
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
TAPI SEBELUM MEMBACA, AKU MINTA KALIAN UNTUK LIKE DAN VOTE DULU YA...
KASIH AUTHOR BINTANG LIMA, BAGI YANG BELUM.
SUPAYA AUTHOR-NYA BERSEMANGAT DAN RAJIN UPLOAD.
...o0o...
Seperti tadi, saat sedang menuju ruang kepala sekolah Jelita hanya mendudukkan kepalanya tak ada nyali untuk mengangkat kepalanya, melihat wajah teman yang mencemoohnya.
Kupingnya terasa tebal saat ia mendengar caci maki itu terus-menerus terdengar.
Hingga kakinya kini berdiri di depan pintu ruang rektorat. Setelah menenangkan diri dengan mengatur nafasnya Jelita memasuki ruangan itu.
Di sana ada seorang kepala sekolah dan satu guru.
"Per–permisi, Pak..." salam Jelita.
Kedua pria paruh baya itu mengalihkan perhatiannya kearah Jelita yang tubuhnya terlihat sangat bergetar. Menandakan jika ia benar-benar ketakutan.
"Ah Jelita, duduklah di hadapan kami," ucap kepala sekolah dengan senyum kecil. Menuju sofa kosong yang berada di hadapannya.
Dengan patuh Jelita menganggukkan kepalanya, ia memainkan jari-jarinya dengan gugup.
"Saya orang yang paling tidak bisa berbasa-basi Jelita." Kedua pria paruh baya itu saling tatap. "Benar yang ada di video itu adalah kamu ?"
Jelita memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab. "I–iya pak," jawabnya pasrah. Mau menyangkal pun, tak mungkin, karena wajahnya benar-benar terlihat sangat jelas.
Air mata Jelita sedari tadi tidak bisa berhenti. Wanita itu menangis tanpa suara.
"Kenapa kamu melakukannya, nak ? Umur kamu masih 23 tahun, masa depan kamu masih panjang. Dengan adanya video itu hanya akan merusak nama baik kamu. Video itu bagaikan aib yang akan terus-menerus di bahas," ucap dosen yang tak habis pikir dengan gadis belia sepertinya.
Dengan wajah yang sudah memerah, dan air mata yang mengalir deras pada wajahnya. Jelita bersimpuh di depan kaki kedua dosennya itu. "Saya bersumpah jika saya korban, pak! Saya bersumpah!"
"Saya di perk**os**a oleh salah satu orang di keluarga saya sendiri! Saya memberontak, tapi sepertinya mereka memotong video itu hingga terlihat saya menikmati adegan itu. Padahal sama sekali bukan itu faktanya!"
__ADS_1
"Saya mohon bantu saya membersihkan nama baik saya, Pak! Saya mohon!" Jelita memegang ujung sepatu dosen itu. Ia bersujud, membuang semua harga dirinya.
Lagi-lagi kedua pria paruh baya itu saling tatap, lalu menggelengkan kepalanya. "Maaf Jelita kami tak percaya. Dalam video itu tidak ada raut penolakan di dalamnya. Kamu menikmatinya!" jawab rektor–petinggi universitas.
Jelita menggelengkan kepalanya cepat, "tidak pak! bukan seperti itu, saya be–"
"Sudahlah Jelita, kami mohon maaf tidak bisa membantu. Ucapkan permohonan maaf kami kepada keluarga Adinata."
"Sesuai peraturan universitas, mulai hari ini kamu dikeluarkan dari sini," ucap dosen itu.
Jelita menangis histeris, ia tak ingin keluar dari sekolah ini. "Tolong saya pak, dengarkan penjelasan saya dulu... hiks...hiks ..."
"Semoga kamu bisa menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi. Sekarang silahkan pergi dari kawasan universitas ini!"
...o0o...
Hades mendengar perdebatan Jelita dengan dosen dan rektor itu dari ruangan yang tak tertutup rapat.
