HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 64 - BEKERJA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Untung aja luka lebam kamu udah agak menghilang," ucap Sasa–ibu Hades dengan perasaan lega, ia tersenyum menatap anaknya yang sedang sibuk memakan makanannya.


Kemarin Hades sudah diperbolehkan pulang, setelah dua hari dua malam ia menginap di rumah sakit.


Dan hari ini tepatnya, ia sudah pulang pagi-pagi sekali. Karena di rumah sakit dia belum sempat memakan sarapannya karena buru-buru pulang, dengan alasan "aku sangat bosan di rumah sakit!" jadi ia kini tengah duduk di meja makan bersama dengan kedua orangtuanya.


"Sudah tidak sakit kan, sayang ?" tanya Sasa lagi.


"Hm," Hades hanya bergumam, mengunyah roti dalam mulutnya berlahan karena rahangnya masih sangat terasa sakit.


Rio melirik Hades sebentar lalu menatap istrinya lagi. "Wajahnya sudah lebih baik. Aku rasa kita bisa memulai pertemuan mereka," ucapnya yang membuat Hades mengangkat sebelah aslinya bingung. "Kamu sudah buat janji dengan keluarga Sanjaya kan ?" tanya Rio lagi.


Sasa mengangguk disertai senyum sumringah diwajahnya, ia menatap suaminya yang tampak rupawan menggunakan setelan jas kerja. "Tentu saja sayang, nanti malam keluarga Sanjaya kemari. Pak Bisma Sanjaya dan juga Ibu Widya Sanjaya, beserta putri angkat mereka."


Rio tersenyum puas, lalu matanya menatap Hades. "Nanti malam siapkan dirimu. Rumah kita akan kedatangan tamu penting," jelasnya yang langsung diangguki oleh Hades. "Hari ini kamu tidak perlu bekerja, sementara Daddy yang akan mengambil alih semua pekerjaannya," sambungnya.


Tak ada jawaban dari mulut Hades, pria muda itu masih sibuk memakan makanannya. Menghiraukan kedua orang tuanya.


"Kamu tidak tanya gitu, nak, kenapa keluarga Sanjaya dengan putri angkatnya akan datang kesini ?" tanya Sasa dengan senyum yang tertahan, sungguh ia sangat bersemangat dengan acara nanti malam.


"Memang ada apa ?" tanya Hades basa-basi semata, sebenarnya dalam hatinya ia tahu jika kedatangan keluarga pebisnis itu hanya untuk makan malam untuk menjalin hubungan kerjasama, tidak ada yang spesial. Tapi bukankah ia harus menjawab pertanyaan ibunya. Walaupun hanya basa-basi saja.


Mendengar jawaban putranya, bibir Sasa tidak bisa untuk tidak melengkung keatas. Ia melirik suaminya, mengkodenya untuk menjawab pertanyaan Hades.


"Ekhem," batuk Rio, "Daddy dan Mommy beserta keluarga Sanjaya sudah berniat menjodohkan kamu dengan putri angkat mereka satu-satunya."


Deg....


Jantung Hades berdebar kencang, ia menatap Ayahnya dengan sorot mata kecewa. Kenapa begitu ? Kenapa kalian merecoki kisah asmaraku ? Kalian membuatku kecewa! Aku mencintai wanita lain!


"Benar sayang, namanya Chika, dia sangat cantik dan imut sekali. Usinya baru 16 tahun dan kalian akan menikah setelah Chika lulus SMA," jelas ibunya dengan mata yang berbinar. "Lalu jug dia sangat pintar bermain biola, Mommy lihat di–"


Ucapan Sasa terhenti saat Hades membanting garpunya diatas piring kaca, hingga menimbulkan suara yang cukup kencang.


Kini atensi kedua pasangan suami istri itu menatap Hades dengan raut wajah yang berbeda. Rio dengan raut wajah marah, karena Hades berani memotong ucapan ibunya. Sementara Sasa menampilkan mimik wajah sedih.


