan skripsi yang dilakukan secara berkala oleh dosen pembimbing.


Karena beberapa bulan lagi, mereka akan menjalani ujian skripsi yang nantinya akan menentukan apakah mereka lulus atau mengulang lagi di semester depan.


Tentu saja mereka akan belajar mati-matian agar lulus dengan nilai yang memuaskan , dengan nilai IPK yang besar nantinya,mereka berharap akan dapat masuk ke salah satu perusahaan raksasa di kota dan akan membanggakan orang tua mereka.


Seperti sekarang Jelita tengah memfokuskan dirinya mengerjapkan skripsi yang baru saja direvisi ulang dosen pembimbingnya.


"Ih susah banget deh ini, gue gak bisa anjir!" keluh Rinda yang diangguki serempak oleh Salsa dan juga Nisa.


"Bisa, kalian harus fokus sama skripsi ini. Meskipun memang rumit dan banyak formula, belum lagi harus melalui revisi sana-sini. Tapi jika kita fokus dan teliti, pasti akan mudah menyelesaikan karya tulis ilmiah ini." tangan Jelita tak berhenti mengetik dengan sepuluh jari diatas keyboard , meskipun telinga dan mulutnya merespon temannya.


Mendengar jawaban Jelita, ketiga temannya hanya bisa mendengus malas. Pantas saja jika jelita mengatakan itu karena memang gadis itu cerdas.


Jelita selalu mendapat dibanggakan oleh para dosen. Nilai IPK-nya selalu sempurna.


"Lo mah enak, Ta! Pinter terus keluarga lo juga kaya. Semisal gak masuk ke perusahaan besar, tapi orang tua lo punya perusahaan sendiri. Lo gak bakal pusing mikirin kerja dimana," jawab Nisa telak, sedangkan yang disindir hanya tertawa cengengesan.


"Tau tuh Jelita!"


"Ya udh nih," Jelita memberikan beberapa lembar kertas skripsi yang sudah direvisi kepada ketiga temannya lalu di sambut pekikan senang. "Silahkan dicontek, tapi ingat harus ada beberapa hal yang dibedakan. Biar ga ketahuan."


Mereka menganggukkan kepalanya kompak, lalu segera menyalin tugas Jelita setelah mengucapkan terima kasih.


Sedangkan Jelita, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Teman-temannya masih mengerjakan tugas, ternyata hanya dirinya yang selesai mengerjakan tugas terlebih dulu. Maka dari itu ia menyicil revisi skripsinya.


Eh tapi tunggu....


Hades, teman Jelita yang begitu tampan itu sudah menyelesaikan tugasnya.


Tatapan mereka beradu sejenak. Tatapan Hades sama seperti milik Bara–tajam dan mengintimidasi.


Tanpa sadar Jelita memegang dadanya yang bergemuruh kencang.


"Perasaan apa ini Tuhan..." batinnya.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Hades–lelaki yang menyandang gelar pria paling tampan di Universitas BRINA JAYA ini menegang saat matanya beradu dengan mata jernih Jelita.


Kring...kring....


"SELESAI TIDAK SELESAI TUGAS DIKUMPULKAN!!" teriak dosen tersebut.


Para murid kelabakan, berbeda dengan Hades yang segera membawa bukunya kepada sang dosen sembari menggendong tas pada bahu kirinya.


Lagi dan lagi tatapan Hades beradu dengan Jelita saat akan keluar dari kelas itu. Hades tersenyum menyeringai menatap Jelita.


"Milik Hades!"


...o0o...


Pukul lima sore Jelita baru tiba pada rumahnya. Setiap hari selalu seperti ini, ya itu karena harus mengajari teman-temannya.


Kesal, lapar, letih dan capek berkumpul jadi satu pada pundak Jelita. Ingin rasanya tertidur hingga besok pagi.


Kruyukkk....


Niatnya ingin tertidur hancur seketika, ia bangkit dari tidurnya lalu melepas pakaiannya yang masih ia kenakan.


Dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun, Jelita memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Gadis cantik itu memasukan tubuhnya dalam bathtub yang berisikan air hangat yang sudah ia beri tetesan sabun cair sebelumnya.


...o0o...


Sementara di luar pintu kamarnya ada Bara yang datang membawa boneka Teddy Bear yang sengaja ia beli sendiri setelah pulang dari kampus.


Senyum lebar menghiasi bibir Bara, pasti adik kecilnya itu akan sangat senang mendapatkan boneka ini.


Ah, Bara jadi tak sabar...


Tok....tok..tok...


"Sayang...."


Tok...tok...tok...


"Jelita!!"


Tok....tok...tok...


"Adek...?"

__ADS_1


Berulangkali Bara mengetuk pintu kamar Jelita, tapi tidak ada gadis tidak membuka pintunya.


Tangan Bara terkepal kuat, jangan bilang adiknya itu masih belum pulang dari kuliah ? Dilihatnya jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Lima lewat lima belas menit. Sudah seharusnya adiknya sampai di rumah. Apa adiknya sudah jadi pembangkang sekarang ? Padahal setiap hari Bara berpesan untuk langsung pulang jika sudah selesai kuliah. Dan menyuruh adiknya untuk belajar kelompok di rumah jika atas tugas berkelompok.


Lalu jika tidak ada di kamar, dimana adiknya ?


"Hah...." Bara menghela nafas panjang, untuk mengurangi emosinya.


Tangannya kirinya terangkat untuk memutar knop pintu, lalu masuk sembari membawa boneka Teddy berukuran raksasa dengan susah payah.


Ia meletakkan boneka besar itu diatas sofa.



Lalu pandangannya meneliti keadaan sekitar, ada tas dan sepatu sekolah adiknya. Seketika emosinya luntur seketika, urat-urat leher yang tadinya tercetak jelas perlahan memudar.


"Mungkin sekarang dia ada di ruang makan," gumam Bara sembari tersenyum manis. .


Namun baru saja akan keluar, terdengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Bara hafal ini, suara kran dari Bathub.


Seketika jantung Bara berdebar kencang.


Ia menggagalkan rencananya menuju ruang makan, dan saat ini ia tengah memutar knop pintu untuk membuka kamar mandi milik Jelita.


Bara menahan nafas saat melihat adiknya dengan mata terpejam tengah berendam di sana. Untungnya busa sabun itu menutupi tubuh Jelita.


Tak...tak...tak...


"Jelita...." panggil Bara dengan suara seraknya saat sudah berada di samping bathup milik wanita itu.


Sedangkan Jelita yang mendengar suara orang lain memasuki kamar mandi langsung membuka matanya terkejut, sembari menyilang kan tangannya di depan dada polosnya yang untungnya tertutup busa.


"Kak Ba–Bara ?" ucapnya tercekat.


Bara bersimpuh di depan wajah Jelita dan senyum miringnya. "Kakak bantu ya..."


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.

__ADS_1


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2