HAMIL ANAK KAKAKKU

HAMIL ANAK KAKAKKU
CHAPTER 23 - KENYATAAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...


TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...


KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.


SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.


...o0o...


Jelita melangkahkan kakinya dengan semangat menuju perusahaan dengan lantai yang sangat banyak ini. Setelah Jelita hitung dari jendela taksi yang mengantarkannya kemari, ada 27 lantai.


Mata Jelita berbinar memasuki perusahaan ini, sangat besar, mewah dan juga terasa indah. Orangtuanya benar-benar baik hati mau memperkerjakan gadis lulusan SMP di perusahaan ini.


Wanita itu berjalan menuju resepsionis. Ayahnya tadi bilang saat ia sudah sampai di dalam gedung segera ke resepsionis dan menyebutkan namanya.


"Hmm, permisi Mbak. Saya Jelita, saya pegawai baru di sini. Kata Ayah saya, saya di suruh menghadap ke ruangan Pak Marsel," ucap Jelita dengan gugup.


Kedua resepsionis yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya itu mengalihkan pandangannya ke arah Jelita malas.


"Oh ini babu barunya ?" ucapnya dengan sengit.


Dengan rekannya yang berada di sebelahnya menatap Jelita dengan malas. "Naik ke lift, tekan tombol angka 2. Setelah lift terbuka jalan ke kanan. Ruangan pak Marsel yang paling kiri."


Mendengar itu Jelita diam mematung, apa maksud dari resepsionis itu ? "Babu baru ?" batinnya bingung.


Sedangkan kedua resepsionis itu menatap Jelita heran. "Kenapa nih orang masih di sini sih ?"


"Jangan-jangan gak bisa naik lift! Pfftttt....." jawab resepsionis lain, lalu mereka tertawa lebar.


Jelita tersenyum kikuk mendengar olokan kedua resepsionis itu yang memandangnya rendah dirinya.


Tanpa menjawab Jelita segera berlalu menuju lift. Sesuai instruksi resepsionis itu, ia menekan angka 2 untuk pergi ke lantai dua.


Saat pintu lift sudah membawanya ke lantai itu, Jelita merapikan penampilannya lalu berjalan menuju ruang HRD yang berada di lorong paling ujung.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum lebar, saat melihat papan nama ruangan itu. "HRD's Room"


Tok...tok..tok..


"Masuk!"


Tak membuang waktu Jelita dengan penampilan sopannya segera memasuki ruangan itu.


"Hm, permisi pak saya Jelita."


Marsel, ketua HRD mendongakkan kepalanya menghadap Jelita dengan bola mata terkejut. "Silahkan duduk sini," ucapnya.


Dengan patuh Jelita duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerja manager HRD itu. Dalam hati ia merapalkan banyak doa, agar ia mendapatkan bagian yang mudah, dan rekan kerja yang baik.


Meskipun dulu saat SMP sangat jarang ia pergi ke dalam lap Komputer, tapi gadis itu tahu dan faham cara menggunakan komputer. Jadi ia tak begitu takut memulai kerja hari ini.


Lagipula kan pasti ada yang mengajarinya dulu. Tak mungkin ia langsung kerja begitu saja. "Bismillah, semoga ditempatkan di ruangan yang enak!" batinnya.


"Hm, Jelita ya. Anak dari salah satu bodyguardnya Tuan Doddy, betul ?" tanya Marcel mengalihkan tatapannya yang semula menatap laptop kini menatap mata Jelita sembari tersenyum manis.


"Oke Jelita, hari ini kamu bisa mulai kerja menjadi salah satu office girl di perusahaan ini." Marcel memfokuskan dirinya pada Jelita. "Datang pukul 8 pagi, kamu sudah harus berganti baju dengan seragam OB di perusahaan. Lalu kamu bisa meminta tugas ke Bu Dewi, dia atasan kamu nantinya. Lalu kamu bisa pulang pukul 9 malam. Sesuai peraturan kantor, jika ada barang hilang atau rusak yang disebabkan oleh kelalaian kamu. Kamu harus dan wajib menggantinya dengan jumlah uang tiga kali lipat dari harga barang yang kamu rusak atau hilangkan. Misalnya, kamu memecahkan gelas seharga 20 ribu, maka kamu harus mengganti uang itu sebesar 50 ribu ke Bu Dewi, mengerti ?" tanya Marcel.


Bukan menjawab Jelita masih diam mematung di kursinya. Otaknya masih bekerja keras mencerna setiap perkataan Marcel yang mengatakannya anak dari bodyguard Doddy.