"A–ada apa sayang ?" tanya Sasa cemas. "Apa kamu marah pada Mommy karena anak Sanjaya itu hanya anak angkat ? Maafkan Mommy sayang, tapi Chika itu ben–"


"GAK!" ucap Hades setengah berteriak. "Aku tidak menikah dengan perempuan itu! Aku gak mau dijodohkan!" sambungnya final.


"Lalu kamu mau menikah dengan siapa ? Menikah dengan teman SMP kamu yang sudah punya suami itu ? Menikah dengan teman kamu yang hamil di luar nikah itu ? Dia bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri, dan kamu malah mencintai dia! Tolol kamu Hades!" desis Rio kesal.


Kedua tangan Hades terkepal erat, ia menatap Ayahnya nyalang karena berani menghina wanitanya. "Jangan pernah Daddy menghina Jelita! Dia gak seperti yang Daddy pikir! Dia dijebak Dad dan aku bakal bantu dia untuk segera bercerai dengan Bara!"


Rio tertawa meremehkan, "apa kamu sudah diberi pelet oleh wanita itu ? seberapa cantik sebenarnya dia sampai mampu menggoda kamu dan kakak angkatnya sendiri ?" tanyanya.


"Apapun itu, Dad gak bakalan setuju kamu sama dia!" ucap Rio lagi. "Persiapkan diri kamu, nanti malam keluarga San–"


Kreek....


Belum selesai Rio berbicara, tapi anaknya itu sudah menarik kursi kebelakang, lalu berjalan memasuki lift dengan tangan yang masih terkepal erat meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berbicara padanya.


"Sampai matipun, hanya Jelita yang ada di hatiku! Dan aku tidak akan menikah selain dengan Jelita!"


Ting....

__ADS_1


Pintu lift tertutup, membawa Hades menuju kamarnya. Sementara di ruang makan kedua orang tua hadits saling bertatapan dengan cemas.


"Bagiamana ini Dad, Hades sama sekali menolak perjodohan itu. Lalu bagaimana ? Mommy sudah sangat srek dengan Chika!"


Rio tersenyum mengusap kepala istrinya dengan sayang. "Tenanglah sayang, apapun yang terjadi perjodohan itu akan tetap dilangsungkan. Mau Hades setuju atau tidak!" final Rio, sungguh ia tak ingin anaknya mengacau rumah tangga orang lain.


Dan ia juga berharap agar putri angkat keluarga Sanjaya itu bisa membuat Hades tertarik.


...o0o...


tok...tok...tok....


"Masuk!" ucap seseorang dari dalam ruangan saat mendengar pintunya diketuk beberapa kali dari luar.


****Krek****...


Pintu itu terbuka, menampilkan seorang wanita cantik serta imut di ujung pintu, Widya tersenyum manis, menyuruh wanita itu untuk duduk di depannya.


"Sayang, kamu beneran datang!" pekik Widya senang.


Jelita tersenyum manis meskipun agak ia paksakan. Jika bukan karena Fara si nenek sihir itu ia juga sangat malas untuk datang kemari.


Kerja sebagi pelayan di restoran ini ?!?! Yang benar saja! Hello! aku ini Jelita istri dari CEO perusahaan properti nomor satu di Jakarta!


"Ah iya, Tante. Mama Fara yang meminta aku untuk datang kemari," jawabnya dengan senyum lebar.


Entah mengapa melihat senyuman Jelita, rasa sejuk menyelimuti hati Widya tanpa sadar ia ikut tersenyum.


Widya berdiri dari duduknya, lalu mengandeng tangan Jelita lembut untuk duduk di sofa pada ruangan itu.


"Duduk di samping Tante sini sayang," ajak lembut.


Dan tentu Jelita menurut, ia duduk hampir berdempetan dengan Widya. "Kamu cantik sekali sayang," puji Widya yang melihat wajah gadis muda itu dari dekat.


Pipi Jelita bersemu, "Tante juga sama cantiknya, kalo dilihat wajah kita mirip ya Tan..." goda Jelita hanya bercanda.


Setelahnya mereka tertawa, tanda sadar Widya merangkul pinggang Jelita dari belakang. "Eh tapi beneran loh, kita mirip."


