
suasana sore hari dirumah handika itu terasa sejuk dan segar, sehabis hujan rintik-rintik shandrianna mengajak aileen bermain diluar.
dia hanya mengawasinya dari kejauhan, tak lama ibunya datang membawakan kue dan juga minuman. shandrianna menoleh dan tersenyum kepada ibunya.
" makanlah sayang agar kau tetap punya energi yang cukup selama hamil. "
" terima kasih ibu " ucapnya yang mengambil kue itu dan memakannya.
dini terlihat berkaca-kaca saat melihat anna yang tumbuh menjadi seorang anak lalu seorang istri dan kini akan menjadi ibu dari dua orang anak. sama sepertinya, tak terasa waktu begitu cepat.
" Rasanya baru kemarin saat ibu melahirkan dirimu, dan sekarang kau akan melahirkan dua orang anak. " katanya seraya mengelus rambut lurus shandrianna.
" Aku juga tidak pernah membayangkan kalau aku bisa merasakan moment seperti ini. lihatlah ibu ... aku punya seorang anak laki-laki yang sangat pintar, apapun dia selalu memikirkan aku ... dan sekarang ... tuhan mengirimkan satu orang anak lagi dan kali ini aku ditemani oleh seluruh orang-orang yang aku sayangi seluruh keluargaku ada bersamaku... "
sembari mengatakan itu seraya tersenyum dan menitikkan air matanya, hal ini sangat berlawanan jauh saat dia mengandung aileen dulu dimana dia merasakan kesunyian dan kesepian suami maupun orang tua.
" Kau pasti merasa sangat kesepian dulu kan "
" Ibu ... apa aku boleh mengatakan semuanya ? aku selalu menutupi perasaanku baik kepada ibu maupun yang lain, aku pikir jika aku membagi perasaanku aku akan merasa lebih baik. "
" tentu saja , itu yang ibu inginkan darimu. semenjak kau kecil ibu tidak pernah mendengarkan isi hatimu. "
kembali dia teringat akan masa lalunya semasa dia hamil dan merasa lelah selalu sendirian dirumah kecil sederhana, sampai perutnya membesar dia selalu bekerja karena tidak mau merepotkan andrew pikirnya.
" saat aku tau aku sedang mengandung aileen aku tidak tau apakah aku bisa mengurusnya dengan baik, aku berusaha untuk mengaja diriku sendiri sebaik mungkin ... ketika aku merasa lelah aku ingat bayiku, sampai aku melahirkannya aku pikir itu akhir dari kesulitanku ... tapi mengurus anak tidak semudah yang aku bayangkan. "
dari belakang gazebo itu bagaskara berdiri tegak dibelakangnya dia sengaja diam disana ingin mendengarkan semua perasaan shandrianna yang selama ini dia pendam kepadanya.
" aku harus membawa ailleen bekerja bersamaku, setiap saat aku harus membawanya. aku sering menangis saat dia menangis aku tidak tau bagaimana cara mendiamkannya, saat aku ingin istirahat sebentar saja aileen menangis dan haus karena ingin minum susu, aku hampir tidak punya waktu untuk diriku sendiri. tapi aku juga bahagia bersamanya setidaknya aku bersama anakku dan pak bagaskara, waktu kecil dia sangat mirip dengan nya aku sampai iri melihatnya. "
ucapnya masih dengan tersenyum mengingat semuanya dan menitikkan air matanya, ibunya pun hampis menangis dibuatnya betapa sulitnya kehidupan putrinya itu.
" kenapa dia harus mirip dengannya sedangkan aku yang mengandung dan melahirkannya, saat badannya panas dimalam hari aku juga menangis karena tidak tau obat apa yang aku berikan karena rumah sakit jauh, aku hanya bisa mendiamkannya dengan caraku sendiri ... dan akhirnya dia tumbuh menjadi seorang anak yang sangat baik, dia akan selalu mencariku saat aku tidak ada. aku pergi sebentar saja suaranya sudah terdengar tidak tahan jika harus sendirian. "
" tapi sekarang sudah tidak lagi, ailleen sudah mendapatkan kebahagiaannya. dia sudah bertemu pak bagaskara dan tau seperti apa wajah daddy nya. sering kali aku melihatnya diam didalam kamar saat sedang bersedih karena diolok temannya tidak punya daddy. dia tidak ingin aku tau dan sedih hingga dia menutupi lukanya sendiri. "
" Ibu ... ini salahku kenapa aku pergi dulu, seandainya aku pergi tidak terlalu jauh aileen tidak akan merasakan hal itu. aku yang membuatnya menjadi seorang anak tanpa ayah selama beberapa tahun, dia kehilangan moment untuk tumbuh bersama pak bagaskara. "
" Jangan sedih sayang ... kau wanita yang sangat hebat yang bisa melakukan apapun demi anaknya. tidak semua orang bisa melakukannya. wajar jika kita sakit hati pada seseorang ibu mengerti itu. "
shandrianna menatap ibunya dan menangis pelan, dini menghapus air matanya yang jatuh itu " sayang ... apakah kau pernah mencintai suamimu ? atau kau memang sudah mencintainya sampai sekarang ?"
" saat itu , malam dimana aku pergi ... aku ingin mengatakan kepadanya kalau aku mencintainya ... tapi wanita itu membuat kesalahpahaman diantara kami sampai pak bagaskara marah padaku, aku ingin minta maaf dan datang kerumah sakit tapi disana aku mendengar kalau wanita itu sedang hamil ... aku pikir ... aku pikir itu anaknya pak bagaskara ibu hiks "
bagaskara terkesima mendengarnya, ternyata shandrianna sudah mencintainya tapi dia tidak menyadarinya. hal itu menyebabkan kehancuran untuk shandrianna hingga merasakan kesulitan yang mendalam.
