HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 7 – MODUS BARA


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


"Kak Bara bantu kamu m*ndi ya sayang ?" pinta Bara untuk yang sekian kalinya.


Dan untuk kesekian kalinya pula Jelita menggelengkan kepalanya dan tersenyum kikuk ke arah kakaknya itu.


Susah payah Jelita menelan salivanya saat Bara menatapnya begitu intens seperti. Bukan, bukan seperti menatap seorang adik seperti biasanya. Tapi sepertinya seseorang yang akan menerkam mangsanya hidup-hidup.


"Gak usah kak! Jelita udah besar!" jawabnya dengan kata yang sama.


"Enggak! Dari dulu sampai sekarang kamu tetap anak kecil di mata kakak!"


"Terserah kakak kalo gitu!" ketus Jelita.


"Berarti boleh dong ?" sambut Bara dengan mata berbinar.


Jelita menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak kak Bara, gak boleh. Dosa tau! Lagian aku jawab terserah itu buat nanggepin kata kak Bara yang katanya aku anak kecil terus, bukan yang mandi bareng!" jelasnya.


"Dosa kamu biar kakak yang tanggung, apa mau mandi bareng aja ?" tanya Bara dengan senyum menggodanya.


Gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain, sial! Ia tidak boleh jadi Clarissa yang masa depannya hancur oleh kakaknya sendiri.


"Engga–"


"DIAM! KAKAK TIDAK TERIMA PENOLAK! KALAU KAKAK BILANG KAKAK YANG MANDIKAN ITU ARTINYA KAKAK YANG MANDIKAN!!!" bentak Bara dengan kencang.


Setelahnya Bara melepaskan kemeja yang sedang ia pakai dengan kasar, lalu membuangnya kesegela arah.


Pria itu mendekat kearah Jelita, dan sesuai perkataannya tadi, ia benar-benar membantu Jelita, menggosok badannya lembut.


"JANGAN NANGIS JELITA!!!" teriak Bara kencang.


Jelita hanya bisa menutup mulutnya, dan menahan isaknya saat kakaknya ini benar-benar gila sekarang.

__ADS_1


"Mama, papa, Jelita takut...."


...o0o...


Berbeda dengan Bara yang sedang bermain air dengan Jelita. Kedua orang tua mereka tengah makan malam dengan berbagai macam hidangan yang disediakan di meja panjang ini.


Meskipun makanan mereka tampak mahal dan terlihat lezat tapi sama sekali tidak ada nafsu makan bagi mereka.


Doddy dan Fara hanya mengaduk-aduk makanannya mereka tanpa minat sama sekali. Pikiran mereka masih pada anak tunggal mereka. Bara.


"Gimana menurut, Papa ?"


Doddy menghela nafas panjang sembari menggeleng bingung. "Gak tahu Ma, kali ini Papa udah gak ngerti lagi sama jalan pikiran anak itu."


"Dulu saat Bara minta Jelita homeschooling Papa selalu turutin karena Papa pikir dulu Bara sayang banget sama adiknya, eh ternyata Bara gak mau Jelita punya teman laki-laki. Dari situ Papa tahu kalo Bara ini melenceng, buru-buru Papa berhenti sekolah Putri, terus pindah Putri kesekolah biasa," jelas Doddy menatap istrinya dengan sendu. "Papa kira perasaan cinta gila itu bis luntur pada diri Bara, tapi ternyata Papa salah. Bara malah semakin terobsesi," sambungnya.


Mendengar penjelasan suaminya, Fara menatap Doddy dengan raut wajah bingung. "Terobsesi ?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Doddy. "Maksudnya Pa ?"


Pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap istrinya lesu. "Papa liat ada kamera CCTV di kamar Jelita, itu Bara yang taruh, ma.."


Mulut Fara menganga seketika, sedangkan kedua tangannya terkepal erat. "Gila dia Pa! Udah gak waras! Bara harus cepat-cepat Mama nikahin. Amit-amit Mama punya menantu gak ada latar belakang keluarga seperti Jelita."


Doddy menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan istrinya. Jika Bara menikah dengan adik angkatnya sendiri, bisa hancur reputasinya.


"Baiklah Ma, Papa akan cari calon yang sepadan, yang sekiranya bisa menaikkan reputasi kita. Lalu kita bisa menikahinya dengan Bara!"


...o0o...


Jelita keluar dari kamar mandi dengan masih sesegukan, kakaknya memang tak berbuat kasar hingga menyakiti tubuhnya.


Tapi setiap tangan Bara menyentuh kulitnya, Jelita merasakan desiran aneh yang tak pernah ia dapat sebelumnya.


Apalagi pada bagian intim, Bara tak segan-segan membersihkannya juga.


"Masih nangis ? Gak usah pake baju sekalian!" ancam Bara menatap tajam tubuh sang adik yang hanya memakai satu buah handuk yang melilit setengah tubuh Jelita.


Mendengar itu sontak Jelita membulatkan matanya dan menahan mati-matian tangisannya.


"Di–dingin, kak..." ucapnya lirih.


Bara menghela nafas panjang, lalu menarik tangan Jelita untuk didekapnya dengan erat. "Kalo gue bilang diam itu artinya diam. Lo jangan ngebantah! Ngerti ?" Dengan cepat Jelita menganggukkan kepalanya lalu membalas pelukan sang kakak.

__ADS_1


"Maaf kak, jangan marah. Jelita takut," cicitnya.


Cup...


Sebuah kecupan singkat pada dahi gadis manis itu. "Ya sudah, kamu duduk sini. Biar kakak cariin baju buat kamu." Bara mendorong pelan tubuh adiknya untuk duduk di sofa.


Sembari menunggu Bara, Jelita mengedarkan pandangannya ke kamarnya, lalu matanya kini menatap Teddy bear yang asing. "Pasti kakak yang beli ini," batinnya sembari tersenyum kecil melupakan kekesalannya pada Bara.


Tak lama, Bara keluar sembari membawa baju untuknya. "Kakak pakaian kan, lepas handuknya!" titah Bara yang diangguki oleh Jelita.


"Kakak beli boneka itu untuk Jelita ?"


"Ya, kamu suka ?" tanya Bara.


Jelita menganggukkan kepalanya cepat. "Suka banget kak, bonekanya besaaaarrr banget...."


Bara tersenyum kecil, lalu kembali merengkuh tubuh adiknya. "Kakak tahu kamu pasti suka, mangkanya kakak belikan buat kamu."


Karena senang Jelita memberikan kecupan singkat pada pipi kanan dan kiri Bara.


"Udah sana, kamu sisir rambut, sama pakai skincare," titah Bara.


Pria itu duduk di samping boneka pemberiannya, dan mengotak-atik ponselnya. Namun ia sedikit di kejutkan dengan suara pekikan adiknya.


"Kok pakai rok SD aku sih kak ? Ini sudah kecil banget! Gak cukup!" protes Jelita saat melihat penampilannya yang begitu tak sopan.


baju tanpa lengan dan rok SD ??? Yang benar saja!


Suara tawa Bara semakin membuat Jelita tersulut emosi. "Gak papa sayang, kakak kangen liat adek kecil kakak. Jadi sebagai obat rindu, kakak mau adek pake rok SD. Supaya kakak jadi inget masa-masa SD dulu..." jawabnya tenang.


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2