Jelita menggeleng, ia menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya. "Enggak cantikan Tante serius, Jelita aja sampai kalah."


Widya tersenyum tipis, walau dalam hati ia menolak itu. Wajah Jelita benar-benar cantik, mirip sekali dengan adik iparnya yang keturunan Pakistan.


"Hm, tan, jadi Jelita kesini mau minta kerjaan sama tante. Sebenernya Jelita gak mau kerja sih, lebih mau urus anak aja di rumah. Tapi karena Mama Fara yang memaksa jadi ya, mau tidak mau Jelita harus nurut!" ucapnya dengan senyum lebar. "Jadi ada kerjaan kah ditempat tante ?" sambungnya.


Senyuman Jelita barusan terkesan dipaksakan, membuat hati Widya ikut teriris. Ia mengelus lembut kepala wanita muda itu.


"Kenapa kamu harus mengikuti kemauan Fara ? Kamu kan sudah menikah, harusnya kamu lebih mengikuti ucapan suami daripada ibumu. Jika Fara memintamu bekerja tapi suamimu menolak, ya kamu tidak perlu bekerja, nak..."


"Hm, Jelita bingung Tan. Di satu sisi, benar suami Jelita tidak mengizinkan Jelita bekerja tapi di satu sisi lain, tidak mungkin Jelita mengabaikan perintah Mama. Dia yang mengasuh Jelita dari kecil hingga sekarang," jawabnya dengan senyum miris. Jika tidak ada Mama Fara mungkin Jelita sekarang menjadi pengamen jalanan, tan....


"Semua ibu yang baik, pasti merawat anaknya dari kecil hingga dewasa, Ta. Kamu jangan merasa sungkan dengan itu, karena itu memang sudah menjadi tugas setiap orang tua!" Widya menjadi bingung, kenapa Jelita terkesan lebih takut pada Fara dibanding dengan suaminya sendiri. "Memang apa kamu pernah di siksa sama Fara ?" tanyanya dengan hati-hati.


Mata Jelita mengerjap mendengar pertanyaan terkahir dari Widya, dalam hati ia mengumpat pada mulutnya yang begitu ember, bercerita tentang masalah keluarga.


"Ah tidak! Tidak pernah sekalipun Mama Fara jahat sama Jelita!" sangkal Jelita langsung. "Ehm, jadi ada kerjaan kan di resto tante ? Kalo ada Jelita mau kerja sekarang," sambungnya mengalihkan pembicaraan.


Widya tersenyum lembut mendengar pertanyaan Jelita yang keluar konteks. Tapi ia sangat memakluminya, karena memang pertanyaan sangat tidak sopan, dan tentu itu adalah privasi Jelita mau menjawab atau tidak.


"Ada nak, kamu bisa be–"


Kring....kring....kring....


"Sebentar ya, suami Tante telfon," pamitnya pada Jelita.


Widya segera menekan tombol hijau pada layar ponsel yang baru saja keluar dari saku celananya dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Halo sayang..." ia menyapa suaminya dari sebrang telfon.


Jelita berusaha untuk tidak mendengarkan perbincangan Widya dengan suaminya itu, matanya menatap sebuah foto yang berada di dinding itu.


Foto dengan figuran yang cukup besar, yang berisikan Ibu Widya, seorang pria yang Jelita tafsir adalah suami bu Widya dan juga ada seorang gadis dengan seragam putih biru yang tersenyum manis menatap kamera.


"Ah, pasti itu foto keluarga tante Widya..." batinnya, ia menatap iri seorang anak itu, Widya adalah wanita yang lembut berbanding terbalik dengan Fara yang kejam. "Seandainya ibuku adalah tante Widya. Pasti aku bakalan happy banget .."


