
Belum lama Nina kembali ke kamarnya
Bagas mendapat telepon dari mama Vanya agar segera membawa Nina menemui indra
Menurut mama Vanya , begitu sadar Indra langsung berteriak teriak memanggil Nina
Bagas segera mengambil kursi roda dan mengajak Nina menemui Indra
Indra yang sudah dibawa ke ruang perawatan
masih berteriak teriak mencari Nina
"Maa....mana Nina..
Dia tidak apa apa kan...
Maa.....mana....mana ...Nina.."
"Tenanglah nak...Nina sedang menuju kesini"
Mama menyentuh tangan Nina.
Menenangkan Indra yang terus memanggil Nina
"Mama gak bohong kan...
Nina bener bener gak apa apa kan...
Maaa...mana Nina .."
Mata Indra nyalang memandang sekeliling
mencari Nina
"Nin....dimana kamu sayang...."
Rini yang ada di ruangan itu mencoba menenangkan Indra
Mendekat ke arah Indra sambil memegang tangan nya yang tidak ada jarum infusnya
"Tenanglah ndra....aku menemanimu disini"
Indra menatap tajam ke arah Rini
Tangannya di tepiskan dengan kasar
"Kamu ngapain kesini...haahh...
Siapa yang mengijinkan kamu kesini ??
Keluar kamu....keluaaarrr...!!"
Rini memundurkan langkahnya ketakutan dengan teriakan Indra
Mama menenangkan indra.
Mengingatkan kalau jahitannya belum kering
Terdengar pintu kamar terbuka
Tampak Bagas masuk mendorong Nina di kursi roda
Indra langsung menoleh
__ADS_1
Matanya nanar menatap Nina
Tangannya terulur sambil berurai air mata
"Sayang.....sayangku....kau tidak apa apa kan..."
Indra berusaha bangun tapi tidak diijinkan mama karena kondisinya yang belum boleh banyak gerak
Nina bangkit dari kursi rodanya
Berdiri tertegun menatap Indra sambil terisak
"Sayang ...kemarilah...."
Indra mengulurkan tangan ke arah Nina
Nina memandang Indra sejenak
lalu berlari menghambur memeluk Indra di bagian tubuh yang tidak terpasang infus
Indra menyambut kepala Nina dengan tangannya yang bebas
Diciumnya kepala Nina dengan sepenuh hati
Nina sesenggukan
"Kamu bodoh mas Indra.
Kamu bodoh.....
Kenapa kamu lakukan ini...?"
Indra terus menciumi rambut Nina
Kemudian tersenyum menggoda Nina
karena tidak tahu betapa besarnya cinta mas padamu"
Nina bangkit dari pelukan Indra
Wajahnya pura pura cemberut ..
Indra terus mengelus wajah yang dirindukannya itu sambil tersenyum lebar
Mama menyadari Indra butuh waktu berdua dengan Nina
Tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena anak kesayangannya akhirnya selamat dan bisa bersatu lagi dengan wanita yang dicintainya
Meskipun harus melalui jalan yang cukup mengkhawatirkan, dimana Indra hampir kehilangan nyawanya
"Mungkin sebaiknya kita semua keluar"
Mama Vanya menggandeng tangan Bagas
dan memberi kode kepada Rini dan Wina untuk keluar
Rini dengan hati dongkol terpaksa mengikuti melangkah keluar
Di luar Bagas duduk agak dekat dengan Rini
sedangkan Wina duduk dekat Vanya
"Sepertinya kamu sekarang yang harus tau diri ya
__ADS_1
Tidak ada tempat untukmu diantara Indra dan Nina"
Bagas menyindir Rini
"Ciihh....siapa bilang
Merebut mamanya saja aku bisa
Apalagi cuma pacar"
Rini berdecih sinis ke arah Bagas
"Kita lihat saja...
modalmu kurang kuat kali ini...
Aku bisa pastikan kamu akan gigit jari"
Bagas tak kalah sinis membalas Rini
Wina yang kebetulan mendengar perdebatan itu hanya diam
Wajahnya memerah menundukkan muka
Di dalam ruangan , Indra menenangkan Nina yang terus menangis
Tangannya mengusap usap pipi Nina
"Sudahlah sayang...mas sudah tidak apa apa yang penting kamu sekarang tahu kalau mas benar benar mencintaimu"
Nina memegang tangan Indra yang membelai pipinya.
"Bagaimana dengan Rini ?"
"Mas tidak peduli ...sejak awal sudah mas katakan
Dia bukan siapa siapa
Dia tidak ada level dibandingkan denganmu "
Berdua mereka terdiam saling menatap
Indra masih membelai pipi Nina
Suara ketukan dan pintu terbuka membuat Nina dan Indra menoleh
Tampak dokter Hermawan didampingi dua orang perawat masuk ruangan Indra
Disusul oleh mama dan Bagas
Rupanya Rini dan Wina sudah berpamitan
"Halo...selamat siang ndra
Saya dokter Hermawan yang bertanggung jawab atas operasi yang kamu jalani kemarin"
",Selamat siang dokter
Terima kasih atas pertolongan nya"
Indra menjawab sapaan dokter hermawan
"Bagaimana...apa ada keluhan yang dirasakan?"
__ADS_1
Tidak ada dokter .....kecuali rasa kangen sama dia"....Indra melirik Nina
Semua di ruangan tertawa mendengarnya