Ia marah kepada Jelita yang tidak bisa menjaga mahkotanya, ia benar-benar merasa dikhianati awalnya.
Namun setelah mendengar jawab tulus yang diucapkan Jelita kepada sang dosen yang terdengar tak gentar–menandakan jika apa yang dikatakan Jelita tak bohong, membuat Hades merubah pikirannya.
Mendengar tangisan Jelita yang terdengar memilukan membuat relung hati Hades terasa nyeri.
Ia mengalihkan pandangannya dari pintu ruangan itu ke lorong yang tampak kosong. Jam pelajaran sudah di mulai 5 menit yang lalu. Seluruh mahasiswa/i udah memasuki kelasnya, kecuali dirinya yang sedari tadi menguntit Jelita hingga masuk ke ruangan ini.
Kriett...
Tak lama terdengar pintu di buka, di sana ia lihat Jelita dengan mata sembabnya keluar dari ruangan sembari membawa rapot.
"Jelita," panggilnya dengan suara lemas.
Hades melangkah kakinya mendekati Jelita dan memeluk tubuh rapuh itu dengan erat.
Grep....
Tangis Jelita kembali pecah, ia membalas pelukan Hades tak kalah erat, melalui tangisan itu ia ingin memberi tahu Hades betapa menyedihkan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Mereka mengeluarkan ku dari universitas! Mereka tak mempercayai ku! Kakakku mempe**r**kosa ku! Mereka mengedit video itu...hiks...hiks..."
Hades memejamkan mata saat hatinya terasa nyeri mendengar pengakuan Jelita.
"Percayalah padaku! Percayalah! Aku korban aku tidak salah...hiks...hiks..."
Hades melonggarkan pelukannya, dan menghapus lembut air mata yang mengalir pada wajah cantik gadis yang berhasil menempati ruang kosong pada hatinya ini.
Harusnya dari awal Hades tahu jika gelagat yang ditujukan oleh Bara itu sudah melebihi batas hubungan kakak-adik. Harusnya Hades menolong Jelita lebih cepat.
"Aku percaya Ta! Tidak perduli jika seluruh dunia tak mempercayai mu! Aku yang akan menjadi satu-satunya orang yang akan mempercayai mu!" jawab Hades dengan serius.
"Kamu dikeluarkan dari sini kan ? Biarkan keluargaku yang akan me–"
Jelita menggeleng dan menatap Hades dengan mata bengkak dan sayunya. "Tidak perlu, ak–hiks...hiks...aku akan berjuang sendiri sekarang Hades! Sudah cukup aku menjadi benalu pada keluarga Adinata, aku tak ingin mengacaukan keluarga mu!"
Jelita menggenggam tangan Hades dengan kuat, menyorot tajam mata pria itu. "Berjanjilah padaku, jika kita bertemu lagi beberapa tahun kedepan, tolong lindungi aku!"
"Aku berjanji Jelita! Tunggu aku hingga sukses!"
Setelah mengatakan itu, Jelita harus segera pulang. Ia sudah diusir dari sekolah. Kini ia harus bisa mandiri tanpa bantuan keluarga Adinata lagi.
Apapun caranya, Jelita tak ingin berhubungan lagi dengan keluarga dari si brengsek itu!
Sedangkan Hades yang menatap punggung Jelita yang semakin menghilang dari hadapannya terkepal kuat. "Bara Adinata, tunggu beberapa tahun lagi!"
...o0o...
JANGAN LUPA VOTENYA KAKAK 🥰😘
GIMANA ? SERU GAK CHAPTER HARI INI ?
YUK LANGSUNG NEXT KE CHAPTER SELANJUTNYA....
TAPI SEBELUMNYA JANGAN LUPA MASUKKAN CERITA INI KE FAVORIT YA...
BANTU AUTHOR VOTE+KOMEN+LIKE.
__ADS_1
SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT NULISNYA 🥰
TERIMA KASIH SEMUANYA