"Keterdiaman kamu, saya anggap persetujuan. Dan untuk masalah gaji, karena kamu masih baru jadi selama 3 bulan pertama gaji kamu 2,7 juta. Tapi setelah 4 bulan gaji kamu akan naik menjadi 3,7 juta dan bisa bertambah jika kamu rajin, tidak pernah terlambat, dan selalu masuk." Marcel membuka salah satu laci mejanya lalu mengambil kunci dan mengatakannya ke Jelita.


Mau tak mau Jelita menerima itu dengan tangan gemetar. "A–apa ini, pak ?" tanyanya dengan gugup. Entahlah Jelita merasa sakit hati yang teramat sangat kepada orang tuannya saat mengetahui ekspetasinya telah di patahkan oleh orangtuanya sendiri.


"Ini kunci loker kamu, di sana sudah ada seragam Office Girl kamu. Seperti yang saya bilang tadi kamu ada seragam khusus. Dan seragam itu tidak bisa di bawa pulang. Jadi jika pekerjaan mu selesai lepas serangan mu, dan taruh kembali ke loker. Jangan khawatir, setiap 3 hari sekali seragam kamu akan di cuci oleh petugas laundry," jawab Marcel menatap wajah Jelita yang kini kusut. Padahal tadi gadis itu terlihat sangat bersemangat. Tapi sekarang jelas sekali jika ia sangat sedih. Marcel melihat bola mata cerita yang tadinya berbinar saat masuk ke ruangannya, kini menjadi berkaca-kaca menahan tangisannya. "Silahkan pergi ke loker kamu yang berada di lantai 1 dekat toilet pegawai. Selamat bekerja!" ucap Marcel dengan senyum lebar.


Jelita menelan salivanya susah payah, hatinya terasa sakit mendengar ucapan Marcel. Namun mau apa lagi ? Memang dia siapa ? Dia salah sekali tak ada hak untuk memprotes. Jelita hanya anak pungut.


Setelah keluar dari ruangan Marcel, secepat kilat ia memasuki lift untuk turun ke lantai satu. Saat tiba di lantai satu, tak ada lagi karyawan yang berseliweran. Mungkin ini sudah jam masuk kerja.


Dengan langkah berat ia menuju toilet pegawai, benar kata Marcel, ada loker yang sangat banyak berada di dekat toilet itu.

__ADS_1


Mata Jelita yang sudah berkaca-kaca, melihat dengan buram loker itu dan kunci loker bergantian. Kunci loker memiliki angka 36 yang berarti loker Jelita bernomer 36.


Setelah menemukan loker 36, Jelita segera membukanya. Ia menemukan seragam Office Girl berwarna hitam-biru lalu mengambilnya dan kembali menutup loker.


Jelita berjalan menuju toilet untuk berganti baju, dengan sesekali mengusap kasar air matanya yang turun tanpa permisi itu.


Ia membuka salah satu bilik toilet, lalu menutupnya kembali bersamaan dengan tubuhnya yang luruh ke lantai.


"Hiks....hiks...hiks...." pecah sudah tangisan Jelita. Gadis rapuh yang di buang oleh kedua orangtuanya itu kini menumpahkan semua sakit hatinya, perasaan kecewanya kepada orangtuanya.


Sudah di perk**a lalu sekarang dijadikan babu di perusahaan milik orangtuanya. Begitu kejamnya mereka pada Jelita.


"Aku salah apa Ma, Pa ? Kenapa kalian jahat sekali ? Aku sempat berfikir jika Mama dan Papa sangat menyayangiku karena memberikanku pekerjaan yang layak di perusahaan. Saat aku mengira masa depanku hancur, kalian mengulurkan tangan padaku, mengatakan akan memberikanku pekerjaan. Tapi ini apa...hiks....hiks.... kalian dan anak kalian sendiri yang menghancurkan masa depanku..."


Jelita memukul dadanya yang terasa amat sesak. "Hiks...hiks...hiks...kalian semua brengsek!!! Aku sangat benci kalian!!!!!" ucapnya sengit.


"Seandainya waktu bisa di putar, aku tak akan sudi menjadi anak angkat kalian!"


Nasi sudah menjadi bubur, mungkin itu pribahasa yang tepat menggambarkan keadaan Jelita saat ini.


Gadis itu mengganti pakaiannya dengan seragam OG, mau tak mau ia harus menjalani hidupnya. Ia harus bekerja menjadi OG di kantor ini untuk bertahan hidup.


"Gajian pertama ku, akan aku gunakan untuk mengontrak rumah! Tidak sudi tinggal bersama keluarga pengecut seperti mereka!"


...o0o...


GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?


YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....


TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...


BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.


SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰

__ADS_1


TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2