"Ah Jelita, kamu bisa mulai dari bersih-bersih ruangan saya dulu ya. Kalo sudah kamu bisa bantu-bantu di depan untuk mengantarkan makanan ke pembeli. Bekerja seperlunya dan jangan capek-capek ya." Setelah selesai melakukan panggilan dengan suaminya, Widya tampak buru-buru memasukan barang-barangnya kedalam tas. "Saya pergi dulu ya, nanti malam saya ada acara keluarga dengan salah satu pengusaha. Good bye, Ta. Semoga kamu nyaman bekerja di sini," sambungnya lalu keluar dari ruangan, meninggalkan Jelita yang tersenyum bodoh duduk di sofa.


"Hah...." ia menghela nafas panjang, lalu berdiri dari duduknya. "Sial! Aku bekerja jadi bawahan lagi!" sambungnya dengan tertawa bodoh.


Ia mulai merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di meja kerja Widya, hingga matanya menatap papan nama Widya yang berada diatas meja. "Widya Sanjaya..." gumamnya membaca papan nama yang jatuh itu lalu memposisikan dengan benar.


...o0o...


Rahang Bara mengerat dengan rahang yang mengeras. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan setelan jas yang masih terpasang rapi pada tubuhnya.


"Beneran deh Bar, Jelita sama sekali gak ijin ke Mama dia pergi kemana, tapi Mama lihat tadi siang dia pergi buru-buru gitu. Mau nanya juga gak sempat," ucap Fara sembari menggendong Gala yang tertidur.


"SIALAN!!" teriak Bara kesal.


Bagaimana tidak kesal ? Saat baru sampai rumah setelah lelah bekerja seharian ia dikejutkan dengan kabar istrinya yang pergi dari siang hingga malam ini belum pulang juga. Mana Jelita juga sama sekali tidak minta ijin kepadanya!


Bara merasa tidak dihargai sebagai seorang suami.


Fara mati-matian menahan tawanya, padahal ia jelas-jelas ia tahu dimana Jelita sekarang berada karena memang ia yang menyuruh, tapi bisa-bisa ia berakting seolah-olah tidak tahu di depan anaknya.


"Tuh, mangkanya Mama dari awal bilang apa sama kamu, jangan nikah sama perempuan yang asal-usulnya gak jelas. Harus lihat bibit, bebet, bobotnya." Fara melirik Bara yang sedang kacau itu, anaknya kini tengah mengacak rambut frustas. "Kita kan gak tahu sifat orang tau Jelita mana yang menurun sama anaknya. Kalo ternyata ibunya pel4cur gimana ? Bisa aja Jelita selingkuh sekarang! Dia nemuin pacarnya diam-diam...." sambungnya dengan senyum miring yang tertahan.


"Fxxxk!" umpatnya, berulangkali ia mencoba menghubungi Jelita namun bukan suara Jelita yang ia dengar, tapi suara operator yang semakin membuatnya muak.


Bara mengendurkan dasi yang terasa mencekik lehernya itu. "Kalo sampai yang diucapin sama Mama itu benar, Bara akan kasih huk–"


Tak sampai Bara menyelesaikan ucapannya, Jelita dengan raut wajah kusut datang dari pintu utama.


"JELITA!!!" teriak Bara nyaring.


Jelita yang sedang menutup pintu tersentak kaget, ia membalikkan badannya menatap Bara yang sama kacaunya dengan dirinya tengah berjalan kearahnya dengan langkah lebar.


Tubuh Jelita bergetar seketika, "A–ada apa kak ?" tanyanya beringsut mundur.


"Kita bicara di kamar!" final Bara menarik tangan Jelita dengan begitu kasar untuk menuju kamar mereka.


Jelita berteriak kesakitan, namun Bara menulikan indra pendengarannya dan semakin kuat mencekram Jelita meninggalkan ibunya yang sedari tadi mengintip adegan penyiksaan itu tanda ada niatan menolong.


"Mampus kamu anak pungut! Selama saya di sini, gak ada kata tenang dalam hidup kamu!" desisnya dengan senyum miring.


Anak pungut itu ingin menduduki tahtanya sebagai ibu negara Adinata ?? Dalam mimpi saja Fara tidak akan membiarkan itu terjadi!


...o0o...


HUAAA 2000++ KATAAA 😘😘


SEMOGA KALIAN PUAS BACANYA YAA....


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2