" karena itulah kau pergi sayang ? "
shandrianna mengangukkan kepalanya " ibu sangat sakit mendengarnya apalagi dirimu waktu itu. tidak ada seorang istri yang ingin mendengar semua itu " ucapnya sambil memeluk erat shandrianna.
" dan apakah kau masih mencintai sayang ?"
shandrianna melepaskan pelukannya dan menatap ibunya lagi " Aku marah padanya aku juga kecewa padanya tapi dihati kecilku aku masih mencintainya. aku tau aku tidak pernah mengatakannya langsung dihadapannya, dia ingin sekali aku mengatakan kalau aku mencintainya. tapi aku takut ibu, aku takut kalau aku harus kembali sakit hati lagi ... jadi aku akan melakukan hal yang sewajarnya saja. "
__ADS_1
dalam hati bagaskara dia merasa senang mendengarnya, akhirnya dia mengatakan isi hatinya. dia tau sekarang dibalik sikap shandrianna yang selalu berubah-ubah itu dia mecintainya.
tapi dia juga paham mengapa shandrianna bersikap seperti sekarang, semuanya adalah kesalahannya. " maafkan aku sayang, penderitaanmu sangat besar dan aku berjanji akan menebus semua kesalahanku dan mencintaimu hanya dirimu. "
" Aku akan jujur padanya "
***
malam harinya
shandrianna baru saja selesai mandi, dia melepaskan ikatan rambutnya yang tidak dia bilas itu karena kedinginan hari pun sudah malam sebentar lagi dia akan turun menuju ke meja makan.
ceklek
" sayang "
shandrianna menoleh, bagaskara pun mendekatinya dan tersenyum kepadanya " aku mencintaimu " ucapnya
cup
lalu mencium singkat bibir shandrianna " ada apa ?" tanya shandrianna yang bingung dengan sikap bagaskara.
" kita akan menginap disini, aileen ingin tidur bersama ibu dan ayah. kita turun yuk makan malam lalu minum obat setelah itu ada yang ingin aku bicarakan. " ajaknya menggenggam tangan shandrianna.
" kau aneh " ujar Shandrianna menatapnya dalam, lalu dia seperti mencium sesuatu
" kenapa sayang ?" tanyanya..
" hoek ! hoek ! hoek " shandrianna berlari masuk kekamar mandi lagi dan membuang semua isi perutnya.
bagas memijat leher sahndriana dengan pelan " hoek ! hoek kau pakai apa , baumu tidak enak hoek ! "
" bau ? aku pakai parfum yang biasa sayang "
" hoek "
nafasnya tersengal dan dahinya berkeringat tubuhnya sangat lemas setelah ia membuang semua isi perutnya itu.
" ganti bajumu kalau perlu mandilah, aku tidak tahan baunya " lirih shandrianna.
" baiklah tapi tunggu aku dikamar jangan turun dulu oke ?"
Shandrianna mengangukkan kepalanya hingga dia keluar sendirian. bagaskara pun melepaskan kancing kemeja dan membuat kaosnya. dia cium bajunya yang bau wangi enak tapi menurut shandrianna tidak enak.
" ini demi dirimu sayang " katanya dan langsung mengguyur tubuhnya.
ceklek
bagaskara keluar hanya dengan lilitan handuk dipinggang nya, shandrianna sudah menyiapkannya baju dan menyuruhnya memakainya.
" pakailah "
" pakaikan "
__ADS_1
" ck kenapa kau manja sekali " kata shandrianna yang membuka lipatan kaos berwarna biru tua itu.
" sayang "
" hmm "
" kau tidak teriak lagi melihat dada berbulu ku ini ? biasanya selalu marah. " tanya bagaskara sekaligus berusaha menggoda shandrianna.
memang saat ini wajahnya berhadapan langsung dengan dada bagaskara karena tingginya yang tak sama dengan bagas.
" Aku sudah biasa melihatnya"
" jadi suka begitu ?"
" tidak juga "
" kenapa tidak ? aku saja suka dengan milikmu sayang. "
" dadaku tidak berbulu. "
" hmm karena itulah aku suka disana. "
" Mesum sekali, sudah lah pakai celana mu sana. "
" hhahha , ingat sayang minum obatnya. "
" iya "
****
bagaskara dan shandrianna turun dari kamar mereka, malam ini mereka akan menginap disini. keduanya langsung disambut oleh semua orang.
" Anna selamat ya , kakak baru dengar dari ibu dan ayah. " ucap Tara dengan tulus.
" Terima kasih kak " balasnya.
" duduklah nak ibu sudah membuatkan makanan kesukaan mu, spesial untuk hari ini. "
makanan hari ini terlihat enak-enak dan menggugah selera, shandrianna begitu senang melihat Rendang dan juga ada Seafood itu.
dia langsung mengambilnya dan menaruhnya ke piringnya.
" mommy jangan makan pedas nanti adek bayinya kepedasan. " ujar aileen.
Shandrianna menghentikan sendokannya " benarkah sayang ?"tanya shandrianna.
" iya mom "
aillen mengangguk polos , ibu dan ayahnya hanya terkekeh mendengarnya.
" sayang ini tidak pedas hanya kelihatan merah saja karena kuahnya. lagipula adik bayi tidak bisa merasakannya. " jelas dini pada aileen.
" No grandma. mommy harus menurut sama aileen. mommy tidak boleh kepedasan nanti perutnya sakit. "
__ADS_1
" baiklah-baiklah sayang mommy tidak akan makan banyak-banyak oke. "